
Elsubha.com – Kemuliaan Derajat Seseorang Yang Berada dibawah Derajat Orang Lain; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Seorang Wali, semoga Allah memberinya taufiq, berkata dalam bahasa metaforis sebagai sebuah kesaksian dan ungkapan perasaannya.
Khatamul Auliya memang tidak berasal dari keluarganya (baca: Nabi), kecuali jika silsilah nasabnya sendiri lebih utama, lebih mulia, dan lebih sempurna.
Jika orang yang mengeluarkan pernyataan di atas memasang celak di matanya, niscaya dia akan menilai bahwa Salman r.a adalah orang yang paling layak disebut anggota ahlul bait Nabi. Dia juga akan sadar bahwa yang terpenting bukanlah bait itu sendiri.
Salah satu keutamaan Nabi adalah karena dia sebagai penutup para wali secara pasti
Di rumahnya yang mulia, di tengah-tengah penghuni rumah itu.
Mereka adalah orang-orang yang sangat mulia di dunia ini
Andaikan rumah itu dihuni tanpa ada seorang penutup wali, niscaya datang para perampok yang akan membunuh anak-anak kecilnya
Pahamilah, wahai saudaraku, perhatikan orang yang menjaga “rumah kewaliyan” dari jauh
Andaikan tidak untuk dia, niscaya malaikat tidak diperintahkan untuk bersujud kepada Ayah kita (Adam)
Itulah kedudukan paling suci dalam pandanganku. Dia hidup bersama Tuhan Yang Maha Menyaksikan
Dia Maha Esa, tak ada bandingan-Nya, Dzat-Nya satu, berada di tempat yang satu pula
Aku melihatnya sebagai seorang penutup wali yang agung di suatu tempat kesaksian, ada sedikit perasaan cemburu.
Seperti ketika aku melihat matahari Bait di tempat Tuhan, yang dekat dengan urat nadi
Andaikan cahaya bersinar dari gunung Sinai-Nya, menerangi tubuh yang tenggelam dalam keabadian…
Niscaya ia akan menjadi orang yang maha tahu, hidup, dan mampu berkata-kata, wajahnya berseri-seri, dan berjalan dalam kesejukan Barangsiapa yang paham akan isyarat ini, maka rahasiakanlah. Jika tidak, maka ia akan menyerupai sepetak tanah yang tinggi (sombong).
Cahaya Tuhan bukan sesuatu yang samar di dalam falak-falak, di dalam kebahagiaannya orang-orang yang berbahagia
Aku melihat segalanya berjalan dengan cepat. Baik ketika meluncur jatuh maupun ketika terbang mendaki
Dengannya dan tentangnya aku berbicara. Dan perkara yang kulihat terus bertambah
Keberadaanku di alam semesta ini tidak butuh tempat. Ini adalah bukti bahwa aku bagaikan baju bagi dzat yang maha menyaksikan
Langit tidak cukup buat menampung keagungan Tuhanku. Akan tetapi Tuhan bisa bersemayam di hati seorang hamba
Aku ingin tetap begitu, karena sudah tidak ada lagi perbedaan antara hitam dan putih
Apakah serigala-serigala akan takut pada orang yang sendirian berjalan di gurun pasir pada malam yang gelap gulita?
Wujudku yang sangat indah ini berbincang-bincang dalam keadaan mengalami penyingkapan yang terang dan penyaksian yang jelas.
Dia tidak akan pernah menyingkapkan diri pada mata yang ingkar.
Lantas bagaimana mungkin pengingkaranku bermanfaat bagiku?!
Dia pun menjawab dan membenarkan perkataanku. “Tunduklah pada Tuhan Yang Maha Menjaga dan Maha Menyaksikan”
“Mohonlah penjagaan dari-Nya sepanjang perjumpaan itu terjadi.
Dan mintalah pada-Nya agar diberi kehidupan bahagia dan abadi kepada-Mu, wahai Tuhan Yang Maha Mengetahui tentang rahasia diriku, aku memohon perlindungan, cinta dan kasih-Mu
aku juga memohon agar Engkau tetap mau menjadi jubah tubuhku ini, layaknya Ka’bah kalian itu, sampai tiba hari kiamat nanti aku juja memohon agar Engkau menyembunyikan diriku ini di suatu tempat tertentu, seperti halnya Engkau meletakkan kekuatan luar biasa di dalam besi.
Sembunyikanlah apa yang tampak dariku ini, sebagaimana Engkau menyembunyikan cahaya Dzat-Mu di dalam hati hamba-Mu
Terakhir, jadikanlah aku ini terus melihat kelemahan diri sendiri dalam memenuhi setiap janji yang kita sepakati.
Perkara ini akan jelas bagi kamu, rahasia-rahasianya akan terlihat nyata.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اِنْ تَدْعُوْهُمْ لَا يَسْمَعُوْا دُعَآءَكُمْ ۚ وَلَوْ سَمِعُوْا مَا اسْتَجَا بُوْا لَـكُمْ ۗ وَيَوْمَ الْقِيٰمَةِ يَكْفُرُوْنَ بِشِرْكِكُمْ ۗ وَلَا يُـنَـبِّـئُكَ مِثْلُ خَبِيْرٍ
ing tad’uuhum laa yasma’uu du’aaa-akum, walau sami’uu mastajaabuu lakum, wa yaumal-qiyaamati yakfuruuna bisyirkikum, wa laa yunabbi-uka mislu khobiir
“Jika kamu menyeru mereka, mereka tidak mendengar seruanmu, dan sekiranya mereka mendengar, mereka juga tidak memperkenankan permintaanmu. Dan pada hari Kiamat mereka akan mengingkari kemusyrikanmu dan tidak ada yang dapat memberikan keterangan kepadamu seperti yang diberikan oleh (Allah) Yang Maha Mengetahui.”
(QS. Fatir 35: Ayat 14)
Berakhlaklah dengan baik di hadapan Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan sadarilah akan kelemahan dan kelalaianmu.
Sekarang kami akan menerangkan tentang dirimu dari sudut pandang khalifah yang berasal dari Bait Nabi ini, sang Imam besar itu. Kemudian mengakhiri penjelasan tentang dirimu dari sudut pandang Khatamul Auliya. Penjelasan mengenai Khatamul Auliya ini adalah pungkasan terakhir.
