You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Keterangan dari Hadis Sahih tentang Maqam-Maqam Khatamul Auliya, Kondisi, dan Tanda-Tandanya; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Keterangan dari Hadis Sahih tentang Maqam-Maqam Khatamul Auliya, Kondisi, dan Tanda-Tandanya; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Seperti yang terdapat dalam kitab Bukhari dan Muslim, maka lihatlah isyarat-isyarat yang disampaikan oleh ibnu Batthal dan pengarang kitab al-Mu’allim, serta penjelasan lain yang serupa.

Sedangkan Nabi Muhammad SAW berkumpul dengannya di bumi yang dijadikan bahan penciptaan Nabi Adam a.s. Bumi yang dimaksud ini mengandung banyak keajaiban-keajaiban yang membuat pendengarnya terheran-heran, serta banyak pula prasangka buruknya.

Penjelasan panjang lebar tentang bumi dan keajaiban-keajaibannya itu telah saya sajikan dalam karangan tersebut yang berjudul al-I’lam Bima Khalaga Allah min al-Ajaibi fi al-Ardhi allati Khuliqat minha Thinatu Adam Alaihissalam.

Ketahuilah oleh kalian semua bahwa waktu bagi Khatamul Auliya itu terbagi empat macam, dari segi bentuk perjanjian-perjanjian pertama atas hal-hal yang tertulis di zaman azali.

1. Tahun pertama layaknya bulan

2. Tahun kedua layaknya hari Jumat

3. Tahun ketiga layaknya satu hari

4. Tahun keempat layaknya satu jam

Sedangkan tahun-tahun yang lain layaknya kilatan-kilatan harapan dan angan-angan. Dengan status khatm (penutup atau akhir bagi kewalian), maka dia tidak merasa dengan statusnya sendiri itu. Statusnya itu tampat karena ada orang lain, bukan atas pengetahuannya senidri. Ia berjalan dalam falaknya dengan cara yang bertentangan dengan hukum semestinya. Andai saja kemunculannya tidak diketahui dengan cara seperti ini, dan hukumnya dengan hukum seperti ini pula, niscaya maqam sebagai khatm tidak bakalan diketahui, jabatan kewalian juga tidak bakalan ada yang mengakhirinya, begitu pula hidayah tidak akan sempurna.

Dia memiliki dua tempat berkumpul, sahabatnya memiliki dua kebanggaan, di wajahnya terdapat dua cahaya, dalam hapalannya ada dua pengetahuan, memiliki dua dunia yang baginya dua dunia itu berada dalam satu hukum, namun dia menetapkan satu hukum tertentu pada salah satu dari kedua dunia itu, dia lah yang memiliki dua hukum.

Khatamul Auliya itu berasal dari ‘Ajam (non-Arab), bukan dari orang Arab, warna kulitnya sao matang, kekuning-kuningan, posturnya lebih bisa dibilang tinggi daripada disebut pendek. Seakan-akan dia bulan purnama. Namanya Abdullah, sebuah nama yang dipakai oleh semua hamba Allah. Sedangkan nama dirinya sendiri tidak bisa di-i’mb (karena bukan dari bahasa Arab), sama sekali jauh dari unsur gramatika bahasa Arab.

Inisial pertamanya adalah ‘ainul yaqin, dan huruf terakhirnya adalah Qoyyumiatut tamkin

Separuh putaran falak, dan yang separuhnya hancur

Tidak dipanggil dengan sebutan nama lain, kedua orang tuanya tidak diketahui

Jika dia diam, engkau menyebutnya memakai celana, dan jika dia berjalan maka jalannya layaknya orang yang berlari kecil

Perkataannya penuh oleh keridhaan, perbuatannya patut dipuji dan disyukuri

Semua ini adalah sifat-sifatnya. Pahamilah!

Berikut ini adalah isyarat tentang Khatamul Auliya itu. Lihat syakalnya:

Telah saya jelaskan padamu tentang petunjuk mencarinya, dan saya lapangkan jalan menemukannya. Saya telah menutup peluang penafsiran bagimu dengan cara menentukan siapa nama dan silsilah keluarganya.

Saya betul-betul sudah menjelasan petunjuk tentang dirinya. dan melapangkan jalan untuk menemukannya, serta telah menutup peluang bagi adanya tafsiran lain. Saya telah menentukan nama, nasab. rahasia kemuliaannya, dan kedudukannya. As-Shiddiq al-Akbar berada di bawah benderanya, dia adalah Sayyidul Auliya (tuan para wali), seperti halnya Nabi Muhammad SAW adalah sayyidul Anbiya’ (tuan bagi semua Nabi). Jika engkau berkenan, say saya akan menjelaskannya secara bilangan, dan saya bersumpah atas nama negeri ini.

Ini berdasarkan nash Alquran dan informasi dari hadis sahih. Perhatikan syakalnya:

Syakal di atas adalah milik seorang tuan yang menjadi tempat mengadu. Perhatikan dalam bilangan tiga puluhan.

Jadilah engkau seperti anak panah yang menghunus setan kebodohanmu sendiri, dan jika engkau tidak mampu menafsirinya, maka sebentar lagi akan datang bajunya yang membuatmu senang, ia akan menghilangkan segala kesusahanmu, Yakqubmu akan kembali bisa melihat. Dalam soal akhlak, dia adalah bilangan genap, namun dari segi penciptaan dan kebenarannya, dia adalah bilangan ganjil. Pahamilah persoalan ini, engkau akan menemukan ayahmu.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar