You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Penjelasan dari Al-Quran tentang Maqam-Maqam Khatamul Auliya, Kondisi, dan Tanda-Tandanya; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Penjelasan dari Al-Quran tentang Maqam-Maqam Khatamul Auliya, Kondisi, dan Tanda-Tandanya; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Sedangkan penjelasan-penjelasan yang berupaya mengaburkannya sungguh cukup banyak. Dan saya menemukan ayat-ayat Alquran berbicara tentang Khatamul Auliya ini. Akan tetapi dengan bukti-bukti yang terpisah-pisah.

Salah satunya terdapat dalam surat AL-Baqarah, yaitu di dua tempat. Di kedua tempat itu dijelaskan tentang tanda-tanda Khatamul Auliya, tempat dan alamatnya.

Dalam surat Ali Imran, terdapat empat tempat yang menjelaskan tentang:

1. Perjuangan keras yang dilakukannya sebelum wujud dirinya tercipta, kedudukannya yang terkemuka sebelum dirinya lahir, jejak langkahnya yang patut dipuji, dan perbuatannya yang dapat dilihat.

2. Penghubungan dirinya dengan sifat kekurangan dan kemunduran, keruntuhan dan penurunan, setelah sebelumnya dengan sifat keras dan kokoh.

3. Tentang tempat tinggalnya yang tak lekang oleh perubahan waktu, dan orang yang melintas di depannya pasti akan mengenalnya.

4. Tuhan Yang Pencipta mengharuskan kita untuk membenarkan Khatamul Auliya itu. Dan dalam hal syariat Allah menempatkan dirinya di derajat yang tinggi.

Dalam surat an-Nisa’ juga terdapat empat tempat yang menjelaskan dirinya:

1. Sebagian dari dirinya berhubungan Pemilik cahaya, tidak pernah berbuat keburukan, bercengkrama dengan handai taulannya, dan juga berjalan-jalan di wilayahnya.

2. Semua kata-kata yang diucapkannya dienarkan oleh-Nya, karena ada kemiripan antara diri-Nya dengan dirinya.

3. Ada huruf yang berfungsi sebagai peringatan (tanbih), dan bukannya huruf yang menunjuk makna sebagian (tab’ied), lalu dijelaskan, dan diperlihatkan kepada akal-akal yang sehat tentang kedudukan dan tempat Khatamul Auliya itu.

4. Lalu penjelasan tentangnya seperti yang disampaikan oleh Abu Yazid mengenai munajatnya di langit tauhid, dan dalam hal kejelasan nama-nama Khatamul Auliya itu menyerupai dengan orang yang pernah mengalami peristiwa isra’.

Dalam surat al-Maidah terdapat delapan tempat yang menjelaskan dirinya:

1. Ilmu pengetahuannya yang mendalam, kedudukannya yang mulia, cahayanya yang benderang, rahasianya yang jelas.

2. Sering memberi nasehat, membangkitkan semangat, mengajak dan takhshish.

3. Ilmu paling sederhana sekalipun, baginya, sama dengan nash yang sharih, tujuannya untuk menyempurnakan pengetahuannya dan memperdalam pemahamannya.

4. Allah berbicara kepada hamba-Nya itu (Khatamul Auliya) dengan suara yang nyaring, seperti halnya ketika berbicara kepada para Nabi dan Rasul-Nya.

5. Allah menyebutkan tentang amal perbuatannya yang tidak kasat mata, lalu mengembalikan amal perbuatan itu dari alam keabadian ke alam yang penuh ketidakjelasan.

6. Khatamul Auliya itu mencari yang tertinggi di antara maqam-maqam yang mulia, namun diberikan maqam yang terrendah, dan tergelincir dari jalan yang lurus.

7. Rahasia dirinya bersatu dengan Tuhan, jiwanya dipenuhi kerinduan, sebab ia teramat dekat dengan-Nya.

8. Kemudian Khatamul Auliya itu ingin pulang dari tempat dia mengalami pengalaman gaib itu, ingin lari dari pengalaman semacam itu, sehingga ada suara yang memanggilnya dari atas awan, dari arah kehinaan; “di lidahmu terdapat kesyirikan dan peluang untuk lepas dari dusta!”

Khatamul Auliya itu pun segera bertauhid, meng-Esa-kan Tuhan. membaca syahadat, dan bersujud menghadap Dzat Yang Maha Esa.

Dalam surat Al-An’am terdapat di satu tempat:

Tambalannya tidak sobek, ciptaannya tidak diciptakan.

Dalam surat al-Baraqah terdapat di satu tempat:

Ketika sudah mengetahui hakikat kemuliaan dirinya, dia berbicara dengan temannya apa yang ringan-ringan saja

Dalam surat Maryam terdapat di dua tempat:

1. Menghapus kerusakan

2. Memadamkan api pengingkaran

Dalam surat al-Anbiya’ terdapat di satu tempat:

Suci dan mensucikan

Dipanggil dan tidak pernah salah dalam berbicara

Dalam surat al-Mukminin terdapat di satu tempat:

Berselisih, lalu dia memilih pergi. Menyuburkan tanah, lalu dia mendepat harta melimpah

Dalam surat ash-Shaffaat terdapat di satu tempat:

Dipertemukan dengan saudaranya, ketika sedang bertanggung jawab atas kaumnya

Dalam surat asy-Syuraa terdapat di satu tempat:

Jalan dipersiapkan buatnya, dia juga tahu sebab-sebab turunnya wahyu

Dalam surat az-Zukhruf terdapat di satu tempat:

Maqamnya itu diingatkan dengan cara yang tak bisa dibantah, dengan bukti yang tak bisa ditolak.

Dalam surat al-Hadid terdapat di satu tempat:

Dialah yang membaca, bukannya mendengarkan bacaan, la adalah orang yang benar sekaligus sebagai wali. Sedangkan seorang Nabi adalah orang yang mendengarkan bacaan, bukan yang membaca sendiri. Seorang wali yang dipertuan bukanlah wali.

Dalam surat at-Tahrim terdapat di satu tempat:

Mengharamkan, mengokohkan maqam, dan memberi keselamatan.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar