You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pendahuluan; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pendahuluan

Isyarat-isyarat berikut seluruhnya merujuk pada alam kecil, bukan alam besar. Telah saya jelaskan di muka bahwa tidak ada manfaatnya mengetahui apapun yang berada di luar dirimu, kecuali ia berkenaan dengan jalan keselamatanmu. Matahari barat (syamsu al-maghrib) adalah matahari yang muncul di langit kegaibanmu, berupa cahaya-cahaya ilmu. Segala rahasia, baik yang umum maupun khusus, tumpah ruah ke dalam hatimu. Seperti halnya Khatamul Auliya, ia adalah penutup yang mengakhiri puncak maqammu. Begitu pula jika engkau memiliki maqam khusus di antara teman-temanmu: maqam seperti yang dijalani oleh orang-orang terdahulu dari kalangan shahabat Nabi Muhammad SAW, berupa mengamalkan sunah nabi dan menduduki maqam mulia, itu artinya zaman dimana engkau hidup semasa dengan zaman mereka hidup, engkau termasuk salah satu orang dari teman-teman mereka. Di antara kesamaan lainnya, sama dalam tersingkapnya tabir gaib, sama dalam hal mujahadah (ketekunan beribadah), dan sama-sama memiliki kesetian janji.

Ketika ia membacakan apa yang saya tuturkan ini, dan datang pada saya dengan membawa apa yang saya tulis ini, ia berkata (pada saya): “Wahai Muhammad, (Yang dimaksud: Muhammad bin Ali al-Hatimi al-Thai, sang pengarang sendiri ,Ibnu Arabi.), apakah engkau menemukan adanya isyarat tertentu dalam ungkapan-ungkapan ini? Seorang pembantu (wazir) tetaplah pembantu. Semua isi dan kandungan adalah hak milik dan tanggung jawab orang yang memerintahkannya. Andai saja tidak ada kepemimpinan (khilafah) yang jujur, niscaya rakyat akan tergelincir dari jalan yang benar, karena tidak mengalami penyingkapan dan mengetahui tentangnya. Bukankah seorang pemimpin (khalifah) hanya akan kuat berkat adanya dukungan dari pendukungnya (mustakhlif)?! Di sini seorang pendebat jadi bungkam.”

Ia berkata lagi: “Wahai Muhammad, katakan padanya, ‘Hai manusia, jauh sekali apa yang semestinya engkau miliki. Padahal, ia sudah ada, dan memang telah ada. Akan tetapi, ia tidak ada di alam yang penuh perubahan dan alam yang fana ini. Saya sengaja mengakhirkan penjelasan tentang hikmah ini demi menyembunyikan sebuah rahasia; sebuah rahasia yang akan tampak dengan sendirinya pada waktu dan kondisi yang tepat.”

Matahari barat adalah sebuah maqam yang derajat dan kedudukan berada di bawah maqam al-Shiddiq. Rahasiakan hal ini. Sedangkan maqam al-Shiddiq ini berada di bawah maqam Khatamul Auliya. Hal itu karena cahaya-cahaya gaib yang memancar di dalam hati manusia -yang kami jelaskan dengan menggunakan kiasannya saja terkadang bisa dicapai oleh orang yang tidak lebih besar dan tidak lebih mulia dari mereka yang ash-Shiddiq (penuh kejujuran). Mereka yang mencapai dan memperoleh cahaya-cahaya itu terkadang tidak memiliki maqam mulia tersebut. Sebaliknya, cahaya-cahaya itu terkadang diraih oleh orang-orang yang tertipu dan terpedaya.

Rahasia ini tersirat dalam firman Allah SWT:

وَا لَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ
wallaziina kazzabuu bi-aayaatinaa sanastadrijuhum min haisu laa ya’lamuun

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 182)

