
Elsubha.com – Pondasi Ke-27 : Ketaqwaan
Ketaqwaan manusia yang awam adalah menjadikan adanya sebuah penjagaan diri antara dirinya dengan Allah, dan ini suatu yang mustahil. Karena Allah lebih dekat kepada kita daripada kedekatan kita dengan urat nadi, bahkan lebih dekat dengan jiwa kita, lantas bagaimana mungkin ada sesuatu antara dirimu dengan diri-Nya (Allah), sementara Dia sangat dekat denganmu dari segala sesuatu?
Taqwa Dalam Dzat Ilahiyyah
Ketika Dzat Ilahiyyah yang suci itu memiliki satu cahaya yang terpusat, dimana tidak ada cahaya lainnya, maka dalam hal ini tidak ada lagi esensi dari suatu penghalang, sebab tidak ada lagi yang menjadi penghalang, atau ia dijadikan penghalang. Tidak ada beda antara Dzat Allah dengan unsur dzat kita, sebab dzat kita; maksudnya ruh kita merupakan tiupan Allah yang suci; (sebagaimana tertera dalam firman-Nya),
وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي
“Dan telah meniupkan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku,” (Qs. Al Hijr [15]: 29).
Dialah Allah Swt yang paling dekat dengan kita dari setiap yang dekat.
Dialah Allah Swt yang dekat bahkan paling dekat, (sebagaimana tertera dalam firman-Nya),
(1)
وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya,” (Qs. Qaf [50]: 16).
1. Taqwa Dalam Martabat Uluhiyyah
Ketaqwaan dalam martabat ini adalah engkau bertaqwa kepada Allah dengan Allah. Rasulullah Saw bersabda,
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ
“Dan aku memohon perlindungan dengan-Mu dari-Mu. ” (Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: فَقَدْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ مِنَ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ، وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ، وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ ، وَهُوَ يَقُوْلُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوْتِكَ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْكَ، لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ، أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ
Dari Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah Ra, ia berkata: (Suatu malam) aku kehilangan Rasulullah Saw dari ranjangku, maka akupun mencari beliau dengan meraba-raba, hingga kedua tanganku memegang telapak kedua kaki bellau yang berdiri di masjid, beliau bersabda, “Ya Allah, Aku memohon perlindungan dengan keridhoan-Mu daripada kemurkaan-Mu, dan memohon perlindunganmu dari segala penyakit dan segala yang tidak baik daripada hukuman-Mu. Dan Aku memohon dengan-Mu dari-Mu, Aku tidak bisa menghitung pujian terhadap-Mu, sebagaimana Engkaulah yang memuji Dzat Mu sendiri.)
Niscaya dengan ini engkau akan bisa melihat ragam sifat Allah pada segala sesuatu.
Allah lah penjagaan itu, Dialah yang sejatinya menjaga, dan Dzat yang dipintai penjagaan. Engkau akan cinta kepada-Nya pada segala sesuatu. Sebab, bagaimana bisa kedua matamu melihat-Nya, sementara kalbumu tidak menari lantaran memandang langsung keindahan-Nya.
Maka ketika engkau telah melihat sisi keindahan-Nya pada segala sesuatu dan engkau akan mencintai segala sesuatu, maka itulah puncaknya ketaqwaan.
2. Taqwa Dalam Martabat Rububiyyah
Pada martabat ini, seorang yang ‘arif billah menjauhi bertaqwa dari sifat Jalal dan Qahr dan memilih bertaqwa dengan sifat Jamal dan Rahmat Allah.
Rasulullah Saw bersabda,
اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ
“Ya Allah, Aku memohon perlindungan dengan kerindhoan-Mu daripada kemurkaan-Mu, dan dengan perlindungan-Mu dari segala penyakit dan segala yang tidak baik daripada hukuman-Mu.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)
Selagi engkau memperlakukan makhluk dengan cinta dan rahmat, niscaya Allah Swt memperlakukanmu dengan kecintaan dan rahmat-Nya.
Rasulullah Saw bersabda,
الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا أَهْلَ الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ
“Orang-orang yang saling menyayangi berada dalam kasih sayang Allah; Ar-Rahman, maka sayangilah penduduk bumi, niscaya penduduk langit akan menyayangi kalian. ” (HR. Abu Daud; At-Tirmidzi, dimana ini berkata, “Hasan Shahih.”)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
هَلْ جَزَآءُ الْاِ حْسَا نِ اِلَّا الْاِ حْسَا نُ
hal jazaaa-ul-ihsaani illal-ihsaan
“Tidak ada balasan untuk kebaikan selain kebaikan (pula).”
(QS. Ar-Rahman 55: Ayat 60)
Maka cukuplah ber-musyahadah (menyaksikan) kucuran karunia Ilahiyyah dan mencintai ragam tajalli Rububiyyah-Nya; inilah taqwa.
Manusia terus saja berkutat pada kedudukan taqwa; yaitu terkadang manusia menyaksikan (musyahadah) dan terkadang cinta.
Akan tetapi manusia tidak bisa, bahkan dapat dikatakan mustahil untuk memahami dan turut merasakan sisi ketaqwaan para nabi. Sebab, ketaqwaan mereka merupakan ketaqwaan khusus, yang tidak dapat dinalar dan dibuktikan dengan ragam bukti yang kuat.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
yaaa ayyuhan-nabiyyuttaqillaaha wa laa tuthi’il-kaafiriina wal-munaafiqiin, innalloha kaana ‘aliiman hakiimaa
“Wahai nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 1)
Ini merupakan pesan yang sangat khusus antara Allah Swt dengan nabi-Nya pada sebuah kedudukan yang tidak diketahui oleh para pembesar ‘arifin, maka bagian dari adab yang berkaitan dengan masalah ini adalah tidak menyelami lebih dalam berbagai makna tersebut.
Sebab, setiap martabat itu ada bentuk ketaqwaannya tersendiri. Sekedar mengetahui ketaqwaan, maka itu juga ketaqwaan, cinta adalah taqwa, dan rahmat pun juga taqwa.
Taqwa yang terbaik adalah bershalawat kepada Rasulullah Saw, sebab itu merupakan perkara khusus yang diperintahkan pertama kali dalam hal ketakwaan, (sesuai dengan firman-Nya),
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا النَّبِيُّ اتَّقِ اللّٰهَ وَلَا تُطِعِ الْكٰفِرِيْنَ وَا لْمُنٰفِقِيْنَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا
yaaa ayyuhan-nabiyyuttaqillaaha wa laa tuthi’il-kaafiriina wal-munaafiqiin, innalloha kaana ‘aliiman hakiimaa
“Wahai nabi! Bertakwalah kepada Allah dan janganlah engkau menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 1)
Dimana Rasulullah Saw telah melampaui semua tingkatan kesempurnaan, baik secara keilmuan, aplikasi, pengalaman dan musyahadah.
Rasulullah Saw menunjukkan jari ke arah kalbu beliau Saw, seraya bersabda,
التَّقْوَى هَاهُنَا
“Ketakwaan ada di sini.” (HR. Abu Ya’la; Al Balhaqi, Al Bazzar dan Ahmad.)
Dengan ini maka kalbu beliau Saw pun telah melampaui seluruh luapan cahaya, ragam tajalli dan asrar.
Orang yang bershalawat satu kali saja, maka ia mendapatkan bagian dari ragam kesempurnaan Nabi Muhammad Saw pada setiap maqam beliau. Sebab shalawat kepada Nabi Saw mampu menurunkan beragam luapan cahaya setiap dzikiran, puncaknya isyraq dalam setiap magam, permulaan setiap tajalli. Itulah ketaqwaan yang benar, sebagaimana dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuttaqulloha haqqo tuqootihii wa laa tamuutunna illaa wa angtum muslimuun
“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 102)
Sementara selain shalawat kepada Nabi Saw, maka itu termasuk kedalam firman-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَا تَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَا سْمَعُوْا وَاَ طِيْعُوْا وَاَ نْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْ ۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
fattaqulloha mastatho’tum wasma’uu wa athii’uu wa angfiquu khoirol li-angfusikum, wa may yuuqo syuhha nafsihii fa ulaaa-ika humul-muflihuun
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. At-Taghabun 64: Ayat 16)
Maka kita sepakat bahwa tidak ada yang tahu esensi redaksi firman Allah swt
“حَقَّ تُقَاتِهِ”
kecuali Nabi Muhammad Saw.
Semoga Allah senantiasa bershalawat (melimpahkan keberkahan) dan menyampaikan pada hadrah Nabi Muhammad Saw.
Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY
