Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU
Stock Terbatas Kualitas Terjamin

Tasbih Tua Kayu Gopher/Gofir/Abarkuh Cypress/Zoroaster Sarv/Cupressus Sempervirens Wood (NOAH ARK WOOD) origin Iran Yazd Province

Dilihat 272xTerjual 0

Rp999.999.999

Harga: Rp. 999.999.999,- (KOLEKSI ELSUBHA)

Stok 1

Untuk pemesanan, silahkan klik tombol di bawah ini:

SMS: 081312340489

Cara Membeli

Silahkan menghubungi kami via SMS di 081312340489 pada perangkat handphone Anda.

×
Telp: 081312340489

Cara Membeli

Silahkan menghubungi kami via Phone di +6281312340489 pada perangkat handphone Anda.

×
@elsubha

Deskripsi

Tasbih Tua Kayu Gopher/Gofir/Abarkuh Cypress/Zoroaster Sarv/Cupressus Sempervirens Wood (NOAH ARK WOOD) origin Iran Yazd Province
ukuran: 14mm x 11mm
model: oval butiran manual 99butir
setting: 99 butir
Harga: Rp. 999.999.999,- (KOLEKSI ELSUBHA)
WhatsApp:
+6281312340489
+6283869727860

Kayu Bahtera Nuh AS (NOAH ARK), Kayu Gofir (Gopher Wood) = Abarkuh Cypress ?

Inikah yang disebut sebagai KAYU KOKKA/KAUKAH ASLI??? tentunya bukan biji kelapa arab (Attalea Funifera). Jika merujuk legenda KAYU KOKKA/KAUKAH ASLI dipakai sebagai Bahtera Nuh AS.

Cypress dari Abarkuh ( Persia : سرو ابرکوه Sarv-e Abarkuh ), juga disebut Zoroaster Sarv , adalah cemara Persia ( Cupressus sempervirens wood) di Abarkuh di Provinsi Yazd Iran. Ini dilindungi oleh Organisasi Warisan Budaya Iran sebagai monumen alam nasional dan merupakan daya tarik wisata utama dengan ketinggian 25 meter (82 kaki 0 ​​inci) dan dengan keliling 11,5 meter (37 kaki 9 inci) pada batangnya dan 18 meter (59 ft 1 in) lebih tinggi di sekitar cabang-cabangnya. Diperkirakan berusia lebih dari empat milenium dan kemungkinan merupakan bentuk kehidupan tertua atau tertua kedua di Asia.

Usia pasti dari pohon tersebut sulit ditentukan, tetapi diperkirakan berusia antara 4000 dan 5000 tahun. Kondisi alam yang menguntungkan di lokasinya telah dikreditkan sebagai alasan utama umur panjang pohon.

Legenda mengatakan bahwa Yafet, putra Nuh (yang terkenal dengan Banjir Besar) menanam pohon itu. Kondisi lokal yang menguntungkan telah memungkinkan cemara untuk hidup selama itu meskipun urbanisasi modern merayap semakin dekat. Kota Abarkuh dan sekitar 21.000 penduduknya berada di dekatnya dan semakin dekat.

Kayu gofir (bahasa Inggris: Gopher wood atau gopherwood) merupakan suatu istilah hapax legomenon (“hanya muncul sekali”) dalam Alkitab Ibrani untuk bahan pembuatan bahtera Nuh (dalam Kitab Kejadian). Kejadian 6:14 menyatakan bahwa Nuh harus membuat “sebuah bahtera dari kayu gofir”(bahasa Ibrani: גפר‎, gofer), kata yang kemudian tidak lagi dijumpai dalam bahasa Ibrani.

Namun, Alkitab jelas dalam satu hal: Nuh mendapat instruksi khusus untuk dimensi bahtera (panjang 300 hasta, lebar 50 hasta dan tinggi 30 hasta) dan bahan (“kayu gopher”). Kayu gopher dapat merujuk pada kayu pinus, cedar, atau cypress.

Peristiwa banjir besar di zaman Nabi Nuh itu diperkirakan terjadi sekitar 6.000 tahun yang lalu.
Membaca kisah Nabi Nuh AS yang terdapat dalam Alquran, Injil (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), ataupun buku-buku yang membahas seputar banjir besar di zaman Nabi Nuh itu, sangat menarik untuk dikaji secara mendalam.

Kisah-kisah itu merupakan gambaran tentang peristiwa masa lalu dan harus dijadikan pelajaran bagi umat manusia masa kini.
Dalam Alquran, kisah Nabi Nuh AS dibahas dalam beberapa surah, di antaranya surah Al-Ankabut [29]: 14-15, Nuh [71]: 1-28, Al-Mu’minun [23]: 23-41, Huud [11]: 25-46, Asy-Syuara [26]: 105-122, Al-A’raf [7]: 59-69, dan Yunus [10] : 71-74.

Dalam Bible (Injil), kisah serupa juga terdapat dalam Genesis 6:15, 7:4-7, 8:3-4, dan 8:29. Begitu pula, dalam Mitologi Sumeria, Mitologi Akkadia, Mitologi Babilonia, serta Kebudayaan India, Wales, Lithuania, dan Cina.
Dari kisah Nabi Nuh AS itu, setidaknya ada dua persoalan besar yang hingga kini masih menjadi kontroversi di kalangan ulama, peneliti, serta pemerhati sains dan teknologi.

Kedua persoalan besar itu adalah apakah banjir besar itu menenggelamkan seluruh dunia (banjir global), atau hanya lokal (di wilayah Nabi Nuh AS berdakwah kepada kaumnya).

Persoalan kedua, apakah hewan yang naik ke kapal (bahtera) Nuh itu diikuti oleh seluruh hewan yang ada di dunia, ataukah sebagian saja, yakni hewan-hewan yang ada di wilayah dakwah Nabi Nuh AS.

Tak mudah menjawab kedua pertanyaan itu. Sebab, untuk membedah permasalahannya secara lengkap, dibutuhkan data-data empiris dalam berbagai bidang ilmu, seperti geologi, arkeologi, sejarah, astronomi, geografi, termasuk keterangan yang terdapat dalam kitab-kitab agama.

Yang sudah sangat jelas adalah kapal atau bahtera Nabi Nuh itu dipercaya telah ditemukan, tepatnya di atas Gunung Ararat di perbatasan antara Turki dan Iran pada ketinggian sekitar 2.515 meter di atas permukaan laut (mdpl) pada 11 Agustus 1979

Banjir besar zaman Nabi Nuh
Di dalam Alquran maupun Bible, disebutkan secara tersurat, banjir itu adalah banjir besar. Sebagian ulama ataupun pemerhati sains dan teknologi menyatakan, banjir besar itu adalah banjir global yang menenggelamkan seluruh dunia.

Pendapat ini diperkuat dengan keterangan dari Genesis 7:4 yang menyebutkan,”Untuk selama tujuh hari, Aku akan menyebabkan hujan di Bumi, 40 hari dan 40 malam dan setiap makhluk hidup yang telah Aku ciptakan, akan Aku binasakan dari permukaan bumi.”

Dalam Alquran disebutkan, ”Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir’.” (QS Nuh [71]:26-27).

”Dan, bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan, Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: ‘Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang kafir’.” (QS Hud [11]:42).

Dikutip dari buku berjudul Kisah Para Nabi dan Rasul, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Nabi Nuh terus berdakwah hingga seribu tahun kurang lima puluh tahun. Setiap kali pergantian generasi, mereka selalu berwasiat agar tidak beriman kepada ajaran yang dibawa Nabi Nuh.

قَالُوا يَا نُوحُ قَدْ جَادَلْتَنَا فَأَكْثَرْتَ جِدَالَنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَا إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِينَ قَالَ إِنَّمَا يَأْتِيكُمْ بِهِ اللَّهُ إِنْ شَاءَ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ

Mereka berkata, “Hai Nuh, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami. Maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar. ” Nuh menjawab, “Hanyalah Allah yang akan mendatangkan azab itu kepadamu jika Dia menghendaki dan kamu sekali-kali tidak dapat melepaskan diri.” (QS. Huud ayat 32-33).

Setelah itu Allah memerintahkan Nabi Nuh untuk menanam pohon untuk membangun bahtera. Nabi Nuh menunggu selama seratus tahun untuk memotongnya. Lalu membangunnya berdasarkan petunjuk Allah.
Ats Tsauri mengatakan, Allah memerintahkannya untuk membuat bahtera dengan panjang 80 hasta dan lebar 50 hasta, mengecat bagian dalam dan luar bahtera, serta membuat dada kapal yang berfungsi untuk membelah air.

Tinggi bahtera tersebut 30 hasta dan memiliki tiga tingkat. Tingkat bawah disediakan untuk hewan ternak dan binatang buas, bagian tengah untuk manusia dan bagian atas untuk bangsa burung.

وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ

“Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung.” (QS. Huud: 42)

Allah mengirim hujan dari langit yang belum pernah terjadi di muka bumi dan tidak akan terjadi setelahnya. Hujan tersebut ibarat gelombang yang sangat tinggi. Allah pun memerintahkan bumi untuk memancarkan air dari seluruh penjuru bumi.

Para ahli tafsir mengatakan bahwa ketinggian air mencapai lima belas hasta di atas gunung yang paling tinggi di atas bumi. Pendapat lain mengatakan tingginya delapan puluh hasta yang menenggelamkan seluruh permukaan bumi, dataran rendah maupun dataran tinggi, pegunungan maupun pesisir. Tidak tersisa satu makhluk hidup pun di muka bumi baik yang kecil maupun yang besar.

Nabi Nuh mengulurkan tangan dan memanggil anaknya, Yam sebagian pendapat menyebutnya Kan’an yang terlihat mengapung di antara air bah itu. Namun anak tertua Nabi Nuh menolak dan mengatakan akan berlindung di gunung sebagai tempat pertolongannya.

وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ قَالَ سَآوِي إِلَىٰ جَبَلٍ يَعْصِمُنِي مِنَ الْمَاءِ ۚ قَالَ لَا عَاصِمَ الْيَوْمَ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِلَّا مَنْ رَحِمَ ۚ وَحَالَ بَيْنَهُمَا الْمَوْجُ فَكَانَ مِنَ الْمُغْرَقِينَ

“…Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir.” Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.“ (QS Huud: 42-43)

Kan’an adalah anak tertua Nabi Nuh. Ia seorang yang kafir dan berbuat keburukan. la menyelisihi ayahnya dalam hal agama dan madzhabnya, sehingga ia binasa bersama orang-orang yang binasa.

Seluruh orang-orang yang tidak beriman telah binasa dan tidak tersisa sedikitpun. Mereka ditenggelamkan oleh air bah karena sebab kesalahan-kesalahan mereka. Mereka ditenggelamkan lalu dimasukkan ke neraka, dan mereka tidak mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Allah.

وَقَالَ نُوحٌ رَبِّ لَا تَذَرْ عَلَى الْأَرْضِ مِنَ الْكَافِرِينَ دَيَّارًا إِنَّكَ إِنْ تَذَرْهُمْ يُضِلُّوا عِبَادَكَ وَلَا يَلِدُوا إِلَّا فَاجِرًا كَفَّارًا

“Nuh berkata: “Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat maksiat lagi sangat kafir.” (QS Nuh: 26-27).

Allah Ta’ala telah mengabulkan doanya-segala puji bagi Allah-sehingga tak seorang pun yang tersisa. Bahkan jika pun ada yang dikasihi, maka seorang ibu dengan bayinya tentu yang akan diselamatkan.

عَنْ قَائِدٍ -مَوْلَى عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ -أَنَّ إِبْرَاهِيمَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي رَبِيعَةَ أَخْبَرَهُ: أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ ﷺ أَخْبَرَتْهُ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: “لَوْ رَحِمَ اللَّهُ مِنْ قَوْمِ نُوحٍ أَحَدًا لَرَحِمَ أُمَّ الصَّبِيِّ

“Aisyah Ummul Mukminin telah mengabarkan kepadanya bahwa Rasulullah bersabda: “Sekiranya Allah mengasihi seseorang dari kaum Nuh niscaya Dia akan mengasihi ibu seorang bayi.”

Ketika manusia telah musnah dari muka bumi dan tidak ada lagi orang yang menyembah selain Allah, maka Dia memerintahkan bumi untuk menelan airnya dan memerintahkan langit untuk menahan air hujan. Seketika air menjadi surut, hujan pun berhenti, dan bahtera Nabi Nuh berlabuh di atas Bukit Judi.

فَكَذَّبُوهُ فَأَنْجَيْنَاهُ وَالَّذِينَ مَعَهُ فِي الْفُلْكِ وَأَغْرَقْنَا الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا عَمِينَ

“Maka mereka mendustakan Nuh, kemudian Kami selamatkan dia dan orang-orang yang bersamanya di dalam bahtera, dan Kami tenggelamkan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang buta (mata hatinya).” (QS al A’raf: 64).

Nabi Nuh lantas menagih janji Allah yang akan menyelamatkan dan melindungi anak dan keluarganya. Tapi, Kan’an justru hilang bersama datangnya air bah itu.

Maka Allah menjawab bahwa ia bukan termasuk keluarganya. Sehingga Kan’an termasuk orang-orang yang akan tenggelam karena kekafirannya. Telah ditakdirkan bahwa ia akan menyimpang dari kalangan orang yang beriman dan akan tenggelam bersama orang-orang yang kafir dan orang yang melampui batas.

Allah lantas memerintahkan Nabi Nuh dan kaumnya yang tersisa dan beriman untuk turun dari bahtera dan pegunungan Judi serta kembali melanjutkan hidup di bumi. Allah juga telah menetapkan bahwa hanya anak-anak Nabi Nuh yang kelak akan memiliki keturunan, sedangkan orang-orang beriman lainnya tidak memiliki keturunan. Sehingga Nabi Nuh adalah bapak seluruh umat manusia setelah Nabi Adam.

وَجَعَلْنَا ذُرِّيَّتَهُ هُمُ الْبَاقِينَ

“Dan Kami jadikan anak cucunya orang-orang yang melanjutkan keturunan.” (QS ash-Shaffat: 77).

Semua keturunan anak Adam yang ada di muka bumi nasabnya kembali kepada ketiga anak Nuh yaitu Sam, Ham, dan Yafits. Sam adalah bapaknya bangsa Arab, Ham adalah bapaknya bangsa Habasyah, dan Yafits adalah bapaknya bangsa Romawi.

Setiap dari mereka memiliki tiga orang anak. Anak-anak Sam adalah bangsa Arab, Persia, dan Romawi. Anak- anak Yafits adalah bangsa Turkia, Slaves, Ya’juj, dan Ma’juj. Sedangkan anak-anak Ham adalah bangsa Sudan dan Barbar.

Dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Nuh memiliki anak: Sam, Ham, dan Yafits.
Said bin Al-Musayyib menjelaskan, “Anak-anak Sam adalah bangsa Arab, Persia, dan Romawi. Ada kebaikan pada mereka. Anak-anak Yafits adalah Ya’juj, Ma’juj, Turkia, dan Slaves. Tidak ada kebaikan sama sekali pada mereka. Sedangkan anak-anak Ham adalah bangsa Qibthi (Mesir), Barbar, dan Sudan.”

Penjelasan tentang dibinasakannya seluruh orang kafir dari muka bumi dan besarnya banjir yang gelombangnya laksana gunung itu, dinyatakan oleh sekelompok orang yang berpendapat, banjir itu adalah banjir global karena menenggelamkan seluruh dunia.

Selain itu, kelompok yang mendukung pendapat ini juga menunjukkan data-data berupa penemuan fosil-fosil gajah purba yang disebut mammut. Menurut kelompok ini, fosil gajah purba (mammut) itu ikut musnah ketika banjir besar terjadi.

Fosil mammut itu di antaranya ditemukan di Siberia pada 2 Juli 2007 lalu, juga pada 24 Juni 1977, dan fosil gajah purba (mammut besar) membeku di kutub utara. Menurut hasil penelitian, fosil-fosil gajah purba itu diperkirakan berusia sekitar 10 ribu tahun.

Adapun menurut kelompok yang menyatakan banjir di zaman Nabi Nuh AS itu sebagai banjir domestik (lokal), berdasarkan keterangan ayat Alquran juga.
Di antaranya, QS Ar-Ra’du [11]: 7, An-Nahl [16]:36, 84 dan 89, Al-Mu’minun [23]:44, An-Nisa [4]:41, dan Yunus [10]:47. Ayat-ayat tersebut di atas menjelaskan tentang adanya rasul yang diutus oleh Allah pada setiap umat.

Menurut kelompok ini, ada nabi lain selain Nabi Nuh AS yang sezaman dengannya. Contohnya, Nabi Ibrahim hidup sezaman dengan Nabi Luth.
Nabi Ibrahim sezaman dengan Nabi Ismail dan Ishak. Lalu, Nabi Ya’kub sezaman dengan Nabi Yusuf, dan lainnya.

Karena itu, menurut kelompok ini, banjir besar itu hanya menimpa umatnya Nabi Nuh. Siapakah nabi yang kira-kira hidup sezaman dengan Nabi Nuh itu? Inilah yang perlu dilacak kembali.

Sebab, berdasarkan hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Bukhari, jumlah nabi sebanyak 124 ribu orang dan rasul berjumlah 313 orang.

Nabi pertama adalah Adam AS, sedangkan penutup nabi dan rasul adalah Muhammad SAW. Alquran menyebutkan, jumlah nabi dan rasul itu sangat banyak dan hanya sebagian yang disebutkan dalam Alquran.

”Dan, sesungguhnya telah Kami utus beberapa orang Rasul sebelum kamu, di antara mereka ada yang Kami ceritakan kepadamu dan di antara mereka ada (pula) yang tidak Kami ceritakan kepadamu.” (QS Al-Mu’min [40]:78).
Bila jumlah nabi dan rasul (124 ribu orang) itu dibagi dengan masa hidup para nabi dan rasul sejak Nabi Adam hingga Rasulullah SAW (5672 SM-632 M), setidaknya setiap 19 tahun ada seorang nabi dan rasul yang diutus Allah untuk mengajak umat manusia beriman dan menyembah Allah.

Sejumlah ahli tafsir dan beberapa penulis buku kisah para nabi dan rasul, seperti Ibnu Katsir dan Afis Abdullah (Qishash al-Anbiya’) menyatakan, banjir itu adalah banjir lokal dan hanya umat Nabi Nuh yang dibinasakan. Sedangkan Ahmad Bahjat, juga penulis buku sejenis menyatakan, banjir itu adalah banjir global.

Kemudian, kelompok ini memperkuat argumentasinya dengan penjelasan bahwa berdasarkan hasil penelitian para ahli geologi terhadap banjir besar itu, peristiwa itu terjadi di wilayah mesopotamia yang meliputi wilayah Turki, Iran, dan Rusia.

Lantaran daerah itu berupa cekungan raksasa yang luasnya mencapai sembilan hingga 10 juta hektare, atau sekitar 70 persen dari luas Pulau Jawa. Sehingga, banjir saat itu besarnya bisa disamakan seperti lautan karena puncak bukit setinggi 5.000 meter, tidak akan tampak pada jarak 250 kilometer (km).

Dari citraan satelit, lingkup banjir pada saat perahu Nabi Nuh mendarat dapat dilacak dengan membuat garis ketinggian, dan menelusuri level yang sama dengan level lokasi perahu ditemukan. Dari sana diketahui, luas area banjir sekitar empat juta hektare, sedangkan panjang lingkup banjir sekitar 560 km.

Kelompok kedua ini juga berpendapat, suatu kaum tidak akan dibinasakan sebelum Allah mengutus seorang rasul kepada mereka, untuk menerangkan ayat-ayat Allah dan memberikan peringatan.

”Dan, tidak adalah Tuhanmu membinasakan kota-kota, sebelum Dia mengutus di kota itu seorang rasul yang membacakan ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman.” (QS Al-Qashash: 59).

Bagaimana dengan Hewan?
Sama halnya dengan banjir besar yang terjadi, para ahli juga berbeda pendapat mengenai hewan yang dinaikkan ke perahu. Pendapat pertama mengatakan, seluruh jenis hewan mulai dari hewan mamalia, burung, serangga, dan hewan lainnya baik jantan maupun betina, yang liar maupun yang jinak.

Sedangkan kelompok lainnya berpendapat, sebagian hewan saja. Maksudnya, hanya hewan-hewan atau jenis binatang yang ada di wilayah Nabi Nuh, baik liar maupun jinak, dan tidak keseluruhan yang ada di bumi ini.
Dan, keterangan Alquran yang menyebutkan ‘hanya’ sepasang (jantan dan betina), telah mengindikasikan bahwa hanya sebagian hewan (binatang), tidak terbatas binatang yang liar ataupun jinak. Wa Allahu A’lam.

Informasi Tambahan

Berat 1000 g
Dimensi 25 × 15 × 15 cm

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Tasbih Tua Kayu Gopher/Gofir/Abarkuh Cypress/Zoroaster Sarv/Cupressus Sempervirens Wood (NOAH ARK WOOD) origin Iran Yazd Province”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.