You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pondasi Ke-28 : Menyaksikan Sisi Ketuhanan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pondasi Ke-28 : Menyaksikan Sisi Ketuhanan

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُدْخِلُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۗ وَا لَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَ نْعَا مُ وَا لنَّا رُ مَثْوًى لَّهُمْ
innalloha yudkhilullaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati jannaating tajrii ming tahtihal-an-haar, wallaziina kafaruu yatamatta’uuna wa ya-kuluuna kamaa ta-kulul-an’aamu wan-naaru maswal lahum

“Sungguh, Allah akan memasukkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia), dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 12)

Makanan, kesenangan, syahwat mereka (orang-orang kafir) seperti binatang. Mereka makan tidak ada kenyangnya, bahkan mereka makan hanya untuk menuruti syahwat atau untuk mendapatkan keinginannya atau juga agar apa yang menjadi tujuannya tercapai.

Sedangkan orang-orang yang beriman; Allah Swt telah memberikan mereka rahasia dan kunci, mereka mengalihkan adat kebiasaan yang biasa dilakukan menjadi sebuah ibadah dan setiap syahwat yang ada menjadi penyaksian akan sisi Ilahiyyah.

Redaksi, “Bismillah,” ini merupakan do’a yang senantiasa terucap sebelum melakukan suatu perbuatan, sehingga menjadikan perbuatan tersebut menjadi ibadah yang diganjar dan menjadikan setiap syahwat yang ada menjadi bagian yang suci.

Redaksi, “Bismillah,” Rasulullah Saw bersabda,

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لا يُبْدَأُ فِيهِ بِبِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ فَهُوَ أَقْطَعُ

“Setiap perkara yang tidak dimulai/dibuka dengan bismillahirrahmanirrahîm, maka akan terpotong (kehilangan keberkahan). ” (‘Abdul Qadir Ar-Rahawi meriwayatkan dengan lafazh ini dalam Arba’innya. Sedangkan dalam riwayat Ahmad dan Ma’mar bin Rasyid dan Ad-Daruquthni disebutkan,

كُلُّ أَمْرٍ ذِي بَالٍ لَا يُبْدَأُ فِيهِ بِذِكْرِ اللَّهِ أَقْطَعُ أَوْ أَبْتَرُ

” Setiap perkara yang tidak dimulai/dibuka dengan dzikir mengingat Allah, maka ia terputus (hilang keberkahannya); atau terpotong.)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَا تَأْكُلُوْا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّٰهِ عَلَيْهِ وَاِ نَّهٗ لَفِسْقٌ ۗ وَاِ نَّ الشَّيٰطِيْنَ لَيُوْحُوْنَ اِلٰۤى اَوْلِيٰۤـئِـهِمْ لِيُجَا دِلُوْكُمْ ۚ وَاِ نْ اَطَعْتُمُوْهُمْ اِنَّكُمْ لَمُشْرِكُوْنَ
wa laa ta-kuluu mimmaa lam yuzkarismullohi ‘alaihi wa innahuu lafisq, wa innasy-syayaathiina layuuhuuna ilaaa auliyaaa-ihim liyujaadiluukum, wa in atho’tumuuhum innakum lamusyrikuun

“Dan janganlah kamu memakan dari apa (daging hewan) yang (ketika disembelih) tidak disebut nama Allah, perbuatan itu benar-benar suatu kefasikan. Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu. Dan jika kamu menuruti mereka, tentu kamu telah menjadi orang musyrik.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 121)

Penyebutan nama Allah menjadikan hewan sembelihan menjadi halal, sedangkan jika tidak menyebutkan nama Allah, maka hewan itu hanya akan menjadi bangkai yang tidak bisa dimakan. Perkara inilah (menyebutkan nama Allah) yang wajib dilakukan dalam menyembelih hewan. Bahkan sekalipun nyatanya hewan itu belum disebutkan padanya nama Allah, maka sebelum makan engkaupun diwajibkan menyebutkan nama Allah; dengan syarat alat potongnya sesuai dengan ketentuan syari’at. Rasulullah Saw bersabda,

سموا اللَّهَ وَكُلُوا

“Sebutlah kalian (nama Allah) dan makanlah.” (Redaksi haditsnya:

عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ قَوْمًا حَدِيثُو عَهْدٍ بِالْجَاهِلِيَّةِ يَأْتُونَنَا بِلُحْمَانٍ لَا نَدْرِى أَذْكَرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهَا أَمْ لَمْ يَذْكُرُوا ، أَفَتَأْكُلُ مِنْهَا ؟ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: سموا اللهَ وَكُلُوا.

Diriwayatkan dari Ummul Mukminin Sayyidah ‘Aisyah Ra, para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, sungguh ada kaum yang baru saja terkena kejahiliyahan datang kepada kami dengan membawa daging, kami tidak tahu apakah mereka menyebutkan nama Allah atau belum menyebutkannya (ketika menyembelih hewan tersebut), apakah bisa kami memakannya?” Rasulullah Saw bersabda, “Sebutlah kalian (nama Allah) dan makanlah.”)

Menyebutkan nama Allah sebelum makan hukumnya sunnah, sebab Rasulullah Saw telah bersabda,

يَا غُلَامُ سَمَّ اللَّهَ وَكُلْ بِيَمِينِكَ

“Hai pemuda, sebutlah nama Allah dan makan dengan tangan kananmu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)

Bahkan menyebut nama Allah sebelum melakukan suatu perbuatan juga disunnahkan.

Sementara hamba-hamba yang cinta kepada Allah, mereka menyebut nama Allah pada setiap suapan yang mereka makan.

Mereka mengucapkan “Bismillah,” kemudian menyuapkan makanan ke dalam mulut, lalu mengatakan, “Alhamdulillah.”

Kemudian, sebelum suapan yang kedua, mereka mengucapkan “Bismillah,” dan menyuapkan lagi, demikian seterusnya.

Menyaksikan Allah sebelum memenuhi syahwat, itulah yang menjadikan perkara tersebut menjadi ibadah.

Rasulullah Saw bersabda,

لَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا أَتَى أَهْلَهُ، قَالَ : بِاسْمِ اللهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنَّبٍ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا فَقُضِيَ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ لَمْ يَضُرُّهُ.

“Sungguh jikalau ada seseorang diantara kalian mendatangi keluarganya (istrinya: berhubungan intim), dan ia mengatakan, (dengan nama Allah). Ya Allah sisihkan/jauhkanlah syeithan dari kami dan jauhkan kami dari syeithan yang memberi rezeki pada kami’, maka jika Allah menentukan adanya anak dari keduanya (maksudnya dari hubungan intim itu); maka syeithan tidak dapat memberikan mudharat padanya (pada anak/janin tersebut). ” (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)

Pemenuhan syahwat ini berfungsi untuk menjinakkan hawa dan menghibur jiwa (menghilangkan stres).

Bercumbu itu dianjurkan, orang yang tidak bercumbu pun akan lelah dan tetap dibuat lelah, bahkan ia akan merugi dan tidak menghasilkan apa-apa. Disebutkan secara mauquf,

رَوْحُوا القُلُوْبَ سَاعَةً، فَإِنَّهَا إِذَا أُكْرِهَتْ عَمِيَتْ

“Istirahatkanlah kalbumu satu jam, sebab jika kalbu itu dipaksa maka ia akan tuli. ”
(Al Imam Al Ghazali menyebutkan riwayat ini secara mauquf didalam Ihya Ulumuddin dari riwayat Imam ‘Ali Ra, tetapi hanya bagian awal haditsnya saja; yaitu: “Istirahatkan kalbumu sejam-sejam.”)

Rasulullah Saw bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنْ لَوْ تَدُومُوْنَ عَلَى مَا تَكُوْنُوْنَ عِنْدِي وَفِي الذِّكْرِ لَصَافَحَتْكُمُ الْمَلائِكَةُ عَلَى فُرُشِكُمْ وَفِي طُرْقِكُمْ وَلَكِنْ يَا حَنْظَلَهُ سَاعَةً وَسَاعَةً. ثَلَاثَ مَرَّاتٍ

“Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, jikalau kalian mengkonsistenkan apa yang menjadi kondisi kalian di rumahku, dan juga dalam berdzikir (mengingat Allah), niscaya malaikat menyalami kalian ketika kalian di tempat tidur maupun di jalanan, tetapi wahai Hanzhalah per-jam per-jam-melakukan aktifitas beragam- (beliau mengulanginya sebanyak tiga kali). “(HR. Muslim dalam Shahih-nya.)
Riwayat inipun disebutkan secara marfu’ dari riwayat Asy-Syihab Al Qadhdha’i; Ad-Dailami dalam Musnad Al Firdaus dari riwayat Anas.

Redaksi, “Bismillah,” Mengucapkan basmalah sebelum melakukan suatu pekerjaan, mampu menaikkan derajat pekerjaan tersebut; dari yang sebelumnya hanya adat kebiasaan menjadi pekerjaan yang bemilai ibadah; bermain menjadi proses mendekatkan diri, perkara yang sunnah menjadi wajib dan perkara yang wajib membuahkan musyahadah.

Dalam Islam: bercumbu adalah ibadah, menunaikan syahwat adalah musyahadah dan tersenyum itu menjadi sedekah.

Allah itu Maha Pengasih lagi Penyayang; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَاِ لٰهُكُمْ اِلٰهٌ وَّا حِدٌ ۚ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
wa ilaahukum ilaahuw waahid, laaa ilaaha illaa huwar-rohmaanur-rohiim

“Dan Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 163)

Allah juga Maha Pemberi lagi Pemaaf, Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ عَفُوٌّ يُحِبُّ الْعَفْوَ

“Sungguh Allah itu pemaaf lagi mencintai ungkapan maaf.”

Allah juga Maha Menerima Syukur lagi Pemurah; Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ

“Sungguh Allah itu Pemurah lagi mencintai kemurahan hati. ” (HR. At-Tirmidzi; Al Bazzar dan Al Hakim dimana la menilainya shahih.)

Allah juga As-Salâm, Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ هُوَ السَّلَامُ

“Sungguh Allah, Dialah As-Salâm (Yang suci dari segala kekurangan dan segala hal yang ada pada makhluk). ‘ (HR. Al Bukhari dan Muslim dalam Shahih keduanya.)

Allah juga Thayyib, Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا

“Sungguh Allah itu Thayyib (Suci dari kekurangan dan penyakit), Dia mencintai sesuatu yang baik.” (HR. At-Tirmidzi; Al Bazzar; Ad-Daulabi dan Abu Ya’la.)

Allah juga bersih; Rasulullah Saw bersabda,

إِنَّ اللَّهَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ

“Sungguh Allah itu bersih dan mencintai kebersihan. ” (HR. At-Tirmidzi; Al Bazzar; Ad-Daulabi dan Abu Ya’la.)

Ketakutan, kesedihan, kerisauan adalah dosa; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّمَا ذٰلِكُمُ الشَّيْطٰنُ يُخَوِّفُ اَوْلِيَآءَهٗ ۖ فَلَا تَخَا فُوْهُمْ وَخَا فُوْنِ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ
innamaa zaalikumusy-syaithoonu yukhowwifu auliyaaa-ahuu fa laa takhoofuuhum wa khoofuuni ing kungtum mu-miniin

“Sesungguhnya mereka hanyalah setan yang menakut-nakuti (kamu) dengan teman-teman setianya, karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu orang-orang beriman.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 175)

Sumber : BUKU RAHASIA WUSHUL TIJANY (AL USHUL FI SIRR AL WUSHUL) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY