
Elsubha.com – Keutamaan Wiridan Tijany dan Pengamal Thariqah At-Tijaniyyah
Pada awal bab ini aku akan membahas nama yang biasa disematkan kepada thariqah At-Tijaniyyah; yaitu At-Tijaniyyah, Al Ahmadiyyah, Al Muhammadiyyah, Al Ibrahimiyyah, Al Hanifiyyah, berikut paparannya:
A. Penjelasan Ragam Nama Thariqah At-Tijaniyyah
Perlu diketahui, bahwa thariqah kita memang dimutlakkan dengan ragam nama diatas, dan memang semua itu telah dimutlakkan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Hal ini menunjukkan keutamaan agung thariqah ini, sebab banyaknya sematan nama pada sebuah thariqah akan menunjukkan unggulnya thariqah tersebut.
Penyematan thariqah ini dengan nama At-Tijaniyyah, maka ini dinisbatkan kepada pemilik thariqah ini; Sayyidi Ahmad At-Tijany Ra.
Penyematan thariqah ini dengan nama Al Ahmadiyyah, ini dikarenakan pemilik thariqah ini bernama Ahmad, sehingga dinisbatkan kepada nama ini. Dikatakan pula bahwa disebut demikian karena ia adalah thariqah syukur, lantaran pangkat wali Quthub porosnya adalah pujian untuk Allah Swt atas ragam nikmat melimpah yang patut dipublikasi, sehingga disematkanlah nama Ahmadiyyah. Ada pula yang mengatakan, bahwa thariqah ini disematkan dengan nama Ahmadiyyah karena ragam wiridannya mengandung puncaknya pujian bagi Allah secara eksplisit maupun implisit.
Penyematan thariqah ini dengan nama Al Muhammadiyyah, ini dikarenakan ragam wiridannya berupa sholawat dan salam untuk Nabi Muhammad Saw. Dikatakan pula bahwa disebut demikian karena thariqah ini masuk pada semua thariqah yang ada dan membatalkan semua thariqah tersebut, dimana tabi’at thariqah At-Tijaniyyah inipun menempati posisi tabi’at semua thariqah yang ada, nah ketika syari’at Nabi Muhammad Saw ini memiliki tabi’at seperti ini, maka dinamakan Al Muhammadiyyah.
Ada pula yang mengatakan, thariqah At-Tijaniyyah ini dengan nama Al Muhammadiyyah karena semua thariqah pada akhir zaman ini akan masuk ke dalam thariqah At-Tijaniyyah ini sesuai dengan janji Nabi Muhammad Saw, dimana janji beliau Saw tidak pernah dusta. Dikatakan pula, thariqah ini disematkan dengan nama Al Muhammadiyyah karena Allah Swt akan melipat gandakan pahala kebaikan pengamal thariqah ini dibanding dengan yang lainnya, sepertihalnya pahala kebaikan umat ini dilipatgandakan daripada umat-umat terdahulu.
Penyematan thariqah ini dengan nama Al Ibrahimiyyah Al Hanifiyyah, ini dikarenakan thariqah ini tumbuh dari lingkaran keutamaan Allah Swt, dimana Allah Swt menjadikan Nabi Ibrahim As sebagai kekasih-Nya sejak zaman azali jauh sebelum beliau ada bahkan jauh sebelum alam semesta ini pun ada. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَـقَدْ اٰتَيْنَاۤ اِبْرٰهِيْمَ رُشْدَهٗ مِنْ قَبْلُ وَ كُنَّا بِهٖ عٰلِمِيْنَ
wa laqod aatainaaa ibroohiima rusydahuu ming qoblu wa kunnaa bihii ‘aalimiin
“Dan sungguh, sebelum dia (Musa dan Harun) telah Kami berikan kepada Ibrahim petunjuk dan Kami telah mengetahui dia.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 51)
Maka karena Allah Swt pun menempatkan keluarga Nabi Ibrahim As pada pusara keutamaan Allah Swt ini, maka dinamakanlah dengan Al Ibrahimiyyah Al Hanifiyyah. Dikatakan pula bahwa thariqah At-Tijaniyyah disematkan dengan nama tersebut karena thariqah At-Tijaniyyah merupakan thariqah pilihan lagi mudah, tidak ada kehimpitan dan kesulitan dalam mengamalkannya. Maka Al Ibrahimiyyah Al Hanifiyyah merupakan nama seperti yang diisyaratkan dalam firman-Nya,
وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَا دِهٖ ۗ هُوَ اجْتَبٰٮكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍ ۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَ ۗ هُوَ سَمّٰٮكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَآءَ عَلَى النَّا سِ ۖ فَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰ تُوا الزَّكٰوةَ وَا عْتَصِمُوْا بِا للّٰهِ ۗ هُوَ مَوْلٰٮكُمْ ۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
wa jaahiduu fillaahi haqqo jihaadih, huwajtabaakum wa maa ja’ala ‘alaikum fid-diini min haroj, millata abiikum ibroohiim, huwa sammaakumul-muslimiina ming qoblu wa fii haazaa liyakuunar-rosuulu syahiidan ‘alaikum wa takuunuu syuhadaaa-a ‘alan-naasi fa aqiimush-sholaata wa aatuz-zakaata wa’tashimuu billaah, huwa maulaakum, fa ni’mal-maulaa wa ni’man-nashiir
“Dan berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamakan kamu orang-orang muslim sejak dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al-Qur’an) ini agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia. Maka laksanakanlah sholat dan tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah kepada Allah. Dialah pelindungmu; Dia sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 78)
Beragam pembahasan mengenai hal ini aku ringkas dari kitab Bughyatul Mustafid, bahkan dalam kitab Ar-Rimah masih banyak lagi ragam nama yang dijadikan nisbat thariqah At-Tijaniyyah ini, silahkan rujuk kembali jika engkau membutuhkannya.
B. Keutamaan Istighfar
Perlu diketahui bahwa wiridan lazimah dalam thariqah At-Tijaniyyah ini terdiri dari bacaan istighfar, sholawat dan juga bacaan hailalah. Semua ini tentu bersumber dari Al Qur’an dan As-Sunnah, dimana banyak sekali keutamaan ragam bacaan tersebut, dimana aku akan coba sebutkan secara ringkas berikut keutamaan pengamal thariqah At-Tijaniyyah ini.
Mengenai keutamaan bacaan istighfar, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَا كَا نَ اللّٰهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَاَ نْتَ فِيْهِمْ ۗ وَمَا كَا نَ اللّٰهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ
wa maa kaanallohu liyu’azzibahum wa angta fiihim, wa maa kaanallohu mu’azzibahum wa hum yastaghfiruun
“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 33)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا
wa maaa arsalnaa mir rosuulin illaa liyuthoo’a bi-iznillaah, walau annahum iz zholamuuu angfusahum jaaa-uuka fastaghfarulloha wastaghfaro lahumur-rosuulu lawajadulloha tawwaabar rohiimaa
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ غَفَّا رًا
fa qultustaghfiruu robbakum innahuu kaana ghoffaaroo
“maka aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun,”
(QS. Nuh 71: Ayat 10)
يُّرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَا رًا
yursilis-samaaa-a ‘alaikum midrooroo
“niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu,”
(QS. Nuh 71: Ayat 11)
وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَ مْوَا لٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّـكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّـكُمْ اَنْهٰرًا
wa yumdidkum bi-amwaaliw wa baniina wa yaj’al lakum jannaatiw wa yaj’al lakum an-haaroo
“dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.””
(QS. Nuh 71: Ayat 12)
Masih banyak lagi ayat-ayat yang berkaitan dengan keutamaan istighfar. Terkait hal ini Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,
مَنْ لَزِمَ الاسْتِغْفَارَ جَعَلَ اللهُ لَهُ مِنْ كُلِّ هَمْ فَرَجًا، وَمِنْ كُلِّ ضِيقٍ مَخْرَجًا، وَرَزَقَهُ مِنْ حَيْثُ لا يَحْتَسِبُ.
“Barangsiapa yang melazimkan istighfar, Allah akan memberikan jalan keluar dari setiap kehimpitan, kelapangan dari setiap kesulitan dan Dia akan memberikannya rezeki yang tidak disangka-sangka.”
Nabi Muhammad pun pernah bersabda lainnya,
وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ لَمْ تُذْنِبُوا لَذَهَبَ اللَّهُ بِكُمْ وَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لَهُمْ
“Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, andai kalian tidak berbuat dosa dan memohon ampunan (dari-Nya), Allah akan membinasakan kalian dan akan mendatangkan kembali kaum yang berbuat dosa dan (kemudian) mereka memohon ampunan (pada Allah) dan Allah ampuni mereka.”
Sabda Nabi Muhammad Saw lainnya,
مَا أَصَرَّ مَنِ اسْتَغْفَرَ وَإِنْ عَادَ فِي الْيَوْمِ سَبْعِينَ مَرَّةً
“Tidak dianggap (terus berbuat dosa) bagi orang yang senantiasa memohon ampunan (Allah Swt) meski ia mengulangi (dosa tersebut) 70 kali dalam sehari.”
C. Keutamaan Sholawat Fatih
Sementara mengenai keutamaan sholawat pada nabi Muhammad Saw, maka hal ini pun sudah akrab ditelinga kaum muslimin. Cukup kiranya aku mengetengahkan firman Allah Swt,
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
innalloha wa malaaa-ikatahuu yusholluuna ‘alan-nabiyy, yaaa ayyuhallaziina aamanuu sholluu ‘alaihi wa sallimuu tasliimaa
“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)
Sedangkan hadits tentang sholawat kepada nabi Saw, maka banyak sekali keutamaannya dan telah dikenal oleh kebanyakan kaum muslimin, diantaranya adalah sabda Nabi Muhammad Saw,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ مَرَّةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ مَرَّاتٍ، وَحَطَّ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيئَاتٍ، وَرَفَعَ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa yang bersholawat satu kali padaku, niscaya Allah bersholawat padanya dengan sepuluh kebaikan, Allah Swt ampuni sepuluh kesalahan dan Allah Swt angkat ia sepuluh derajat (disisi-Nya).”
Nabi Muhammad Saw pun pernah bersabda,
مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاةً وَاحِدَةً، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ عَشْرًا، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ مِائَةً، وَمَنْ صَلَّى عَلَيَّ مِائَةً، كَتَبَ اللهُ لَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ : بَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ، وَبَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ، وَأَسْكَنَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَعَ الشُّهَدَاءِ
“Barangsiapa yang bersholawat padaku saku kali, niscaya Allah akan bersholawat padanya sepuluh kali. Barangsiapa yang bersholawat padaku sepuluh kali, niscaya Allah akan bersholawat padanya seratus kali. Barangsiapa yang bersholawat padaku seratus kali niscaya Allah Swt akan tuliskan antara dua matanya; terbebas dari kemunafikan diri, terbebas dari api neraka, dan pada hari Kiamat Allah akan tempatkan ia bersama orang-orang yang mati syahid.”
Dan masih banyak lagi hadits yang mengungkap kautamaan sholawat kepada Nabi Muhammad Saw. Kemudian mengenai sholawat Fatih, maka tentu keutamaannya lebih besar daripada sekedar dituliskan belaka.