Maqam ash-Shiddiq hanya bisa diraih oleh orang yang mempunyai kekuasaan dan kekuatan (ahl al-wilayab), dan orang yang di zaman azali ditakdirkan mendapat pertolongan (‘inayab), yaitu sejenis jalan menuju keselamatan bagi orang yang menjalankannya dan mengikutinya. Untuk itulah, kami tetapkan bahwa magam matahari barat berada di bawah derajat magam ash-Siddiqiyah, sebagaimana yang kami tetapkan pula bahwa magam Khatamul Auliya berada di atas derajat magam ash-Siddiqiyah ini. Hal itu disebabkan Khatamul Auliya bagaikan penyedia jalan untuk dilalui oleh orang-orang terdahulu. Karenanya, maqam Khatm ini berpangkal dari nubuwah, kedudukan yang tinggi sekali. Tidak salah jika kami menetapkan maqam khatm ini berada di atas maqam ash-Shiddiq, seperti yang dicontohkan oleh Tuhan. Mengambil cahaya dari Khatamul Auliya bagaikan mengambil cahaya dari lentera nubuwah (kenabian), ini jauh lebih utama daripada mengambil cahaya yang memancar dari lentara maqam orang-orang ash-Shiddiqiyah. Perbedaan di antara seorang pengikut, orang yang diikuti, dan sahabat, sama dengan perbedaan antara orang yang hadir menyaksikan (al-Syahid) dengan orang yang tidak hadir menyaksikan langsung (al-ghaib).

Di hari kiamat kelak Khatamul Auliya adalah orang yang berada di barisan terdepan. la memiliki dua kelompok. Makhluk-makhluk yang bersayap berada dalam kelompoknya, sedangkan Khatamul Auliya menjadi satu-satunya komandan. Manusia yang bersayap adalah orang yang sudah melebur bersama rohaniah, jiwanya telah tersucikan sampai menyamai tingkatan para malaikat. Maqam ini tidak lagi diperdebatkan di kalangan kita semua. Berdasarkan jenjangnya, maka ada yang memiliki dua sayap, ada yang tiga sayap, dan ada pula yang memiliki empat sayap. Jika orang itu termasuk golongan Aminul Arwah, maka ia akan memiliki enam ratus sayap, dan yang demikian ini bukan sebuah persoalan baginya. Kami menyebutnya sebagai Khatamul Auliya (penutup para wali), dan kami nobatkan ia sebagai hakim bagi semua wali, adalah karena kelak di akhirat di tangan kanannya ada tanda bercahaya sebagai seorang raja; tanda yang fisik bentuknya, sedangkan di tangan kirinya ada tanda seorang pemimpin; tanda yang rohani sifatnya. Cahaya tanda di tangan kanannya itu memancar dan dikenal oleh Ablu al-Ta’yin yang berada di barisan kanan, sedangkan tanda di tangan kirinya memancarkan cahaya ke Ahlu al-Tamkin yang berada di barisan kiri. Khatamul Auliya itu secara khusus dibekali dengan dua pengetahuan, dan dipanggil dengan dua nama. Dialah orang yang paling mulia kelak di akhirat, dan orang yang paling terkemuka baik di dunia maupun akhirat.

Wahai orang yang cerdas, pahamilah rahasia-rahasia ini, perluaslah pancaran cahaya rahasia itu, salah satu di antaranya adalah dengan menggenggam dan menjaga kepercayaan. Setelah saya mendengarkan segala apa yang la tuturkan, kemudian ia menunjukkan kepada saya apa yang sebelumnya sengaja disembunyikan. la sangat berharap saya menjaga baik-baik perkara yang amat suci dan rahasia ini. la meminta saya untuk bersumpah jika saya hendak melepas baju sutera lembut yang dikenakannya, maka hal itu boleh dilakukan asalkan tidak menampakkannya dengan penjelasan yang begitu terang.

la berkata: “Perkara ini bagaikan barang gadaian di tanganmu. terkunci, jangan bersedih, simpanlah, dan jangan sampaikan kepada siapa pun karena akan menyebabkanmu celaka.”

Sejak itulah muncul keinginan dalam hati saya untuk menyampaikan rahasia itu dalam sebuah kitab yang ekslusif, namun dengan cara yang tidak terang-terangan, melainkan layaknya peringatan dan teguran yang penuh isyarat dan kiasan. Sejak saya menerima tanggung jawab sedemikian rupa darinya, dan saya telah mengadakan perjanjian dengannya, maka sudah barang tentu saya mesti memenuhi janji itu. Karena itulah, sekarang saya akan memberikan penjelasan yang terang-terangan, namun di lain kesempatan saya hanya bisa memberikan isyarat semata. Bantulah saya, dan dengarkan harapan saya itu, wahai tetanggaku! Bagaimana mungkin saya menceritakan rahasia sendiri, dan menampakkan urusan yang sifatnya sangatlah pribadi. Saya dititipi wasiat oleh orang lain di tempat lain terkait syair dan prosa saya.

Sembunyikan rahasiamu, jangan engkau tampakkan. Menampakkan rahasia adalah perbuatan yang patut dibenci.

Bersabarlah engkau menghadapi orang-orang yang pernah mendengar rahasia-rahasia tentangmu. Simpanlah rahasiamu itu, sampai datang waktu yang tepat.

Barangsiapa yang termasuk orang cerdas dan pintar, ia akan disibukkan dengan mengejar hikmah-hikmah kehidupan yang tersembunyi sekalipun. la akan berhenti ketika melihat rumusan-rumusan yang kami buat, ia akan terus mencoba memecahkan teka teki yang kami ciptakan. Andai saja ini bukan persoalan yang sifatnya sangat ilahiah, niscaya kami sudah menjelaskannya dengan amat terang dan jelas tentang segala yang datang dan muncul. Lalu kami jadikan ia sebagai bekal bagi sang musafir dan simpanan makanan bagi orang yang bermukim. Akan tetapi, tinta pena telah kering lantaran ada alasan yang sudah dijelaskan di muka. Betapa mulianya makhluk bernama manusia itu, dimana Allah SWT telah menjadikannnya sebagai tempat berlabuhnya roh-roh (ruhaniyat) alam semesta ini. Allah SWT sungguh telah menjadikan kulitnya lembut nan indah, dan struktur fisiknya begitu sempurna. Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Mencukupi, dan hanya kepada Allah SWT segala niat dan tujuan berlabuh.

Hal lain yang menjadi cahaya rahasia ini adalah maqam khusus dan memperoleh keselamatan. Mengingat persoalan ini masih memungkinkan terjadinya penilaian benar dan salah sekalipun orang yang menyampaikannya telah menyaksikan langsung dengan mata kepala sendiri- maka persoalan ini bisa menjadi lebih pasti jika didukung oleh pembenaran dari sang pendengar. Terkecuali apabila informasi tentang persoalan ini diperkuat langsung oleh mukjizat yang pasti, atau oleh cahaya terang yang memancar dari hati seseorang yang berprasangka baik (husnudzdan).

Dalam hal ini Abu Yazid al-Busthami r.a berkata kepada Musa al-Dibali. “Orang mukmin akan menyambut dengan baik seruan dan perkataan orang-orang yang menempuh jalan Tuhan ini. Orang mukmin, sang pembenar (ash-shiddiq), akan ikut bergabung bersama orang-orang yang jujur itu dengan cara berprasangka baik pada mereka, dan bukannya melalui pembuktian rasional.”

Mengingat fenomena yang banyak terjadi di kalangan manusia adalah semacam itu, hati mereka banyak yang terhalang untuk menyaksikan langsung magam-maqam agung di sisi Allah, maka kami memilih untuk menutup-nutupi dan menyembunyikan rahasia ini. Tujuannya tidak lain sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka sendiri, kami tunduk saja pada pola pikir mereka, saya tidak akan menjelaskan nubuwah ini kepada khalayak ramai terkecuali dalam batasan tertentu yang dapat diterima rasionalitas mereka, karena takut membuat mereka mengingkari dan menyangkal pembawa informasi yang jujur dan benar, sehingga berdampak buruk pada mereka sendiri.

Sebab itulah, generasi salafus saleb di kalangan sahabat berbuat dan bertindak main-main seperti itu, mereka turun dari maqam yang agung ke magam yang dipenuhi senda gurau dan canda tawa. Hal itu dilakukan untuk meniru orang yang memperlakukan syekh agung main-main pula. Dirinya sendiri berubah-ubah, yang lahiriah tampak meragukan, namun jiwanya yang terdalam sangatlah baik sekali. Lahiriah mereka ditutupi dengan melakukan muamalah-muamalah atau pergaulan pada umumnya. Namun mereka menyembunyikan rahasia-rahasia dan pengetahuan gaib yang diperolehnya. Jika orang-orang semacam mereka semoga rida Allah tercurah kepada mereka-menyampaikan pesan dan peringatan tentang berbagai persoalan hidup yang tidak lazim di mata orang awam pada umumnya, itu artinya mereka mendapat perintah yang datang dari balik tabir gaib. Seperti yang diucapkan oleh Abu Hurairah r.a., “Andai saja saya ini menerangkannya panjang lebar, niscaya leher saya akan dipenggal.”

Ibnu Abbas r.a berkata, “Andai aku menafsirinya, pastilah aku ini dianggap kafir di antara kalian.”

Setelah mereka mengetahui bahwa hakikat-hakikat alam gaib berada di atas tingkat beberapa maqam hati, mereka menjadikannya lebih mulia dan lebih tinggi daripada pengetahuan teoretis, penyaksian empiris, dan rasa, karena ia merupakan warisan tunggul dari nubuwah yang terpelihara sekaligus maqam yang begitu tinggi dan diminati. Semua itu telah diisyaratkan oleh sabda Nabi di malam Isra’ Mi’raj, ketika beliau sedang menerima pengetahuan yang mesti disimpan rapi-rapi, karena kebanyakan orang sulit memahaminya.

Setelah mengurai semua jenis pengetahuan yang saya sajikan dalam kitab ini, hal-hal gaib lain yang serupa, siapa saja yang memperolehnya dari generasi ini, dan apa saja yang hanya dapat dibenarkan setelah berpisah dengan malaikat Jibril a.s serta malaikat-malaikat yang lain. kini saya tegaskan: “Tidaklah baik menyebarluaskan semua itu, kecuali tabir telah tersingkap dan rahasia telah diketahui.” Hal-hal yang sengaja kami sembunyikan dari sang kritikus yang kritis hanya terbatas pada semacam perjumpaan dengan Ruhul Amin (Jibril a.s), Sidratul Muntaha bagi para kaum Salikin, beberapa pencapaian keyakinan dan kemantapan hati yang diperoleh ketika sedang bermunajat dengan menggunakan bahasa manusia, guna menghilangkan ketakutan sekaligus untuk memberikan rahmat dan kemudahan. Persoalan-persoalan di atas yang telah tampak hanya sebatas untuk memberi tahu kepada para kritikus, sebagian dari mereka ada yang paham dan memperoleh keselamatan, sebagian lagi terjerumus di lembah perdebatan yang tak kunjung usai.

Salah satu rahasia gaib lainnya adalah adanya gelombang besar yang memuntahkan intan-intan dan permata yang berkilauan. Ketika rahasia-rahasia gaib datang pada saya bertubi-tubi tanpa henti, dan dari pori-pori tubuh saya memancar cahaya-cahaya yang benderang, saya ketika itu mandi menggunakan air yang begitu jernih untuk menutupi lubang pori-pori itu. Cahaya-cahaya itu pun berbalik arah menuju tempat ilham. Dari sanalah mengalir parit-parit dan sungai-sungai cahaya. Sementara angin dari barat berhembus kencang sehingga menimbulkan gelombang besar di samudra cahaya ini. Gelombang itu bergulung-gulung, dan bergerak begitu cepat, sehingga yang engkau bisa lihat hanyalah awan gelap yang tebal berlapis-lapis dan gelombang ganas yang bergulung-gulung.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَوْ كَظُلُمٰتٍ فِيْ بَحْرٍ لُّـجّـِيٍّ يَّغْشٰٮهُ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ مَوْجٌ مِّنْ فَوْقِهٖ سَحَا بٌ ۗ ظُلُمٰتٌۢ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ ۗ اِذَاۤ اَخْرَجَ يَدَهٗ لَمْ يَكَدْ يَرٰٮهَا ۗ وَمَنْ لَّمْ يَجْعَلِ اللّٰهُ لَهٗ نُوْرًا فَمَا لَهٗ مِنْ نُّوْرٍ
au kazhulumaating fii bahril lujjiyyiy yaghsyaahu maujum ming fauqihii maujum ming fauqihii sahaab, zhulumaatum ba’dhuhaa fauqo ba’dh, izaaa akhroja yadahuu lam yakad yaroohaa, wa mal lam yaj’alillaahu lahuu nuurong fa maa lahuu min nuur

“atau (keadaan orang-orang kafir) seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh gelombang demi gelombang, di atasnya ada (lagi) awan gelap. Itulah gelap gulita yang berlapis-lapis. Apabila dia mengeluarkan tangannya hampir tidak dapat melihatnya. Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka dia tidak mempunyai cahaya sedikit pun.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 40)

Sampai-sampai di atas permukaan samudra ini tidak ada kapal yang bisa berlayar, dan di atas langitnya tidak ada bintang yang berkedipan. Kejadian itu terus berlangsung sampai Allah SWT Yang Maha Penolong bersifat lembut padanya, sehingga angin yang semula ganas menjadi reda, dan gelombang besar itu mengalir lembut ke tepi pantainya, buih-buih terlempar ke dinding kapal, buihnya begitu putih jernih, karena ia membentuk waktu dan syariat.

Setiap kelompok manusia tahu di mana tempat mereka untuk minum. Mereka memperjelas jalan dan mazhab yang akan diikuti. Buih itu adalah kadar yang memercik dari samudra hati orang-orang yang mengenal Allah SWT, kemudian mewujud dalam lahiriah sikap mereka. Kadar itu tidak dapat diketahui kecuali oleh orang-orang yang memiliki rasa yang kuat.

Kitab ini-yang terpelihara dari adanya cacat apapun di dalamnya. dan yang pada zaman azali dulu di alam gaib diberi judul dengan judul Anga Maghrib fi Ma’rifat Khatm al-Auliya wa Syams al-Maghrib, wa Nuktat Sirv al-Syifa’ fi al-Qarn al-Labiq bi Qarn al-Mushthafa- adalah perwujudan satu teres buih yang dihempaskan oleh gelombang besar itu, yang bisa dinikmati oleh orang per orang atau dinikmati secara berkelompok. Siapa yang ingin membacanya dengan jumlah yang ganjil, dipersilakan saja, tapi yang ingin mengulanginya dengan jumlah genap, itu pun tidak menjadi masalah. Yang dimaksud dengan Al-Qarn al-Labiq bi Qarn al-Mushthafa (sebuah masa yang sederajat dengan masa Nabi Muhammad) sudah tiba sekarang ini, atau masanya sudah dekat. Maka bersiap-siaplah menyambut kedatangannya, berjuanglah sekuat tenaga untuk menerima cahaya ilahi ini, sebelum ia keburu terbenam.

Wahai saudaraku, janganlah engkau heran. Al-Qarn al-Labiq bi Qarn al-Mushthafa akan terus-menerus ada, selagi manusia bersama dengan Tuhan Allah SWT, selagi manusia menyaksikan Allah SWT. dan dalam pandangannya Allah dapat dilihat. Sekalipun berdasarkan informasi dari syariat dan yang didengar telinga, seperti dalam hadis yang berbicara tentang Haraj dan Maraj serta terjadinya banyak pembunuhan, yang dimaksud dengan masa Nabi adalah masa di zaman dahulu yang penuh kemuliaan. Namun Orang-orang yang mengamalkan kebaikan di Al-Qarn al-Labiq bi Qarn al-Mushthafa akan mendapatkan tujuh puluh kali lipat pahala dibandingkan generasi sebelumnya. Sekalipun pemimpinnya (Muhammad SAW) telah tiada. Sebab mereka yang berada pada Al-Qarn al-Labiq bi Qarn al-Mushthafa tidak memiliki penolong untuk melakukan kebaikan sebagaimana generasi terdahulu mendapatkannya, mereka tidak pula dapat menyaksikan pemimpinnya (Nabi Muhammad) secara langsung sebagaimana mereka saksikan. Tidak ada keimanan lain yang lebih kuat daripada keimanan seseorang yang tidak pernah melihat apa yang diimaninya, sebab orang semacam itu tidak dirasuki keraguan sedikit pun. Padahal, ia berada pada suatu masa yang diwarnai dengan fitnah, marabahaya, dan cobaan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ عْرِضْ عَنْ مَّنْ تَوَلّٰى ۙ عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ اِلَّا الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا 
fa a’ridh ‘am mang tawallaa ‘ang zikrinaa wa lam yurid illal-hayaatad-dun-yaa

“Maka tinggalkanlah (Muhammad) orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan dia hanya mengingini kehidupan dunia.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 29)

ذٰلِكَ مَبْلَـغُهُمْ مِّنَ الْعِلْمِ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ ۙ وَهُوَ اَعْلَمُ بِمَنِ اهْتَدٰى
zaalika mablaghuhum minal-‘ilm, inna robbaka huwa a’lamu bimang dholla ‘ang sabiilihii wa huwa a’lamu bimanihtadaa

“Itulah kadar ilmu mereka. Sungguh, Tuhanmu, Dia lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pula yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 30)

Renungilah isyarat-isyarat ini dalam jiwamu. Gunakan akal pikiran dan indramu untuk memahaminya. Zaman ini sangat keras, penguasanya sangat kejam, setannya sangat jahat. Hindarkan dan bedakan dirimu dari mereka bagaikan siang yang membedakan diri dari malam. Jika tidak berbuat demikian maka engkau akan terjerumus ke dalam masa kebinasaan dan era kehancuran. Saya telah memberimu nasihat, maka amalkanlah. Saya telah menunjukkan jalan yang lurus, maka tempuhlah.

Salah satu rahasia gaib lainnya adalah akad perkawinan dan menyaksikan pesta pernikahan. Mengingat mimpi yang benar adalah bagian besar dari nubuwah, maka saya segera membenarkan apa yang ditunjukkan oleh mimpi itu, ia memberikan kenikmatan berupa sentuhan tangan-tangan Allah dan bimbingan-Nya. Saya memasuki sebuah rumah cahaya, lalu menyingkap tabir-tabirnya, dengan perasaan cemburu kepada sepasang penganting baru.

Ketika saya sedang bermunajat kepada-Nya di hadapan-Nya, tiba-riba saja ada sentuhan yang begitu nikmat saya rasakan. Kemudian Allah memberdirikan saya di atas sebuah samudra yang airnya bergelombang serta penuh. Gelombangnya bergulung-gulung dan meninggi. Ketika itu saya berada dalam suatu keadaan yang hanya bisa diketahui oleh orang yang mengalaminya, dan hanya bisa dijelaskan oleh orang yang menyaksikannya langsung. Seperti dalam sebuah puisi:

Tak bisa mengetahui rasa kecuali orang yang merasakannya langsung, Tak bisa mencicipi sisa air dalam bejana kecuali orang yang berjuang keras.

Saya berdiri sambil bersandar ke kanan. Saya membiarkan hati menghadap ke ‘Illiyyin, karena ia adalah tempatnya Tuhan: tempat kebenaran. ‘Illiyyin itu dikelilingi air, dan diliputi cahaya terang. gelombangnya terus menerus bergemuruh, anginnya menderu keras. Semua itu terjadi begitu saja sampai kemudian di bagian kiri atas terbuka sedikit celah sebesar lubang jarum. Dari celah kecil itu keluar sesuatu yang ukurannya sebesar satu helai rambut. Seperti yang saya lihat, sesuatu itu adalah ungkapan kata-kata, lalu Allah SWT mewujudkannya dalam bentuk malaikat, dan ditempatkan di bintang-bintang. Seperti yang saya lihat, ia terus mengucapkan tasbih, tahlil, takbir, dan talbiah. Saya baru tahu kemudian bahwa ia adalah sosok fisik kitab ini: yaitu kitab yang Allah SWT turunkan kepada saya, kitab yang dapat dibaca oleh manusia melalui tangan saya. Kitab ini ternyata adalah setetes air yang diambil dari samudra yang bergelombang besar itu, ia adalah setetes buih dari gelombang itu.

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan saya ini malaikat yang mengetahui, dan menjadikan saya ini roh yang sederhana. Wahai seorang wali yang sempurna, lihat dan renungkan tentang nabi. Tubuhnya telah tiada, namun sunahnya tetap diamalkan oleh orang per orang. Nabi dibangkitkan dari kuburannya, dan diberangkatkan ke tempat perkumpulannya. Sehingga antara yang hidup dan yang telah mati dapat berkumpul bersama. Tuhan pemilik Kakbah datang ke Kakbah, lalu berfirman dari sana kepada hamba kecil-Nya. Tuhan mengambil sesuatu dari tangan sahabat-Nya, kemudian di luar pengetahuan saya, sahabat-Nya itu berkali-kali membenarkan-Nya.

Selanjutnya, dengan amat mengagumkan sebuah tulisan ditulis di atas secarik kain sutra berwarna merah. Saya adalah orang pertama yang menyaksikan jenis mahar pernikahan itu, setelah mendapatkan izin dari Nabi SAW dan atas perintah beliau juga. Peristiwa itu terjadi di tempat beliau yang tinggi, di maqam beliau yang mulia dan teramat agung. Setelah urusan pernikahan ini selesai, beliau meninggalkan mahar itu di tangan saya, dan beliau sendiri masuk ke dalam sebuah rumah bersama pengantin perempuannya, di dalam sana beliau tinggal berduaan saja, sementara mahar itu terus ada di tangan saya sampai akhir masa. Setelah waktu subuh tiba, dan saya terbangun, saya tidak melihat

adanya pengantin pria maupun pengantin perempuan, yang saya dapatkan hanyalah diri saya sendiri, tidak ada yang lain kecuali tubuh saya dan sifat-sifatnya. Ternyata, saya sendiri pengantin pria sekaligus pengantin perempuannya. Saya segera menikahkan akal dan jiwa saya, pengantin perempuannya kemudian mandi bersama si pria, ia menjadi lebih kuat berkat kemampuan akalnya. Saya heran pada diri sendiri dan tentang dirinya, terutama ketika bukan orang lain selain diri saya sendiri. Demikianlah saya terbungkam ketika terjadi penyingkapan tabir-tabir atas perkara-perkara gaib. Semisal adanya tepi pantai yang tak ada lautnya sebagai pasangan, adanya samudra yang tak memiliki bibir pantai sehingga gelombangnya sulit menepi, adanya sosok yang berbicara tentang hakikat-hakikat namun tanpa menggunakan bahasa dan kata, adanya sosok yang bisu namun senantiasa menyeru dan mengajak untuk kembali pada Allah, adanya sebuah benda bulat yang tidak menempati ruang dan tempat, adanya sebuah kubah besar yang tidak ada tiang-tiangnya, atau adanya tiang-tiang yang tidak berpijak ke tanah, serta masih banyak rahasia-rahasia gaib lain dimana penjalasan panjang lebar akan mengotorinya, dan tidak akan selamat dari cercaan pikiran rasional. Sebab semua itu bersumber dari suatu tempat yang tidak pernah terlintas dalam hati manusia, tidak pernah terdengar oleh telinga, dan hakikat eksistensinya tidak pernah terlihat oleh pandangan mata.

Aku kaget; ada laut tanpa tepi, ada bibir pantai tanpa ada lautannya.

Ada cuaca cerah tanpa bintik-bintik mendung, juga ada malam yang tak pernah kedatangan fajar.

Ada benda bulat yang tak menempati ruang seperti yang biasa dimengerti orang cerdas maupun orang bodoh.

Ada kubah besar berwarna hijau berdiri tegak dan berjalan, pusatnya adalah keperkasaan.

Ada tiang-tiang namun tak ada pijakannya, tak ada pula atapnya. Sungguh tersembunyi rahasia ini.

la tetap menjadi rahasia selamanya, tak berubah sekalipun terus tersembunyi. Ada yang bertanya: “Apakah kamu dibuat bingung oleb pikiranmu sendiri?”

Aku jawab: “Sungguh aku tak berdaya. Berbelas asihlah kalian di dunia ini. Kesabaran telah habis.”

Karena dengan berpikir, ketika aku bersemayam dalam keabadianku. bara api menyala-nyala.

Segala hal menjadi terbakar, tak ada bilangan genap maupun ganjil la bertanya padaku: “Siapa yang memetik mawar? Siapa yang dengan lembut berkata, ‘Saya ini orang merdeka?”, dan siapa pula yang dengan cinta membara melamar gadis cantik di balik kelambu, yang maharnya tak begitu mahal?”

Aku memberi gadis itu mahar pernikahannya, dan aku menikahkannya di suatu malam sampai fajar menyingsing.

Namun, kemudian aku hanya mendapati diri sendiri. Lantas, siapa lelaki yang aku nikahkan itu? Sungguh ini perkara mesti dipikirkan! Juga matahari yang cahayanya terang berlapis-lapis, rembulan yang padang, dan sekuntum mawar itu.

Waktu adalah hal yang sangat terkutuk. Orang yang menyembahnya berkata, “Tuhanmu adalah waktu!”

***

Saya ingin menerangkan padamu tentang beberapa keajaiban-keajaiban yang ringan-ringan saja, dan saya akan menyampaikan beberapa hal yang membuat emosimu terpancing. Demi Allah, wahai Saudara-saudara. Andai saja kalian melihat langsung keadaan orang-orang yang mengenal Allah (al-Arifin) ketika mereka keluar dari jiwa-jiwanya, ketika mereka meninggalkan raga-raganya, hati mereka disucikan, hal-hal gaib ditampakkan, tabir-tabir misteri tersingkap, cahaya-cahaya bersinar terang, penampakan-penampakan terjadi, maka orang yang menyaksikan langsung peristiwa kudus itu, melihat langsung keindahan itu, merasakan langsung keagungan dan kemuliaan itu, menatap langsung kelembutan itu; orang yang datang ke tempat antah berantah itu, dan menyelam ke telaga yang dalam itu; sungguh jika kalian menonton keadaan misterius mereka yang demikian, niscaya kalian akan lari ketakutan, dan hati kalian akan dipenuhi kengerian luar biasa. Karena kalian tidak merasakannya sendiri, dan kalian lebih suka mendustakan mereka. Tenaga kalian akan musnah, dan tubuh-tubuh kalian akan rontok. Tetapi, jika kalian mau menerima nasihat, maka kalian akan menyaksikan Tuhan dengan terang benderang. Dan kalian akan mendendangkan syair yang membuat senang mereka yang sedang menempuh perjalanan mencari Tuhan.

Pada suatu malam Tuhan datang padaku, berbadap-hadapan denganku, sambil bercakap-cakap. Dan rasa tawaduk tampak di depan mataku.

Aku pun menetek pada wujud-Nya dengan amat nyata. Aku tak berbenti menyusu, dan aku bukan yang menyusui.

Aku belum pernah membunuh orang Qibthi, tapi aku menolaknya dengan ilmu pengetahuanku, sehingga bagiku susuan tidaklah sulit.

Bayi-bayi tidak dibunuh hanya gara-gara kelahiranku. Dan orang jabat yang sombong tidak datang untuk membunuhku.

Aku bagaikan Musa, hanya saja aku bukan rahmat (rasul) bagi umatku. Karenanya aku tidak diharamkan menyusu.

Aku bermain teka-teki dalam banyak hal Jika engkau berhasil memecahkannya, maka itu adalah ilmu yang bermanfaat sekali di sisi Tuhanmu.

Jika jalan yang berhasil dicapai orang biasa sudah sedemikian mulianya, lantas apa pendapatmu tentang jalan yang lurus, jalan yang sesuai dengan ajaran Muhammad?!

Sepanjang jalan ini ada isyarat-isyarat tertentu, maka renungkanlah ungkapan-ungkapan yang ada, perhatikan betul-betul setiap tanda dan simbol yang ditemukan, jadikan ia kobaran api yang bisa engkau ambil cahayanya. Karena dengan mencampurkannya, maka akan ada obat serta kompas penunjuk arah yang akan ditampakkan oleh api. Saya sendiri Insya Allah akan menerangkan kepada kalian tentang rahasia-rahasia tersembunyi, beberapa peristiwa empiris yang bisa disaksikan oleh mata kepala, magam-maqam tertentu, dan faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya penampakan, juga tentang penciptaan pertama dan bagaimana penciptaan awal ini bisa menjadi tempat cahaya memancar dan sumber mata air yang melimpah. Dari sumber inilah kemudian tercipta Arsy, dunia tengah (‘alam ausath), padang yang amat luas, benda-benda, dan hewan-hewan. la adalah sumber penciptaan alam semesta. Saya akan menejelaskan semua itu kepada kalian. Allah SWT yang Maha Penyayang menitipkan semua itu di dalam diri kalian sendiri, dan menjadikannya sebagai sifat-sifat kalian.

Dirimu adalah wujud tiruan (al-matsal al-musyabbah), sedangkan semua itu adalah wujud idealnya (al-matsal al-munazzah). Jika engkau bertanya, “Di mana posisiku dalam idealitas itu? Dan di mana pula posisi semua itu dalam wujud tiruanku?” Jika diperbandingkan dan dihadapkan satu sama lain, maka masing-masing kalian saling menembus dan keluar masuk antara yang ideal dan yang tiruan (mitasi). Engkau harus mengunci pintu rahasia ini rapat-rapat! Lupakan saja! Semoga Allah SWT menolongmu. Jika Allah membuka pintu itu buatmu, semoga engkau langgeng menjaganya. Awal pembahasan kami dalam kitab ini adalah mengetahui dzat yang disembah; tentang Tuhan. Dzat-Nya tidak bisa diketahui kecuali melalui yang “Ada” (wujud, being).

Selanjutnya saya akan bicara tentang apa yang saya sebutkan di muka, dan pambahasan akan saya giring ke hal-hal yang menurut saya penting. Dalam menulis saya didikte oleh Allah SWT. Hanya kepada-Nya saya memohon pertolongan, dan hanya kepada-Nya pula saya pasrah dan tawakal. Tentang Allah tulisan ini disajikan. Saya datang dari-Nya dan hadir untuk kalian, sekaligus saya berangkat dari tengah-tengah kalian menuju kepada-Nya, bukan untuk diri saya sendiri atau kelompok tertentu. Saya orang yang jujur, mampu menjaga rahasia, dan dapat dipercaya. Allah SWT adalah pelindung kita, Dia-lah sebaik-baik wakil. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, selawat serta salam semoga dilimpahkan kepada penutup para nabi, Muhammad. keluarga dan sahabat-sahabatnya.

***

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar