
Elsubha.com – Biji Mutiara Ketiga; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Demikianlah kondisi manusia apabila telah melepas kedua sandalnya, menanggalkan kedua pakaiannya, dan hidup zuhud di dua kehidupannya. Manusia akan menempati tempat yang indah ini. la akan berada dekat dengan-Nya bagaikan anak panah dan busurnya. bahkan lebih dekat lagi. la akan memerankan peranan sebagai perwaris para Nabi yang dekat dengannya. Lesat setiap anak panah tergantung kepada pemanahnya, juga tergantung pada jauh dekatnya jarah sasaran.
Inilah magam kesederajatan (istiwa), tempat witirnya para nabi. Di magam inilah terjadilah segala macam percakapan-percakapan indah. dan dalil-dalil yang memperkuat keyakinan, memandangnya dengan mata kemenyatuan (ittihad) tanpa diiringi pengingkaran padanya. Dzat-Nya akan condong di dalam cahaya itu, seperti condongnya lentera karena datangnya kebahagiaan dan adanya kemegahan.
Seakan-akan ini bentuk yang dwitunggal, ia mengambil tuak dan ingin mabuk, namun belum menemukan pelita-pelita. Akhirnya dari dalam dirinya sendiri dia mendengar suara-Nya, satu sama lain saling menyatu, ia jatuh cinta pada dirinya sendiri, rindu akan cahaya-Nya. lalu cahaya itu memancar dari dalam hatinya sendiri, sehingga tanah di “negaranya” menjadi bersinar terang sekali, satu sama lain saling merasakan kenikmatan di dalam pasangannya, karena “langitnya” betul-betul bermurah hati kepada “buminya.”