Perlu diketahui bahwa banyak ulama kenamaan menyarankan untuk mengamalkan semua yang diterima oleh orang-orang yang ‘Arifbillah dari Rasulullah Saw, baik mendapatkannya dalam kondisi terjaga maupun dalam mimpi, selagi amalan itu tidak menabrak dalil-dalil yang qath’i atau tidak mengarah pada mengikis kaidah dalam agama. Semua yang Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sebutkan berkaitan dengan keutamaan sholawat Fatih dan sholawat Jauharatul Kamal yang beliau dapatkan dari Rasulullah Saw secara yaqzhah (kondisi sadar/terjaga) tidaklah tidak menabrak dalil-dalil yang qath’i atau tidak mengarah pada mengikis kaidah dalam agama, dimana puncaknya adalah bahwa perkara itu merupakan berita dari Nabi Muhammad Saw mengenai dzikiran yang tidak keluar dari syari’at lagi memiliki pahala yang berlipat ganda, yang mana dasarnya adalah firman Allah Swt,
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
masalullaziina yungfiquuna amwaalahum fii sabiilillaahi kamasali habbatin ambatat sab’a sanaabila fii kulli sumbulatim mi-atu habbah, wallohu yudhoo’ifu limay yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 261)
Dalam hadits Nabi Muhammad Saw disebutkan,
إِنَّ الْحَسَنَةَ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كثيرة
“Sungguh kebaikan itu (dilipat gandakan) menjadi sepuluh semisalnya hingga tujuh ratus kali lipat yang banyak.”
Jika engkau telah mengetahui ini, maka aku katakan: Sholawat Fatih memiliki delapan martabat keutamaan, yang akan aku sebutkan adalah bagian dari martabat pertama keutamaan sholawat Fatih, dimana keutamaan yang lainnya tersembunyi.
Berikut ini keutamaan sholawat Fatih yang tidak tersembunyi:
1. Barangsiapa yang membacanya satu kali dalam sehari, Allah akan jamin kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
2. Satu kali bacaan sholawat Fatih dapat menghapus semua dosa.
3. Satu kali bacaan sholawat Fatih setara dengan enam ratus kali semua bacaan tasbeh, dzikir dan do’a anak kecil atau orang dewasa yang ada di alam semesta ini.
4. Barangsiapa yang bersholawat dengan sholawat Fatih ini, maka dia akan mendapatkan pahala yang lebih besar daripada pahala seorang wali yang hidup satu juta tahun tidak bersholawat dengan sholawat Fatih.
5. Satu kali bacaan sholawat Fatih setara dengan enam ratus ribu kali bacaan sholawatnya setiap malaikat, manusia dan jin sejak mereka diciptakan hingga waktu dibacakan sholawat Fatih tersebut.
6. Bacaan kedua sholawat Fatih tersebut mendapatkan pahala semisal ditambah pahala bacaan yang pertama tadi.
7. Bacaan ketiga sholawat Fatih tersebut juga akan mendapatkan pahala bacaan sholawat tersebut ditambah pahala bacaan yang pertama dan yang kedua, demikian seterusnya.
8. Orang yang konsisten membacanya setiap hari satu kali saja, ia akan meninggal dunia dengan membawa iman.
9. Jika orang yang bersholawat melakukan perkara yang meruntuhkan amal perbuatannya, maka dengan ia membaca sholawat Fatih, maka amalannya tadi tidak akan runtuh.
10. Barangsiapa yang membaca sholawat Fatih ini di malam Jum’at sebanyak seratus kali, maka dosa-dosanya selama empat ratus tahun akan diampuni. Masih banyak keutamaan lain yang tidak bisa disebutkan di buku ini.
Nah, keutamaan khusus dari sholawat Fatih ini akan didapatkan dengan dua syarat: Pertama, adanya izin dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meski dengan banyaknya perantara orang kepada beliau Ra. Kedua, yakin bahwa sholawat Fatih ini bukanlah buatan manusia, akan tetapi ia datang kepada Sayyidi Muhammad Al Bakri dari sisi ghaib.
Sedangkan keutamaan umum sholawat Fatih Ini adalah, bahwa satu kali bacaan sholawat Fatih adalah fidyah (tebusan) dari api neraka.
Sayyidi Muhammad Al Bakri Ra pernah mengatakan, “Barangsiapa yang membaca sholawat ini satu kali dan tidak masuk surga, maka dia boleh menarik aku dihadapan Allah.”
Al Harusyi dalam Syarh Kunûz Al Asrar mengatakan, “Satu kali bacaan sholawat Fatih ini setara dengan enam ratus ribu sholawat.”
Dua keutamaan inilah yang bisa didapatkan tanpa harus memenuhi persyaratan diatas. Dengan kata lain, sholawat Fatih merupakan sholawat yang paling mulia, dimana sebelumnya tidak ada seseorang bersholawat kepada Nabi Muhammad Saw dengan sholawat yang semisal ini, sebab sholawat Fatih ini memiliki keutamaan yang mencengangkan akal pikiran.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pemah mengatakan, khasiat sholawat Fatih ini merupakan perkara ilahiyyah yang tidak masuk akal, yaitu: “Jikalau saja ada 100.000 kabilah, di satu kabilah ada 100.000 lelaki, setiap lelaki berumur 100.000 tahun, setiap dari mereka membaca sholawat kepada Nabi Saw sebanyak 100.000 sholawat selain sholawat Fatih, lalu semua umat ini dikumpulkan dengan semua jumlah tahun yang ada dan dengan dzikiran yang serupa, maka semua ini tidak menyamai satu pahala bacaan sholawat Fatih.”
Catatan Penting!
Jika seseorang mengalami kesulitan atau memiliki hajat, maka hendaknya ia mengkonsistenkan sholawat Fatih seratus kali setiap kali selesai sholat fardhu; bacaan ‘Ya Lathif sebanyak 1000 kali. Jika ia tidak mampu melakukan itu, maka ia bisa membacanya pada waktu pagi dan sore hari, sebab perkara tersebut merupakan perkara yang bisa mempercepat datangnya jalan keluar atas masalah dan tercapainya apa yang diinginkan, yang tentunya dengan izin Allah Swt.
D. Keutamaan Sholawat Jauharatul Kamal
Sedangkan mengenai sholawat Jauharatul Kamal, maka itu merupakan bagian dari apa yang didiktekan Rasulullah Saw kepada guru kami Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra secara yaqzhah (kondisi terjaga/sadar diri). Diantara keutamaannya adalah:
1. Satu kali bacaan sholawat Jauharatul Kamal setara dengan tiga kali tasbehnya alam semesta.
2. Barangsiapa yang melazimkan membaca sholawat Jauharatul Kamal setiap harinya sebanyak tujuh kali, Rasulullah Saw akan cinta padanya dengan kecintaan khusus.
3. Barangsiapa yang melazimkan membaca sholawat Jauharatul Kamal setiap harinya sebanyak tujuh kali saat akan tidur, niscara dia akan senantiasa melihat Nabi Saw dalam mimpi dengan syarat dia berwudhu sebelum tidur dan tempat tidurnya pun suci.
4. Nabi Muhammad Saw dan keempat sahabat beliau senantiasa hadir bersama orang yang berdzikir membaca sholawat Jauharatul Kamal ini pada bacaan ketujuh sholawat tersebut, dimana mereka tidak akan pergi meninggalkan orang yang berdzikir itu selagi ia masih membaca sholawat Jauharatul Kamal.
5. Satu kali bacaan sholawat Jauharatul Kamal ini mampu menambal kurangnya kekhusyuan diri pada setiap amalan; namun membacanya tiga kali itu lebih baik jika tidak ada udzur.
6. Orang yang membaca sholawat Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali dan diakhir berkata, “Ini adalah hadiah dariku untukmu wahai Rasulallah Saw.” maka seolah-olah dia telah menziarahi Rasulallah Saw dan para wali Allah dari kalangan orang-orang sholeh sejak awal penciptaan hingga ia membaca sholawat Jauharatul Kamal tersebut.
7. Orang yang sedang dirundung kesulitan dan kehimpitan hidup lalu ia membaca sholawat Jauharatul Kamal sebanyak 65 kali, insya Allah, Allah Swt akan menyingkap kesulitan tersebut seketika itu juga. Selain keutamaan diatas, masih banyak keutamaan sholawat Jauharatul Kamal lainnya.
E. Keutamaan Lafazh Hailalah
Mengenai kautamaan bacaan tahlil/hailalah, maka bacaan ini telah dikenal secara luas dalam agama ini, sebagaimana keutamaannya telah dijabarkan dalam Al Qur’an dan As-Sunnah. Diantaranya adalah firman Allah Swt kepada nabi-Nya,
فَا عْلَمْ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ وَا سْتَغْفِرْ لِذَنْبِۢكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنٰتِ ۗ وَا للّٰهُ يَعْلَمُ مُتَقَلَّبَكُمْ وَمَثْوٰٮكُمْ
fa’lam annahuu laaa ilaaha illallohu wastaghfir lizambika wa lil-mu-miniina wal-mu-minaat, wallohu ya’lamu mutaqollabakum wa maswaakum
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 19)
Begitu juga firman Allah Swt yang mencela penghuni Neraka,
اِنَّهُمْ كَا نُوْۤا اِذَا قِيْلَ لَهُمْ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ ۙ يَسْتَكْبِرُوْنَ
innahum kaanuuu izaa qiila lahum laaa ilaaha illallohu yastakbiruun
“Sungguh, dahulu apabila dikatakan kepada mereka, “La ilaha illallah” (Tidak ada tuhan selain Allah), mereka menyombongkan diri,”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 35)
Sedangkan dalam As-Sunnah, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,
أَفْضَلُ مَا قُلْتُهُ أَنَا وَالنَّبِيُّوْنَ مِنْ قَبْلِي: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
“Paling utamanya apa yang aku dan para nabi sebelumku telah katakan adalah Lâ ilâha illallah.”
Dalam sabda lain juga disebutkan,
مَا قَالَ عَبْدٌ لا إِلهَ إِلَّا اللهُ مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ، إِلَّا فُتِحَتْ لَهُ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، حَتَّى تُفْضِيَ إِلَى الْعَرْشِ، مَا اجْتَنَبَ الكَبَائِرَ
“Tidaklah seorang hamba mengucapkan kata Lâ ilaha illallah dengan tulus ikhlas dari hatinya kecuali pintu-pintu langit akan dibukakan baginya hingga sampai ke Arasy, selagi ia menjauhi ragam dosa-dosa besar.”
Dalam sabda lainnya pun disebutkan,
مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَدَّهَا هُدِمَتْ لَهُ أَرْبَعَةِ آلافٍ ذَنْبٍ مِنَ الكَبَائِرِ
“Barangsiapa yang mengatakan, Lâ ilaha Illallah seraya memanjangkan bacaannya, niscaya 4000 dosa besar pun dihancurkan darinya.”
Dalam sabda lainnya pun disebutkan,
يَقُوْلُ اللَّهُ تَعَالَى لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ حِصْنِي، فَمَنْ دَخَلَهُ أَمِنَ مِنْ عَذَابِي
“Allah Swt senantiasa berfirman, ‘La ilaha Illallah adalah bentengku, barangsiapa yang telah masuk bentengku, maka ia aman dari adzab-Ku.”
Disebutkan dari sebagian orang sholeh, “Kata Lâ ilâha Illallâh adalah tujuh kalimat; seorang hamba memiliki tujuh anggota tubuh, neraka itu ada tujuh pintu, setiap kata dari ketujuh kalimat ini mampu menutup setiap pintu dari pintu-pintu neraka yang tujuh dan juga menutup pintu (kemaksiatan) dari tujuh anggota tubuh.” Dan masih banyak lagi ulasan mengenai keutamaan bacaan tahlil/hailalah.
F. Keutamaan Wazhifah
Mengenai keutamaan wazhifah, bahwa ia mampu menghapus dosa-dosa pembacanya antara kedua waktu tersebut (waktu pembacaan wazhifah yang satu ke waktu pembacaan wazhifah yang lainnya)
Pembacanya kelak mendapatkan syafa’at khusus dari Nabi Saw.
