You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Permasalahan Terakhir Tentang Sesuatu Yang Hina; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Permasalahan Terakhir Tentang Sesuatu Yang Hina; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Ketika kegaibanku menjadi mulia, maka yang terlihat oleh mataku adalah cacatku sendiri, sehingga membuatku merasa tidak berharga Ketika terjadi penampakan Tuhanku, hatiku penuh oleh cinta, sehingga membuatku selamat

Ketika mawarku bermekaran, wangiku menyebar ke ruang-ruang cahayaku, sehingga membuatnya patah-patah

Ketika keluargaku mendapat kemudharatan, pembelaanku pada Sang Maha Penyayang semakin kuat, Dia pun membuatku mampu berbicara (dengan-Nya)

Ketika aku menjadi orang yang tercinta dan terpilih, kenaikanku ke langit menjadi sesuatu yang sangat mulia

Aku terus terbang, dan aku tak peduli pada keluarga yang kutinggalkan. Kemudian aku kembali lagi dengan hati yang penuh kasing sayang dan cinta

Aku, bagi Yang Maha Pengasih yang jauh, bagaikan bintang, yang hina di depan Arsy, hatiku membara dan penuh kasih

Ketika aku menjadi orang yang diridhai dan diliputi (cahaya), dan imam waktu matahari adalah mim, maka ia pelan-pelan merayap memasuki ingatan, lalu membuatnya remuk berantakan

Lantaran itu, karena bilangan satu setelah enam; yaitu sifat umun dari akad perjanjian, maka aku menjadi orang yang kuat dan mengetahui

Andaikan aku menjelaskan tentang pengertian waktu, niscaya ungkapan kata-kata dan angka tidak cukup untuk itu.

Sengaja aku simpan karena aku tahu, ketika melihatnya, ia adalah persoalan luar biasa

Karenanya, segala persoalan ditutup-tutupi dari pandangan mata. Dan dengan ketakwaan, seseorang bisa meraih keselamatan

***

Pasal I

Setelah kita memperbincangkan soal kemuliaan Nabi yang agung, dari segi bait-nya yang mulia, sehingga kita sampai di akhir kitab ini, tanpa harus meringkas ataupun bertele-tele, melainkan menyajikan kata-kata yang singkat namun mengandung makna yang padat,

Washal I

Maka, demikian pula dengan manusia yang memiliki dua nasab. Di alam ini manusia memiliki dua kedudukan. Betapa mulianya nasab manusia!, dan betapa tingginya kedudukan manusia! Karena nasab manusia disandarkan pada Allah, tidak pada kedua orang tuanya. Manusia juga bisa menghadirkan jiwa dan hatinya di hadapan Allah selama-lamanya untuk mengabdi. Jika manusia sudah mencapai derajat ini, mampu menempatkan dirinya dekat dengan Allah, dan mulai mendengar izin dan perkenan yang datang dariNya, maka manusia seperti itu sudah layak nasab dirinya disandarkan pada Allah yang Mahatinggi. Pada waktu itulah, nama manusia menjadi Abdullah bin Fulan (Hamba Allah bin Fulan), atau nama lain yang dipatuhi oleh sekalian alam semesta.

Pasal II

Setelah kami mendahulukan penjelasan tentang kemuliaan Bait Nabi, karena hal ini sangat penting sekali, dan yang kami inginkan darinya adalah agar derajat-derajat manusia dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan sejauhmana kedekatannya dengan nasab bait Nabi tersebut, sebab persoalan kedekatan ini berkaitan erat dengan soal warisan secara kasat mata maupun warisan berupa tujuan kerohanian,

Washal II

Maka, demikian pula dapat diketahui siapakah manusia paling terkemuka di alam gaib, mengenai nasab makhluk hidup (al-hayawan). Alam gaib adalah penggerak, pendorong, pemberi peringatan, dan pemberi pengetahuan atas makhluk hidup. Kebanyakan mereka terhalangi oleh fenomena-fenomena yang tampak dari alam gaib mereka sendiri.

Sebab keterhalangan tersebut maka mereka tidak bisa memperoleh permata dan intan mutiara, antara diri mereka dan rahasia-rahasia ketuhanan terdapat dinding sekat yang tebal, antara diri mereka dan cahaya-cahaya terdapat tembok pemisah. Mengingat manusia memiliki wujud yang mulia, rahasia hati yang begitu halus, maka saya akan memberitahumu tentang itu, dan menganjurkanmu untuk meraihnya. Saya beri tahu kamu bahwa warisan itu terdapat dua macam, karena alam kehidupan ini juga terdapat dua macam.

1. Warisan yang paling berharga berada di alam yang mulia pula. yaitu warisan berupa rahasia-rahasia gaib dan penampakan cahaya-cahaya,

2. Warisan yang paling indah berada di alam bawah, yaitu warisan berupa kemampuan untuk berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain dan pengabdian pada kebebasan.

Pasal III

Mengingat tempat terbit matahari harus berubah dan berpindah-pindah,

Washal III

Maka, demikian halnya dengan terbitnya matahari kebenaranmu, ia juga butuh pada keberadaan lahiriah dirimu.

Ketahuilah:
Matahari terus-menerus berjalan dari barat ke timur dengan dirinya sendiri, sebagaimana ia juga terus-menerus berajalan dari timur ke barat dengan bantuan lainnya. Hanya saja kemampuan manusia terbatas, dan pikiran bingung. Matahari setiap hari memperlihatkan gerakannya, dan menumpahkan berkahnya. Barangsiapa yang ajalnya sudah tiba, dan dosa-dosanya belum diampuni, maka pintu taubat tertutup baginya. Mataharinya terbit dari barat, dan imannya pada waktu itu sudah tidak lagi bermanfaat jika sebelumnya ia tidak beriman. Dia menjadi kuat dan mampu melihat. Dan Allah SWT akan terus menerima taubat hamba-Nya selagi nyawa belum melintas di kerongkongan.

Pasal IV

Mengingat hal ini adalah harta karun yang terkubur di laut barat,

Washal IV

Maka ia menyadarkan kita bahwa hati adalah tempat kebenaran, tempat singgah bagi rahasia-rahasia Tuhan. Hati adalah samudra luas. Hati adalah apa yang digambarkan sebagai pengetahuan luas. Dari hati, terciptalah segala macam keragaman ini. Dan dari hati pula, segala yang bergerak maupun yang diam berasal.

Pasal V

Setelah dia mengatakan, “tidak ada yang bisa mengetahui tentang harta karun itu kecuali roh dan bukan jasmani, orang yang memperoleh ilmu ladunni dari Allah, orang yang tergerak untuk berusaha keras mengetahui derajat kemuliaan aliran mazhhabnya sendiri, orang yang oleh Allah diberi kemampuan mengetahui perkara ma’ruf dan terpuji di dalam perkara munkar yang dilihatnya, orang yang dalam mengerjakan suatu perbuatan melakukannya dengan tiga macam: pertama, perbuatan yang dinisbatkan pada dirinya sendiri, kedua, perbuatan yan dibisbatkan pada Allah, ketiga, perbuatan yang dinisbatkan pada Allah sekaligus pada dirinya sendiri”,

Washal V

Maka seakan-akan dia mengisyaratkan bahwa manusia dengan sifat kebinatangannya (nafs bahimiyah), di samping sifat tumbuh-tumbuhannya (nafs nabariyah), tidak bisa menerima penampakan, dan tidak bisa meraih kemudahan dan ketenangan. Jika manusia bisa meninggalkan derajat materi, pergi dari dunia yang penuh prasangka, lalu dia memasuki maqam perjumpaan dan ilham, dimana para ulama yang pandai hukum-hukum merasa kesulitan meraih maqam itu, maka orang tersebut akan mampu melihatNya, dia akan terus berusaha mendiami dunia gaibnya, agar dia tahu sejauh mana kemuliaan madzhab yang dianutnya. Apabila dia sudah berhasil memperoleh keinginannya itu, maka dia akan mempertahankannya sekuat tenaga, mengikatnya dengan erat-erat, dia akan mendapatkan makna-makna yang sangat disenangi oleh tabiat dan wataknya sendiri, dia akan menjadikan hal itu sebagai jalan hidup yang dipilihnya, dan diingatnya terus-menerus. Dan Allah memberti tahu orang tersebut tentang kebenarannya. Inilah pengetahuan tentang kesopanan etika (adab) dan kebijaksanaan (hikmah). Inilah pintu masuk menuju hadirat Allah yang penuh kasih sayang.

Pasal VI

Ketika dia berkata, “orang yang mengetahui hakikat harta karun itu; tempat meraih keselamatan dan kemenangan, dia akan membangun benteng yang kokoh, menempati rumahnya, tidak menuntut imbalan dalam mengajarkan pengetahuan tentang hakikat tersebut, dan selalu memberi peringatan kepada orang-orang yang mengingkari kebenaran hakikat tersebut”,

Washal VI

Maka itu artinya, dia mengisyaratkan agar rahasia-rahasia gaib itu disembunyikan apabila melihat ada pengingkaran dari orang-orang yang mengingkarinya, sehingga alasan menyembunyikannya dapat diterima, dan kabar-kabar gaib tersebut boleh disampaikan sedikit dan pelan-pelan.

Pasal VII

Ketika dia berkata, “apabila kedua anak yatim itu sudah dewasa, dan harta warisannya sudah diberikan sepenuhnya pada mereka, maka pada waktu itulah harta karun tersebut akan tampak, dan daulah kemuliaah akan bangkit”,

Washal VII

Maka itu artinya, seakan-akan dia berkata, “Apabila roh akal sudah sampai pada puncak analisinya, roh pikiran sudah sampai pada puncak pemikirannya, dan putaran-putaran falak sudah mencapai empat puluh kali putaran; dimana keempat puluh itu sudah termasuk kepergian dan kedatangannya. Ketika itulah, roh yang suci berperan sebagai Raja, roh akal sebagai menterinya, roh pikiran sebagai sahabat, dan jiwa kehewanan sebagai jiwa-jiwa yang tertipu.”

Pasal VIII

Apabila dia berkata, “keluarganya mendapat kemuliaan dari agama, benih padi keagamaannya semakin matang, setelah mataharinya betul-betul telah tenggelam di ufuk barat, tetapi ia akan kembali terbit dari timur, dan keadilan dan keutamaan tampak dimana-mana”,

Washal VIII

Maka itu artinya dia berkata, “apabila rahasia gaib telah terbit dari dalam hatinya, orang itu akan akan tenggelam dalam rahasia tersebut. Akan tetapi, ketenggelaman tersebut adalah tanda terbit bagi ufuk tinggi nan mulia; ia meninggalkan dari maqam yang rendah, kemudian ia terbit dari ufuk jiwa dengan meninggalkan dari ufuk akal.”

Pasal IX

Ketika perkara itu tampak di tempat perjumpaan dua samudra, dan rahasia yang selama ini tersembunyi kini sudah terlihat oleh orang yang memiliki dua mata (lidzi ‘ainaini),

Washal IX

Maka itu artinya, dia mengisyaratkan tentang kemunculan nuktah ketuhanan dalam kehidupan manusiawi ini, karena manusia sendiri adalah wadah yang menampung samudra permata alam semesta, ruang dan waktu, dan benda-benda lain.

Kata-katanya tentang “lidzi ‘ainaini (orang yang memiliki dua mata) “menunjuk pada seseorang yang memiliki dua sifat. Barangsiapa yang memahami simbol-simbol ini, maka dia pasti mendapatkan keberuntungan yang besar. Allah adalah Dzat yang Maha Mengetahui.

Pasal X

Ketika dia berkata, “para Nabi berdiri, para wali juga berdiri di samping kanan para Nabi, dan peristiwa itu terjadi ketika huruf kha’ musnah dan huruf alif tegak di langit, lembah mengalir dariku, manusia bersama air juga menampakkan diri, dan matahari berada di Jauza.”

وَقِيْلَ يٰۤاَ رْضُ ابْلَعِيْ مَآءَكِ وَيٰسَمَآءُ اَقْلِعِيْ وَغِيْضَ الْمَآءُ وَقُضِيَ الْاَ مْرُ وَا سْتَوَتْ عَلَى الْجُوْدِيِّ وَقِيْلَ بُعْدًا لِّـلْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
wa qiila yaaa ardhubla’ii maaa-aki wa yaa samaaa-u aqli’ii wa ghiidhol-maaa-u wa qudhiyal-amru wastawat ‘alal-juudiyyi wa qiila bu’dal lil-qoumizh-zhoolimiin

“Dan difirmankan, “Wahai Bumi! Telanlah airmu dan wahai langit (hujan!) berhentilah.” Dan air pun disurutkan, dan perintah pun diselesaikan dan kapal itu pun berlabuh di atas Gunung Judi, dan dikatakan, “Binasalah orang-orang zalim.””
(QS. Hud 11: Ayat 44)

Maksudnya “Ketika falak sejajar dengan Al-Judi, dan dikatakan: “Binasalah orang-orang yang zalim” (QS Huud: 44), orang-orang yang berwatak seperti Abu Sufyan dibinasakan dan termasuk orang-orang fasik, seorang ayah memanggil nama anaknya,

قَا لَ يٰـنُوْحُ اِنَّهٗ لَـيْسَ مِنْ اَهْلِكَ ۚ اِنَّهٗ عَمَلٌ غَيْرُ صَا لِحٍ فَلَا تَسْـئَــلْنِ مَا لَـيْسَ لَـكَ بِهٖ عِلْمٌ ۗ اِنِّيْۤ اَعِظُكَ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْجٰهِلِيْنَ
qoola yaa nuuhu innahuu laisa min ahlik, innahuu ‘amalun ghoiru shoolihing fa laa tas-alni maa laisa laka bihii ‘ilm, inniii a’izhuka ang takuuna minal-jaahiliin

“Dia (Allah) berfirman, “Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.””
(QS. Hud 11: Ayat 46)

Tapi “Allah berfirman: “Sesungguhnya Dia bukanlah Termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan)… Sesungguhnya aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan Termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan.” (QS Huud: 46)”

Washal X

Itu artinya dia memberikan isyarat tentang warisan kenabian. maqam barzakh, tersingkapnya tabir ilahiah ketika terbunuhnya egoisme, dan diperolehnya segala rahasia hati di lembah Al-Anbaiy (kabar-kabar dari Tuhan).

Pasal XI

Ketika dia berkata, “tanda dirinya berada di pipi kanan; sesuatu yang mulia dan berwarna hitam”,

Washal XI

Itu artinya dia menunjuk pada hajar aswad yang mulia, tentang posisinya dirinya yang berada di sisi kanan Tuhan Yang Maha Esa dan Maha Raja. Barangsiapa yang memiliki tanda-tanda tersebut, maka dia layak menyandang status imamah (seorang pemimpin).

Pasal XII

Ketika baiat kepada sang imam dilakukan di antara rukun dan magam, dan di luar itu tidak ada sasaran lain untuk dibidik,

Washal XII

Demikian pula seseorang yang sudah mendiami maqam kemuliaan, dan orang yang menginginkan para tamunya dapat menutupi cela dirinya.

Hal itu sudah disindir oleh Nabi SAW di dalam sebuah hadis sahih, “Allah merahmati saudaraku, Nabi Luth. Dia menempati rukun yang kuat.” Sabda Nabi ini ditujukan kepada seluruh umat manusia. Inilah apa yang dimaksud oleh firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala :

ذِيْ قُوَّةٍ عِنْدَ ذِى الْعَرْشِ مَكِيْنٍ 
zii quwwatin ‘ingda zil-‘arsyi makiin

“yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy,”
(QS. At-Takwir 81: Ayat 20)

مُّطَا عٍ ثَمَّ اَمِيْنٍ 
muthoo’ing samma amiin

“yang di sana (di alam malaikat) ditaati dan dipercaya.”
(QS. At-Takwir 81: Ayat 21)

Baiat dan penentuan telah betul-betul terlaksana di tanah Haram (Makkah), di Baitullah yang mulia.

Pasal XIII

Ketika terjadi Fathul Madinah (penaklukan kota Madinah), yang saya gambarkan begini:

la adalah pintu Madinah, menggema dengan suara takbir dan tahlil, dan di depan para pasukan ada Jibril a.s, dia memancangkan bendera yang bersinar itu menghadap ke arah negara timur, angin dari barat menghembus bendera itu, dan tanda-tanda kemenangan sudah tampak, para malaikat berdiri mengelilingi para pasukan dan bendera itu, menghadap ke arah bendera dan berbaris di hadapannya.

