You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Menobatkan Status Imamah Secara Mutlak dan Tidak Dibuat-buat; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Menobatkan Status Imamah Secara Mutlak dan Tidak Dibuat-buat; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Imamah adalah satu kedudukan dimana seseorang menjadi panutan, kata-katanya didengar dan dipatuhi, tali ikatannya kuat dan tidak bercerai-berai, dan tempahan pedangnya keras dan tajam. Apabila dia berkeinginan, maka keinginannya terkabulkan, tidak ada yang bisa menolak keputusannya, pedangnya tajam, kata-katanya membuat orang yang mendengarnya diam, orang yang ingin menentangnya tidak memiliki peluang sedikit pun, dan jika sedikit saja berkeinginan untuk menentangnya, maka ia segera mendapat hukuman setimpal. Imamah telah ditetapkan oleh Allah SWT sebagai satu hal penting sekali, dan yang paling diperhatikan.

Kedudukan apapun, baik yang besar atau kecil, sedikit atau banyak, ketaatan dari para pengikut adalah satu-satunya pilihan. Menentang adalah kebinasaan. Karena jalan yang ditempuh, persekutuan, dan visi misi sudah disetarakan secara substansial. Hukum yang ditetapkan seorang Imam terbagi dua, sebagaimana halnya imam itu sendiri memang ada dua macam: imam yang ketika bicara membuat para pendengarnya tunduk patuh, dan imam yang jujur serta peletak kejujuran. Seperti imam yang bisa kita saksikan secara kasat mata, yang berupa kitab suci Alquran. Kitab suci ini membuat keputusan hukum sesuai kehendaknya sendiri dan dengan model apa saja yang diinginkannya. Karena itulah, Nabi bersabda:

فَيَسْبِقُ عَلَيْهِ الْكِتَابُ فَيَدْخُلُ النَّارَ

“Telah ada sebuah Kitab yang memperingatinya, maka ia pantas masuk neraka.” (Hadis ini diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal, 1/382, 430. Diriwayarkan oleh Bukhari dalam bab Badu Al-Khalq, 6, dan Al-Qadr, 1, Al-Tauhid, 28, serta Al-Ambiya, 1. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Al-Qadar, 1. Diriwayatkan oleh Abu Daud dalam Ar Sunnah, 16. Diriwayatkan oleh Tirmidi dalam Al-Qadar, 4. Dan diriwayatkan oleh Ibnu Majah dalam Al-Mukaddimah, 10. [lihat Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfad al-Hadits, 2/402])

Setiap hak kepemilikan, dan tidak ada seorang Imam yang bisa dipatuhi, maka orang-orang akan berebut mendapatkan hak itu.

Dengan alasan inilah, sudah cukup syarat bagi seluruh umat untuk memiliki satu imam. Satunya Imam (pemimpin) adalah hikmah ilahiah dan urusan robbaniyah.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّاۤ اَرْسَلْنٰكَ بِا لْحَـقِّ بَشِيْرًا وَّنَذِيْرًا ۗ وَاِ نْ مِّنْ اُمَّةٍ اِلَّا خَلَا فِيْهَا نَذِيْرٌ
innaaa arsalnaaka bil-haqqi basyiirow wa naziiroo, wa im min ummatin illaa kholaa fiihaa naziir

“Sungguh, Kami mengutus engkau dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada satu pun umat melainkan di sana telah datang seorang pemberi peringatan.”
(QS. Fatir 35: Ayat 24)

Setiap umat menjalani hakikat yang sudah ditetapkan padanya, sesuai dengan kelembutan kasih yang diberikan padanya. Karena itulah Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا طٰٓئِرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَا حَيْهِ اِلَّاۤ اُمَمٌ اَمْثَا لُـكُمْ ۗ مَا فَرَّطْنَا فِى الْـكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
wa maa ming daaabbating fil-ardhi wa laa thooo-iriy yathiiru bijanaahaihi illaaa umamun amsaalukum, maa farrothnaa fil-kitaabi ming syai-ing summa ilaa robbihim yuhsyaruun

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 38)

Allah menyamakan binatang-binatang dengan sekumpulan umat, menyebutnya demikian dan mengeneralisakannya secara umum. Setiap umat dapat bicara dengan caranya sendiri, dan merindukan Tuhan di posisinya sendiri. Tidak ada satu makhluk pun di alam semesta ini, baik benda-benda mati maupun hewan yang tidak bisa bicara. Semuanya bisa bicara dengan lidah masing-masing. Orang yang menolak kebenaran ini, dia berbicara hal yang mustahil. Tabir penghalang terlalu tebal, sementara kebenaran makna terlalu halus dan lembut. Andaikan tabir itu disingkap dan sifat lembat dihilangkan, niscaya engkau melihat setiap benda mengucapkan tasbih dengan caranya masing-masing, mereka berbicara dalam dirinya sendiri:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
tusabbihu lahus-samaawaatus-sab’u wal-ardhu wa mang fiihinn, wa im ming syai-in illaa yusabbihu bihamdihii wa laakil laa tafqohuuna tasbiihahum, innahuu kaana haliiman ghofuuroo

“Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 44)

Mereka semua memenuhi janjinya (pada Allah). Bukankah seorang muazdin dapat dikenal karena ada suara adzan?! Hal ini karena kita mengenal pada hakikat suara dan kata-kata adzan itu. Kata-kata yang diucapkan oleh orang mati dapat didengar oleh seluruh jenis binatang, kecuali manusia dan jin.

Setiap umat memiliki satu orang dari golongan mereka sendiri yang bertugas menyampaikan peringatan tentang baik dan buruk, sesuai dengan karakter umat tersebut. Karenanya, keberadaan seorang imam (pemimpin) yang dipatuhi adalah sebuah keniscayaan. Orang-orang yang memberontaknya akan binasa, dan orang yang patuh akan selamat beserta harta beda yang dimilikinya. Kecuali seorang Imam tersebut memiliki cacat atau tidak memenuhui syarat kepemimpinan; tidak ada tanda-tanda sebagai seorang imam. Maka bersegeralah meninggalkannya sebelum dia murka. Akan tetapi, bersegeralah untuk mengikuti orang yang sudah memenuhi syarat-syarat sebagai seorang

imam (pemimpin). Imamnya para imam, yang memberi hidayah sekaligus yang menyesatkan, adalah:

لَوْ كَا نَ فِيْهِمَاۤ اٰلِهَةٌ اِلَّا اللّٰهُ لَـفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحٰنَ اللّٰهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
lau kaana fiihimaaa aalihatun illallohu lafasadataa, fa sub-haanallohi robbil-‘arsyi ‘ammaa yashifuun

“Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada Tuhan-Tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha Suci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 22)

Allah menyandingkan kehancuran dengan adanya sekutu bagi Allah. Seakan-akan Allah berfirman: jika dengan adanya sekutu bagi Allah dalam hal kekuasaan berakibat pada kehancuran, otomatis sarunya kekuasaan adalah sebuah keniscayaan di saru negara. Tidak ada jalan lain untuk memberontak, tidak ada peluang untuk menentang. kecuali pemimpin itu tidak memenuhi syarat-syarat yang telah saya paparkan di muka, atau tidak menegakkan hak dan kebenaran. Seperti halnya imam dalam shalat, dia adalah pemimpin dalam keseluruhan rukun-rukun shalat. Jika sang imam sedang rukuk, maka kalian mesti ikut rukuk, jika sang imam sedang sujud, maka sujudlah bersamanya. Barangsiapa yang mengangkat kepalanya sebelum sang imam melakukannya, maka sama halnya ubun-ubun orang itu berada dalam genggaman setan.

Demikian pula seorang hakim, dia adalah imam dalam bidang yang digelutinya. Orang yang berdiri adalah imam bagi orang yang baru datang. Jadi, masing-masing kalian adalah imam (pemimpin). Dan masing-masing kalian akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan tersebut. Setiap manusia adalah imam bagi dirinya sendiri, keluarganya, dan masyarakatnya.

Sedangkan Sang Imam yang paling Agung, panutan semua orang, tempat bergantungnya segala hal, yang mengatur seluruh urusan umat manusia, dimana tak seorang imam pun yang bisa menolak peran kepemimpinannya tatkala tanda-tandanya sudah diketahui, para imam yang lain berada di bawah kuasa kepemimpinannya, seperti halnya dirinya sendiri yang berada di bawah kuasa Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa, adalah orang yang menerima langsung dari Allah, orang yang menyampaikan kebenaran demi kebenaran Allah. Untuk itulah, janganlah kalian menyia-nyiakan orang yang seperti itu, tetapi tolonglah perjuangannya, hormatilah dirinya, dan agungkanlah. Sebab orang yang demikian itu mendapatkan kehormatan dan kedudukan tersebut sesuai firman Allah:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wa iz qoola robbuka lil-malaaa-ikati innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah, qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa, wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu lak, qoola inniii a’lamu maa laa ta’lamuun

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 30)

Ketika mau muncul pemberontakan kepadanya, maka Allah menjadikan para pemberontak tersebut segera bersujud tunduk di hadapan sang Imam. Para pemberontak itu dicap menjadi orang binasa dan celaka selama-lamanya. Orang yang menolak sujud tunduk pada sang Imam, ketika orang-orang yang lain patuh dan tunduk padanya, maka dia yang menolak akan binasa selama-lamanya.

Yang demikian Ini sudah cukup sebagai sebuah kehormatan bagi makhluk seperti manusia. Lalu, bagaimana jika dalam persoalan ini diperbincangkan pula manusia sebagai makhluk yang tercipta dalam shurah (bentuk) Ar-Rahman?! Sungguh manusia memiliki keagungan dan kemuliaan di atas seluruh alam semesta, disebabkan oleh bentuk manusia itu sendiri dan oleh sujud.

Dengan bentuknya yang seperti itu: maka sah lah manusia memegang status Imamah (pemimpin).

Dengan adanya sujud kepada manusia: maka cukuplah sujud itu sebagai tanda atas kepemimpinannya.

Jika persoalannya memang begini, dan hikmah ilahiah memberi kita pengertian sedemikian rupa, maka seperti itu pula kaitannya dengan manusia dan ketuhanan. Di tengah-tengah umat manusia terdapat banyak pemimpin. Sebagaimana halnya manusia terbagi ke dalam banyak golongan, satu golongan berada lebih mulia dibanding golongan lainnya. Hal itu apabila Kitab Suci dan hati nurani dijadikan Imam (pemimpin). Akal dan pikiran adalah Imam. Imajinasi kreatif adalah imam. Praduga dan asumsi adalah imam. Panca indera adalah imam. Masing-masing imam yang disebutkan barusan memiliki satu umat (masyarakatnya) tersendiri.

Sedangkan Imam paling Agung, cahaya paling benderang, adalah HATI. Hari adalah hal terpenting di dunia nyata maupun di alam gaib. Hati adalah roh paling suci, imam paling indah. Hati adalah apa yang diisyarakatkan oleh sabda Nabi SAW:

أَلَا فِي الْجَسَدِ مُضْغَةٌ إِذَا صَلُحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْحَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ

“Ingatlah, di dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia bagus maka seluruh tubuh aan bagus pula. Jika ia rusak. maka sekujur tubuh ikut rusak. Ingatlah, ia adalah HATI.” (HR Bukhari dalam bab Al-Iman, 39, Muslim dalam bab al-Musaqah, 107, Ibnu Majah dalam bab al-Fitan, 14, dan al-Darimi dalam bab al-Buyu, 1)

Jika hati berlaku baik, maka ia menjadi roh yang suci, jika ia berprilaku buruk maka ia adalah setan yang terkutuk. Sedangkan rakyat sendiri mengikuti pola keagamaan sang Imam (pemimpinnya). Yang demikian ini berlaku di dunia nyata maupun di alam gaib (spiritual).

Manusia adalah apa yang disinggung dalam hadis Qudsi Allah:

مَا وَسَعَنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي وَوَسَعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنُ

“Bumi dan langit-Ku tidak akan memenuhi Aku. Tetapi, hati bambaku akan memenuhi Aku,”

Ketika bumi dan langit menjadi sempit lantaran Allah menampakkan diriNya di sana, ketika langit dan bumi mustahil menyandang sifat-sifat dalam asma-asma Allah, maka hati seorang hamba yang arifbillah menjadi rumah persemayaman bagi Allah, hati manusia menjadi tempat Allah berpijak. Karena itulah, manusia pantas menjabat status Imamah (pemimpin) atas sekalian alam semesta. Dan ia akan dipatuhi oleh semuanya, baik dalam keadaan terpaksa maupun tulus.

Ketahuilah:

Baiat tidak dianggap sah kecuali memenuhi syarat-syaratnya, sesuai dengan akad yang sudah disepakati. Setiap orang yang berbaiat disesuaikan dengan kapasitas keilmuannya dan kadar keinginannya. Boleh jadi seseorang telah berbaiat atas seorang imam, namun tanda imamah ada pada orang lain. Maka baiat yang dianggap sah adalah baiat atas perkara-parakara yang masuk akal, bukan pada perkara yang tidak dapat diketahui. Konsep ini dapat diberlakukan pada seorang khalifah yang secara dhahir tidak dapat diketahui, yaitu khaliah yang datang dari hadirat Yang Mahasuci. Baiat dapat dibilang sah sekalipun seseorang belum pernah melihat secara kasat mata kepada sang khalifah tersebut. Dengan alasan inilah, terjadi perbedaan mengenai pribadi sang Imam, bukan apa saja sifat-sifat dan ciri-cirinya. Semoga sang khalifah tersebut adalah orang yang digandrungi oleh banyak hati, terutama jika tidak ada di hadapannya.

Baiat pada khalifah sudah dianggap sah, dan dia berhak mendapat kedudukan mulia. Jika muncul keinginan memberontak maka hati yang sakit karena terjangkiti penyakit tidak memiliki peluang dan kesempatan sedikitpun untuk itu.

Mengingat Allah SWT adalah Imam Yang Paling Agung, Panutan Pertama, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Maqam ini tidak bisa diraih oleh siapapun, setelah Nabi al-Musthafa yang sangat mulia, kecuali oleh Khatamul Auliya yang terhormat dan mulia. Sekalipun Khatamul Auliya itu tidak berasal dari keluarga Nabi, akan tetapi dia telah berserikat dengan Nabi di silsilah keluarga paling tinggi, yaitu pada silsilah keluarganya yang ada di alam gaib, bukan silsilah keluarga di dunia ini.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar