
Elsubha.com – Mutiara Penciptaan Dukhan (Asap), yang dengannya, Langit yang Tinggi Dipisahkan dari Bumi yang Rendah; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Setelah Allah SWT selesai menciptakan unsur-unsur pertama ini, sebagai perwujudan dari keputusan yang sudah ditentukan pada zaman azali, maka unsur-unsur itu dijadikan tujuh tingkatan. Allah SWT menempatkan beragam makanan pokok serta rejeki (di tingkat terendah), sebagaimana Allah SWT menempatkan pengetahuan dan akhlak mulia di tingkat tertinggi. Tingkatan-tingkatan yang terdapat di bumi saling bersentuhan. Satu sama lain saling bergesekan keras. Sehingga dari gesekan itu memercik kobaran api. Kobaran api itu memiliki tujuh lidah api. Masing-masing ketujuh lidah api itu sesuai dengan penghuninya di bumi.
Karenanya sebagian dari mereka berbeda dari sebagian lainnya. Maka dari setiap kobaran api itu mengepul asap yang bercampur baur. Sehingga falak udara, air, dan api berpisah satu sama lain. Sedangkan ujung-ujung falak-falak cahaya dan permata tetap menempel, tanpa ada kobaran api. Falak-falak yang bercahaya itu dipisahkan dari hakikatnya. Maka terjadilah peristiwa ledakan besar itu. Ini lah benda-benda pertama. Berangkat dari sebab-sebab ini, maka Allah SWT menciptakan bentuk-bentuk dan ciptaan lainnya. Allah SWT membuat mereka semua berputar di tujuh lintasan. Dan falak-falak itu oleh Allah dijadikan sebagai roh sekaligus hakikat bagi benda-benda dan ciptaan-Nya.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ اسْتَـوٰۤى اِلَى السَّمَآءِ وَهِيَ دُخَا نٌ فَقَا لَ لَهَا وَلِلْاَ رْضِ ائْتِيَا طَوْعًا اَوْ كَرْهًا ۗ قَا لَتَاۤ اَتَيْنَا طَآئِعِيْنَ
summastawaaa ilas-samaaa-i wa hiya dukhoonung fa qoola lahaa wa lil-ardhi-tiyaa thou’an au karhaa, qoolataaa atainaa thooo-i’iin
“Kemudian Dia menuju ke langit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 11)
Dan dalam ayat lain:
فَقَضٰٮهُنَّ سَبْعَ سَمٰوَا تٍ فِيْ يَوْمَيْنِ وَاَ وْحٰى فِيْ كُلِّ سَمَآءٍ اَمْرَهَا ۗ وَزَ يَّـنَّـا السَّمَآءَ الدُّنْيَا بِمَصَا بِيْحَ ۖ وَحِفْظًا ۗ ذٰلِكَ تَقْدِيْرُ الْعَزِيْزِ الْعَلِيْمِ
fa qodhoohunna sab’a samaawaating fii yaumaini wa auhaa fii kulli samaaa-in amrohaa, wa zayyannas-samaaa-ad-dun-yaa bimashoobiiha wa hifzhoo, zaalika taqdiirul-‘aziizil-‘aliim
“Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian, langit yang dekat (dengan bumi), Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Maha Perkasa, Maha Mengetahui.”
(QS. Fussilat 41: Ayat 12)
Setelah menciptakan bumi dan menetapkan makanan pokoknya dalam waktu selama empat hari, maka bumi ditetapkan memiliki empat unsur yang masing-masing memiliki karakter dan perintah berbeda-beda.
Mengingat asap itu tercipta dari apinya ketujuh tingkatan yang terdapat di bumi, otomatis ia berbeda-beda dalam hal keberadaannya. Demikian halnya dengan tujuh tingkatan yang terdapat di langit, asap apinya memiliki keragaman dalam hal warnanya. Ada yang berwarna biru, kuning, merah, putih, dan hijau. Setiap langit sesuai dengan jenis buminya sendiri. karena langit bagian dari buminya. Untuk itulah, karena unsur dasar langit sejenis dengan unsur bumi, maka di akhirat kelak langit akan hilang lenyap akibat hilang lenyapnya unsur bumi. Yang masih tersisa adalah falak-falak alam atas di suatu tempat yang tinggi sekali, berputar, tanpa bisa disentuh dan tak bisa diraba. Karenanya, maka tak ada bintang-bintang yang terlihat. Karena pada umumya falak hanya bisa tampak berkat adanya bintang.
Bintang adalah ungkapan tentang benda yang berada di falak (orbit). Renungkanlah, wahai saudaraku, tentang kabar baik yang menyertaimu ini. Falak-falak akan kekal selagi surga-surga masih kekal. Sedangkan manusia dan langit akan binasa seiring kehancuran bumi dan benda-benda baharu lainnya. Renungilah mutiara-mutiara hakikat yang saling terkait ini, tentang falak-falak rohaniah yang sederhana ini. Bumi hanya akan diganti oleh bumi yang sejenis. Mutiara Makkah yang putih itu akan berada di bawah kaki. Dan kemunculan falak-falak yang bercahaya hanyalah ungkapan tentang pergantian langit-langit. Pahamilah arti dari isyarat-isyarat ini, dan temukanlah rahasia yang terkandung dalam ungkapan-ungkapan kata-kata ini!
