You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Anjuran dan Wasiat Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu tentang Permasalahan Yang Banyak Ditemukan

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Permasalahan Yang Banyak Ditemukan

➤ Dianjurkan menghadiahkan semua bacaan wiridan kepada Rasulullah Saw sebagai perwakilan dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dengan berkeyakinan, bahwa sebenarnya Allah Swt telah mencukupi Nabi Saw dari hadiah yang kita kirimkan kepada beliau, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلَسَوْفَ يُعْطِيْكَ رَبُّكَ فَتَرْضٰى 
wa lasaufa yu’thiika robbuka fa tardhoo

“Dan sungguh, kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, sehingga engkau menjadi puas.”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 5)

Sebenarnya apa yang kita perbuat ini sejatinya sudah ada di lembaran Nabi Saw tanpa perlu kita hadiahkan kepada beliau, sebab beliaulah asal dari amalan ini dan beliau pulalah yang mengajarkan hal tersebut.

Akan tetapi kita melakukan pemberian hadiah semua wiridan ini kepada beliau sebagai simbol tambahan cinta kita kepada beliau dan bukan untuk tujuan yang lain.

Prinsip amalannya orang khusus, bahwa mereka senantiasa menghadiahkan semua pahala amal perbuatan, baik itu fardhu maupun sunah kepada Nabi Saw, sehingga mereka tidak melihat, bahwa itu adalah hasil usaha mereka, akan tetapi itu adalah wujud perwakilan dari Rasulullah Saw.

➤ Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Tidak diperbolehkan shalat di belakang orang yang membenci Syaikh. Sebab, imam shalat adalah orang yang didahulukan, lantas bagaimana bisa murid Tijany menjadikan orang lain sebagai orang yang didahulukan, sementara dia membenci gurunya (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Ini adalah bentuk perwakilan murid Tijany kepada orang yang membenci dan bentuk perbuatan yang menyalahi tabiat yang baik.”

➤ Apabila seorang muqaddam murtad, maka orang yang telah mengambil wiridan darinya dianjurkan untuk memperbaharui izin thariqahnya kepada muqaddam lain. Jika tidak memperbaharui izinnya dalam thariqah itu, maka dia tidak memiliki pegangan sama sekali sekalipun sebagai pemeluk thariqah.

➤ Barangsiapa yang tidak bersuluk di dalam thariqah dan tidak jadzab di dalamnya, maka dia hanya termasuk orang yang telah mengambil wiridan, namun bukanlah seorang Tijany. Sebab Tijany itu adalah orang yang bersuluk didalam thariqah, atau dirinya memperoleh jadzab khusus dalam berthariqah.

➤ Apabila seorang murid Tijany ditanya, “Apakah engkau seorang pengamal Tijany?” lantas dia menjawab, “Bukan,” maka izin thariqahnya secara otomatis gugur.

➤ Seorang murid Tijany boleh berziarah kepada semua wali, selagi ziarahnya itu dengan niatan lillahi ta’ala dan bukan untuk meminta madad dan tabarruk kepadayang diziarahi. Bahkan mereka boleh saja berziarah dengan ziarah yang disyariatkan, yaitu berupa memberi salam kepada mereka, mendo’akan mereka, memberikan bacaan do’a-do’a yang matsur, begitu juga ayat-ayat Al Qur’an.

Sedangkan jika dirinya berziarah dengan maksud untuk mengalap berkah, maka izin thariqahnya secara otomatis gugur saat itu juga, kecuali jika yang dia ziarahi itu adalah para sahabat Nabi.

➤ Perlu diketahui, bahwa jika kecintaan seorang murid kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah terhujam kuat didalam hatinya, niscaya kuat pula ikatan dirinya dengan thariqah, dirinya kelak sampai menilai bahwa tidak ada suatu keterkaitan diri kecuali dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dirinya pun tidak akan meminta madad kepada para wali selain beliau, baik wali itu masih hidup maupun sudah meninggal dunia, bahkan sekalipun ada wali quthb masa kini yang sampai memperlihatkan beragam karamah miliknya yang menunjukkan kewalian dirinya secara khusus, maka murid yang seperti ini tidak akan pernah menoleh kepadanya lantaran adanya kecintaan kuat yang terhujam pada Syaikhnya (Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Apabila kondisi seorang murid seperti ini, maka dia tidak akan mendapatkan kemudharatan jika berkumpul dengan wali lainnya, menziarahi kuburan mereka dan juga membaca berbagai karangan mereka.

➤ Terkait dengan menggunakan ilmu asrar, wafaq dan ilmu huruf serta semisalnya. Dinukil dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa beliau pernah menggunakan semua itu pada awal mula perjalanan spiritual sampai beliau dapat melihat Rasulullah Saw secara terjaga, dimana Rasulullah Saw melarang itu semua dan memerintahkan beliau untuk menyibukkan diri dengan shalawat fatih pada segala tingkatan yang ada didalamnya dan juga menyibukkan diri dengan isim a’zham.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah memakai wafaq guna menggapai martabat yang beliau tunggu-tunggu dan bukan untuk tujuan keduniawiaan. Jika seseorang memakai wafaq untuk tujuan keduniawiaan, maka hal itu jelas dilarang oleh syari’at.

➤ Barangsiapa yang melihat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dalam mimpi atau secara terjaga dan beliau memerintahkan untuk berdzikir dengan dzikiran khusus, atau suatu wiridan baik yang ada didalam maupun wiridan diluar thariqah, atau juga beliau mengizinkannya untuk mentalqin wiridan bagi orang yang memintanya, maka sungguh itu adalah izin yang shahih dan dapat dijadikan sandaran. Dirinya boleh mentalqinkan wiridan yang telah Sayyidi Syaikh Ra izinkan kepadanya, baik berupa dzikiran umum maupun dzikiran khusus.

➤ Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra selalu membiasakan diri untuk membaca ayat kursi pada raka’at pertama shalat Shubuh dan membaca surah Al Qadr pada raka’at keduanya, beliau melakukan hal ini sampai ajal menjemput.

➤ Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra juga selalu membiasakan diri membaca

سُبْحَانَ اللهِ، وَالْحَمْدُ للهِ ، وَلاَ إِلَهَ إلا اللهُ ، وَاللهُ أَكْبَرُ وَلا حَوْلَ وَلا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ مِلْءَ مَا عَلِمَ، وَعَدَدَ مَا عَلِمَ، وَزِنَةَ مَا عَلِمَ

“Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah dan tiada Tuhan selain Allah, Allah Maha Besar. Tiada daya dan upaya kecuali dengan Allah tidak terbatas dengan apa yang diketahui, jumlah yang diketahui dan timbangan yang telah diketahui,”

sebanyak satu kali dalam shalat, yaitu pada sujud pertama (setelah bacaan tahmid yang biasa dibaca dalam sujud- pent.). Dalam sebuah riwayat dinyatakan, bahwa beliau membacanya sebanyak tiga kali.

Sedangkan pada sujud kedua beliau membaca shalawat fatih sebanyak satu atau tiga kali. Dalam artian, bahwa pada setiap sujud dalam shalat, beliau menggabungkan antara do’a dan shalawat fatih.

Sumber : BUKU KU PILIH TIJANY (AN-NUR FI ATH-THARIQAH AT-TIJANIYYAH) SYAIKH SHALAHUDDIN AT-TIJANY