
Elsubha.com – Mutiara Kemenyatuan Yaqut-Yaqut dan Keteraturan Waktu; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Ketika semua makhluk sudah tahu, kehalusan menyusup ke dalam hakikat, pribadi manusia Adam yang diciptakan oleh tangan Tuhan Yang Mahasuci telah membentuk tubuh fisik di awal penciptaannya. mengenakan perhiasan-perhiasan kehormatan dan pujian, dan tubuh fisik itu semakin sempurna dari waktu ke waktu, sedikit demi sedikit dalam hal jumlah dan usianya, sampai-sampai perkembangan tersebut merupakan satu kesatuan penciptaan, bentuk pribadi yang menjasad. Maka setelah penciptaan tubuh itu sempurna, sifat kesucian telah disematkan padanya, Allah meniupkan roh manusia ke dalam tubuh itu, meniupkan kalimat ketuhanan dan perintah rabbani. Tubuh itu pun berdiri menggunakan kakinya, memanfaatkan semua yang ada pada dirinya, dan pada akhirnya dia kembali pada asal penciptaannya sehingga “cahaya siang” itu terlepas dari “kegelapan malam” tanah bahan penciptaannya dan memilih bersatu dengan unsur bahan dasar penciptaannya yang lebih agung, satu sama lain bergabung, dan ia pun menjadi pemantau dari tempat yang tinggi, menjadi pengamat bagi setiap pergantian dalam penciptaan. Kita akan melihat siapa dia sebenarnya dengan pasti di maqam al-tamkin.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَتَعْلَمُنَّ نَبَاَ هٗ بَعْدَ حِيْنِ
wa lata’lamunna naba-ahuu ba’da hiin
“Dan sungguh, kamu akan mengetahui (kebenaran) beritanya (Al-Qur’an) setelah beberapa waktu lagi.””
(QS. Sad 38: Ayat 88)
Dia pada waktu itu adalah hakim yang paling adil. Setelah dia terangkat seperti yang telah kami jelaskan di muka, tentang peristiwa kembalinya ke asal penciptaannya yang penjelasan detailnya sengaja kami tutup-tutupi, maka kerajaannya segera mengalami kehancuran, kebinasaan meliputi semua hamba Tuhan, sampai kemudian matahari berada di pundaknya, kemuliaannya dibangkitkan, anak sungainya dialirkan, perputarannya memancarkan cahaya, dan perintah diturunkan. Dunia atas pun bergoncang keras karena adanya penampakan (tajali) itu, ruang-ruang yang mulia itu dipenuhi oleh cahaya penampakannya. Kemuian bersinarlah cahaya firman-Nya yang berbunyi:
فَا طِرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا وَّ مِنَ الْاَ نْعَا مِ اَزْوَا جًا ۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ ۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
faathirus-samaawaati wal-ardh, ja’ala lakum min angfusikum azwaajaw wa minal-an’aami azwaajaa, yazro-ukum fiih, laisa kamislihii syaii, wa huwas-samii’ul-bashiir
“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 11)
Cahaya firman itu ditutupi oleh baju pemeliharaan, sampai kemudian ia tiba di alam semesta dan permata yang bersinar itu singgah di tempat bintang yang tinggi di alam itu. Angka yang berada dalam lintasan bintang itu pun bisa diperoleh, la berupa yaqut merah yang berbentuk lingkaran dan di dalamnya ada yaqut kuning. Allah SWT menyematkan angka itu di dalam yaqut-yaqut tersebut, dan Allah mengakhiri perjalanan yaqut tersebut dengan firman-Nya:
فَلَا يَصُدَّنَّكَ عَنْهَا مَنْ لَّا يُؤْمِنُ بِهَا وَا تَّبَعَ هَوٰٮهُ فَتَرْدٰى
fa laa yashuddannaka ‘an-haa mal laa yu-minu bihaa wattaba’a hawaahu fa tardaa
“Maka janganlah engkau dipalingkan dari (Kiamat itu) oleh orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti keinginannya, yang menyebabkan engkau binasa.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 16)
Ketika dua hakikat bersatu, dua kehalusan bertemu, falak-falak terang-berderang, para raja berlindung, serangan lebih dulu terjadi bagi siapa saja yang berniat untuk menyerang, cahaya Tuhan dan firman-firman kebenaran turun dan tampak, kemudian dua yaqut itu merasuk ke dalam kegelapan karena yaqut yang berwarna kuning itu melihat ayat-ayat Tuhan yang masih tersembunyi dan gaib.
Ketika yaqut kuning berkumpul dengan saudaranya, ia memiliki seorang anak perempuan, kemudian ia menemui saudarinya, dan sang ibu memuliakan kedudukannya dan memuji dirinya. Yaqut merah itu muncul di balik tabir rahasia, tiba-tiba ia datang bersama cahayanya Khatamul Auliya. Yaqut merah itu mengajaknya bercakap-cakap:
“Aku adalah Khatamul Auliya, penutup para wali dan pemuka golongan orang-orang suci.”
“Aku adalah hikmah-hikmahnya yang tersembunyi, cincin umatmu.”
Yaqut itu bertanya, “Apakah kamu akan menjadi pelayannya yang jujur terpercaya?”
la menjawab, “sungguh telah menggantikan yang lama!”
Jubahnya terlepas, dan as-Shiddiq berada di depannya, sementara Samsul Maghrib di belakanganya. Kemudian mereka berpisah, dan as-Shiddiq mengantarnya.
Setelah perubahan-perubah peristiwa berakhir, cahaya-cahaya berhenti bersinar, dan kehalusan sifat berpisah dari hakikat universalnya yang terjadi di dalam lempeng-lempeng zamrud tanah, maka terdengarlah suara pelayannya, pemegang rahasia dan yang mengurusi urusannya, yang menggantikannya sebagai penutup para wali, yang layak untuk menyelematkannya.
Kami katakan: ia pun kembali ke asalnya di malam itu, ia mengerjakan shalat subuh berjemaah bersama keluarganya, ia pun kembali serupa dengan kebanyakan orang umumnya, seperti manusia biasa yang ada sejak dulu sampai sekarang, karena ia telah menjadi materi dari hakikat asli; tubuh fisik yang hidup di tengah-tengah masyarakatnya, dan sifat-sifat lain kembali seperti semula.
