
Elsubha.com – Mutiara Penciptaan Kursi dari Hakikat Muhammad SAW; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Kemudian Allah SWT mencari-cari tempat untuk meletakkan kedua kaki-Nya dan di mana tempat kedua sandal-Nya? Dari pikiran demikian memancar cahaya di suatu tempat yang semula kosong. Cahaya itu berputar-putar, seperti perempuan penari, yang bergerak gemulai, lehernya jenjang putih, dan alamat rumahnya diketahui oleh para musafir.
Dari putaran-putaran cahaya itu diciptakanlah Kursi untuk di-tempati kedua kaki-Nya, dan sebagai tempat bagi segala perkara ketika menghadap-Nya. Perkara-perkara tersebut pun lahir dari-Nya dalam bentuk yang satu. Dan ketika sudah sampai di hadapan Kursi, ia me-mecah menjadi dua bagian. Karena objek perintah dengan adanya tempat itu, sampai ke tingkat paling bawah sekalipun, memang ada dua hal sekalipun di satu sisi ia hanya ada satu. Dari yang satu itu, para Rasul datang susul-menyusul. Sebab sasaran perintah Allah dalam se-gala hal adalah manusia, bukan malaikat atau jin. Malaikat dan jin ha-nyalah bagian dari manusia; contoh-contoh yang berada di luar manu-sia. Bagi malaikat dan jin hanya ada sebagian perintah. Manusia adalah keseluruhan kitab, seperti yang disinggung dalam firman Allah SWT:
ما فَرَّطْنَا فِي الْكِتَابِ مِنْ شَيْءٍ
“Tiadalah Kami alpakan sesuatupun dalam al-Kitab.” (QS al-An’am: 38)
Kemudian diperluas lagi dengan firman-Nya:
ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ يُحْشَرُونَ
“…Kemudian kepada Tuhanlah mereka dihimpunkan.” (QS al-An’am: 38)
Seperti halnya ketika Allah mengingatkan kita tentang hakikat Muhammad, sebagai asal muasal segala penciptaan, dan awal bagi semua yang ada:
وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ
“Dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab.” (QS ar-Ra’d: 39)
Kita adalah kitab yang paling agung, yaitu ummul kitab yang mulia. Manusia adalah kitab yang universal, malam yang gulita, dan siang yang benderang. Maka dari ketinggian derajat dan martabat manusia, ia dapat dibagi sebagai berikut:
a. Derajat kesatu dengan melihat pada makna manusia
b. Derajat kedua dengan melihat pada keadaan manusia
c. Derajat ketiga dengan melihat pada dunia manusia
d. Derajat keempat dengan melihat pada kaidah dan hukum-hukum manusia
e. Derajat kelimat dengan melihat pada kerajaan manusia
f. Derajat keenam dengan melihat pada sisi arah manusi
g. Derajat ketujuh dengan melihat pada sifat manusia
h. Derajat kedelapan dengan melihat pada bentuk tubuh manusia
i. Derajat kesembilan dengan melihat pada martabat manusia
j. Derajat kesepuluh dengan melihat pada pengetahuan manusia
k. Derajat kesebelas dengan melihat pada wilayah kekuasaan manusia
Malaikat adalah ruhul kudus. Jika ruhul kudus ini membantu manusia tanpa menyingkapkan tabir dunia malaikat kepadanya, dan manusia itu sebagai pengikut, maka dia disebut sebagai shiddiq (otang yang jujur dan penuh kebenaran). Ini adalah derajat kedua belas dalam kehidupan manusia.
Jika ruhul kudus ini membantu manusia untuk mengetahui sesuatu di balik tabir malaikat, dan manusia itu sebagai pengikut, atau bukan pengikut sekaligus bukan yang diikuti, maka dia disebut sebagai Nabi. Ini adalah derajat ketiga belas dalam kehidupan manusia.
Jika ruhul kudus ini membantu manusia untuk mengetahui apa yang ada di balik tabir malaikat, dan dia menjadi orang yang diikuti, bukan yang mengikuti, maka dia disebut Rasul. Ini adalah tingkat ketiga belas dalam kehidupan manusia, sebuah derajat yang sempurna.
Dengan begitu, wujud manusia hanya sampai pada tingkat sepuluh. Sedangkan tingkat sebelas hanya menyerupai tingkat pertama. Jika engkau menerunginya maka ia akan dipahami.
Tingkat dua belas atau tingkat tiga belas yang berada pada bilangan belasan sama halnya dengan dua dan tiga di bilangan satuan.
Malaikat yang menolong itu berhenti di tingkat pengabdian pada manusia, tidak sampai ikut memberi bagian padanya. Karena ilmu-ilmu yang dimilikinya diperuntukkan sebagai penjagaan dan pengawasan.
Jika engkau berkata: penjelasan di atas menerangan tentang proses penciptaan Arsy yang agung itu, lantas bagaimana dengan Lauhul Mahfud dan Qalam? Bagaimana pula dengan tintanya, tangan kanan yang menulis, serta bagaimana cara penulisannya?
Kami jawab: kami sengaja membiarkannya menggantung dan memasrahkan jawabannya kepada dirimu sendiri, sampai tiba masanya dimana jawaban dari segala pertanyaan tersebut tampak ke dalam mata hatimu, yaitu ketika mataharimu bersinar terang. Dalam kitab ini kami hanya memberi isyarat dan tidak menjelaskannya dengan paparan yang jelas. Pertajamlah pandangan mata hatimu, perkuatlah usahamu, pastilah Allah akan membukan pintu-Nya untukmu. Yaitu ketika engkau betul-betul berjuang keras untuk memenuhi segala perjanjian dan perintah Allah, serta membenarkan segala janji dan ancaman Allah SWT.
