You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

PENGANTAR

Di abad ke-19 filsuf Jerman, Friedrich Nietzsche, (1844-1900) melontarkan konsepnya tentang Manusia Unggul (Übermensch), yang kemudian menyulut perdebatan dan melahirkan banyak penafsiran di kalangan para filosof. Übermensch, Manusia Unggul, merupakan gambaran Nietzsche mengenai manusia ideal. Pemikiran Nietzsche tentang eksistensi manusia ideal ini konon dilatar belakangi oleh usahanya untuk meneguhkan kembali eksistensi manusia individual, sebagai bentuk perlawanannya terhadap manusia massa (kerumunan). Ciri Manusia Unggul ini kata Nietzsche selalu mengafirmasi hidup; mengatakan ‘ya’ untuk segala hal, baik yang baik maupun yang buruk, sehingga status Übermensch yang diibaratkan Nietzsche sebagai lautan yang siap menampung segala apa yang hadir termasuk air yang paling keruh, hanya bisa diraih melalui kehendak untuk berkuasa (Will to Power).

Tetapi jauh sebelum Nietzsche lahir, kira-kira delapan abad sebelum dia melontarkan konsep filsafatnya tersebut, tepatnya pada abad ke-12 M, di daratan Eropa pula, tepatnya di Andalusia (Spanyol), seorang filosof besar dan tokoh sufi papan atas, Ibnu Arabi (1165-1240) telah menggaungkan Insan Kamil (Manusia Paripurna). Tentu saja konsep Insan Kamil atau Manusia Paripurna-nya Ibnu Arabi ini jauh berbeda dengan konsep Manusia Unggul-nya Nietzsche. Tetapi dua pemikiran mengenai manusia ideal dari kedua tokoh tersebut sama-sama menandai munculnya era filsafat dan pemikiran baru. Filsafat Nietzsche merupakan penanda dihidupkannya kembali hasrat, kehendak, perasaan yang selama sekian abad telah dibungkam atas nama rasionalisme dan objektivisme abad modern. Pola filsafat Nietzsche yang berusaha kembali ke dalam relung kesadaran, perasaan, hasrat inilah yang kemudian menjadi bibit-bibit lahirnya filsafat baru yang menandai pemikiran abad 20, postmodernisme.

Di abad-abad sebelumnya, pemikiran Ibnu Arabi juga menjadi penanda lahirnya pemikiran baru dalam dunia filsafat Islam paska Ibn Rusyd (1126-1198). Paska Ibn Rusyd, yang dikenal sangat getol menggaungkan rasionalisme Aristotelian, filsafat di dunia Islam, oleh sebagian intelektual dikatakan telah mati. Benarkah? Sebenarnya tidak. Paska Ibn Rusyd, filsafat Islam sebenarnya telah mengalami perkembangan ke arah lain, atau mengalami apa yang oleh Thomas Kuhn sebut dengan pergeseran paradigma (the shifting paradigm), dari rasionalisme ke mistisisme atau sufisme. Puncak filsafat Islam yang berbasis pada sufisme atau mistisisme ini ada di tangan Ibnu Arabi. Karenanya Ibnu Arabi juga dikenal sebagai mahaguru sufi di kalangan Islam. Pengalaman-pengalaman sufistiknya telah dia alami sejak dirinya masih muda. Hingga saat ini, khususnya di dunia Islam, pemikiran Ibnu Arabi seputar sufistik selalu menjadi rujukan utama dan tak habis-habisnya untuk dikaji dan dieksplorasi. Karena itulah, Ibnu Arabi merupakan tokoh yang turut meretas jalan baru bagi perkembangan pemikiran Islam paska Ibnu Rusyd.

Mutiara-mutiara hikmah sufistik Ibnu Arabi itu telah berpendaran di berbagai karyanya yang sangat banyak. Di antaranya adalah kitab yang mengulas tentang Insan Kamil (Manusia Paripurna) dan Khatamul Auliya’ (Kewalian Paripurna). Kajiannya tentang Insan Kamil ini merupakan cara Ibnu Arabi dalam memahami manusia dan seluruh alam semesta yang menjadi tempat hidup manusia dalam kerangka sufistik. Ada tiga konsep yang dijadikan Ibnu Arabi untuk merumuskan Insan Kamil ini, yaitu manusia, alam dan Allah. Manusia Paripurna (Insan Kamil), bagi Ibnu Arabi merupakan roh alam semesta, sementara alam semesta sendiri merupakan wadak bagi Insan Kamil, yang mana baik alam maupun manusia merupakan cermin dari wujud Allah. Karenanya Insan Kamil atau Manusia Paripurna merupakan makhluq atau ciptaan dalam rupa Allah. Begitu juga dengan alam semesta merupakan cipataan atas rupa Tuhan.

Bagi Ibnu Arabi, manusia adalah wujud yang terakhir yang diciptakan di dalam alam semesta, yang menjadi miniatur. Sesuatu yang menjadi miniatur, kata Ibnu Arabi hanya akan ada apabila sebelumnya sudah ada yang ditiru. Jika tidak demikian, maka kata Ibnu Arabi, ia tidak bisa disebut miniatur dari sesuatu yang lebih besar. Dalam konteks pemikiran ini alam semesta sendiri adalah miniatur Tuhan. Jadi, manusia sempurna adalah miniatur alam sekaligus Tuhan. Manusia sempurna merupakan miniatur paling murni.

Terkait dengan Insan Kamil sebagai makhluk dalam rupa Tuhan, Ibnu Arabi berangkat dari pemikiran bahwa seluruh ciptaan Tuhan memiliki derajat yang beragam dan berbeda-beda, dan derajat paling sempurna adalah dimiliki oleh manusia, maka segala sesuatu di alam semesta adalah bagian kecil (juz) dari kesempurnaan manusia, bahkan manusia-binatang juga bagian dari manusia sempurna. Karena itu Insan Kamil ini merupakan cermin wujud yang menampung segala macam wujud-wujud lain, selayaknya Tuhan juga merupakan Wujud Tertinggi yang menjadi muara bagi segala keberagaman. Singkatnya, Insan Kamil merupakan ‘miniatur Tuhan’ di muka bumi. Artinya Manusia Paripurna yang sudah berada dalam rupa Tuhan tidak bisa tidak bertindak kecuali searah dengan tindakan Tuhan.

Konsep Ibnu Arabi tentang Insan Kamil tersebut kemudian bersambung dengan Khatamul Auliya. Di sini Ibnu Arabi juga menyinggung manusia sebagai alam kecil (micro-cosmos) dan semesta raya sebagai jagad besar (macro-cosmos). Karya Ibnu Arabi ini menceritakan pengalaman-pengalaman mistik yang dituangkan dalam penjelasan secara rasional-logis. Sehingga penjelasan tersebut pada akhirnya menghilangkan misteri mistisismenya. Namun demikian, karya ini bukan karya filsafat, karena kata demi kata yang dirangkai menjadi kalimat berupa karya-karya sastrawi. Sebagai sebuah tulisan sastrawi maka ia dengan sendirinya menampakkan apa yang sengaja hendak ia sembunyikan, dan ia menyembunyikan apa yang hendak ia tampakkan. Singkatnya, jalan yang ditempuh oleh Ibnu Arabi adalah jalan sufi, jalan spiritual, yang untuk meraih mutiara-mutiara sufistiknya itu dibutuhkan ketajaman hati dan rasa. Hal yang sama juga dibutuhkan untuk memahami dan mendedah karya Ibnu Arabi.

DAFTAR ISI

BAGIAN I

Cawan Tertutup Berisi Rahasia Tersembunyi

Tujuan Penulisan Kitab

Samudra Ganas, Samudra yang Menenggelamkan, Terdapat Mutiara-Mutiara Isyarat yang Berkilauan, di Sanalah Ada Kunci Hujah, juga Penjelasannya

Penjelasan Tentang Orang Itu Usai Menempuh Perjalanan Panjang dan Sudah Tiba di Tujuan

Hikmah Mengajar Orang Pintar dan yang Bijaksana

BAB I. PENDAHULUAN

BAB II. MENGENAL DZAT, SIFAT, DAN PERBUATAN ALLAH SWT

(1) Mengetahui Dzat

(2) Penjelasan tentang Sifat

(3) Perbuatan Allah

(4) Sebuah Perbincangan di Zaman Azali

BAB III. SAMUDRA INTAN DAN MARJAN YANG TERDAPAT DI DALAM JAGAD SEMESTA DAN DI DALAM DIRI MANUSIA

(1) Sebuah Isyarat

(2) Marjan Pertama untuk Mutiara Pertama

(3) Mutiara Penciptaan Alam Malaikat, la Berada di Tempat Terindah

(4) Mutiara Penciptaan Arsy dari Hakikat Muhammad SAW

(5) Mutiara Penciptaan Kursi dari Hakikat Muhammad SAW

(6) Mutiara Falak

(7) Mutiara Penciptaan Unsur-Unsur Pertama dari Cahaya Muhammad SAW

(8) Mutiara Penciptaan Dukhan (Asap), yang dengannya, Langit yang Tinggi Dipisahkan dari Bumi yang Rendah

(9) Mutiara yang Melahirkan Kemampuan Melihat Allah SWT di Dunia Ini

(10) Mutiara Kemenyatuan Yaqut-Yaqut dan Keteraturan Waktu

(11) Mutiara tentang Cara Menghadapi Orang yang Memburu Binatang dengan Gunting

(12) Mutiara tentang Kelembutan Hakikat Muhammad yang Mengalik kepada Segala Macam Hakikat

(a) Biji Mutiara Pertama

(b) Biji Mutiara Kedua

(c) Biji Mutiara Ketiga

(d) Biji Mutiara Keempat

(c) Biji Mutiara Kelima

(f) Biji Mutiara Keenam

(g) Biji Mutiara Ketuju

(h) Biji Mutiara Kedelapan

(i) Biji Mutiara Kesembilan

(j) Biji Mutiara Kesepuluh

BAB IV. MENOBATKAN STATUS IMAМАН SECARA MUTLAK DAN TIDAK DIBUAT-BUAT

BAB V. KEMULIAAN DERAJAT SESEORANG YANG BERADA DI BAWAH DERAJAT ORANG LAIN

BAB VI. PERMASALAHAN TERAKHIR TENTANG SESUATU YANG HINA

BAB VII. KESEMPURNAAN PARA NABI DALAM MENENTUKAN PENUTUP PARA WALI

Penjelasan Al-Quran tentang Maqam-Maqam Khatamul Auliya, Kondisi, dan Tanda-Tandanya

1. Penjelasan dari Al-Quran

2. Keterangan dari Hadis Sahih

Khatamul Auliya dalam Diri Manusia

Mutiara yang Sesuai dengan Yaqut Ketujuh

Doa Istikharah

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar