You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Samudra Intan dan Marjan Yang Terdapat didalam Jagad Semesta dan didalam Diri Manusia; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Samudra Intan dan Marjan Yang Terdapat didalam Jagad Semesta dan didalam Diri Manusia; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Setelah kehendak Allah SWT mengarah pada proses penciptaan makhluk dan pembagian rejeki mereka, hakekat Muhammad memancar dari cahaya ketuhanan, di hadapan Dzat yang Maha Esa. Hal itu terjadi ketika Allah SWT menampakkan diri-Nya kepada diri-Nya sendiri di langit-langit sifat-Nya. Allah SWT meminta kepada diri-Nya sendiri agar bersikap lembut dalam menciptakan ruang dan waktu beserta isinya.

Permintaan yang datang dari-Nya untuk diri-Nya tersebut segera terkabul dan diwujudkan. Karena itulah, Allah adalah pihak yang meminta sekaligus yang diminta, yang berdoa sekaligus yang mengabulkan, yang menerima sekaligus yang memberi. Di dalam diri-Nya tersimpan rahasia kesucian sejati. Kedermawanan-Nya merasup dalam sifat ilmu-Nya. Allah menemukan hakikat Muhammad berada di bawah hikmah-hikmah-Nya, lalu mengambil hakikat tersebut dari dzat-Nya, seperti malam yang terkelupas lalu berubah menjadi siang. Dari hakikat Muhammad itu, Allah memancarkan sungai-sungai dan mata air. Dari hakikat Muhammad itu pula, jagad semesta ini tercipta. Hakikat Muhammad bagaikan langit yang menumpahkan hujan dengan derasnya. Hal itu karena Allah SWT mengambil sekerat cahaya dari dzat-Nya; sekerat cahaya yang terpisah setelah dipotong.

Akan tetapi setelah Allah menciptakan Muhammad dalam bentuk yang dikehendaki-Nya, Muhammad menjadi sosok yang bersatu dengan sekerat cahaya itu. Karenanya, potongan atau keratan cahaya tersebut adalah bagian dari sosok Muhammad yang terimajinasikan. Sedangkan Allah SWT sendiri sungguh Mahasuci; tidak ada yang terpisah maupun yang bersambung dengan dzat-Nya; tidak ada makhluk yang bersandar kepada diri-Nya. Keratan cahaya yang dimaksud bersifat perumpamaan, abadi, azali, dan jauh dari pengertian apapun. Seakan-akan, pengertian yang sesungguhnya memiliki pintu, dan di depan pintunya terdapat tabir penghalang.

Allah SWT menjadikan tabir penghalang itu tidak bisa tersingkap selamanya, pintu itu tidak bisa diketuk oleh siapapun, dan di balik tabir beserta pintunya itu terjadi penampakan Allah SWT. Sama halnya dengan segala upaya mendekat dan bersatu dengan Allah, semua upaya itu berhenti di depan pintu dan tabir ini. Bagi orang-orang yang mengenal Allah, penampakan Allah di kehidupan dunia ini berada di balik tabir tersebut. Sekalipun mereka termasuk orang-orang yang berhasil meraih derajat kemuliaan paling agung, penampakan Allah tetap berada di balik tabir. Tidak ada perbedaan antara dunia dan akhirat bagi mereka terkait penempakan Allah ini (tajali), mereka tetap tidak akan memperoleh pengetahuan sempurna tentang apa di balik tabir. Bagi kita, ini merupakan tabir kemuliaan Allah. Engkau dapat menyebut tabir itu sebagai selendang kesombongan Allah. Tabir itu merupakan benteng keagungan Allah. Engkau juga boleh menyebut tabir itu sebagai pakaian kehormatan Allah.

Semua yang kami tuturkan di sini adalah percikan haqqul yaqin, anugerah yang didapat oleh orang-orang yang sudah sampai (kepada Allah).

Mari kita kembali ke persoalan utama tentang proses penciptaan yang begitu elok dan yang terkait dengannya. Berangkat dari apa yang telah kami paparkan tentang Allah SWT semisal tentang kesucian-Nya dan ketidakserupaan-Nya dengan satu makhluk pun, selanjutnya kami katakan bahwa Allah SWT, setelah mengambil sekerat cahaya dari dzat-Nya, membentuk hakikat Muhammad dengan keratan cahaya itu. Bentuk Muhammad ketika itu masih tidak memperlihatkan sifat-sifat maupun tanda-tanda tertentu. Yang ada hanyalah hukum-hukum dan nilai-nilainya. Selanjutnya Allah menciptakan seluruh jagad semesta ini dari percikan hakikat Muhammad tersebut. Allah menjadikan alam semesta sebagai bagian-bagian yang terpisah dari bentuk hakikat Muhammad, kecuali bentuk kemanusiaan Nabi Adam. Kemanusiaan Nabi Adam adalah baju bagi hakikat cahaya Muhammad. Baju itu, dalam hal kelembutan dan kejernihannya, bagaikan air dan udara. Kemanusiaan Nabi Adam sebentuk dengan hakikat Muhammad.

Karenanya, di jagad semestan ini tidak satu pun yang menyerupainya. Ia menjadi sumber utama bagi segala jenis makhluk, baik benda-benda mati, benda-benda yang dapat berpikir maupun yang bisa merasa. Muhammad SAW adalah jelmaan dari tanda-tanda Allah, dan Adam adalah jelmaan Muhammad secara sempurna. Sedangkan kita semua adalah jelmaan dari mereka berdua alaihimassalam. Dan jagad semesta, baik kehidupan di atas maupun kehidupan di bawah, adalah jelmaan dari kita sebagai manusia. Penjelasan cukup. Hanya saja di dalam jelmaan fisik kita ini tersimpan jutaan rahasia, kemuliaan, dan makna yang begitu abstrak.

Para Nabi, para Rasul, dan orang-orang yang dekat dengan Allah (al-Arifun) dari golongan kita (umat Muhammad-penj.) adalah jelmaan dari Muhammad dan Adam. Penjelmaan mereka san sempurna dan tanpa ada yang kurang sedikit pun. sangat

Sedangkan orang-orang yang dekat dengan Allah dari golongan umat-umat lain (selain umat Muhammad-penj.) dan orang-orang beriman dari golongan kita adalah jelmaan dari Adam dan yang sederhana dari kemuliaan Muhammad.

Sementara orang-orang yang celaka dan mereka dari golongan kiri adalah jelmaan dari tanah penciptaan Adam, bukan lainnya. Tidak ada jalan menuju kebaikan untuk mereka. Pahamilah tentang penjelmaan ini, wahai para penuntut ilmu (al-thalib). Engkau akan hidup bahagia. Dan engkau akan menjadi satu-satunya orang hebat di masamu.

Hakikat Muhammad, seperti yang diisyarakatkan dalam firman Allah:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا طِرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ جَعَلَ لَـكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَا جًا وَّ مِنَ الْاَ نْعَا مِ اَزْوَا جًا ۚ يَذْرَؤُكُمْ فِيْهِ ۗ لَيْسَ كَمِثْلِهٖ شَيْءٌ ۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
faathirus-samaawaati wal-ardh, ja’ala lakum min angfusikum azwaajaw wa minal-an’aami azwaajaa, yazro-ukum fiih, laisa kamislihii syaii, wa huwas-samii’ul-bashiir

“(Allah) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari jenis kamu sendiri, dan dari jenis hewan ternak pasangan-pasangan (juga). Dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia. Dan Dia Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Asy-Syura 42: Ayat 11)

Beserta seluruh jenis jelmaan yang tercipta dari hakikat itu, adalah sesuatu yang tidak ada (adam), gelap gulita. Hakikat adalah sesuatu yang suci dan tinggi. Selanjutnya semua makhluk diciptakan, benih-benih ditumbuhkan, rejeki-rejeki dibagikan, bumi dibentangkan. tinggi dan rendah diciptakan, bentuk keturunan Adam dan lainnya juga diciptakan. Semua yang ada dibuat berkembang dan berketurunan, berbeda satu sama lain, ada yang tinggi ada yang rendah, sampai tiba masa kematangan dan kesempurnaan. Dan akhirnya seluruh jagad semesta ini berada dalam genggamannya dan kemurniaannya. Tubuh fisik Muhammad SAW merupakan percikan buih yang terlindungi. sebagaimana hakikat asal penciptaannya. la memiliki keutamaan sempurna. la adalah orang yang jadi panutan agung, karena ia menjadi pemula sekaligus yang terakhir, tempat segala hal tampak sekaligus bersembunyi. Inilah dia yang disebut samudra intan permata, dalil bagi setiap penciptaan.

Rahasia telah tampak, maka simpanlah. la telah menubuh secara fisik, maka kabarkanlah pada yang lain. Engkau telah memiliki pengetahuan tentang proses penciptaan pertama, posisi dan kedudukannya. Lalu alam semesta bergantung sepenuhnya kepada ciptaan pertama itu seperti yang dikehendaki Allah. Karena Allah memang mewajibkan alam semesta ini bertindak demikian sebagai ungkapan rasa cinta-Nya (kepada Muhammad). Sehingga Allah SWT Yang Mahaagung dan Maha Pemberi nikmat, mula-mula, menyertai orang yang dikehendaki-Nya dengan cara yang dikehendaki-Nya pula.

Setelah alam semesta ini lama berputar dan penciptaannya telah mengorbit, maka ia kembali pada bentuk semula dan penciptaan asal. Segala-galanya kembali menjadi satu bentuk. Seakan-akan, yang menyentuh adalah yang disentuh, yang terpikirkan adalah yang dirasakan. Keberadaan rahasia-rahasia makrokosmos di dalam mikrokosmos (manusia) adalah perulangan. Berikut ini isyarat penjelasannya.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اَمَرَ رَبِّيْ بِا لْقِسْطِ ۗ وَاَ قِيْمُوْا وُجُوْهَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَّا دْعُوْهُ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۗ كَمَا بَدَاَ كُمْ تَعُوْدُوْنَ 
qul amaro robbii bil-qisth, wa aqiimuu wujuuhakum ‘ingda kulli masjidiw wad’uuhu mukhlishiina lahud-diin, kamaa bada-akum ta’uuduun

“Katakanlah, “Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap sholat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata-mata hanya kepada-Nya. Kamu akan dikembalikan kepada-Nya sebagaimana kamu diciptakan semula.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 29)

وَلَـقَدْ عَلِمْتُمُ النَّشْاَ ةَ الْاُ وْلٰى فَلَوْلَا تَذَكَّرُوْنَ
wa laqod ‘alimtumun-nasy-atal-uulaa falau laa tazakkaruun

“Dan sungguh, kamu telah tahu penciptaan yang pertama, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”
(QS. Al-Waqi’ah 56: Ayat 62)

Untuk alasan inilah, orang-orang yang terhijab menilai perulangan adalah sebuah kerugian besar. Mereka berkata:

يَقُوْلُوْنَ ءَاِنَّا لَمَرْدُوْدُوْنَ فِى الْحَـافِرَةِ 
yaquuluuna a innaa lamarduuduuna fil-haafiroh

“(Orang-orang kafir) berkata, “Apakah kita benar-benar akan dikembalikan kepada kehidupan yang semula?”
(QS. An-Nazi’at 79: Ayat 10)

Dalam hal penciptaan ini tidak ada hakikat lain kecuali benda-benda yang sudah ada sebelumnya.

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar