You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Urgensi Berdzikir; Mengingat Allah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Urgensi Berdzikir; Mengingat Allah

Kami kira ada baiknya kami suguhkan ringkasan singkat tentang anjuran berdzikir mengingat Allah, melakukan amal kebajikan dengan tulus ikhlas, dimana hal tersebut merupakan salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya alam semesta raya. Maka aku katakan seraya memohon pertolongan Allah Swt karena Dialah yang Maha Kuat lagi Maha Penolong. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ 
allaziina aamanuu wa tathma-innu quluubuhum bizikrillaah, alaa bizikrillaahi tathma-innul-quluub

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya,

اُتْلُ مَاۤ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ    ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ   ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ
utlu maaa uuhiya ilaika minal-kitaabi wa aqimish-sholaah, innash-sholaata tan-haa ‘anil-fahsyaaa-i wal-mungkar, walazikrullohi akbar, wallohu ya’lamu maa tashna’uun

“Bacalah Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu (Muhammad) dan laksanakanlah sholat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Dan (ketahuilah) mengingat Allah (sholat) itu lebih besar (keutamaannya dari ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-‘Ankabut 29: Ayat 45)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya,

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

Firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala lainnya,

اِنَّ الْمُسْلِمِيْنَ وَا لْمُسْلِمٰتِ وَا لْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُؤْمِنٰتِ وَا لْقٰنِتِيْنَ وَا لْقٰنِتٰتِ وَا لصّٰدِقِيْنَ وَا لصّٰدِقٰتِ وَا لصّٰبِرِيْنَ وَا لصّٰبِرٰتِ وَا لْخٰشِعِيْنَ وَا لْخٰشِعٰتِ وَا لْمُتَصَدِّقِيْنَ وَ الْمُتَصَدِّقٰتِ وَا لصَّآئِمِيْنَ وَا لصّٰٓئِمٰتِ وَا لْحٰفِظِيْنَ فُرُوْجَهُمْ وَا لْحٰـفِظٰتِ وَا لذّٰكِرِيْنَ اللّٰهَ كَثِيْرًا وَّ الذّٰكِرٰتِ ۙ اَعَدَّ اللّٰهُ لَهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
innal-muslimiina wal-muslimaati wal-mu-miniina wal-mu-minaati wal-qoonitiina wal-qoonitaati wash-shoodiqiina wash-shoodiqooti wash-shoobiriina wash-shoobirooti wal-khoosyi’iina wal-khoosyi’aati wal-mutashoddiqiina wal-mutashoddiqooti wash-shooo-imiina wash-shooo-imaati wal-haafizhiina furuujahum wal-haafizhooti waz-zaakiriinalloha kasiirow waz-zaakirooti a’addallohu lahum maghfirotaw wa ajron ‘azhiimaa

“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mukmin, laki laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 35)

Imam Al Bukhari dan Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa`i, Ibnu Majah dan yang lainnya telah meriwayatkan hadits secara marfu’, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي وَإِنْ ذَكَرَنِي فِي مَلَإٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلَإٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ

“Aku adalah sebagaimana prasangka hambaku terhadap-Ku, Aku pun menyertainya kala ia mengingat-Ku. Apabila ia mengingat-Ku di dalam hatinya, maka Aku pun mengingatnya dalam diri-Ku. Andai ia mengingat-Ku pada suatu perkumpulan, Aku pun akan mengingatnya dalam perkumpulan yang lebih baik dari perkumpulan itu.” (HR. Al Bukhari, hadits no. 7405, Muslim hadits no. 2675, At-Tirmidzi, hadits no. 3606; An-Nasa `i, hadits no. 7683 dan Ibnu Majah hadits no. 3822).

Imam Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad hasan lagi marfu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

لا يَذْكُرُنِي عَبْدِي فِي نَفْسِهِ إِلَّا ذَكَرْتُهُ فِي مَلَا مِنْ مَلَائِكَتِي، وَلَا يَذْكُرُنِي فِي مَلَا إِلا ذَكَرْتُهُ فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى

“Tidaklah seorang hamba mengingat-Ku dalam dirinya kecuali Aku ingat dia di antara para malaikat, Dan tidaklah ia mengingat-Ku di dalam suatu perkumpulan kecuali Aku mengingatnya di Rafiq al-A’la.” (Lihat, Mu’jam Al Kabir karya Ath-Thabrani, hadits no. 391).

Ibnu Majah dan Ibnu Hibban meriwayatkan hadits secara martu, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي إِذَا هُوَ ذَكَرَنِي وَ تَحَرَّكَتْ بِيَ شَفَتَاهُ.

“Aku sebagaimana prasangka hamba-Ku terhadap-Ku, kala ia mengingat-Ku dan kedua bibirnya bergerak mengingat-Ku.” (Lihat, Shahih Ibnu Hibban hadits no. 815; Sunan Ibnu Majah, hadits no. 3792; Musnad Ahmad hadits no. 10981; Al Mustadrak karya Al Hakim dari riwayat Abu Ad-Darda’, hadits no. 1824).

Imam Malik Ahmad Abu Dawud dan Tirmidzi meriwayatkan hadis marfu’dari Muadz bin Jabal,

مَا عَمِلَ آدَمِيٌّ عَمَلاً قَطُّ أَنْحَى لَهُ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ

“Tidaklah ada seorang anak cucu Adam mengamalkarı suatu amalan yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah kecuali berzikir mengingat Allah.”

Syaikh Al Jazuli pernah berkata, “Karena ketika seseorang sering mengingat Allah, maka kekhusyukan akan terus terbaharui, imannya akan terus menguat, keyakinannya akan terus bertambah, kelalaian diri akan hilang dari hatinya. Dirinya pun akan semakin dekat dengan ketakwaan dan semakin jauh dari kemaksiatan.

At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Ad-Darda, bahwa sungguh Nabi Saw bersabda,

أَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ، وَأَرْفَعِهَا فِي دَرَجَاتِكُمْ وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ وَالوَرِقِ، وَخَيْرٌ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوا أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوا أَعْنَاقَكُمْ ؟ قَالُوا : بَلَى. قَالَ : ذِكْرُ اللّٰهِ

“Tidaklah aku beritakan pada kalian amal perbuatan yang terbaik dan paling suci Tuhan kalian paling tinggi kedudukannya dan lebih baik bagi kalian dari membelanjakan emas dan perak, dan lebih baik bagi kalian daripada bertemu musuh kalian dan memenggal leher mereka?, para sahabat menjawab, “Lantas apa?” Beliau Saw bersabda, “Berdzikir mengingat Allah.” (HR. At-Tirmidzi, hadits no. 3377; Ibnu Majah, hadits no. 3790 dengan redaksi, (ألاَ أُنبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ أَعْمَالِكُمْ ، وَأَرْضَاهَا)

Diriwayatkan dalam Shahihain dari Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau pernah bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لَا يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan orang yang mengingat Rabbnya dan orang yang tidak mengingat Rabbnya sepertihalnya orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR. Al Bukhari, hadits no. 6407; dan Muslim, hadits no. 779, dari riwayat Abu Musa).

Imam At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban, dimana beliau berkata, “Sanad hadits ini shahih,

أَنَّ رَجُلًا قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، إِنَّ شَرَائِعَ الإِسْلَامِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَى فَأَخْبِرْنِي بِشَيْءٍ أَتِيْهِ؟ قَالَ: لَا يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا بِذِكْرِ اللّٰهِ

“Ada seorang lelaki berkata, ‘Wahai Rasulullah, sungguh syari’at Islam terlalu banyak bagiku, maka beritahukanlah sesuatu yang dapat aku lakukan? Beliau Saw bersabda, Jadikanlah lisanmu senantiasa basah dengan mengingat Allah’.” (HR. Ibnu Majah, hadits no. 3793; At-Tirmidzi, hadits no. 3375, ia berkata, “Hadits ini hasan gharib dari sisi ini.”; Lihat juga, Al Musnad karya Imam Ahmad bin Hanbal, hadits no. 17716 dan 17734 dari riwayat Abdullah bin Busr).

Ibnu Abbas berkata, “Tidaklah Allah membebankan suatu kewajiban pada hambanya kecuali dia telah menetapkan batasan yang jelas, kemudian Dia pun akan memberikan udzur pada kondisi seseorang berumur selain berdzikir mengingat Allah, karena Dia tidak menetapkan batasan akhirnya dan tidak memberikan udzur kepada orang yang meninggalkannya kecuali dirinya telah dikuasai oleh pikirannya, bahkan Dia memerintahkan manusia untuk berdzikir mengingat-Nya dalam berbagai kondisi seraya berfirman,

فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ

“Maka ingatlah Allah ketika berdiri duduk dan terbaring” (Qs. An-Nisa [4]: 103); (Lihat, Perkataan Ibnu ‘Abbas dalam beberap kitab tafsir, diantaranya: Tafsir Ath-Thabari, jil. 5, hal. 260; jil. 22, hal. 17; Tafsir Al Baghawi, jil. 3, hal. 534; Ad-Durr al Mantsur karya As-Suyuthi, vol. 6, hal. 619.) yaitu pada malam dan siang hari; di darat dan di laut; dalam perjalanan dan di rumah; dalam keadaan kaya dan miskin; dalam kondisi sakit dan sehat; di tempat tersembunyi maupun tempat ramai.

Mu’adz bin Jabal pernah berkata, “Penduduk surga tidak pernah menyesali apapun kecuali suatu saat yang mereka lewati tanpa berdzikir mengingat Allah didalamnya. ” (Lihat, Mu’jam Al Kabir karya Ath-Thabrani, hadits no. 182; Syu’ab Al Iman karya Al Baihaqi, hadits no. 512, 513, kedua hadits ini diriwayatkan dari Mu’adz bin Jabal.)

Disebutkan dalam kitab Lawagih Al Anwar Al Qudsiyyah, “Aku pernah mendengar Sayyidi Ali Al Khawwas berkata: ‘Tidak ada karomah yang lebih utama daripada berdzikir mengingat Allah, sebab yang bersangkutan akan menjadi teman duduk-Nya selama dia mengingat-Nya’.” (Lihat, Lawaqih al Anwar al Qudsiyyah karya Abdul Wahhab Asy-Sya’rani, hal. 205.)

Imam Al Qusyairi pernah berkata, “Dzikir itu adalah flayer kewalian dan mercusuarnya wushul,, maka siapapun yang telah diberikan dzikiran, berarti ia telah diberikan flayer kewalian; “(Lihat, Risalah Al Qusyairiyyah karya Imam Al Qusyairi, hal. 375.) Artinya, Allah Swt menghendaki dirinya untuk duduk pada hamparan kewalian.

Syaikh Zarruq pernah berkata, “Kami tidak pernah menemukan rahasia kecuali dalam dzikiran.” dan juga pada waktu Maghrib dan tidak kami temukan dalam kamus.

Sumber : BUKU 24 JAM NON STOP TIJANY; AMALAN HARIAN IKHWAN TIJANY DILENGKAPI DENGAN AL-HIKAM AN-NURANIYAH (BUSTÂN AL HAQÂ `IQ AL ‘IRFANIYAH FI TARTIB AL AWRÂD WA NAWÂFIL AL KHAIRÂT ‘ALA AL AWQÂT AN-NAHARIYYAH WAL-LAILIYYAH) SYAIKH MUHAMMAD BIN MUHAMMAD AL-HAJJUJI AT-TIJANY

Tulis Komentar