Washal XIII

Demikian halnya seorang hamba yang arifbillah ketika telah menaklukkan kotanya yang maha besar dengan perjuangan yang keras, pengorbanan, keseriusan tingkat tinggi, sehingga dia berhasil mengikuti langkah Nabi dalam penaklukan kota Madinah, dimana beliau menakukkannya dengan gema takbir dan taklil, dan malaikat Ruhul Amin (Jibril a.s) turun pada waktu itu dari sisi Tuhan ke dalam hatinya. Jibril membawa segala macam rahasia tentang dunia gaibnya, sementara para malaikat yang lain berdiri berbaris-baris di depan maupun di belakangan hamba itu.

Ketika itulah, sang hamba kembali pulang menuju arah darimana dia datang, dan hatinya riang gembira. Dia telah meninggalkan negaranya, sehingga negara itu bisa dianggap hancur binasa. Pahamilah, dan jalankan. Allah selalu memberi petunjuk ke jalan yang benar.

Pasal XIV

Ketika dia berkata, “dari sinilah dia memulia perjalanan. Lipatlah apa yang membentang, wahai orang yang mulia. Berjalanlah bersamanya, baik dalam waktu yang lama maupun sebentar saja. Jika engkau tidak memiliki kemampuan atau bekal yang cukup, atau engkau tidak memiliki kemampuan untuk menanggung hidup keluarga, maka pergilah menemui sang Imam. Dia akan memberimu harta sebanyak apa yang engkau bisa memeliharanya. Sang imam itu memiliki tanda-tanda khusus, semisal keningnya lebar, hidungnya paruh burung, dan kepribadiannya dalam soal kekuasaan antara lemah dan keras. Jadilah sahabat orang yang terpelihara itu, sebab tidak ada kebaikan lain di luar dirinya, akan tetapi segala kebaikan berada di hadapan atau di sisinya.”

Washal XIV

Demikian pula seorang hamba yang arif tatkala Ruhul Amin datang padanya, menaklukkan medan-medan jiwanya, dan pulang ke hadirat kelembutan hatinya. Maka segala anggota tubuhnya wajib berpulang mengikuti langkah Ruhul Amin itu, selalu berada di sisinya, dan pabila pada suatu waktu membutuhkan sesuatu maka ia tinggal memintanya pada Ruhul Amin itu. Dan apabila dia cemburu pada mereka, maka hendaklah mereka bersiap-siap.

Pasal XV

Setelah daulah-daulah hancur, maka keluarlah seorang yang juling matanya. Dia melangkahkan kaki lalu turun. Dengan izin Allah, dia mampu menghilangkan fitnah dan menghidupkan orang-orang yang sudah mati. Allah menurunkan hujan lebat dan menumbuhkan segala macam tumbuhan, dan orang itu memiliki harta kekayaan melimpah, dan harapan-harapannya muncul.

Kecuali orang yang beriman, menjaga diri, melihat dengan teliti, dan makan dari rumput panas, sampai tiba perintah dari Tuhan yang berpengaruh dan yang paling keras perlawanannya, sehingga orang yang beriman itu mampu membunuh orang yang matanya juling tersebut, di dekat pintu permusuhan, menumpahkan darahnya di medan perang, lalu bersegera pulang ke markaz. Dan dari balik kejauhan sana, muncullah kemudian sejumlah pasukan yang jauh lebih besar dan lebih kuat.

Selanjutnya Isa bin Maryam SAW memanggil seluruh umat itu, ketika mereka belum turun ke bumi dan menjadikannya tempat tinggal. Mereka melepas anak panah ke langit untuk membunuh semua yang ada di udara. Allah SWT mengembalikan anak panah-anak panah tersebut kepada mereka dengan ujung yang berlumuran darah. Berikutnya Allah menurunkan penyakit kepada mereka di suatu malam, penyakit yang menggerogoti leher-leher mereka, sehingga mereka semua binasa pada malam itu juga, tanpa ada seorang pun yang tersisa.

Setelah semua peristiwa itu berakhir, bumi kembali subur, tumbuh-tumbuhan hijau bersemi, buah-buahan semakin matang. dan satu kaum yang besar menyebar luas, syariat Muhammad kembali ditegakkan, hakikat Tuhan Yang Esa mulai tampak, sampai pada suatu masa yang telah ditentukan, dengan kadar yang sudah ditetapkan, Dabbah bernapas, dan matahari terbit. Ketika itulah, iman seseorang tidak lagi diterima.

Semoga Allah memelihara kita dari tipu daya fitnah dan menjauhkan kita dari segala macam ujian.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar