
Elsubha.com – Syarat Kamaliyyah Berkaitan Dengan Wiridan Murid Tijany ada 10 yaitu:
1. Duduk dengan adab dan mencerminkan ketundukan saat akan membaca wiridan, yaitu duduk bersila dengan kedua siku tangan berada di atas paha kanan -kiri, matanya terpejam, kepalanya merunduk sampai pertengahan leher.
Dalam Ar-Rimah disebutkan: Kedua, bab kondisi yang dipinta ketika seseorang akan membaca dzikiran, yaitu menaruh siku diatas kedua paha;; Keenam: Memejamkan mata, sebab kondisi itu bisa mempercepat masuknya cahaya ke dalam kalbumu, maka pejamkanlah matamu, niscaya panca inderamu yang zhahir akan tersendat, dan ketika panca indera zhahir tersendat, itulah sebab terbukanya kalbu.
Paling bagusnya posisi duduk adalah duduk seperti orang sedang shalat; duduk iftirasy atau duduk diatas dua telapak kaki.
2. Menghadap kiblat ketika membaca wiridan, wazhifah dan hailalah kecuali ketika sedang bepergian meskipun jaraknya dekat, atau berjama’ah bersama ikhwan dalam membaca wazhifah atau hailalah. Hendaknya mampu memastikan untuk berdzikir dengan cara ini, dimana dahulu para sahabat Sayyidi Syaikh Ra juga menekankan untuk berdzikir dengan pola ini hingga seolah-olah perkara ini menjadi syarat sahnya suatu wiridan.
Dalam sebuah khabar disebutkan, “Segala sesuatunya memiliki hiasan, hiasan majelis-majelis (dzikir) adalah menghadap kiblat.” Maksudnya adalah bahwa segala sesuatunya memiliki kemuliaan, dimana kemuliaan dalam sebuah majelis adalah menghadap kiblat.
Sebagian ulama ada yang mengatakan, “Tidaklah Allah memberikan futuh kepada seorang kecuali dia sedang manghadap kiblat.”
Kondisi menghadap ke arah kiblat berlaku di selain masjid Nabi Saw, sedangkan ketika berada di masjid Nabi Saw. maka menghadap kuburan beliau Saw lebih utama daripada menghadap kiblat.
3. Menghadirkan gambaran Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra ketika membaca wiridan dan meminta istimdad dari beliau.
Dalam kitab Jawahirul Ma’ani disebutkan, “Diantara syaratnya wiridan bagi orang yang mampu adalah menghadirkan gambaran Rasulullah Saw seolah beliau sedang duduk diantara orang yang berdzikir tersebut dan dirinya pun meminta madad dari beliau Saw.”
Perkara menghadirkan gambaran Sayyidi Syaikh Ra ini dipinta pada semua wiridan. Jika sang murid tidak mampu, minimal sang murid mampu menghadirkan gambaran tersebut pada awal akan membaca wiridan. Sedangkan dalam wiridan lainnya, maka menghadirkan gambaran tersebut sesuai dengan kesiapan jiwanya.
Gambaran yang dihadirkan adalah gambaran Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang dahulu pernah digambarkan atau berasal dari orang yang memang mengetahui Sayyidi Syakh Ra, sekalipun gambaran tersebut diambil dari nukilan para ulama terdahulu. Jika tidak mampu akan itu, maka hadirkanlah gambaran sosok yang sempurna; yang memiliki wibawa dan keteduhan diri. Pada kondisi ini perlu adanya adab yang baik.
Menghadirkan gambaran yang paling utama dan paling sempurna sebagaimana dalam Jawahirul Ma’âni adalah menghadirkan gambaran Rasulullah Saw seraya memohon madad dari beliau, hal ini dilakukan dengan simbolik penghormatan dan adab yang luhur.
4. Menghadirkan makna bacaan dzikir andai sang murid mampu memahaminya. Jika tidak, minimal dia mampu mendengar dzikiran yang ia baca dan berusaha memusatkan pikiran padanya agar dzikiran yang dibaca bisa memberikan manfaat bagi jiwanya sebagaimana tertera dalam Jawahirul Maâni. Murid Tijany yang belum mampu menggabungkan antara menghadirkan gambaran Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan menghadirkan makna bacaan dzikir; hendaknya dia bisa menghadirkan gambaran Sayyidi Syaikh ketika akan mulai membaca dzikiran, kemudian berusaha menghadirkan makna bacaan dzikiran, atau berusaha mendengarkan bacaan dzikiran secara seksama seraya berupaya menghadirkan gambaran Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sesuai kemampuan diri. Jika tidak mampu juga, maka cukup bagi murid Tijany tersebut untuk menghadirkan makna bacaan dzikiran ini pada awal hendak membacanya.
5. Membuka wiridan dengan maqashid yang telah diketahui oleh para pangamal thariqah kita; thariqah At-Tijaniyyah. Tatacaranya seperti berikut: Membaca ta’awwudz, surah Al Fatihah, sholawat Fatih 1 kali, kemudian membaca ayat
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Maha Suci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” (Qs. Ash-Shaffat [37]: 180-182). Lalu membaca ayat yang terkandung makna anjuran ber-istighfar, seperti firman Allah Swt,
اِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ اَنَّكَ تَقُوْمُ اَدْنٰى مِنْ ثُلُثَيِ الَّيْلِ وَ نِصْفَهٗ وَثُلُثَهٗ وَطَآئِفَةٌ مِّنَ الَّذِيْنَ مَعَكَ ۗ وَا للّٰهُ يُقَدِّرُ الَّيْلَ وَا لنَّهَا رَ ۗ عَلِمَ اَنْ لَّنْ تُحْصُوْهُ فَتَا بَ عَلَيْكُمْ فَا قْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْاٰ نِ ۗ عَلِمَ اَنْ سَيَكُوْنُ مِنْكُمْ مَّرْضٰى ۙ وَاٰ خَرُوْنَ يَضْرِبُوْنَ فِى الْاَ رْضِ يَبْتَغُوْنَ مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ ۙ وَاٰ خَرُوْنَ يُقَا تِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖ فَا قْرَءُوْا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ ۙ وَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّكٰوةَ وَاَ قْرِضُوا اللّٰهَ قَرْضًا حَسَنًا ۗ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِاَ نْفُسِكُمْ مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللّٰهِ هُوَ خَيْرًا وَّاَعْظَمَ اَجْرًا ۗ وَا سْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
inna robbaka ya’lamu annaka taquumu adnaa ming sulusayil-laili wa nishfahuu wa sulusahuu wa thooo-ifatum minallaziina ma’ak, wallohu yuqoddirul-laila wan-nahaar, ‘alima al lang tuhshuuhu fa taaba ‘alaikum faqro-uu maa tayassaro minal-qur-aan, ‘alima ang sayakuunu mingkum mardhoo wa aakhoruuna yadhribuuna fil-ardhi yabtaghuuna ming fadhlillaahi wa aakhoruuna yuqootiluuna fii sabiilillaahi faqro-uu maa tayassaro min-hu wa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata wa aqridhulloha qordhon hasanaa, wa maa tuqoddimuu li-angfusikum min khoiring tajiduuhu ‘ingdallohi huwa khoirow wa a’zhoma ajroo, wastaghfirulloh, innalloha ghofuurur rohiim
“Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau (Muhammad) berdiri (sholat) kurang dari dua pertiga malam, atau seperdua malam, atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menentukan batas-batas waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an; Dia mengetahui bahwa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit, dan yang lain berjalan di bumi mencari sebagian karunia Allah; dan yang lain berperang di jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 20), seraya merasakan keagungan Allah Swt dan lemahnya hamba, disambung dengan membaca,
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ رَبِّي وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَهَا أَنَذَا عَبْدُكَ الضَّعِيفُ الذَّلِيلُ الْحَقِيْرُ قَائِمٌ لَكَ بَيْنَ يَدَيْكَ، أَقُوْلُ مُسْتَعِيْنًا بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، اِمْتِثَالًا لِأَمْرِكَ وَتَعْظِيمًا وَإِحْلَالًا لَكَ.
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah dengan senang hati dan semua kebaikan ada pada-Mu. Ini adalah hamba-Mu yang lemah lagi hina berdiri di hadapan-Mu, aku (ingin membaca wiridan ini) memohon bantuan dengan daya dan kekuatan-Mu, demi menjalankan perintah-Mu (untuk berdzikir mengingat-Mu); juga untuk mengagungkan dan memuliakan-Mu,” lalu disambung dengan bacaan istighfar hingga akhir hitungan bacaan istighfar.”
Kemudian dilanjut membaca ta’awwudz kedua, lalu membaca ayat,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَيْكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (Qs. Al Ahzab [33]: 56), seraya merasakan keagungan Allah Swt dan lemahnya hamba, disambung dengan membaca,
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ رَبِّي وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَهَا أَنَذَا عَبْدُكَ الضَّعِيفُ الذَّلِيْلُ الْحَقِيرُ قَائِمٌ لَكَ بَيْنَ يَدَيْكَ، أَقُوْلُ مُسْتَعِيْنًا بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، اِمْتِثَالًا لِأَمْرِكَ وَتَعْظِيمًا وَإِخْلَالًا لَكَ وَلِرَسُوْلِكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah dengan senang hati dan semua kebaikan ada pada-Mu. Ini adalah hamba-Mu yang lemah lagi hina berdiri di hadapan-Mu, aku (ingin membaca wiridan ini) memohon bantuan dengan daya dan kekuatan-Mu, demi menjalankan perintah-Mu (untuk berdzikir mengingat-Mu); juga untuk mengagungkan dan memuliakan-Mu dan juga rasul-Mu Saw,” lalu disambung dengan bacaan Allahumma shalli Ala sayyidina Muhammad… hingga akhir hitungan bacaan sholawat.
Kemudian dilanjut membaca ta’awwudz
kedua, lalu membaca ayat,
فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ
“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (Qs. Al Baqarah [2]: 152), seraya merasakan keagungan Allah Swt dan lemahnya hamba, disambung dengan membaca,
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ رَبِّي وَسَعْدَيْكَ وَالْخَيْرُ كُلُّهُ فِي يَدَيْكَ، وَهَا أَنَدًا عَبْدُكَ الضَّعِيفُ الدَّلِيلُ الْحَقِيْرُ قَائِمٌ لَكَ بَيْنَ يَدَيْكَ، أَقُوْلُ مُسْتَعِيْنًا بِحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ، مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِي بِمَا أَلْهَمْتَنِي إِلَيْهِ بِسَابِقِ فَضْلِكَ وَمِتَّتِكَ ذَاكِرًا لَكَ امْتِثَالًا لِأَمْرِكَ وَتَعْظِيمًا وَإِخْلَالًا لَكَ ….
“Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah dengan senang hati dan semua kebaikan ada pada-Mu. Ini adalah hamba-Mu yang lemah lagi hina berdiri di hadapan-Mu, aku (ingin membaca wiridan ini) memohon bantuan dengan daya dan kekuatan-Mu, tulus ikhlas dari kalbuku dengan apa yang Engkau ilhamkan padaku dengan keutamaan dan pemberian-Mu, berdzikir untukmu demi menjalankan perintah-Mu (untuk berdzikir mengingat-Mu); juga untuk mengagungkan dan memuliakan-Mu,” lalu disambung dengan bacaan La Ilaha Illallah… hingga akhir hitungan bacaan hailalah.
Jika sedang membaca wazhifah, maka kembali baca apa yang dibaca sebelum membaca sholawat seperti diatas, disambung dengan membaca Allahumma Shalli wa Sallim ‘ala Ainir-rahmatir-Rabbaniyyah… hingga akhir bacaan sholawat Jauharatul Kamal.
Jika sedang membaca hailalah pada hari Jum’at, maka bisa membaca maqashid berikut:
اللَّهُمَّ إِنِّي نَوَيْتُ بِتِلَاوَةِ هَذَا الذِّكْرِ تَعْظِيمًا وَإِحْلَالًا لَكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ، وَقَصْدًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ، مُخْلِصًا لَكَ مِنْ أَجْلِكَ، وَأَقُولُ بِإِمْدَادِكَ وَعَوْنِكَ وَحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ وَبِمَا وَهَبْتَنِي بِهِ مِنْ إِنْعَامِكَ وَتَوْفِيقِكَ مُسْتَعِيْنَا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ….
“Ya Allah, sungguh aku niat membaca dzikiran ini sebagai simbol pengagungan dan pemuliaan-Mu, demi menggapai keridhaan-Mu, (pembacaan ini) bertujuan untuk Dzat-Mu dengan tulus ikhlas hanya untukmu. Aku mulai pembacaan ini seraya meminta bantuan ruhani, perlindungan, daya dan kekuatan-Mu dan dengan ragam nikmat dan taufik yang telah Engkau beri padaku, juga seraya memohon pertolongan-Mu dari gangguan syaithan yang terkutuk.” Disambung dengan membaca surah Al Fatihah, bacaan istighfar dengan shigat wazhifah sebanyak 3 kali, bersholawat Fatih sebanyak 3 kali, kemudian membaca ayat,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلَّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الدِّينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya ber-sholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” ,Dan
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.” (Qs. Ash-Shaaffât [37]: 180-182). lalu disambung dengan bacaan ‘Lâ Ilaha Illallah…’ sampai mengakhiri bacaan tersebut. Kemudian mengatakan, ‘Muhammadur-Rasulullah ‘Alaihi Salâmullâh, (Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah, baginya salamnya Allah).”
Jika hendak membaca hialalah dengan isim muradaka dia boleh berdzikir dengannya sejumlah yang dikehendaki dan menutup dzikirannya sama dengan diatas. Untuk memulainya diawali dengan ta’awwudz, basmalah, surah Al Fatihah, sholawat Fatih 3 kali, kemudian membaca ayat,,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلَّوْنَ عَلَى النَّبِي يَا أَيُّهَا الدِّينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” Dan,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam.”(Qs. Ash-Shaaffât [37]: 180-182).
Setelah semua dzikiran ini, dilanjutkan dengan do’a semaunya dengan tidak lupa pula mendo’akan para ikhwan dengan ragam kebaikan dunia dan akhirat.
Jika ingin membaca maqashid yang pendek untuk semua wiridan; wiridan lazim, wazhifah dan hailalah, maka dia bisa membaca,
اللَّهُمَّ إِنِّى نَوَيْتُ بِتِلَاوَةِ هَذَا الذِّكْرِ تَعْظِيمًا وَإِجْلَالًا لَكَ وَابْتِغَاءَ مَرْضَاتِكَ، وَقَصْدًا لِوَجْهِكَ الْكَرِيمِ مُخْلِصًا لَكَ مِنْ أَجْلِكَ، وَأَقُوْلُ بِإِمْدَادِكَ وَعَوْنِكَ وَحَوْلِكَ وَقُوَّتِكَ وَبِمَا وَهَبْتَنِي بِهِ مِنْ إِنْعَامِكَ وَتَوْفِيقِكَ مُسْتَعِيْنَا بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
“Ya Allah, sungguh aku niat membaca dzikiran ini sebagai simbol pengagungan dan pemuliaan-Mu, demi menggapai keridhaan-Mu, (pembacaan ini) bertujuan untuk Dzat-Mu dengan tulus ikhlas hanya untukmu. Aku mulai pembacaan ini seraya meminta bantuan ruhani, perlindungan, daya dan kekuatan-Mu dan dengan ragam nikmat dan taufik yang telah Engkau beri padaku, juga seraya memohon pertolongan-Mu dari gangguan syaithan yang terkutuk.” Disambung dengan membaca ta ‘awwudz, basmalah, surah Al Fatihah, sholawat Fatih sebanyak 1 kali, kemudian disambung dengan dzikiran yang ingin dibaca sampai ia menutup dzikiran tadi.
Baik maqashid yang pendek maupun yang panjang seperti yang telah digambarkan diatas, untuk penutup membaca sholawat Fatih dan bacaan,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ العِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامُ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seru sekalian alam”
(Qs. Ash-Shaffât [37]: 180-182).
Sementara untuk penutup hailalah Jum’at, ditutup dengan bacaan
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ، عَلَيْهِ سَلَامُ اللَّهِ
“Nabi Muhammad Saw adalah utusan Allah, baginya salamnya Allah,” dilanjutkan sampai terakhirnya dan berdo’a semaunya dengan tidak lupa pula mendo’akan para ikhwan dengan ragam kebaikan dunia dan akhirat.
Demikianlah paparan mengenai maqashid dalam dzikir Tijany, syarat ini ditekankan untuk diamalkan, sebab maqashid dzikir itu seperti posisi ruh dari jasad kita. Oleh karenanya tidak ada gunanya jasad tanpa adanya ruh.
6. Membaca wiridan lazimah dengan suara lirih, begitu juga ketika membaca wazhifah dan hailalah ketika membacanya sendirian.
Dalam Munyatul Murid disebutkan,
وَتَرْكُكَ الْجَهْرَ عَلَيْهِ عَمَلُ # أَصْحَابِ شَيْخِنَا وَذَاكَ الْأَمْثَلُ
“Engkau tidak bersuara keras (saat dzikiran), itu adalah amalan # para sahabat Syaikh kami dan itu yang paling patut dicontoh.”
Dalam Bughyatul Mustafid disebutkan, “Diantara syarat kamal (penyempurna) adalah bersuara lirih saat berdzikir sejak awal hingga akhir, hal ini sesuai dengan apa yang diamalkan oleh para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.” Tetapi dirinya harus bisa mendengarkan bacaan wiridan tersebut.
7. Membaca wiridan dengan tartil. Hendaknya murid Tijany tidak membacanya dengan cepat dan tidak terdapat kesalahan dalam bacaannya.
Dalam Munyatul Murid disebutkan,
وَمَنْ يَكُنْ يُرَتِّلُ الْأَوْرَادَ # يَنَلْ بِمَا ذَكَرْتُهُ الْمُرَادَا
وَلْتَعْذِرَنَّ اللَّحْنَ فِي الْأَوْرَادِ # لِكَيْ تَنَالَ غَايَةَ الْمُرَادِ
“Orang yang membaca wiridan dengan tartil # niscaya dia mendapatkan apa yang sudah aku sebutkan
Jangan sampai engkau punya udzur sehingga bacaan wiridanmu terdapat lahn # niscaya engkau mendapat apa yang diinginkan.”
Disebutkan dalam Shahih Al Bukhari dari riwayat Qatadah, Anas ditanya tentang bagaimana bacaan Rasulullah Saw?, Anas menjawab, “Bacaan Rasulullah Saw wiridan (dari Al Qur’an), kemudian Anas membaca, Bismillaahirrahmanirrahîm, dengan memanjangkan bacaan Bismillah, Ar-Rahmân dan Ar-Rahim.”
Diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi, “Rasulullah Saw memotong-motong bacaan beliau; beliau Saw membaca, ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamîn, kemudian beliau berhenti sejenak; Ar-Rahmânir-Rahîm, lalu berhenti lagi; Mâliki yaumid-dîn, kemudian berhenti lagi.”
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud, dia berkata: “Janganlah kalian membentangkan Al Qur’an seperti halnya kalian membentangkan tiang kapal dan jangan terburu-buru seperti kalian membaca sya’ir.” Maksudnya adalah janganlah kalian membaca Al Qur’an dengan cepat, berhentilah pada keajaibannya, gerakkanlah hati kalian (untuk memahaminya) dan jangan kalian jadikan target akhir dari suatu surah Al Qur`an.
Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ الدُّعَاءَ الْمُلِحُوْنَ
“Sungguh Allah tidak menerima do’a yang salah dalam redaksinya.”
Dinukil bahwa ada sebagian orang yang berdo’a kepada Allah Swt selama 60 tahun, namun Allah tidak mengabulkan do’anya. Seorang yang Arifbillah bertanya tentang itu, dan orang tadi membacakan do’a yang ia senantiasa panjatkan. Seorang yang Arifbillah tadi menemukan ada redaksi yang salah, hingga ia pun memperbaikinya. Orang tadi kembali berdo’a (dengan do’a yang redaksinya sudah diperbaiki), dan Allah langsung kabulkan do’anya saat itu juga.
8. Diam dan hening sejenak setelah wiridan. Disebutkan dalam Ar-Rimah jilid pertama: “Diantara adab dzikir setelah dzikiran tersebut selesai; bahwa setelah dzikiran tersebut ditutup hendaknya murid Tijany tadi diam dan tenang serta berusaha menghadirkan dzikiran ke dalam kalbunya dengan senantiasa mengamati Dzat yang memberikan dzikiran (yaitu Allah), sebab bisa jadi Allah memberikan balasan langsung dari dzikiran itu dalam sekejap mata dan mampu memakmurkan jiwanya dengan kondisi yang tidak bisa digapai selama 30 tahun dengan mujahadah dan riyadhah.
9. Tidak langsung makan, minum seusai wiridan kecuali kondisinya darurat, seperti sedang kelaparan atau kehausan. Sebab, makan mampu menghilangkan ketenangan jiwa yang dipinta setelah selesai wiridan. Sedangkan minum mampu memadamkan panasnya dzikiran.
Dalam Ar-Rimah disebutkan: Kelima, diantara adab dzikiran adalah tidak minum air setelah dzikiran selesai atau pada pertengahannya. Sebab dzikiran itu rasa panas dalam diri yang menarik ragam cahaya ilahiyyah, tajalliyât (nampaknya ragam cahaya keghaiban dalam kalbu), wâridat (ragam makna yang tiba-tiba dalam kalbu tanpa dipikir dahulu) dan kegembiraan kepada yang bersangkutan, dimana meminum air itu mampu mematikan rasa panas dalam diri tersebut. Minimal menunggu setengah jam baru minum, bahkan semakin lama semakin baik, terlebih ada murid yang jujur kondisi jiwanya memilih tidak minum kecuali darurat.
10. Berkumpul untuk membaca wazhifah dan hailalah Jum’at setelah Ashar jika ada ikhwan, jika tidak maka itu udzur syar’i. Disebutkan dalam Jawahirul Ma’âni, “Andai ada murid Tijany hanya sendirian dan tidak ada ikhwan lainnya, maka dia tetap boleh membaca wazhifah, terlebih jika ada banyak ikhwan, maka membacanya secara berjama’ah; dan ini adalah syaratnya pembacaan wazhifah. Jika ia sedang bepergian, maka dia boleh membacanya sendirian; yaitu ketika tidak ada ikhwan yang bepergian bersamanya dan juga ketika ada ikhwan bersamanya dan tidak mudah bagi mereka untuk berkumpul (duduk bersama). Namun membacanya dengan berkumpul itu lebih diutamakan.”
Disebutkan pula dalam Jawahirul Ma’ani, “Diantara wiridan lazimah dalam thariqah adalah membaca hailalah setelah Ashar di hari Jum’at; bagi yang bersamanya ada ikhwan thariqah At-Tijaniyyah, maka harus berkumpul dan berdzikir secara berjama’ah dan ini merupakan syarat dalam thariqah At-Tijaniyyah.”
Hadits yang menjelaskan tentang berkumpul untuk berdzikir bersama sangat banyak, diantaranya adalah sabda Nabi Saw,
لَيَبْعَثَنَّ اللَّهُ أَقْوَامًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فِي وُجُوهِهِمُ النُّورُ، عَلَى مَنَابِرِ اللُّؤْلُوْ، يَغْبِطُهُمُ النَّاسُ، لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ. قَالَ: فَجَثَا أَعْرَابِيُّ عَلَى رُكْبَتَيْهِ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، حَلِّهِمْ لَنَا نَعْرِفْهُمْ. قَالَ: هُمُ الْمُتَحَابُّونَ فِي اللهِ، مِنْ قَبَائِلَ شَتَّى، وَبِلَادٍ شَتَّى، يَجْتَمِعُونَ عَلَى ذِكْرِ اللَّهِ يَذْكُرُونَهُ.
“Niscaya Allah akan bangkitan suatu kaum pada hari Kiamat, di wajah mereka ada cahaya, mereka berada diatas mimbar permata, orang-orang cemburu terhadap mereka; mereka ini bukanlah para nabi dan bukan pula para syuhada’.” Seorang baduy duduk dengan mendekatkan kedua lututnya seraya berkata, “Sifatilah kami sehingga kami bisa mengenali mereka.” Rasulullah Saw bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai (karena Allah) dari berbagai kabilah, mereka berkumpul untuk berdzikir kepada Allah Swt.”
Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا، قَالُوا: وَمَا رِيَاضُ الجَنَّةِ ؟ قَالَ : حِلَقُ الذِّكْرِ.
“Apabila kalian lewat taman surga, maka berbaurlah bersama mereka,” para sahabat bertanya, “Apakah taman surga itu?” Rasulullah Saw menjawab, “Majelis dzikir.”
Rasulullah Saw juga pernah bersabda,
يَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ سَيَعْلَمُ أَهْلُ الْجَمْعِ الْيَوْمَ مَنْ أَهْلُ الْكَرَمِ، فَقِيلَ: وَمَنْ أَهْلُ الْكَرْمِ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ مَجَالِسِ الذِّكْرِ
“Pada hari Kiamat Allah Swt berfirman,
‘Perkumpulan ini kelak mengetahui siapakah orang-orang yang mulia?’ Dikatakan, ‘Siapa kelompok orang yang mulia itu wahai Rasulallah?’ Rasulullah Saw menjawab, ‘Jama’ah majelis dzikir.”
Diriwayatkan dari Ibnu ‘Athaillah dalarn Miftahul Falah, sebagian ulama ada yang mengatakan, Perumpamaan orang yang berdzikir sendirian dengan berdzikir berjama’ah seperti halnya suara satu mu’adzdzin dengan suara mu’addzin yang banyak, sebagaimana suara mu’adzdzin yang banyak mampu memecahkan gelombang udara yang lebih banyak daripada suara satu muadzdzin, begitu juga berdzikir secara berjama’ah itu lebih banyak memberikan bekas dan lebih kuat dalam mengangkat ragam hijab kalbu daripada berdzikir sendirian.”
Selain itu, setiap orang yang berdzikir secara berjama’ah, masing-masing mendapatkan pahala berdzikir sendirian sekaligus pahala berdzikir secara berjama’ah. Perkara ini banyak disebutkan dalam kitab-kitab sufi.
Dengan kata lain, syarat ini sangat ditekankan dalam thariqah At-Tijaniyyah, khususnya pada hailalah setelah Ashar di hari Jum’at, sebagaimana paparan dalam Jawahirul Ma’ani diatas. Murid Tijany yang tidak melakukannya tanpa adanya udzur, dia berdosa, meski bacaan wazhifah dan hailalahnya sah, sebab syarat ini hanyalah syarat kamal (penyempurna).
Syarat berkumpul untuk pembacaan wazhifah dan hailalah ini merupakan suatu kelaziman; dimana para murid Tijany duduk melingkar atau membuat shaf yang saling berhadapan di empat sudut, tidak membuat celah antara duduknya seseorang dengan yang lainnya dan juga bersuara keras; yang mampu didengar oleh dirinya dan juga orang lain, namun tidak boleh berteriak, sebab itu merupakan perkara yang dilarang. Dan juga seirama dan senada, sebab jika tidak bersuara malah akan bercampur aduk dan menghilangkan kekhusyu’an dalam ibadah dzikir berjama’ah tersebut.
