
Elsubha.com – Cawan Tertutup Berisi Rahasia Tersembunyi; Kitab ‘Anqa’ Mughrib fi Khatam al-Auliya wa Syams-ul Maghrib wa Nuktah Sirr Al-Syifa’ fi al-Qarn al-Lahiq bi Qarn al-Mushthafa
Dengan menyebut asma Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, hanya pada-Nya aku percaya, Dia-lah Pelindungku.
Seorang syekh besar, imam yang alim, arifbillah, Abu Abddillah Muhammad bin Ali bin Muhammad bin al-Arabi al-Hatimi al-Thai al-Andalusi, semoga Allah mengkuduskan arwahnya menulis:
CAWAN TERTUTUP BERISI RAHASIA TERSEMBUNYI
Aku memuji Tuhanku. Maqam ini teramat mulia.
Dia tampakkan segala kebahagiaan. Tapi hati tetap terasa perih.
Aku tak heran akan kebahagiaan ini; hati yang payah mendapat anugerah.
Aku hanya takjub pada hati; yang mampu menampung samudra wujud-Nya.
Hakikat itu sungguh memikat.
Tapi memang begitulah Dia. Menuang cahaya dengan terang.
Ke dalam tubuh remang yang tak sanggup menampung.
Aku tak heran pada tubuh yang bercahaya ini.
Aku hanya takjub pada cahaya hati yang terus bertambah dan semakin mulia.
Jika tentang penyingkapan dan dimana terjadinya penglihatan.
Maka cabaya tajali-Nya tumpah di pelataran hati.
Engkau telah mengerti. Rahasiakanlah illat perkaranya, wahai pemuda.
Apakah makhluk biasa dapat melihat dan mengetahui Tuhannya?!
Mustahil ilmu kita mampu mengetahui Dzat-Nya. Ketika terpisah, dan perpisahan itu abadi.
Lalu utusan Tuhan mendatangiku. Membawa kabar tentang Khatamul Auliya.
Aku meminta: terangkanlah padaku maqam Sirrul Bait.
Ia menjawab: Yang Mahabijak telah memilihnya sebagai orang bijak.
Aku berkata: al-Khatm melihatnya.
Dia bersenandung: bila al-Khatm telah melihatnya, ia tidak berharap.
Aku bertanya: apakah masih ada waktu saat kami melihat al-Khatm?
“Ya! Hal itu nyata.”
Khatamul Auliya itu memiliki ciri rahasia abadi.
Semua orang yang arifbillah, saat berjumpa dengannya, akan duduk melingkarinya.
Imam Tirmizi telah memberi isyarat tentang Khatamul Auliya ini.
Tapi tidak menyebutnya dengan jelas.
Hati yang bening menerima keberadaannya.
Ash-Shiddiq tidak menjumpainya. (Sebab) matahari di ufuk barat telah tenggelam.
Akan tetapi, hati menyaksikan segala yang ditampakkan rasa.
Dan Dia tetap tersembunyi.
Ia haus akan rahasia-rahasia hati, ingin menggapai bintang Tsurya, ingin menapak bintang Zuhrah.
Andai mereka diperlihatkan purnama dan matahari di atas singgasana-Nya.
Dan mereka menempati maqam itu selalu.
Niscaya segala rahasia tampak bagi mereka.
Di antaranya ada bintang-bintang pemberi petunjuk, ada pula bintang pelempar (iblis).
Mahasuci Dia yang menyembunyikan Dzat-Nya dari penglihatan mata.
Dan Cahaya tajali-Nya tak terpandangi. Namun, ia tak dapat melihat fajar.
Bagaimana mungkin orang yang celaka dapat menikmati kelezatan bidup?!
Orang-orang kami (asykhashuna) berjumlah lima, lima, dan lima. Kami lihat, merekalah yang menjaga jagad raya.
Jika ada yang bilang empat puluh adalah jumlah terbanyak mereka, itu pendapat yang bisa diterima.
Jika engkau berkenan, kabarkanlah, jumlah mereka ada delapan. Jangan menambahkan jalan yang mereka tempuh. Ini satu-satunya jalan menuju Allah.
Tujuh orang dari mereka dapat diketahui di bumi ini. Dan yang kedelapan tinggal di atas bintang-bintang.
Ketika zaman telah berakhir dan cukup untuk terjadinya pengulangan, maka akan muncul tujuh nama, sementara orang-orang tidak mengenal siapa mereka, karena ini sudah diatur Tuhan Yang Maha Mengetahui.
Di sebuah taman yang hijau rindang nama-nama mereka terpampang, pemilik taman itu sangat mengasihi dan menyayangi orang-orang beriman.
Mereka mendapat perhatian dan perlakuan istimewa, ketika bunga-bunga mawar bermekaran dan angin berhembus sepoi-sepoi.
Engkau akan menyaksikan semua itu ketika orang-orang bodoh banyak bicara dan mencari-cari alasan untuk menolaknya.
Dengan terang-terangan mereka menentang, mereka iri hati, dan sebatas berprasangka atas kejadian-kejadian luar biasa ini.
Hari demi hari, dari waktu ke waktu, hati mereka semakin jauh dari kebenaran dan kedamaian.
Ranting-ranting pohon keadilan patah berguguran, lalu tumbuh pohon-pohon hijau di muka bumi. Sementara mereka tetap saja kering dan patah-patah. (*)
Keadilan Allah akan menyebar di Barat dan Timur. Seorang pemimpin umat beriman akan memperbaiki segala-galanya.
Untuk itu, selawat serta salam semoga dilimpahkan kepada dia (Muhammad) yang aku cintai dan sayangi di dunia maupun di akhirat.
Amma ba’d:
Segala puji bagi Allah Yang Mahadahulu.
Selawat (kepada nabi) sebagai penyempurna pujian ini.
Wahai orang-orang cerdas dan berakal kuat.
Renungilah setiap kata yang diucapkan oleh dia (nabi) yang terpercaya dan benar.
Temukanlah makna-makna terdalam setiap kata-katanya yang indah dan sejuk.
Yang disampaikan kepada kalian.
Janganlah engkau memahami kata-kata itu dari bentuknya saja Jika tidak ingin tubuhmu yang lemah dan terasing itu menderita.
Jika aku adalah tulisannya, maka untuk apa aku mengharap yang jauh, sementara makna begitu dekat?!
(*)Maksud bait puisi ini adalah ketika keadilan kembali tegak, zikir kepada Allah mulai menggema di mana-mana, dan para hamba Allah semakin bertambah banyak di muka bumi ini, mereka itu bagaikan tumbuhan-tumbuhan dan pepohonan hijau, dimana sebelumnya mereka bagaikan kayu kering yang patah. Ini sama dengan isyarat sabda Rasulullah SAW: “Mengingat Allah di tengah-tengah orang yang melupakan-Nya. bagaikan pohon hijau di tengah kayu-kayu kering.”
