
Elsubha.com – Mutiara Tentang Kelembutan Hakikat Muhammad yang Mengalik Kepada Segala Macam Hakikat; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Setelah Allah SWT menciptakan falak-falak sebagaimana yang diterangkan di muka, sebagai atap bagi makhul-makhluk yang berada di dunia bawah, membentangkan bumi sebagai tempat menampung sampah-sampah makhluk, maka di pelataran dunia atas menyebarlah hakikat-hakikat dari diri Muhammad SAW, dari sinar-sinar cahaya Muhammad itu terciptalah lorong-lorongnya, kemudian semua itu bersatu dengan kehidupan bumi yang menjadi tempat bagi kelembutan hakikat Muhammad itu, di dalam diri makhluk bumi itu terdapat hakikat-hakikat dan tanda-tanda Muhammad. Setiap hakikat memiliki ukuran yang dapat diketahui dengan tepat. Dan setiap kelembutan memiliki bagian rejeki yang terukur pula. Sementara kita menyaksikan adanya perbedaan dalam kelembutan-kelembutan tersebut, karenanya kita tahu bahwa perbedaan itu disebabkan adanya perbedaan penciptaan dalam hal hakikat-hakikatnya. Kita dapat menyaksikan pula, ketika kita berada di maqam musyahadah wa ta’yin, kelembutan-kelembutan hakikat yang dimiliki oleh para Nabi dan Rasul. Kita tahu mereka memperolehnya dengan dua cara: Pertama, kelembutan hakikat yang dibawah oleh para malaikat Qadamiyin. Kedua, kelembuatan hakikat yang turun dari tempat Muhammad secara kasat mata.
Kita tahu para nabi dan rasul memperoleh kelembutan hakikat-hakikat itu di dalam dua cara perolehan di atas ini melalui perantara diri mereka sendiri, bukan melalui pelantara benda lain. Kecuali umat ini, yaitu umat yang mendapat gelar kehormatan berikut:
كُنْتُمْ خَيْرَ اُمَّةٍ اُخْرِجَتْ لِلنَّا سِ تَأْمُرُوْنَ بِا لْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ ۗ وَلَوْ اٰمَنَ اَهْلُ الْكِتٰبِ لَكَا نَ خَيْرًا لَّهُمْ ۗ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَاَ كْثَرُهُمُ الْفٰسِقُوْنَ
kungtum khoiro ummatin ukhrijat lin-naasi ta-muruuna bil-ma’ruufi wa tan-hauna ‘anil-mungkari wa tu-minuuna billaah, walau aamana ahlul-kitaabi lakaana khoirol lahum, min-humul-mu-minuuna wa aksaruhumul-faasiquun
“Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 110)
Umat yang terbaik ini memperoleh kelembuatan hakikat dari Muhammad tanpa pelantara apapun, tanpa kesamaran apapun. Umat terbaik ini memperolehnya seperti para nabi dan para rasul memperolehnya. Hanya saja turunnya para malaikat kepada para nabi dan rasul secara tiba-tiba pada waktu kapanpun, dan menemui mereka semua (rasul, nabi, dan umat Muhammad) dengan cara yang sama ketika ajal datang.
Sedangkan manusia yang diciptakan dalam keadaan menjadi orang pengingkar, dan karakternya durhaka, maka sesungguhnya ketika pancaran cahaya Muhammad dilimpahkan ke bumi, sebidang tanah dikelolah untuk merawatnya, maka di sibidang tanah itu muncul sifat panas yang membakar, sifat itu melebur bersama tetumbuhan.
Dari persekutuan panas dan tetumbuhan itu terciptalah keburukan. Dari keburukan tersebut diciptakanlah jin dengan dua jenis: tinggi dan rendah.
Sifat panas yang membara itu adalah hasil dari persekutuan cahaya dan tanah. Dalam hal ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَخَلَقَ الْجَآ نَّ مِنْ مَّا رِجٍ مِّنْ نَّا رٍ
wa kholaqol-jaaanna mim maarijim min naar
“dan Dia menciptakan jin dari nyala api tanpa asap.”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 15)
Ayat ini adalah isyarat tentang persenyawaan antara cahaya dan tanah. Barangsiapa yang lebih dominan sifat cahayanya, maka ia menjadi jin yang mendekati sifat-sifat cahaya. Barangsiapa yang lebih dominan sifat tanahnya maka ia termasuk golongan jin yang layak mendapat kebinasaan.
Kelembutan-kelembutan hakikat kemudian turun dan marasuk ke dalam celah-celah api setan tersebut, sekalipun pada dasarnya asal muasal cahaya setan itu adalah cahaya tuhan.
Sedangkan orang-orang yang suka bermaksiat, kelembutan-kelembutan hakikat merasuk ke dalam mereka melalui pelantara sifat panas seperti yang sudah kami jelaskan di muka dan bukannya melalui pelantara sifat keburukan.
Kelembutan Muhammad SAW dalam putaran kepemilikan yang terus-menerus binasa tanpa akhir adalah asal muasal bagi segala jenis kelembutan-kelembutan hakikat yang pernah ada. Dan hakikat Muhammad akan terus mengalir sepanjang zaman dan di segala tempat kepada segala jenis hakikat yang pernah ada pula. Beliau SAW adalah orang yang mengalirkan kelembutan dan hakikatnya ke semua makhluk di semua dunia sepanjang masa, sejak awal penciptaan dirinya sampai suatu masa yang tak berakhir. Beliau adalah materi fisik yang mulia, penyempurna, dan tidak ada tandingannya.
