You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Samudra Ganas, Samudra yang Menenggelamkan, Terdapat Mutiara-Mutiara Isyarat yang Berkilauan, di Sanalah Ada Kunci Hujah, juga Penjelasannya; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Samudra Ganas, Samudra yang Menenggelamkan, Terdapat Mutiara-Mutiara Isyarat yang Berkilauan, di Sanalah Ada Kunci Hujah, juga Penjelasannya; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa

Seseorang yang bercita-cita pergi ke Baitullah takkan pernah berhasil, tanpa lebih dulu menghadapi beragam rintangan, menempuh lembah-lembah yang curam, meninggalkan sahabat dan tanah air, berpisah dengan keluarga dan kampung halaman, melepas sanak famili dan kerabat, kemudian di sepanjang perjalanan, setiap kali berjumpa dengan orang yang tak dikenal, ia dihantui ketakutan dan kekhawatiran. Baru setibanya di tempat miqat, bisa dikatakan ia telah lepas dari cengkeraman waktu, boleh menanggalkan pakaian-pakaiannya yang berjahit, melepaskan beragam perhiasan yang dikenakan, lalu menggantinya dengan pakaian sederhana. Saat itulah. ia mulai menyambut panggilan Tuhannya, melupakan masa lalunya. Saat itu pula, cahaya ilmu dan hidayah memancar ke dalam hatinya.

la melangkahkan kaki masuk ke Tanah Haram dalam keadaan berihram, menciumi Hajar Aswad, seraya ingat akan perjanjian yang pernah ia buat pada zaman azali. la juga bertawaf, mengitari Kakbah, memperhatikan bangunan Kakbah. Demikianlah seterusnya, ia menjalani manasik-manasik haji. Jika sudah berhasil memahami makna hakiki proses ibadah hajinya itu, serta nilai-nilai ibadah haji membekas di hatinya, maka ia pantas disebut sebagai al-Hajj (seorang haji) yang mabrur. Andaikan tidak khawatir menimbulkan kebosanan, niscaya saya akan membahas satu per satu sampai tuntas rukun-rukun ibadah haji itu kepada kalian.

Dalam kitab ini, saya akan memulai pembahasan mengenai ibadah haji, karena arti haji itu sendiri adalah mengulang-ulang niat atau tujuan, dalam melangkah menuju Tuhan Yang Maha Esa. Niat atau tujuan (al-qashd) adalah maqam pertama bagi setiap orang yang mengejar rahasia-rahasia Tuhan, dan berupaya keras mencapainya. Dalam kitab ini, saya akan memaparkan kepada kalian beragam rahasia. Saya akan menumpahkan sederas mungkin rahasia-rahasia itu dari langitnya. Pertama sekali, saya ingin bercerita kepada kalian tentang niat dan tujuan awal saya. Tujuan saya adalah tujuan yang bersifat religius sekaligus magam universal. Jika tujuan awal dan niatan saya adalah demikian adanya, sebagai awal pembuka, maka apa pendapat kalian tentang tujuan akhir dari semua usaha dan kerja saya ini? Siapakah orang yang mampu mengerjakan sesuatu dengan sempurna dan maksimal?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۤ اِذْ قَا لُوْا مَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ عَلٰى بَشَرٍ مِّنْ شَيْءٍ ۗ قُلْ مَنْ اَنْزَلَ الْـكِتٰبَ الَّذِيْ جَآءَ بِهٖ مُوْسٰى نُوْرًا وَّ هُدًى لِّلنَّا سِ تَجْعَلُوْنَهٗ قَرَا طِيْسَ تُبْدُوْنَهَا وَتُخْفُوْنَ كَثِيْرًا ۚ وَعُلِّمْتُمْ مَّا لَمْ تَعْلَمُوْۤا اَنْتُمْ وَلَاۤ اٰبَآ ؤُكُمْ ۗ قُلِ اللّٰهُ ۙ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِيْ خَوْضِهِمْ يَلْعَبُوْنَ
wa maa qodarulloha haqqo qodrihiii iz qooluu maaa angzalallohu ‘alaa basyarim ming syaii, qul man angzalal-kitaaballazii jaaa-a bihii muusaa nuurow wa hudal lin-naasi taj’aluunahuu qoroothiisa tubduunahaa wa tukhfuuna kasiiroo, wa ‘ullimtum maa lam ta’lamuuu angtum wa laaa aabaaa-ukum, qulillaahu summa zar-hum fii khoudhihim yal’abuun

“Mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya ketika mereka berkata, “Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui, baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” Katakanlah, “Allah-lah (yang menurunkannya),” kemudian (setelah itu), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 91)

Buka telinga lebar-lebar dan perhatikan dengan seksama!

Aku berkata.

Sementara Ruhul Qudus menyematkan kabar rahasia ke dalam jiwa Bahwa wujud Tuhan berada dalam lima perkara.

Wabai Kakbah kesaksian-kesaksian, Tanah Haram kesucian, Zamzam cita-cita, ikatlah jiwa ini!

Bait berjalan ke arah Bait, berharap tiba.

Rumah Tuhan itu disucikan dengan kebenaran dari kotornya keraguan.

Betapa ruginya diriku, suatu hari di Wadi Muhassir.

Lembah yang menunjukkan perjalanan kotorku.

Aku pun meneguk satu kendi penyesalan.

Karena menyadari hari-hari yang telah berlalu.

Sama sekali aku tak takut perjalanan ini.

Yang kutakuti hanyalah (Tuhan) pemilik jiwa ini.

Dalam kegelapan alam kubur.

Di Muzdalifah, tempat orang-orang mengerjakan ibadah haji, aku ikut bersama mereka, wahai pemuda.

Tidak ada kenikmatan dalam kedekatan.

Sedang Tuhan dalam diri.

Aku kumpulkan kesadaranku, antara sadar dan setengah sadar.

Gabungkan antara yang gaib dan yang nyata sehingga menjadi dwi tunggal… dengan begitu aku tidak melihat siapa dan di mana diri ini.

Ketika tiba di Mina aku menanggalkan segala keinginan-keinginan, aku gantung semua itu… tataplah ia dengan menolak dan melawannya.

Dan di tempat melempar tiga Jumrah, kemuliaan ada di waktu Dhuha yang elok… Aku anggap ibadah melempar Jumrah upaya memerangi kebodohan, maka berpalinglah dengan menundukkan kepalamu.

Aku mendengarkan apa yang dikatakan Shafa tentang hakikatku….

Aku bukan dari golongan orang Arab yang mulia atau bangsa Persia.

Aku pun lalu memiringkan badan di rukun Yamani, karena melambaikan tangan di rukun Yamani yang kanan sama halnya dengan berada di taman kesucian.

Di tempat itu, aku berdiam sambil berdoa… Tuhan Yang Maha Penjaga amatlah suci dari batasan-batasan, baik yang berupa penjelasan maupun jenis tertentu.

Aku menyaksikan-Nya di tempat pembaiatan sebongkah batu… yang menjadi hitam lantaran dilanggarnya perjanjian-perjanjian ketika muncul syubhat.

Dengan batu itu aku menghadang sosok yang menampak padaku. dan warnanya melekat padaku… sehingga waktu terasa berhenti, tak ada petang maupun pagi.

Di padang Arafah, ada suara yang berkata padaku: tahukah engkau siapa yang engkau lihat itu, dan perasaanmu terkagum-kagum serta senang padanya?

Ketika aku selesai mengerjakan ibadah haji, aku diberi tahu oleh sebuah suara yang berdendang, dan mengalun antara jelas dan samar. Di atas perahu indrawi, aku mengemudikannya. Ia berjalan karena hembusan angin dari akal pikiran yang bisu.

Ketika banyak rupa bermunculan di depanku, dengan akal pikiran setajam pedang aku tiba-tiba melihat sosok yang bukan manusia.

Sosok itu memanggilku: “Wahai hambaku.” Aku pun menyambutnya dengan kepatuhan… Renungkanlah penyingkapan dan kemenangan ini di atas ranting pohon.

Dalam melihat sosok yang begitu jelas itu aku tak menggunakan mata kepala… Aku buang kemampuan mataku, dan aku keluar dari penjaranya.

Aku tak berbeda dengan Musa yang berkata kepada Tuhannya, “Aku ingin melihat Dzat yang Mahasuci dari menyerupai apapun yang indrawi.”

Lalu keagungan-Nya menggoncang gunung-gunung yang tegak kokoh… dan Musa tak sadarkan diri, sementara Arsy bersembunyi di balik Kursi.

Aku bagaikan kelelawar-kelelawar yang ingin menikmati keindahan cahaya mentari pagi… tapi ia terjatuh lantaran silaunya cahaya matahari.

Tubuh kelelawar-kelelawar itu binasa, menjadi bangkai-bangkai tak bernyawa, dan secuil pun tak dapat menikmati cahaya.

Mahasuci Tuhan yang menyembunyikan Dzat-Nya dari pandangan mata… tetapi diriku masih terpanggil untuk terus mendekat dan berlayar kepada-Nya.

Cahaya penampakan-Nya tetaplah ada, tapi tak bisa dijelaskan, ia adalah penampakan agung dan pesta port.

Bagaimana pun, orang yang seperti kelelawar tidak akan mampu melihat cabaya… lebih-lebih orang yang jiwanya sakit, bagaimana mungkin dapat menikmati indahnya kehidupan?!

Barangsiapa yang tujuan dan niatnya tidak seperti di atas, ia mencari benda materi, sungguh hidupnya susah dibayangkan. Wahai saudaraku, tempuhlah jalan ini. Jangan terlalu banyak mencari teman, sehingga engkau bisa sampai kepada-Nya tanpa harus bertemu, dan engaku bisa berpisah dari-Nya tanpa harus menjauh. Bayangan tubuhmu akan selalu bersujud kepada-Nya, pagi dan sore. Dari sanalah Ruhul Amin akan turun membawa cahaya yang benderang, bersinar, dan terang.

Saat subuh datang menghancurkan tentara malam, diiringi derap kaki kuda, badan dan nama dapat dilihat oleh pandangan mata, dimerdekakan dari perbudakan, diberi jubah perlindungan, terlihat oleh pandangan kasat mata, dalam keadaan bagaimana pun, di saat itulah, ada salah seorang penduduk Tibriz bertanya pada saya, dan satu orang lagi yang mengaku dirinya tinggal di wilayah kekuasaan Daulah al-Aziz, orang yang mengingkari adanya perbedaan pada setiap rahasia tentang tanda-tanda kiamat, ciri-cirinya, hakikat dan isyarat kedatangan kiamat; seperti matahari terbit dari barat.

Orang itu mengingkari hal-hal seperti: sifat rohaniyah kehidupan. pasca kiamat, tertutupnya pintu taubat, kekekalan dosa, tiupan Dabbah, turunnya Isa al-Masih, tenggelamnya satu pasukan perang bersama senjatanya yang sedang berperang di medan tempur yang panas, ditaklukkannya sebuah kota besar dengan diiringi gema takbir dan tahlil seperti yang diajarkan sunah nabi, takbir dan tahlil itu tidak diucapkan pelan-pelan atau hanya dengan menggesek-gesekkan gigi.

Orang itu juga mengingkari kekuasaan terakhir, taman yang hijau indah, rahasia nubuwah, hujah yang terang, mengingkari kelayakan seseorang mendapatkan kemuliaan sempurna setelah meninggalkan kesalahan dan dosa, mengingkari keluarnya Dajjal yang tak disangka-sangka, serta mengingkari adanya orang yang terbunuh, mati dan hidup lagi.

Orang itu berkata pada saya: “Aku ingin engkau menjelaskan rahasia-rahasia jagad semesta ini dari sudut pandang jati diri manusia. Aku ingin menjadikanmu sebagai pelindung dan senjataku dalam melawan setan. Dan aku akan mengikuti petunjuk yang engkau ajarkan padaku.” (Sang pengarang di sini meniru apa yang diceritakan Alquran dalam surat al-Kahfi. ayat 66, yang mengisahkan perjumpaan Nabi Musa as dengan seorang hamba Allah yang saleh (Khidir). Ayat itu berbunyi: Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ لَهٗ مُوْسٰى هَلْ اَتَّبِعُكَ عَلٰۤى اَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا
qoola lahuu muusaa hal attabi’uka ‘alaaa ang tu’allimani mimmaa ‘ullimta rusydaa

“Musa berkata kepadanya, “Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 66))

Saya jawab: “Di mana pelayanmu dan bekal makananmu? Apakah ikanmu melompat ke laut?” (Sang pengarang meniru apa yang terdapat dalam surat al-Kahfi ayat 61. Ayat itu berbunyi: Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمَّا بَلَغَا مَجْمَعَ بَيْنِهِمَا نَسِيَا حُوْتَهُمَا فَا تَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِى الْبَحْرِ سَرَبًا
fa lammaa balaghoo majma’a bainihimaa nasiyaa huutahumaa fattakhoza sabiilahuu fil-bahri sarobaa

“Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 61))

Orang itu kembali berkata: “Andaikan ikan milikku itu tidak melompat ke laut, niscaya aku tidak menemukan alasan untuk setiap persoalan. Andaikan tidak ada pelayanku, niscaya aku tidak akan membawa barang bekalku.”

Saya membalas kata-katanya itu: “Apakah engkau lupa akan ikan itu, lalu engkau kembali menyusuri jejakmu untuk mengetahui apa yang terjadi?” (Sang pengarang meniru apa yang terdapat dalam surat al-Kahfi ayat 63 dan 64. Ayat itu berbunyi Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ اَرَءَيْتَ اِذْ اَوَيْنَاۤ اِلَى الصَّخْرَةِ فَاِ نِّيْ نَسِيْتُ الْحُوْتَ ۖ وَ مَاۤ اَنْسٰٮنِيْهُ اِلَّا الشَّيْطٰنُ اَنْ اَذْكُرَهٗ ۚ وَا تَّخَذَ سَبِيْلَهٗ فِيْ الْبَحْرِ عَجَبًا
qoola a ro-aita iz awainaaa ilash-shokhroti fa innii nasiitul-huuta wa maaa angsaaniihu illasy-syaithoonu an azkuroh, wattakhoza sabiilahuu fil-bahri ‘ajabaa

“Dia (pembantunya) menjawab, “Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 63)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ ذٰلِكَ مَا كُنَّا نَبْغِ ۖ فَا رْتَدَّا عَلٰۤى اٰثَا رِهِمَا قَصَصًا 
qoola zaalika maa kunnaa nabghi fartaddaa ‘alaaa aasaarihimaa qoshoshoo

“Dia (Musa) berkata, “Itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula,”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 64))

la menjawab: “Semua itu telah terjadi. Dan orang yang mengambil ilmunya dari alam, ia akan merasakan kelelahan luar biasa.”

Saya jawab: “Apakah Allah memberitahumu bahwa saya ini adalah orang yang memiliki ilmu dan kasih sayang, maka saya akan memberitahu bahwa dirimu adalah orang yang penuh salah dan dosa? Sebab saya ada dalam hakikat, sedang engkau terjebak ruang dan waktu. Engkau adalah raja di kerajaanmu sendiri. Sedang saya adalah seorang tahanan dalam penjara Tuhan. Di kerajaan sendiri, saya adalah mutiara indah yang mahal, pemilik mahkota dan baju kebesaran.”

Ia berkata: “Aku datang kepadamu dengan membawa niatanku sendiri, maka ajarilah aku jalan kebenaranku.”

Saya membacakan ayat Alquran kepadanya:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَا لَ اِنَّكَ لَنْ تَسْتَطِيْعَ مَعِيَ صَبْرًا
qoola innaka lang tastathii’a ma’iya shobroo

“Dia menjawab, “Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 67)

وَكَيْفَ تَصْبِرُ عَلٰى مَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ خُبْرًا
wa kaifa tashbiru ‘alaa maa lam tuhith bihii khubroo

“Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 68)

قَا لَ سَتَجِدُنِيْۤ اِنْ شَآءَ اللّٰهُ صَا بِرًا وَّلَاۤ اَعْصِيْ لَكَ اَمْرًا
qoola satajiduniii ing syaaa-allohu shoobirow wa laaa a’shii laka amroo

“Dia (Musa) berkata, “Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 69)

قَا لَ فَاِ نِ اتَّبَعْتَنِيْ فَلَا تَسْئَـلْنِيْ عَنْ شَيْءٍ حَتّٰۤى اُحْدِثَ لَـكَ مِنْهُ ذِكْرًا
qoola fa inittaba’tanii fa laa tas-alnii ‘ang syai-in hattaaa uhdisa laka min-hu zikroo

“Dia berkata, “Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 70)

Sumber : Terjemah Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa karya Syaikh Abu Abdullah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Al-‘Arabi al-Khatimi al-Tha’i al-Andalusi radhiyallahu ‘anhu

Tulis Komentar