
Elsubha.com – Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra Penutup Wali
Dengan inilah, engkau bisa melihat bahwa bisa saja Syaikh kita; Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra lebih utama, dimana maqam beliau pun terangkat dengan pencapaian maqam kewalian yang tidak diakui oleh wali sebelum dan sesudah beliau Ra, sebab pangkat beliau adalah Quthbul Maktum (wali quthb tersembunyi) dan Khotimul Wilayah (penutup kewalian); sosok yang memberikan madad kepada semua wali Allah; inilah yang diberitahukan oleh Nabi Saw.
Waspadalah, jangan beraganggapan bahwa pengertian Syaikh kami sebagai penutup para wali adalah tidak adanya wali Allah lainnya setelah beliau. Sebab, pangkat khatmul wilayah menunjukkan tiga makna. Hal ini lantaran kewalian sendiri dibagi menjadi dua; yaitu kewalian dari segi lahiriyah dan kewalian dari segi bathiniyyah.
Kewalian yang ditinjau dari segi bathiniyyah terbagi pula menjadi dua: Pertama, wali zhahir, yang berkuasa dan mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya seperti para pejabat negara dan sultan, yang mana penutupnya adalah Imam Mahdi Al Muntazhar. Kedua, wali bathin juga terbagi menjadi dua: yang bersifat umum dan bersifat khusus
Kewalian bathin yang bersifat umum adalah sejak Nabi Adam As sampai Nabi Isa As, dimana beliaulah wali penutupnya. Sementara kewalian bathin yang bersifat khusus adalah dari nabi Muhammad Saw sampai penutup kewalian terbesar yang menutup maqam tersebut; yaitu Sayidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Maka makna Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebagai wali penutup adalah lantaran beliau telah menaiki maqam yang dinaiki pembesar wali yang telah menggapai maqam Quthbaniyyah, dimana sebelum dan sesudah beliau belum ada orang yang menggapainya. Nah, dibawah maqam ini ada pula yang disebut juga dengan maqam Al Khatmu, dimana sebagian wali Quthub pun ada yang mampu menggapainya hingga ia menyangka bahwa ia adalah sang Wali Khatam Al Akbar (yang paling besar) lantara maqam diatasnya tersibak tirai.
Yang sempat mengakui maqam tersebut adalah Sayyidi ‘Ali Wafa untuk orang tuanya; yaitu Sayyidi Muhammad Wafa, hal ini seperti yang dinukil oleh Imam Sya’rani, akan tetapi selanjutnya ada penjelasan yang jelas menyatakan bahwa Sayyidi ‘Ali Wafa tidak mengakui hal tersebut.
Hal yang sama pun terjadi pada Sayyidi Muhammad Al Jazuli; pengarang kitab Dala `ilul Khairât, Al Arifbillah Ash-Shofi Al Qasysyasyi dan Al Arifbillah Sayyidi Al Marghini pun pernah mengakui maqam tersebut. Sedangkan Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi juga pernah mengaku telah menggapai maqam tersebut. Begitu juga sekelompok orang sepeninggalan Sayyidi Ibnu ‘Arabi, bisa kalian lihat bagaimana mereka membangun argument untuk itu. Walhasil penjelasan terakhir beliau menyatakan bahwa perkaranya tidaklah seperti yang disangkakan, akan tetapi maqam Khatam Al Akbar adalah milik orang lain.
Pernyataan beliau dalam Futuhât Al Makkiyyah sangatlah jelas, bahkan mengarah pada guru kita; Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, sebagaimana dinukil dari Al Jawab Al Muskit. Syaikh Akbar Ibnu Arabi Ra mengisyaratkan Maqam Khatam Al Akbar dimiliki oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra seperti yang beliau paparkan dalam Futuhât Al Makkiyyah. Saat aku bertemu (secara ruhani/barzakhi dengannya, waktu itu adalah tahun 478 H, dimana aku dapat melihat tanda tanda penutup kewalian darinya yang tidak ada lagi penutup wali setelah beliau.
Aku pun melihat tanda yang Allah Swt sembunyikan diantara hamba-Nya dan dinampakkan padaku, Dia ada di kota Fess, hingga aku dapat melihat tanda penutup kewalian Al Muhammadi, Akupun melihat dia diuji dengan banyaknya orang yang ingkar saat sir beliau yang berupa ilmu Rabbani itu nampak. Inilah maqam khatam yang diisyaratkan oleh Sayyidi Muhyiddin Ibnu Araby. Sedangkan maqam katam, beliau menyebutkan dalam Futuhât Al Makkiyyah ketika membicarakan hadits,
لا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
“Sekelompok orang akan senantiasa berdiri dalam kebenaran hingga Hari Kiamat tiba,” beliau mengatakan, “Sungguh menjadikan ini ada di Maghrib, sebab kota Maghrib adalah tempatnya asrar, dan maqam katam adalah maqam yang tidak Allah Swt ilhamkan kecuali pada orang khusus.”
Dalil yang menguatkan dua maqam ini telah diisyaratkan oleh Sayyidi Al Mukhtar Al Katani dalam kitab beliau; Ath-Tharaa `if: Abad 12 H senantiasa menyerupai abadnya Rasulullah Saw lantaran beberapa sebab. Pertama, didalamnya terdapat penutup kewalian, sebagaimana pada abadnya Rasulullah Saw; yaitu beliau sebagai penutup kenabian.
Dengan demikian dari ulasan kita diatas, nampaklah bahwa ada sebagian orang yang mengaku telah menggapai maqam khatmiyyah dengan mengukuhkan pendapat itu dengan ragam dugaan yang telah disebutkan diatas; ada pula yang yang mengukuhkan pendapatnya dengan pendapatnya sendiri dan ada pula menarik kembali dari perkataan tersebut.
Sementara guru kami Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, para ulama tsiqat dari kalangan ulama yang melazimi beliau, bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memberitahukan secara jelas, dengan perkataan yang tidak perlu lagi dita’wil bahwa Rasulullah Saw memberitakan bahwa beliau Ra adalah Al Quthbul Maktum wal Barzakhil Makhtum wal khotmil Muhammadiyyil Ma’lum. Dikatakan lantas apa makna Al Maktum? Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra menjawab, “Maqam yang Allah Swt sembunyikan dari semua makhluknya, bahkan sampai malaikat, selain Sayyidul wujud Nabi Muhammad Saw.” Perkara tersebut bukanlah hasil pengakuan, tetapi Nabi Saw lah yang mengabarkan hal tersebut dan kabar beliau pasti benar adanya.
Dalam Bughyatul Mustafid disebutkan, “Sosok yang mendapatkan berita nan jelas tentang maqam khatam al akbar dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah maulana Ahmad Al Wadghiri As-Siljimasi (Al Fiilali).” Beliau tulis kabar tersebut yang didiktekan dari Sayyiduna Muhammad Saw dengan tulisan tangan beliau.
Secara global, para ulama yang senantiasa melazimi Sayyidi Syaikh Ra hingga beliau wafat telah sepakat menetapkan maqam tersebut bagi Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dua diantara mereka pun tidak berselisih pendapat akan maqam beliau Ra, dengan demikian tersebarlah berita tersebut dikalangan para sahabat Sayyidi Syaikh Ra secara umum maupun sahabat khusus beliau Ra, bahkan berita ini tersebar kepada semua ikhwan di berbagai negara. Maka janganlah engkau mempedulikan orang yang menafikan maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tersebut.
Para ulama menyebutkan dalam Fann Al Ushûl Min Wujûh At-Tarjih, bahwa pendapat yang menguatkan itu lebih dikedepankan daripada pendapat yang menafikan sesuatu, sebab pada pendapat yang mengguatkan tersebut ada tambahan ilmu pengetahuan yang didapat.
maqam Sosok ulama yang mengukuhkan khatmiyyah bagi Syaikh kita; Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah Syaikhul Islam Sayyidi Ibrahim Ar-Riyahi, yang menyanjung Sayyidi Syaikh Ra dalam sya’imya,
كَيْفَ لَا وَالْإِمَامُ أَحْمَدَ قُطْبٌ # مَالَهُ فِي الْمَقَامِ قُطْبٌ مَسَامِي
حَاتِمٌ خَصَّهُ الإِلهُ بِفَضْلٍ # وَعَطَايَا مِنَ الْمَزَايَا عِظَامُ
“Bagaimana mungkin tidak, Imam Ahmad (At-Tijany adalah seorang wali quthub # maqam beliau tidak ada yang bisa menyamai
Dialah “Penutup” Allah Mengkhususkan beliau dengan keutamaan # dan pemberian istimewa lagi agung.
Ulama lain yang turut mengukuhkan maqam Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra adalah Al Arifbillah Sayyidi Umar Al Futi pengarang Ar-Rimah; Al Arifbillah Sayyidi Abidah Asy-Syingqithi Shinu pengarang Al Jaysy, Al Arifbillah Sayyidi Al Kansusi pengarang Al Jawab Al Muskit, Al Arifbillah Sayyidi Muhammad Kanun pengarang Raf’un-Niqab.
Al Arifbillah Sayyidi Muhammad Kanun pengarang Raf’un-Niqab pemah menuliskan sya’ir yang memuji Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra,
سَادَ الْأَنَامُ صَحِبَ النَّبِيُّ فَلَا # تُنْكِرُ مَقَامًا بِهِ قَدْ خَصَّهُ اللَّهُ
إِنَّ النَّبِيَّ بِسِرِّ الْخَتْمِ بَشَرَهُ # صدِّقْ وَلَا تَعْتَرِضْ فَاللَّهُ أَعْطَاهُ
“Pemimpin umat manusia adalah sahabat Nabi # Jangan engkau ingkari maqam yang telah Allah khususkan bagi mereka
Sungguh Nabi telah memberikan kabar gembira dengan rahasia maqam khatam, percayalah! dan jangan membantahnya, demi Allah, Allahlah yang memberikan pada beliau Ra.”
Bagi orang yang membenci beliau Ra cukuplah sya’ir berikut:
وَالنَّاسُ أَكْيَسُ مِنْ أَنْ يَمْدَحُوْا رَجُلًا # مِنْ غَيْرِ أَنْ يَجِدُوْا آثَارَ إِحْسَانٍ
“Manusia itu lebih pintar daripada ia sekedar memuji seorang lelaki # tanpa ia temui kebaikan pada orang tersebut.”
Apa yang telah disebutkan oleh Syaikh Muhyiddin Ibnu ‘Arabi dan juga oleh Sayyidi Al Mukhtar Al Kattani terkait dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sangat banyak, sebab Sayyidi Syaikh Ra termasuk penduduk Maghrib yang dikebumikan di Fess. Tidak ada ulama yang mendapatkan penolakan yang lebih besar daripada penolakan terhadap Sayyidi Syaikh Ra.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dilahirkan pada tahun 1150 H, pada masa ini tidak ada orang lain yang mengaku sosok wali khatam kecuali beliau Ra. Dengan inilah kita ketahui kebenaran ucapan perkataan Sayyidi Mahmud Al Kurdi, ketika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meminta pada Allah maqam Al Quthbaniyyah dan Sayyidi Mahmud Al Kurdi menyatakan, “Engkau akan mendapatkan maqam yang lebih tinggi dari itu.”
Pada sisi lain, kalau kita hitung jumlah kata dalam, “Al Khatmu,” maka jika tahun kelahiran beliau angka depannya kita hilangkan, maka jumlahnya akan sama dengan hitungan jumlah angka kata “Al Khatmu.”
Perkara lain yang menunjukkan sisi maqam beliau Ra; bagi orang yang memiliki kecintaan khusus pada beliau, justru sudah tahu jika Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra memiliki masyrab khusus pada sisi Al Muhamadiyyah yang dicirikan dengan sholawat Jauharatul Kamal, ketika Nabi Muhammad Saw memberikan izin kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra untuk kembali pada bacaan sholawat Fatih, setelah beliau Ra menyibukkan diri dengan sholawat dan amalan lainnya, sehingga sholawat Fatih dan juga sholawat Jauharatul Kamal menjadi salah satu bacaan wiridan thariqah At-Tijaniyyah, hal ini menunjukkan bahwa penggagas thariqah ini adalah benar-benar sosok yang memiliki maqam Al Khatmul Muhammady.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“demikianlah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki; dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 4)
Ragam jawaban diatas kiranya telah menjawab pernyataan dari orang yang ingkar kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang berkata, “Sesungguhnya maqam kami ada di sisi Allah…”
Ragam jawaban diatas kiranya sudah menjawab keingkaran orang-orang yang ingkar terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, dimana Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah mengatakan, “Sungguh maqam kami ada di sisi Allah,”
