You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Mengetahui Dzat; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Mengetahui Dzat; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Sedangkan pengetahuan tentang Dzat Allah terkepung oleh cahaya benderang dalam ketidaksadaran, terhalangi oleh tabir-tabir keagungan yang terlindungi dan terlarang, terbentengi oleh sifat-sifat dan asma-asma-Nya. Puncak pengetahuan seseorang yang tidak mengenal dunia gaib adalah sebatas sampai pada bagian luarnya saja. Akhir perjalanan para pencari Tuhan adalah berhenti di belakang tabir-tabir itu, baik sekarang, kelak di akhirat, di kehidupan dunia atau di alam kubur. Barangsiapa yang ngotot ingin menghilangkan hambatan-hambatan tersebut, maka ia sudah gagal sejak semula, bahkan sebelum memulainya. Sama halnya ia dengan melipat bumi dan langitnya sendiri, lalu ia berakhir dengan sia-sia, mengalami kerugian besar, dan tetap dalam kebingungan, bahkan termasuk orang yang aniaya dan zalim. la sama halnya dengan menjerumuskan diri sendiri ke lembah paling hina, derajat paling bawah, sehingga dekat lumpur kotor. Sebaliknya, jika ia termasuk orang yang hatinya tercerahkan dan memiliki akal yang cerdas, maka ketika sampai di batas tabir-tabir itu ia akan segera berperilaku dengan sopan, menjalankan setiap tata krama yang seharusnya dilakukan. Sebab barangsiapa yang Allah SWT tidak menyingkap tabir itu untuknya, maka usaha apapun untuk mengetahui hakikat Dzat Allah adalah perbuatan sia-sia dan mustahil, Tidak ada kemungkinan sedikitpun menyingkap tabir itu dengan kerja manusiawi.

Orang yang cerdas, berakal sehat, terpercaya, dan berperilaku benar, apabila sudah sampai di ambang batas yang diperbolehkan baginya dan telah melepaskan baju kecemburuan yang dikenakan, maka ia segera berkata: tidak baik la diketahui oleh selain diri-Nya sendiri. Orang itu akan duduk bersimpuh di depan tabir dan berseru begini: “Wahai Yang Maha Dermawan (al-Wahhab), wahai Yang Mahajauh, tapi lebih dekat pada kami daripada urat nadi.” Lalu Allah SWT akan menjawab seruannya itu, memberinya tambahan pahala dan mengajarkannya hakikat-hakikat wujud. Allah SWT menyucikan diri-Nya, mengambil dan menempati surga sifat-sifat-Nya, bersenang-senang di taman kata-kata, berjalan dan datang dengan panampakan yang agung. Allah SWT tidak menolak kehadiran orang itu, dan tidak pula menutup-nutupi rahasia-Nya darinya. Dari atas Arsy Allah SWT berseru memanggil orang itu dari balik tabir: “Wahai hamba-Ku, Akulah Allah, kata-kata-Ku benar adanya.” Orang itu pun tahu, dan pengetahuannya benar. Lalu ia segera bersikap sopan di hadapan Allah, dan segera bertaubat.

Kemudian Allah SWT memilih beberapa hal untuk diberikan kepada orang itu seluruhnya, Allah meletakkannya di hadapan orang itu, agar ia memilih apa yang disukainya dengan bebas, dan membiarkan apa yang tidak disukainya. Allah SWT memberikan kekuasaan kepada orang yang dikehendaki-Nya dan mencabut kekuasaan dari mereka yang dikehendaki-Nya pula. Allah menjadikan mulia orang yang dikehendaki-Nya dan menjadikan hina mereka yang dikehendaki-Nya pula. Di genggaman-Nya lah terdapat kebaikan. la Mahakuasa atas segala-galanya. Ia adalah Mahabijaksana lagi Maha Mengetahui.

Yang demikian ini adalah maqamnya orang-orang yang berakhlak baik di hadapan Allah, sikap yang ditunjukkan oleh orang-orang yang terpercaya ketika berjumpa dengan Allah. Setiap orang sampai kepada-Nya sesuai dengan keilmuan masing-masing, sesuai dengan kuatnya keinginan masing-masing. Sekalipun maqam ini berlaku secara umum dan untuk umum, namun di antara mereka ada yang sempurna kedudukannya, dan ada pula yang lebih sempurna lagi. Dari magam inilah Shabibul Jama’ah datang. Dan di magam inilah orang yang sudah ditakdirkan menetap selamanya. Maqam ini adalah maqam puncak, maqam terakhir, magam keagungan dan kehormatan.

Saya katakan:

Tempat-tempat menjumpai Allah telah mendidik jiwaku. Orang yang cerdas berhenti di ambang batas itu.

Allah menampakkan Dzat-Nya padaku dengan amat nyata. Aku belum pernah menyaksikan cahaya terang matahari Dzat-Nya tenggelam dan pudar.

Ia mengambil tubuhku ini, ketika aku sangat rindu dan jatuh cinta pada-Nya.

Ia melepaskanku dengan membekali sifat-sifat, agar orang yang berakal dan benar dapat mengenaliku.

la memungut sesuatu dari hati ini, sehingga hati setiap manusia terisi oleh nama-Nya semata.

***

Jika engkau bertanya, “Bagaimana bisa tahu tentang Yaqut merah yang serupa dengan mawar?”

Saya jawab, “Untuk mengetahui Yaqut merah yang serupa mawar adalah dengan cara tidak mengetahuinya, tidak mendefinisikannya, dan tidak memberinya pengertian-pengertian apapun. Jika engkau tahu bahwa memang terdapat satu wujud yang tidak dapat diketahui, maka pengetahuanmu itu benar. Jika engkau sadar tentang kelemahan manusia mengetahui hakikat Allah, itu artinya engkau telah sampai pada kesadaran yang benar. Engkau telah meraih hakikat sejati. Jalan lurus telah tampak di hadapanmu. Barangsiapa yang tidak memiliki pengetahuan dan kesadaran semacam ini, dan tidak memiliki hikmah semacam ini, artinya ia masih terus-menerus mengupayakan sesuatu yang mustahil. Hal itu disebabkan kebodohan dan ketololannya. Bagimu, cukuplah engkau tahu bahwa dirimu tidak tahu. Cahaya kebenaran ini telah betul-betul terang. Maka genggamlah erat-erat. Ikutilah jejak nabi dan orang-orang yang jujur perkataannya. Nabi SAW bersabda:

لاَ أُحْصِي ثَنَاءُ عَلَيْكَ أَنْتَ, كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ

“Aku tidak dapat menghitung jumlah pujian untukmu. sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri.”

Ini adalah ungkapan tentang puncak kesadaran akan kelemahan diri, atau pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang telah sampai di depan tabir keagungan.

Seorang yang sangat jujur dan benar berkata: “Sadar akan ketidakmampuan memperoleh pengetahuan yang sempurna adalah pencapaian sempurna itu sendiri.”

Persoalan ini tidak mungkin bercampur-baur. Di balik tabir keagungan ilahiah itu hanya ada cara dan substansi. Mahasuci Tuhan yang jauh sekaligus dekat, yang tinggi sekaligus turun ke bawah. Orang-orang yang mengenal Allah (al-Arifun) dapat mengenal Allah dalam kadar yang dikehendaki oleh-Nya. Sedangkan hal-hal yang mesti diupayakan dan diusahakan oleh orang-orang arifbillah itu, maka ia tetap perlu dikerjakan. Salah satunya adalah sifat-sifat Salbiyah. Puncak pengetahuan kita adalah tahu bahwa Allah bersifat wujud (ada), Allah adalah Pencipta yang disembah, Allah adalah Tuan yang dijadikan sandaran hidup, tidak punya istri dan anak. Semua ini bermuara pada upaya menyucikan sifat-sifat Allah (tanzih), dan menegasikan keserupaan (salb al-tasybih). Mahasuci Allah jika harus diberi sifat-sifat (al-itsbat) tertentu. Mustahil jika makhluk yang baharu ini dapat mengetahui hakikat Dzat Allah. Lantas, jika sifat-sifat keagungan semacam itu tidak dapat diketahui, maka bagaimana dengan orang-orang yang memiliki sifat itu, atau sifat-sifat tersebut melekat padanya? Mahasuci Tuhan Yang Mahabesar, Mahaagung. Mahatinggi, yang tidak dapat dikenali. Karena itulah, yaqut merah yang dimaksud di atas adalah firman:

فَا طِرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا وَّ مِنَ الْاَ نْعَا مِ اَزْوَا جًا ۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ ۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
faathirus-samaawaati wal-ardh, ja’ala lakum min angfusikum azwaajaw wa minal-an’aami azwaajaa, yazro-ukum fiih, laisa kamislihii syaii, wa huwas-samii’ul-bashiir

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 11)

Dan firman:

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ 
sub-haana robbika robbil-‘izzati ‘ammaa yashifuun

“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 180)

Ayat-ayat di atas menunjuk pada pengertian tentang tabir keagungan yang telah kami paparkan di muka, sekaligus kepada rahasia-rahasia yang kami jelaskan di depan.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar