You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Kajian Tentang Perkataan Sayyidi Syekh Ahmad Tijani radhiyallahu ‘anhu, “Kedua Telapak Kakiku Ada Diatas Tengkuk Setiap Wali”

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Perkataan, “Kedua Telapak Kakiku Ada Diatas Tengkuk Setiap Wali”

Adapun sanggahan terhadap beliau, “Kedua telapak kakiku….” dan seterusnya; maka jawabannya adalah: Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan itu lantaran Nabi Muhammad Saw memberitahukan, bahwa beliau adalah Quthbul maktum dan penutup thariqah Al Muhammadi terkenal, yang membentang kepada seluruh wali sejak zaman nabi Adam sampai hari Kiamat.

Dengan penyataan ini terlihat jelas, bahwa maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra di atas seluruh maqam para wali, sebab itu bersifat Jamaliyyah atau Jalaliyyah yang diperoleh para wali, ini semua tidak lain berkat dibentangkan oleh Sang Wali Quthub besar yang berasal dari hadhrah Sayyidil wujud dan juag dari hadhrah kalangan para nabi As.

Atas dasar ini pulalah, Syaikh Ahmad Zarruq menetapkan bahwa Syaikh Abdul Qadir Al Jilani Ra pun berhak atas maqam itu dengan ucapan beliau, “Kakiku berada diatas tengkuk semua wali Allah Swt, setelah sebelumnya Syaikh Ahmad Zarrruq menjelaskan bahwa maqam tersebut dikhususkan bagi orang yang hidup pada zaman beliau; lantaran Sayyidi Abdul Qadir Al Jilani banyak beribadah dan ilmunya, serta memiliki nasab mulia. Sebab kala itu tidak ada seorang pun yang memenuhi tiga perkara ini selain beliau; Syaikh Abdul Qadir Al Jilani. Silahkan baca keterangan Syaikh Ahmad Zarruq dalam At-Tauthi`ah ketika menerangkan keunggulan Syaikh Abdul Qadir Al Jilani Ra.

Kami katakan: Kami menjawab berdasarkan keterangan dari Syaikh kami; Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra dimana sikap kami terhadap guru kami adalah sama sepertijawaban Syaikh Ahmad Zarruq; yaitu lantaran ketiga perkara itu terhimpun pada diri kedua Syaikh tersebut, bahkan ditambah dengan satu perkara lagi (yang keempat); yaitu bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah yang paling akhir dari keduanya (Antara Syaikh Abdul Qadir Al Jilani dan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra). Terlebih dari perkara diatas, ada juga perkara yang kelima, yaitu bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra merupakan penutup wali. Lantaran itulah Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menyatakan dengan kata tatsniyyah (ganda); yaitu, “Kedua telapak kakiku ini berada diatas tengkuk setiap wali Allah Swt.” Ditambah lagi dengan kalimat, “Sejak zaman Adam sampai pada hari Kiamat.” (Disimpulkan maknanya dari kitab Al Bughyah dan Al Jawab Al Muskit).

Dalam Ar-Rimah disebukan ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan perkataan tersebut, beliau memanggil, “Mana Sayyidi Muhammad Al Ghali?” Ketika beliau sudah hadir di hadapan Sayyidi Syaikh Ra, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata, “Kedua telapak kakiku ini berada di atas tengkuk setiap wali Allah Swt.” Lalu As-Sayyid Muhammad Al Ghali (beliau adalah orang sering (berdiskusi dengan Sayyidi Syaikh Ra) berkata, “Wahai Sayyidi, engkau dalam kondisi sadar penuh atau dalam kondisi mabuk dan fana?.” Sayyidi Syaikh Ra berkata, “Alhamdulillah, bahkan aku dalam kondisi sadar penuh dan akal yang sempurna.”

As-Sayyid Muhammad Al Ghali Ra berkata, “Wahai penghuluku, apa pendapatmu tentang perkataan Sayyidi Abdul Qadir Al Jilani Ra, ‘Satu telapak kakiku di atas tengkuk setiap wali Allah?”.” Sayyidi Syaikh Ra berkata, “Benar (maksudnya membenarkan pernyataan tersebut), yaitu itu untuk penduduk masanya, sementara yang aku katakan adalah, bahwa kedua telapak kakiku ini di atas tengkuk setiap wali Allah, sejak Nabi Adam hingga terompet Kiamat dibunyikan.”

As-Sayyid Muhammad Al Ghali Ra berkata lagi, “Wahai penghuluku, bagaimana jika ada orang lain setelah baginda yang mengatakan seperti yang baginda katakan?.” Sayyidi Syaikh Ra berkata, “Tidak ada orang setelahku yang mengatakan seperti itu.”

As-Sayyid Muhammad Al Ghali Ra berkata lagi, “Wahai penghuluku, apakah pernyataan baginda itu tidak berlebihan?; bukankah Allah Swt mampu untuk memberikan futuh kepada seorang wali, lalu Dia memberikannya beragam fuyûdhât (kucuran ilahiyyah), tajalliyât, pemberian (pemberian khusus Allah), berbagai maqamât, ma’arif, asrâr, tarqiyyat dan ahwal yang lebih banyak daripada yang Allah Swt berikan kepada baginda?.” Sayyidi Syaikh Ra berkata, “lya, Allah Swt mampu akan hal itu, bahkan bisa memberi lebih banyak daripada itu, akan tetapi Dia tidak akan melakukannya, karena Dia tidak menginginkan itu. Bukankah Allah Swt mampu memberikan berita kenabian kepada seseorang dan mengutusnya kepada manusia serta mampu memberikan hal yang lebih banyak dari apa yang diberikan kepada Sayyidina Muhammad Saw? Akan tetapi Dia tidak mau melakukannya karena Dia tidak menginginkan itu di zaman azali dan hal itu juga tidak luput dari ilmu-Nya.”

Andai dipahami dengan salah, bahwa perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Kedua kakiku ini berada diatas tengkuk setiap wali Allah Swt,” itu berarti para sahabat nabi dan juga tabi’in masuk ke dalam golongan tersebut (wali Allah), sehingga berarti para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memiliki maqam lebih tinggi dari mereka.

Jika kesalah pahaman diatas ini dijawab lagi: Memang demikian, tetapi bagi kalangan sahabat nabi yang belum memeluk Islam. Maka kami katakan bahwa redaksi diatas adalah perkataan umum namun yang dimaksudkan itu adalah kelompok khusus, sebagaimana dalam firman Allah Swt,

تُدَمِّرُ كُلَّ شَيْءٍ بِۢاَمْرِ رَبِّهَا فَاَ صْبَحُوْا لَا يُرٰۤى اِلَّا مَسٰكِنُهُمْ ۗ كَذٰلِكَ نَجْزِى الْقَوْمَ الْمُجْرِمِيْنَ
tudammiru kulla syai-im bi-amri robbihaa fa-ashbahuu laa yurooo illaa masaakinuhum, kazaalika najzil-qoumal-mujrimiin

“yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, sehingga mereka (kaum ‘Ad) menjadi tidak tampak lagi (di bumi) kecuali hanya (bekas-bekas) tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 25)

Sebab para malaikat tidaklah menghancurkan Arasy, tidak pula menghancurkan kursi, tidak pula manusia kecuali hanya ‘Aad.

Firman Allah Swt lainnya mengenai Balqis,

اِنِّيْ وَجَدْتُّ امْرَاَ ةً تَمْلِكُهُمْ وَاُ وْتِيَتْ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ وَّلَهَا عَرْشٌ عَظِيْمٌ
innii wajattumro-atang tamlikuhum wa uutiyat ming kulli syai-iu wa lahaa ‘arsyun ‘azhiim

“Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana yang besar.”
(QS. An-Naml 27: Ayat 23)

Sebab yang dikecualikan oleh Raja Sulaiman adalah singgasana dan juga tanda-tanda kebesaran Allah Swt yang lainnya.

Juga sabda Nabi Muhammad Saw,

أَرَأَيْتَكُمْ لَيْلَتَكُمْ هَذِهِ فَإِنَّ عَلَى رَأْسِ مِائَةِ سَنَةٍ مِنْهَا لَا يَبْقَى مِمَّنْ هُوَ عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ أَحَدٌ

“Tidakkah kalian melihat malam kalian ini, sebab 100 tahun kedepan orang yang kini diatas bumi tidak lagi tersisa.”

Dalam Syarh Shahih Al Bukhari, Ibnu Hajar mengatakan, “Hadits tersebut khusus meski tanpa adanya khidir, sebagaimana Iblis pun dikhususkan dalam hal ini; maksudnya karena mereka sejatinya ada.

Perkataan Hasan bin ‘Ali ketika ayah beliau meninggal dunia, “Seorang lelaki hari kemarin telah meninggalkan kita (yaitu Rasulullah Saw); generasi awal tidak bisa menyainginya dan generasi akhir belum mengenalnya.” Sebab yang dikecualikan dari generasi awal adalah Nabi Muhammad Saw dan para nabi lainnya As. Sementara yang dikecualikan dari generasi akhir adalah Nabi Isa bin Maryam.

Oleh karena itu, hari ini lafazh wali telah menjadi sebuah hakekat yang terdefinisikan secara adat untuk selain sahabat nabi Saw; Maka jika memungkinkan kata sahabat itu bermakna hakiki (yang sebenarnya); maka tentu ini tidak bisa dibandingkan dengan perkara majaz (kiasan bukan aslinya), meski para sahabat itu adalah para pembesar wali Allah.

Tidakkah engkau lihat, bahwa ketika ada seseorang yang mengatakan, “Aku pernah melihat pernyataan sebagian wali Allah, maka perkara pertama yang spontan terbayang dalam pikiran kita adalah bahwa wali itu bukanlah sahabat Nabi. Nah, ketika satu penggalan kata dengan spontan terlintas bersamaan dengan redaksi penyertanya, maka ini menunjukkan hakekat arti kata tersebut.

Sayyidi Abdullah dalam Nasyrul Bunud Syarh Maragis-Su’ud mengatakan, “Makna yang spontan terlintas dalam pikiran kita ketika tidak adanya kalimat pembeda maka itu adalah makna hakiki untuknya, sedangkan lainnya, yang tidak spontan ada dalam pikiran kita justru adalah makna majaz.

Ibnu As-Subki dalam Jam’ul Jawami’, Sebuah lafazh itu bisa bermakna hakiki ataupun juga bisa bermakna majazi… hingga beliau berkata, bahwa biasanya perkataan tersebut selalu dikembalikan pada kebiasaan orang yang diajak berbicara,”

Dengan demikian jelaslah bagi kita bahwa perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Dua telapak kakiku diatas tengkuk semua wali…” dikhususkan selain zaman sahabat Nabi Muhammad Saw. Para pakar ushul fikih menggolongkannya sebagai mukhashashât (perkara yang dikhususkan). (Dinukil dari Al Jaisy dan Al Bughyah dengan sedikit tambahan).

Perkara yang menguatkan bahwa perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah perkataan umum namun yang diinginkan adalah perkara khusus, yaitu perkataan yang sebelumnya dan juga bahwa semua wali Allah sejak zaman sahabat hingga terompet Kiamat ditiupkan…

Maknanya adalah setelah zaman sahabat habis. Dalam Al Bughyah disebutkan, “Dari sini jelaslah pula yang dimaksud dengan wali pada perkataan tersebut adalah ketika Sayyidi Syaikh Ra ditanya tentang wali yang telah mendapatkan futuh, sementara mengenai para sahabat nabi saw belum futuh, lantas siapa yang lebih utama?

Jelas sahabat Nabi Muhammad Saw lah yang lebih utama, sesuai dengan hadits Nabi Muhammad Saw,

إِنَّ اللَّهَ فَضَّلَ أَصْحَابِي عَلَى سَائِرِ الْعَالَمِينَ، مَا عَدَا النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ

“Sungguh Allah telah mengutamakan para sahabatku dari seluruh alam semesta ini kecuali daripada para nabi dan utusan Allah Swt.”

Dalam hadits lain disebutkan,

لَوْ أَنْفَقَ أَحَدُكُمْ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

“Jikapun salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebesar bukit Uhud, ia tidak dapat menandingi per satu mud mereka dan tidak juga separuh (diri) mereka (para sahabat Nabi].”

Hal tersebut lantaran para sahabat Nabi Saw telah mampu menyaksikan Nabi Saw, yang tidak mampu disaksikan oleh yang lainnya, dengan demikianlah tidak ada yang menandingi timbangan amaliyah mereka.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Amalan yang dilakukan seseorang selain sahabat Nabi Saw jika dibandingkan dengan amalan para sahabat Nabi Saw maka itu seperti semut yang dibandingkan dengan burung qutho.”

Dengan demikian, perkataan Sayyidi Syaikh Ra saling mengkhususkan satu sama lainnya bahkan membatasinya.

Sedangkan untuk tabi’in dan tabi’ tabi’in, maka tidak ada masalah dengan mereka, sebab yang dapat dipahami dari sabda Nabi Muhammad Saw, “Sebaik-baiknya generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelah mereka (tabi’in) lalu generasi yang setelah mereka,” bahwa pendapat yang dibenarkan adalah mengutamakan setiap individu sahabat Nabi Muhamamad Saw daripada yang lainnya, sekalipun ada orang yang dikhususkan dengan sifat yang tidak ada pada generasi sahabat nabi Muhanmad Saw, maka ia tetap tidak bisa lebih utama dari generasi sahabat. Hal ini tentu berbeda generasi tabi’in dan tabi’ tabi’iin dan selain mereka. Maka setiap individu tabi’in dan tabi’ tabi’in bisa lebih utama dari yang lainnya dalam mereka mengikuti (sunnah Nabi Muhammad Saw), namun jika ada seseorang yang dikhususkan dengan sifat yang tidak ada pada generasi tabi’in dan tabi’ tabi’in, maka ia bisa lebih utama dari mereka.

Terkait hadits diatas, Al Azizi memberikan pandangannya ketika mensyarah kitab Jami’ Ash-Shaghir karya Imam As-Suyuthi: Al Alqami mengatakan, “Lantas apakah keutamaan tersebut untuk sekelompok orang ataukah untuk per individu? Ini kembali menjadi bahasan ulama. Namun yang kupahami dari semua perkataan mereka adalah sisi yang tidak bisa dipungkiri lagi yaitu bahwa setiap orang yang pernah bersahabat dengan para sahabat Nabi saw, maka ia lebih utama daripada tabi’in meski keilmuannya luas. Silahkan cek Al Qasthallani dalam Syarh Al Bukhari.

Al Hifni dalam Hasyiyah beliau atas Al Matnu mengatakan, “Makna, ‘Qarni’ adalah zamanku, penduduk zaman tersebut, maksudnya adalah sahabat nabi Saw. Setiap orang dari zaman ini lebih utama dari semua orang di zaman lainnya. Batasan untuk sebutan sahabat Nabi Saw adalah sampai tahun 120 H. Setiap tabi’in pun demikian, mereka lebih utama dari generasi lainnya, sebab mereka mengikuti sahabat Nabi Saw. Batasan untuk sebutan mereka ini adalah sampai tahun 190 H, setiap tabi’ tabi’in adalah orang yang lebih utama dibanding yang lainnya, batasan untuk sebutan mereka adalah sampai tahun 250 H.

Sumber : BUKU FATHURRABBANI (FATHURRABBANI FIMA YAHTAJU ILAIHI MURID TIJANY) SYAIKH MUHAMMAD ATH-THASFAWI AT-TIJANY