You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Mutiara yang Sesuai dengan Yaqut Ketujuh; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Mutiara yang Sesuai dengan Yaqut Ketujuh; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Ketika buah-buah yang bisa dipetik menjutai-juntai, dalam tiga masa yang berturut-turut, dan satu petikan dilakukan setelah petikan sebelumnya, kasih sayang tumbuh di atas kasih sayang, maka permasalahan ini sudah selesai. Dapat dibilang: “sudah tidak tersisa kebaikan yang lain. Tidak ada beras lagi.”

Berpegang teguhlah kepada hadis Nabi SAW ketika beliau menyampaikan kisah tentang Khatamul Auliya kepada para sahabatnya. Beliau bersabda:

ما تنقضي زَمَانٌ إلا والذي بَعْدَهُ أَشَرُّ مِنْهُ

“Tidak ada satu masa yang berakhir, kecuali masa yang datang berikutnya lebih buruk dari masa sebeumnya. “(HR Bukhari)

Mereka melupakan masa yang keempat, yaitu suatu masa yang datang setelah tiga masa sebelumnya, yaitu zaman dimana Al-Mahdi dan penutup para wali hidup, sekaligus masa dimana Isa a.s akan turun.

Sebab, setelah tiga masa itu berakhir, dan memasuki bulan Shaffar, kerusakan merajalela di kehidupan manusia, kesialan dan kesedihan datang bertubi-tubi sampai tiba bulan Rajab, bulan yang menyamai tiga masa sebelumnya itu. Ia berkumpul dengan teman-temannya, namun dia berbeda dengan mereka. Seluruh masa berpadu lantaran munculnya “rahasia yang terpelihara”.

Ketika bulan Dzul Hijjah berada di tengah-tengah tiga bulan yang dihormati, maka ia menjadi bulan yang paling mulia, bulan menanggung tanggungjawab, bulan ampunan bagi orang-orang di padang Arafah, ini adalah bulan pertama untuk mendapat kemuliaan, bulan pertengahan dari segi putaran waktu, hukum terminologis. Karena itulah, raih segera nilai-nilai spiritualnya sejak awal-awal. Yang demikian ini dilihat dari perspektif hikmahnya, bukan secara hukum pasti (tahkim). Dzul Hijjah adalah bulan pertama, sekalipun ia berada di pertengahan. Dalam hal ini saya tidak berkata berlebih-lebihan.

Mengingat bulan Rajab adalah bulan mulia itu, maka pada saat itulah yang pertama bertemu dengan yang terakhir, bulan yang mendengar dan yang tuli. Bulan ini serupa dengan tiga bulan yang dihormati lainnya. Akan tetapi, berdasarkan pada dalil yang lebih kuar, kemuliaan bulan Rajab ini lebih mirip dengan kemuliaan bulan Dzul Hijjah. Rajab memang bulan yang lebih belakangan secara fisik, namun starus nilainya adalah yang pertama. Tidakkah engkau tahu bahwa Nabi Muhammad SAW adalah Nabi yang terakhir dalam kehidupan duniawi, namun ia adalah yang pertama dalam kehidupan ukhrawi. Jika penilaian semacam ini dapat diterima maka penilaian tentang kesamaan juga bisa diterima. Cara seperti inilah yang saya terapkan dalam hal ini. Tidakkah engkau tahu apa yang disabdakan Rasul SAW kepada sahabat-sshabatnya tentang kalian:

لِلْعَامِلِ مِنْهُمْ أَجْرُ سَبْعِينَ مِنْكُمْ

“Satu orang yang beramal dari golongan mereka sama dengan pahala tujuh puluh orang dari golongan kalian.”

Para shahabat itu bertanya, “Bahkan dari golongan mereka sendiri?”

Rasul menjawab, “Bahkan dari golongan kalian!”

Rasulullah sendiri menguatkan adanya keunggulan dalam sabda-sabdanya itu.

Perhatikanlah mulianya perjuangan ini, dan keutamaan yang menyeluruh ini.

Jika seorang musuh yang lemah menentangmu dalam hal keunggulan pemberian dan anugerah tersebut, maka ketahuilah:

Keunggulan itu sendiri memiliki banyak pintu, orang-orang yang diunggulkan juga ada alasannya, karena persoalan ini berkaiatan erat dengan soal tambahan dan pengurangan anugerah, baik berdasar pada hukum teoretis maupun adanya nash. Tuhan Yang Maha Esa memberikan keunggulan kepada sahabat beliau (Muhammad) berupa kemampuan untuk berbicara dengan Allah, sahabat beliau lain diberi keunggulan berupa kemampuan untuk menghidupkan orang yang sudah mati, dan menyembuhkan penyakit kebutaan dan lepra.

Jika penjelasan ini dapat diterima dan kesamaan derajat juga sudah jelas, maka mereka mengutamakan dan mengunggulkan kita dengan cara yang berbeda dengan cara yang kita tempuh untuk mengutamakan dan mengunggulkan mereka. Mereka dapat mengenal kita dengan bukti yang berbeda dengan cara kita mengenal mereka. Dalam hal sifat, kita bersekutu, bahkan di sebagian tingkatan makrifat kita bisa berkumpul bersama.

Jika pengunggulan seperti ini sudah dapat ditangkap dengan jelas. maka penjelasan lebih rinci sudah terbuka untuk engkau. Dan engkau bisa memberi tafsiran baru.

Jika bulan Dzul Hijjah adalah wadah kemuliaan dan penentuan, maka kita membawa bulan-bulan berikutnya ke hitungan dua ratusan tahun. Karenanya, waktu kemunculannya setelah berakhirnya huruf hijaiyah Kha

Waktu kelahirannya adalah setelah berakhirnya huruf Shad dan Ba’, setelah rampungnya penciptaan dan menyatunya bagian-bagian.

Boleh jadi ada seorang kritikus yang mengkritik ilmu ketujuh. Katakan padanya bahwa Dzul Hijjah adalah wadah hukum, di negeri keagungan. Kemunculan dan berakhirnya bulan ini adalah masa dimana Khatamul Auliya datang, yaitu ketika bilangan ganjil telah fana, seperti yang disebutkan dalam syair berikut.

Wallahu Alam bi al-Shawab (Allah Maha Tahu atas yang benar).

Tammat

Di bawah ini adalah syair-syair yang disajikan oleh tulisan Ibnu Arabi. Syair qasidah ini mengandung bilangan ganjil yang dimaksud di atas, yang diungkap dalam bentuk syair.

Aku kagum pada satu wujud yang berisi segala macam bentuk, baik malaikat yang mulia, jin, dan manusia

Baik alam bawah maupun alam atas, termasuk hewan, tumbuhan dan bebatuan

Tidak ada yang lain selain wujud itu, tidak!, tapi semua itu bukan dzat wujud itu. Dan semua bentuk yang dikehendakinya, pasti datang dan badir

Dzat wujud itu bisa terlihat oleh mata, namun ia tersembunyi dan samar dari pikiran

Akal pikiran tidak bisa mengetahuinya, telinga dan mata hanya dipenuhi oleh prasangka-prasangka

Wujud itu Maha Hidup, akan tetapi kehidupan tidak berdiri pada dzat-Nya, layaknya yang terjadi pada seluruh bentuk-bentuk yang ada selama ini

Siapalah yang lebih baik dari dzat yang aku sebutkan sifat-sifatnya barusan, dzat yang diterka oleh pikiran itu

Wujud itu tidaklah tersembunyi, tidak pula sesuatu yang gaib. Wujud itu dapat dilihat, namun ia samar dari penglihatan

Apakah engkau pernah mendengar syair yang sama dengan syairku ini, beritahulah aku. Ini semua adalah ibrab dan pelajaran

Tidak ada yang tahu tentang apa yang saya bawakan ini, selain Allah semata. Segenap makhluk tidak ada yang tahu tentangnya

Tidak ada yang serupa dengannya, kecuali manusia kecil, dan aku sungguh kagum padanya karena kesempurnaannya, dan ia terbatas

Tammat, dan Kebaikan Telah Menyebar Luas

ا ب ت ث ج ح خ د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ع غ ف ق ك ل م ن و ه لاي

“Menurut Nu’aim bin Hamad: “Al-Mahdi hidup pada tahun dua ratus.” (al-Hadis)

Nu’aim juga meriwayatkan hadis lain, dari Ja’far, ia berkata, “Al-Mahdi hidup pada tahun dua ratus.” (al-Hadis)

Ini menunjukkan bahwa usia umat ini sekitar 1400 tahun (Rasail Imam Suyuthi).

Syaikh AL-Akbar dalam Jufr Al-Jami’ berkata, “seekor Rajawali (Anqa) akan muncul pada tahun 203.”

Syaikh Al-Akbar juga bersyair:

Alam semesta adalah maqam kalian, dan kalian adalah dzat. Tuhan bagai matahari, dan kalian bagaikan debu-debu kecil

Keseluruhan semesta berada dalam diri kalian, dan kalian berada di dalam semesta itu. Kalian adalah milik mereka, dan mereka bagi kalian bagai cermin

Rasulullah SAW bersabda:

الأَئِمَّةُ مِنْ بَعْدِي إِنَّنَا عَشَرَ نَقِيبًا أَوَّهُمْ وَآخِرُهُمْ الْمَهْدِي الَّذِي يَفْتَحُ اللهُ عَلَى يَدَيْهِ مَشَارِقَ الْأَرْضِ وَمَغَارِبَهَا

“Para imam setelahku ada dua belas kepala suku. Yang pertama dan yang terakhir adalah Al-Mahdi, yang di tangannya Allah memberi kemenangan baik di Barat maupun di Timur.”

Rasulullah SAW bersabda:

لا تَنقَطِعُ اللَيَالِي وَالأَيَّامُ حَتَّى يَبْعَثَ اللَّهُ رَجُلاً مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يُوَاطِئُ اِسْمُهُ اسْمِي يَمْلَاءُ الْأَرْضُ عَدْلاً

“Kiamat tidak akan pernah terjadi, sampai Allah mengutus seorang lelaki dari keluargaku, namanya sama dengan namaku, yang memenuhi bumi dengan keadilan.”

Adalah benar apa yang disampakan oleh Rasulullah SAW.

Ibnu Sina menyatakan dalam menjawab pertanyaan syaikh Al-Said, yaitu Abu Said bin Abul Khair, semoga Allah mensucikan jiwanya: “prinsip pertama memberi pengaruh pada seluruh makhluk secara mutlak, dan unversalitas pengetahuannya adalah sebab bagi keberadaan alam semesta, sehingga tak satu pun yang luput dari pengetahuannya itu, baik yang di bumi maupun yang di langit.”

Betapa bagusnya apa yang dikatakan itu, sebuah mutiara martabat.

***

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar