You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kajian Tentang Adab Wirid dan Berdoa yang Harus Suci dari Hadats dan Khubuts

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Harusnya Suci dari Hadats dan Khubuts

Adapun sanggahan masalah hadats dan keterangan yang buruk ini, maka itu tidak mengandung arti, sebab ada riwayat dari hadits, bahwa beliau Saw bertayammum untuk menjawab salam. Juga ada riwayat bahwa beliau berwudhu untuk menjawab salam dan meminta maaf kepada si Muslim karenanya, dan beliau bersabda,

إِلى كَرِهْتُ أَنْ أَذْكُرَ اللَّهَ تَعَالَى عَلَى غَيْرِ طَهَارَةٍ

“Aku tidak suka menyebut nama Allah Swt dalam keadaan tidak bersuci.” (HR. Abu Daud).

Didalam kitab Al Mawatsiiq Wal Uhod karangan Asy-Sya’rani dinyatakan, “Telah diambil janji dari kami, bahwa kami tidak boleh duduk-duduk untuk membaca Al Qur’an maupun berdzikir kecuali kami dalam keadaan bersuci walau dengan tayammum dengan syarat-syaratnya. Itu karena bagi orang yang memperhatikan masalah dzikir, Al Qur’an dan sholawat kepada Rasulullah Saw, niscaya akan menemukan hukumnya, adalah seperti hukum shalat dengan sepenuhnya bermunajat kepada sang Mahabenar. Juga merupakan kias dengan shalat jenazah pada segi persyaratan thaharahnya. Padahal disitu tidak mengandung ruku’ dan sujud, tetapi disitu (shalat jenazah) hanya terkandung bacaan dzikir dan do’a.

Orang yang diagungkan oleh Allah, niscaya maka akan diangungkan dan dibesarkan, maksudnya ada salah seorang shaleh yang mengagungkan Rasulullah Saw, ia berkata, “Wahai Rasulullah, apakah sholawat kepada tuan ini akan dapat dikabulkan terus menerus tanpa pernah ditolak?” Beliau Saw menjawab, “lya, itu tidak akan tertolak apabila orang yang bersholawat dalam keadaan bersuci.”

Darisitu diketahui bahwa orang yang berbicara kepada Allah Swt tetapi ia masih berhadas, itu berarti ia tidak beradab. Allah lah yang lebih mengetahui.

Sayyidi As-Sahili Ra pernah berkata, “Diantara adab mereka, mereka lebih suka berthaharah sampai dalam segala amal-amal kebajikan yang meragukan. Karena hendak menampilkan penampilan terbaik dan sifat paling indah. Tidak diragukan lagi bahwa dzikrullah itu yang paling utama untuk disikapi dengan bersuci secara lahir maupun bathin. Di samping di dalam thaharah itu masih terkandung sirr-sirr yang akan berbalik kepada batin menjadi lebih jernih dan lebih bercahaya. (dikutip dari Al Jaisy dan kitab lainnya).

Sumber : BUKU FATHURRABBANI (FATHURRABBANI FIMA YAHTAJU ILAIHI MURID TIJANY) SYAIKH MUHAMMAD ATH-THASFAWI AT-TIJANY