
Elsubha.com – Penjelasan tentang Sifat; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Sifat-sifat adalah kilatan imajinasi, lintasan khayalan. Sampaikan kepada orang-orang yang mencari sifat-sifat, bahwa mereka tidak akan pernah menemukannya dengan puas dan tidak akan pernah sampai pada tujuan yang diharapkan. Apakah bisa Allah diketahui melalui apa yang tidak diciptakan-Nya? Jika tidak, apakah Dia akan dinilai berdasarkan sesuatu yang tidak ada pada diri-Nya? Untuk mengetahui Allah melalui perantaraan hal-hal yang sudah ada, maka engkau mesti menggunakan metode penegasian dan tanzih (penyucian); dengan cara mengkuduskan-Nya dan menolak penyerupaan (tasybih).
Jika engkau berkata begini: “Allah Mahahidup (Hayy), Berbicara (Mutakallim), Kuasa (Qadir), Berkehendak (Murid), Mengetahui (Alim), Mendengar (Sami), dan Melihat (Bashir). Sementara dirimu juga demikian adanya.”
“Allah memiliki sifat penyayang (rahim) dan pemaksa (qahir), serta sifat-sifat yang lain. Demikian pula dengan dirimu.”
Segala sifat yang engkau berikan kepada Allah, ternyata semuanya juga engkau miliki. Segala nama yang engkau sematkan kepada Allah, sejatinya dirimu dan sifiat-sifatmu juga mempunyainya. Lalu. dimanakah sifat-sifat yang betul-betul hanya milik Allah dan tidak engkau miliki? Sementara pengetahuanmu tentang Allah paling banter adalah dengan menegasikan dan menolak segala sifat-sifat bernada tidak sempurna, cacat, dan semacamnya. Sementara penolakan seorang hamba terhadap sifat-sifat yang tidak boleh terjadi pada Allah, dalam konteks ini, kembali kepada dirinya sendiri.
Ada yang berkata begini: “Mahasuci diriku, betapa agungnya diriku ini.”
Semua ini bukan dariku, hati-hatilah! Bukankah sesuatu disebut dilepas apabila sebelumnya pernah dipakai? Dan bukankah sesuatu disebut diambil apabila sebelumnya pernah ditahan? Lantas, sejak kapan Allah pernah mengenakan sifat-sifat ketidaksempurnaan, sampai-sampai engkau menuduh saya menghilangkan, melepas, dan menanggalkan sifat-sifat ketidaksempurnaan itu dari Allah? Demi Allah, sikap demikian ini bukan wujud tanzih (penyucian akan sifat-sifat Allah). Sebaliknya, orang-orang yang ingkar dan kafir memang suka menjustis dan mengadili hal-hal gaib berdasarkan bukti-bukti empiris. Dan menganggapkan kesimpulannya itu adalah kebenaran absolut, sehingga mereka berani menyematkan ketidaksempurnaan kepada Allah. Sedangkan tanzih untuk Allah yang saya sendiri lakukan selama ini berbeda dengan apa yang dikatakan orang-orang kafir itu. sehingga saya tetap sebagai orang yang bertauhid dan berada di jalan yang benar. Jiwa dan raga saya ini betul-betul mengkuduskan dan menyucikan Allah. Dan Allah SWT Yang Maha Pencipta jauh sama sekali dari model tanzih yang dimaksud oleh orang-orang ingkar itu. Lalu bagaimana dengan tasybih (penyerupaan atas sifat-sifat Allah)? Tanzih selalu merujuk pada upaya menyucikan dirimu sendiri, bukan Dzat Allah.
Tanzih itu sendiri adalah salah satu anugerah dan pemberian Allah untukmu. Segala puji bagi Allah yang telah menyucikan dirimu. ucapan terima kasih untuk Allah yang telah memakaikan baju tanzih kepadamu. Andaikan tidak ada wujud kita ini, niscaya tidak akan pernah terlintas dalam benak manusia pengertian dan pemahaman tentang sifat-sifat Allah. Pertolongan dan anugerah Allah di atas juga tidak akan pernah terjadi. Allah juga tidak akan memakaikan jubah khilafah dan mahkota kekuasaan kepada umat manusia. Dan wujudmu tercipta seperti sekarang ini yang sesuai dengan sifat ilmu (pengetahuan) Allah, dan kehendak bebas-Nya selangkah sebelum pena (al-Qalam) menuliskan takdir makhluk.
Ketahuilah! Engkau tersambung (muttashil) dan memiliki kesamaan dengan Allah dalam hal sifat-sifat maknawiyah, namun tidak betul-betul tersambung dan tidak betul-betul sama. Engkau terpisah (munfashil) dan berbeda dengan Allah dalam hal sifat-sifat Nafsiyah, yaitu sifat-sifat yang hakikatnya tidak dapat diketahui dengan cara apapun, namun tidak betul-betul berbeda dan tidak betul-betul terpisah. Andai saja Allah tidak menyematkan sifat-sifat-Nya sendiri padamu, tidak bersungguh-sungguh meletakkanmu dalam lembar pengetahuan-Nya, dan tidak menempatkanmu dalam sifat-sifat-Nya ketika terjadinya dua kali masa kematian, dan firman-Nya yang berbunyi: “Mereka adalah golongan yang masuk surga, aku tak peduli.
Mereka golongan yang masuk neraka, aku juga tak peduli.” niscaya tidak akan lepas dari-Nya persoalan manfaat dan mudarat, dan Allah tidak akan pernah disucikan dari sifat-sifat manusiawi.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَبَيْنَهُمَا حِجَا بٌ ۚ وَعَلَى الْاَ عْرَا فِ رِجَا لٌ يَّعْرِفُوْنَ كُلًّا بِۢسِيْمٰٮهُمْ ۚ وَنَا دَوْا اَصْحٰبَ الْجَـنَّةِ اَنْ سَلٰمٌ عَلَيْكُمْ ۗ لَمْ يَدْخُلُوْهَا وَهُمْ يَطْمَعُوْنَ
wa bainahumaa hijaab, wa ‘alal-a’roofi rijaaluy ya’rifuuna kullam bisiimaahum, wa naadau ash-haabal-jannati ang salaamun ‘alaikum, lam yadkhuluuhaa wa hum yathma’uun
“Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A’raf (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda-tandanya. Mereka menyeru penghuni surga, “Salamun ‘alaikum” (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk).”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 46)
Mereka itu tidak tinggal di A’raaf, dan mereka juga tidak ada. Sebab Allah SWT menciptakan makhluk bernama manusia ini dengan sifat-sifat-Nya, dalam bentuk-Nya, dan disematkan rahasia-rahasia-Nya. Jadi, sifat-sifat Allah adalah sifat-sifat manusia itu sendiri. Jangan dibalik, engkau akan terjerumus pada kesalahan fatal. Pahamilah apa yang kami sampaikan ini, penjelasan yang ganjil dan jarang dibicarakan banyak orang. Renungilah dan temukan rahasia dibalik tabir-tabir yang saya paparkan ini. Ungkaplah pengetahuan tentang sifat-sifat Allah yang tersembunyi ini, dan janganlah engkau keburu meninggalkan persoalan ini. Akan tetapi, pengetahuan yang engkau peroleh bukan pengetahuan sejati tentang sifat-sifat Tuhanmu, engkau hanya berhasil mendapatkan pengetahuan tentang sifat-sifatmu sendiri; sifat yang terdapat dapat wujudmu; sifat yang melekat padamu. Sebab sifat-sifat Allah melekat pada dzat-Nya. Karena itulah, pengetahuanmu tidak mungkin berhasil mencapai esensi-Nya, dan mustahil pula pengetahuanmu menjangkau Dzat Allah. Engkau lemah dalam hal ini, engkau mengetahui sesuatu yang berbeda. Jadi, pada intinya, engkau tidak akan pernah bisa mengetahui tentang tuhanmu dengan cara apapun dan bagaimana pun. Namun, pada waktu bersamaan, engkau juga tidak mengetahui apapun selain diri-Nya. Dan engkau hanya menyucikan diri-Nya.
Jika engkau berkata begini: “Aku telah mengetahui dan mengenal-Nya”, itu artinya engkau mengatakan sesuatu yang benar dan engkau layak dan cocok mengatakan yang demikian itu.
Jika engkau berkata begini: “Aku tidak mengetahui dan tidak mengenal-Nya”, itu artinya engkau mengatakan sesuatu dengan jujur, dan engkau melampauinya.
Pilihlah untuk dirimu sendiri antara meniadakan keserupaan sifat-sifatmu dengan sifat-sifat Allah atau menyetujui adanya keserupaan itu dalam sifatmu dan sifat Allah. Tapi ingatlah, sifat-sifat Allah mustahil dicapai oleh pengetahuan manusia yang baharu ini, begitu pula dalam hal dzat-Nya.
