You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sebuah Perbincangan Di Zaman Azali; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sebuah Perbincangan Di Zaman Azali; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Asma-asma Allah berkumpul di hadapan Allah dalam jumlah yang tak bisa dihitung dengan angka, bertempat di luar ruang dan waktu. Masing-masing mereka bersatu dengan yang ada di samping, tanpa harus melekat atau berdampingan. (Masing-masing hanya memiliki martabat, dan kedudukannya tidak diperhitungkan). Mereka saling bertanya-tanya, “Mudah-mudahan kita dapat merasakan apakah ada wujud selain kita ini?” Di antara mereka tidak ada satu pun yang tahu tentang apa yang ada, kecuali dua asma, salah satunya adalah ilmu yang tersembunyi. Seluruh asma-asma yang ada berkumpul menghadap asma Allah yang bernama al-‘Alim yang mulia.

Asma-asma yang banyak itu berkata, “Engkau adalah hakim yang adil bagi kita semua.”

Dia menjawab, “Iya. Itu berkat asma Allah.” Dia kemudian menunjuk ke asma lain, ar-Rahman, dan yang mengiringinya, ar Rahim, juga menunjuk ke asma al-‘Azdim, Setelah membaca solawat untuk Allah, asma al-‘Alim itu segera kembali memberi tahu asma ar Rahman tentang rahmat yang diberikan kepada Sang Nabi, memberi tahu asma al-Khabir dan al-Alim tentang Muhammad yang mulia. Asma al-Alim itu juga memberi tahu asma al-Hamid tentang penutup para Nabi, umat pertama, dan para pengikut yang berada di bawah bendera rahmat dan kehormatan.

Sedangkan asma-asma lain yang tidak memiliki keutamaan yang telah dipaparkan panjang lebar itu, mereka yang diam membisu, tidak ada sepetah kalimat pun yang terucapkan.

Al-Alim berkata: “Siapakah asma yang kalian panjatkan selawat kepada-Nya, setiap kata-kata kalian selalu menunjuk kepada-Nya. kalian bersama dengan-Nya pada saat ini juga, dengan-Nya pula kalian mengetuk pintu pendengaran kita semua, dan kalian mengkhususkan sebagian di antara kita dengan asma ar-Rahim dan al-Hami?”

la kembali berkata, “Sungguh menakjubkan. Inilah dia yang kalian tanyakan padaku, dan memintaku menjelaskannya kepada kalian sejelas-jelasnya, agar aku menunjukkan jalan untuk kalian agar dapat mengenal-Nya dengan baik. Dia ada dan menyerupai kalian dalam keberadaan kalian, bekas-bekas penciptaan (nafkhah) kalian tampak baginya, segala apa yang ada saat ini juga ada di dalam diri-Nya, sama persis adanya, serta mencakup seluruhnya. Dia berserikat dengan kalian dalam hal asma-asma, Dia mengetahui tentang kalian melalui pelantaraan aku. Apa yang ada pada kalian, semuanya berasal dari-Nya.”

Al-Alim memberi tahu sebagian asma-asma, di antaranya asma al-Wujud dan an-Nur bahwa asma Wujud ini menciptakan hakikat, cara, dan kondisi. Di dalam diri asma Wujud ini, berkat pertolongan asma al-Dhabir, hakikat-hakikat kalian semua tampak nyata. Kepada asma Wujud, melalui asma al-Mannan dan shahabat-shabatnya yang lain, kelemah-lembutan kalian menuju.”

Asma-asma itu bertanya, “ceritakan pada kami tentang suatu hal yang kami tidak ketahui. Sepertinya asma yang engkau ceritakan barusan, yang penjelasan-penjelasan tentangnya melebihi kemuliaan kami, adalah asma yang sangat agung. Sejak kapan asma itu ada, dan bagaimana rahasianya dapat bersinar?”

Al-‘Alim menjawab, “Kalian pantasnya bertanya kepada asma al-Khabir, dan meminta petunjuk kepada asma al-Bashir. Kita tidak berada di satu zaman. Antara kita dan keberadan semesta ini terbentang waktu yang panjang. Puncak waktu yang kita miliki hanya sebatas mengetahui kehendak di hadapan asma al-Qadim. Mari kita bersama-sama bertanya kepada asma yang melingkupi seluruhnya di dalam dirinya sendiri, yang Mahasuci. Dan dia menunjuk kepada asma al-Murid. Asma al-Murid ini memiliki kehendak kepada sesuatu namun pada waktu bersamaan memiliki kehendak kepada sesuatu lain yang menjadi lawannya, sehingga dia tidak dapat mengambil keputusan. Akibatnya aku tidak dapat dipisahkan dari kalian berdua. Aku terus-menerus bersama kalian. Aku adalah tetangga yang baik, shahabat dekat kalian dekat.”

Al-Murid ditanya, “Kapan diciptakannya sederat daftar peraturan dan hukum di alam semesta ini, dimana kita semua berkuasa di sana, serta berkat adanya daftar aturan dan hukum itu maka alam semesta tersebut berjalan seperti adanya, seperti yang dipaparkan oleh asma al-Alim barusan?”

Al-Murid menambahi, “Dan seakan-akan berkatnya maka sesuatu menjadi ada, serta ditemukan dalam benda-benda.”

Asma al-‘Alim berkata, “Ia diberi nama manusia, asma ar-Rahman menjadikannya makhluk pilihan, dan oleh asma al-Muhsin bersama shahabat-shabatnya memberinya kebaikan penuh. Asma ar-Rahman berkata kepada asma al-Muhsin dengan malu-malu, dan berkata, “Betul saudaku, betul sahabatku.” Demikian pula dengan asma al-Wahib. Asma al-Wahhab berkata, ‘Akulah yang maha memberi, baik dengan diperhitungkan maupun tanpa perhitungan.’ Asma al-Habib berkata, ‘Aku mendukung apa kalian berikan. Aku juga yang menghitung apa yang kaian berikan dengan dibantu kesaksian yang datang dari asma al-Syahid. Aku yang memiliki kemampuan untuk mendukung dan menyokong. Kecuali asma al-‘Alim yang mengetahui apa yang dilakukan oleh asma al-Mu’thi di setiap waktu.’ Dan pada waktu itu pula ia menyembunyikan tambahan pemberian dengan cara yang dapat diketahui dan tidak dapat mengakhirnya. Dia menginkan sesuatu sekaligus apa yang menjadi lawannya, sehigga tak mampu mengambil keputusan. Jadi, aku tikda bisa lepas dari kalian berdua, aku tidak bisa berpisah dari kalian, aku bagi kalian adalah shahabat dekat sekaligus tetangga yang baik.”

Akirnya, semua asma-asma itu diberikan kepada seorang hamba bernama manusia sesuai batasan ilahiah. Semua asma itu bangga dengan jati diri masing-masing di hadaan dzat Tuhan. Mereka mengetahui hikmah-hikmah yang dimiliki masing-masing, dan menuntut agar dipercepat proses penciptaan alam semesta ini karena keburu agar mata kepala bisa menyaksiakan keberadaan mereka. Mereka semua bergerak menuju asma al-Murid yang dipasrahi secara khusus penciptaan wujud.

Mereka berkata, “Kami memohon kepadamu demi Tuhan yang telah mengumpulkan kami di sini, dan demi nyatanya dzat ketuhanan yang meliputi kita semua, kecuali apa yang dirimu sendiri gantungkan pada sesuatu yang kedatangannya ditunggu-tunggi ini, lalu engkau memiliki keinginan padanya. Dan kepada engkau, wahai Yang Mahakuasa (al-Qadir), aku memohon kekuasaan kepadamu, kecuali apa yang telah engkau adakan. Kepada Engkau, wahai Yang Mahabijaksana (al-Hakim), aku memohon kebijaksaan, kecuali apa yang telah engkau putuskan. Kepada Engkau, wahai Yang Maha Pengasih (ar-Rahman), kami memohon kepadamu, kecuali apa yang telah engkau rahmati. Demikianlah, masing-masing saling memohon satu sama lain, baik dalam keadaan berdiri maupun duduk.”

Asma al-Qadir berkata, “Wahai saudara-saudaraku, kepada Al-Murid ada ketergantungan (ta’alluq), dan di tanganku kemampuan mengadakan (ijad).”

Asma al-Hakim menimpali, “Di tangan al-Qadir memang ada kemampuan untuk mengadakan, tetapi di tanganku ada keputusan untuk menentukan (ihkam).”

Asma ar-Rahman berdiri dan langsung menyambung, “Akulah yang dipasrahi menangani hubungan silaturrahmi dan kasih sayang. la terdapat di dalam diriku, ia ingin sekali lepas keluar.”

Asma al-Qadir kembali berkata, “Semua itu berada di bawah keputusan dan paksaanku.”

Asma al-Qahir berkomentar (kepada asma al-Qadir), “Jangan begitu, itu adalah wewenangku, engkau hanya pembantuku, sekalipun engkau juga sahabat dan teman karibku.”

Asma al-‘Alim menengahi, “Siapa saja yang berkata berada di bawah keputusanku, maka ia mesti mendahulukan ilmu dariku.”

Akhirnya semua perkara bergantung kepada asma-asma itu. Gabungan keseluruhan mereka melahirkan alam semesta, langit. bumi, dan seisinya.

Andai saja kami bukankan pintu untuk engkau sehingga kalian dapat menyaksikan peristiwa bagaimana masing-masing asma itu saling bergantung satu sama lain, niscaya engkau akan lari ketakutan. Akan tetapi, apa yang telah kami jelaskan di atas sekedar sebagai peringatan atau pengantar awal mengenai hal-hal yang sengaja kami sembunyikan dan tinggalkan.

Mari kita kembali ke firman Allah yang berbunyi:

وَاللَّهُ يَقُولُ الْحَقَّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيلَ

“Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar).” (QS Al-Ahzab: 4)

Ketika firman suci ini didengar oleh sekumpulan asma-asma suci itu, semua asma langsung merasa dahaga karena terlalu berhasrat masing-masing dirinya menampakkan diri di alam semesta, terutama nama tuhan yang disembah. Untuk alasan itulah, alam semesta ini diciptakan oleh Allah SWT agar mereka dapat mengenal Allah seperti Allah mengenal mereka, dan agar mereka memberi sifat-sifat kepada Allah karena Allah telah memberi sifat kepada mereka.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ
wa maa kholaqtul-jinna wal-ingsa illaa liya’buduun

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 56)

مَاۤ اُرِيْدُ مِنْهُمْ مِّنْ رِّزْقٍ وَّمَاۤ اُرِيْدُ اَنْ يُّطْعِمُوْنِ
maaa uriidu min-hum mir rizqiw wa maaa uriidu ay yuth’imuun

“Aku tidak menghendaki rezeki sedikit pun dari mereka dan Aku tidak menghendaki agar mereka memberi makan kepada-Ku.”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 57)

Karenanya, semua asma itu berpaling kepada asma Allah yang lebih umum; sebuah asma yang paling agung dan kuasa.

Ada yang bertanya, “apa arti keberpalingan ini, dan untuk apa itu terjadi?”

Asma-asma itu menjawab, “wahai pemimpin yang telah mewakili semua hakikat dan manfaat yang kami miliki, bukankah engkau tahu bahwa masing-masing di antara kami ini memiliki hakikat, cara, dan jalan yang berbeda-beda. Dan engkau betul-betul tahu dan yakin. apapun yang kami miliki, engkaulah yang lebih sempurna dan lebih banyak mendapat bagian. Andaikan ada sesuatu yang melepaskan diri dari engkau, niscaya engkau mengetahui dan melihatnya, engkau tetapi suci dengan kehadirannya, tetapi kami dengan hakikat masing-masing ini sangatlah terbatas, kami tidak dapat mendengar kabar apapun, dan tidak dapat melihat dampak peristiwa yang terjadi.”

Andai saja alam semesta ini tampak; alam yang disebut alam atas dan alam bawah, niscaya kami semua akan menuju kepadanya, hakikat-hakikat kami akan menampakkan diri di sana, dan kami akan menyaksikannya secara kasat mata, karena sebagian dari diri kami berada di dalam ruang dan waktu (aina), berada dalam kondisi yang betul-betul terpisah. Namun dari segi substansi dan cara, kami tetap berada dalam kondisi suci yang lepas dari ruang dan waktu, dan kami tidak dapat meliputi mereka. Posisi tertinggi yang dapat mereka capai hanya sekedar dapat menggali argumentasi atau kilatan imajinatif melalui penampakan-penampakan lembut kami tentang hakikat-hakikat kami. Kami betul-betul butuh berpaling dan pasrah kepadaMu, dan hanya kepadamu kami menuju.

Asma paling agung itu (al-Ism al-A’zdam) itu pun lalu berpaling kepada Dzat, sebagaimana dilakukan oleh asma-asma dan sifat-sifat tersebut kepada dirinya. Al-ism al-azdam menuturkan perkara yang ditemuinya dan menceritakan rahasia-rahasianya. Dirinya sendiri yang bersifat al-Mutakallim menjawab keluhan dari al-ism al-azdam itu, melalui sifat al-Alim. Semua itu terjadi karena adanya sifat Ar-Rahman. Sampaikan kepada asma al-Murid. Suara itu memerintah. Lalu terjadilah apa yang diperintahkan itu. Asma al-Qadir mengurusi urusan penciptaan dan pengadaan. Lalu tampaklah segala yang kalian harapkan; semua yang kalian kehendaki dapat disaksikan secara kasat mata. Proses ini berkaitan erat dengan sifat iradah (kehendak), ilm (pengetahuan), qaul (sabda), dan qudrah (kemampuan). Dari sinilah muncul bilangan dan jumlah. Ini semua berpangkal dari sifat kasih sayang Tuhan dan limpahan cinta-Nya. Penciptaan pertama adalah junjungan kita, Muhammad SAW, dalam bentuk paling sempurna dan susunan tubuh yang paling indah.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar