You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala Di Surga

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Melihat Allah Di Surga

Oleh; H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

بسم الله الرحمن الرحيم

حمدا له أظهر في الوجود *** نور حقيقة النبي المحمود
وصل يا رب على محمد *** الفاتح الخاتم طه الأمجد
وناصر الحق وهادينا الى *** صراطك القويم نهج الفضلا
وآله بحق قدره الفخيم *** وجاه مقدار مقامه العظيم.

أما بعد:

Di antara dalil yang diviralkan oleh imam Fakhruddin Ar-Raziy mengenai orang beriman akan melihat Allah Taala di surga

(وَإِذَا رَأَيْتَ ثَمَّ رَأَيْتَ نَعِيمًا وَمُلْكًا كَبِيرًا) [الإنسان: 20]

Berdasarkan adanya sebuah qiraat lain yang membaca kata Mulkan menjadi Malikan:

)مَلِكًا) بفتح الميم وكسر اللام،

Malikan berarti Raja. Telah menjadi konsensus orang islam bahwa tidak ada yang menjadi raja melainkan Allah. Oleh karenanya, aku meyakini ayat ini menjadi dalil paling kuat dari argumentasi lainnya dalam mengukuhkan pendapat yang menyatakan orang beriman akan melihat Allah di surga dengan mata kepalanya. (Tafsir Mafatihul Ghaib)

Ibn al-Jazariy mengutip dalam kitabnya Ghayatun Nihayah jilid 2 halaman 340: Qira’ah Malikan Kabira, diriwayatkan oleh ibn kastir dari Abu Ya’la bin Hakim ast-Staqafiy.

Qiraat tersebut Syadz, para ulama berselisih pendapat mengenai kebolehannya untuk dijadikan argumen, meskipun pendapat mayoritas ulama menolak qiraah syadz. Syekh Abdullah Bin Ibrahim as-Syinqithiy menyebutkan:

وليس منه ما بالآحاد رُوي ** فللقراءة به نفيٌ قَوِي

Qiraat yang diriwayatkan secara ahad itu bukan termasuk bagian al-Qur’an. Dilarang untuk membaca dan berhujjah degan qiraat syadzah tersebut.

Berbeda dengan imam as-Subkiy yang berpendapat bahwa qiraah syadzah boleh dijadikan argumen. Dawuh beliau dalam kitab Jam’ul Jawami’ ;

(أمّا إجراؤه مجرى الآحاد فهو الصّحيح).


Memberlakukan qiraah syadzah dari hadist ahad dianggap sah dalam argumentasi. (Hasyiyah al-Atthar jilid 1 halaman 300).

Contoh penggunaan qirâ’ah syâdz sebagai dasar hukum adalah sebagai berikut:

Memotong tangan kanan pencuri, berdasarkan kepada qirâ’at Ibn Mas’ud dalam surat al-Mâidah ayat 38, yang berbunyi:

وَالسَّارق وَالسَّارقَةُ فَاقْطَعُوْا أَيْماَنِيْهِماَ

Artinya: Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan kanan keduanya….
Dalam qirâ’at yang shahihah ayat tersebut berbunyi:

وَالسَّارق وَالسَّارقَةُ فَاقْطَعُوْا اَيْدِيَهُمَا

Madzhab Hanafi mewajibkan puasa tiga hari berturut-turut sebagai kafarah sumpah, juga berdasarkan kepada qirâ’ah Ibn Mas’ud dalam surat al-Mâidah ayat 89:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَ ثَةِ أيَّام مُتتَا بِعَاتٍ

Artinya: Siapa saja yang tidak sanggup melakukan demikian, maka kafaratnya adalah puasa selama tiga hari berturut-turut.

Dalam qirâ’at yang shahihah ayat tersebut berbunyi:

فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَصِيَامُ ثَلاَ ثَةِ أيَّام





Khadimul Majlis al-Mu’afah
H. Rizqi Dzulqornain al-Batawiy

Sumber : https://yayasanalmuafah.blogspot.com/2017/07/melihat-allah-di-surga.html?m=0