G. Keutamaan Hailalah Jum’at
Tentang keutamaan hailalah pada Jum’at sore adalah, bahwa Nabi Muhammad Saw akan hadir sejak awal dzikiran dimulai hingga akhir.
H. Keutamaan Thariqah At-Tijaniyyah
Mengenai keutamaan pengamal thariqah At-Tijaniyyah sangatlah banyak, Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah menyebutkannya, namun di sini aku hanya ingin menyebutkan sebagiannya saja yang aku temukan di beberapa buku karya sahabat Sayyidi Syaikh Ra, tujuannya tak lain untuk memberikan kabar gembira bagi para pengamal thariqah At-Tijaniyyah ini, dimana ragam perkara ini tidak asing lagi di telingga kita semua kecuali orang-orang yang bodoh dengan agungnya keutamaan Allah Swt.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تُؤْمِنُوْۤا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِ ۙ اَنْ يُّؤْتٰۤى اَحَدٌ مِّثْلَ مَاۤ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَآ جُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ ۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
wa laa tu-minuuu illaa limang tabi’a diinakum, qul innal-hudaa hudallohi ay yu-taaa ahadum misla maaa uutiitum au yuhaaajjuukum ‘ingda robbikum, qul innal-fadhla biyadillaah, yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Dan janganlah kamu percaya selain kepada orang yang mengikuti agamamu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu, atau bahwa mereka akan menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 73)
يَّخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Dia menentukan rahmat-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah memiliki karunia yang besar.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 74)
Dimana sudah kita ketahui bersama, bahwa Allah Swt akan memuliakan orang yang mengikuti (sosok yang ia figurkan),
lantaran kemuliaan yang terdapat pada sosok yang diikuti.
Oleh karena itu, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَا تَّبَعَتْهُمْ ذُرِّيَّتُهُمْ بِاِ يْمَا نٍ اَلْحَـقْنَا بِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَمَاۤ اَلَـتْنٰهُمْ مِّنْ عَمَلِهِمْ مِّنْ شَيْءٍ ۗ كُلُّ امْرِئٍ بِۢمَا كَسَبَ رَهِيْنٌ
wallaziina aamanuu wattaba’at-hum zurriyyatuhum bi-iimaanin alhaqnaa bihim zurriyyatahum wa maaa alatnaahum min ‘amalihim ming syaii, kullumri-im bimaa kasaba rohiin
“Dan orang-orang yang beriman, beserta anak cucu mereka yang mengikuti mereka dalam keimanan, Kami pertemukan mereka dengan anak cucu mereka (di dalam surga), dan Kami tidak mengurangi sedikit pun pahala amal (kebajikan) mereka. Setiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya.”
(QS. At-Tur 52: Ayat 21)
Ada ulama yang mengatakan, “Sebagaimana Allah menghubungkan keluarga orang-orang yang beriman dengan memberikan kepada mereka keutamaan-Nya meski memang amaliyah mereka tidaklah sepadan, maka begitu pula orang yang mengikuti (sosok figur), ia pun akan mendapatkan keutamaan seperti sosok figur yang mereka ikuti, meski memang dalam amaliyah mereka tentu tidaklah sama.”
Perkara ini menunjukkan seperti apa yang tertera dalam Shahih Muslim dari riwayat Anas Ra, ia berkata:
قَالَ رَجُلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَتَى السَّاعَةُ؟ قَالَ: وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟ قَالَ: حُبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ، قَالَ: فَأَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Seorang lelaki datang kepada Nabi Saw seraya berkata, Wahai Rasulullah, kapankah datangnya hari Kiamat?’, nabi Saw menimpali, ‘Lantas apa yang sudang engkau siapkan?, lelaki tadi menjawab, ‘Kecintaan pada Allah dan Rasul-Nya’, spontan Nabi Saw menjawab, ‘Engkau kelak bersama sosok yang kau cintai”.”
Anas berkata, “Kami belum pernah merasa senang sekali setelah memeluk Islam daripada senangnya kami mendengar sabda Nabi Saw, ‘Sungguh engkau kelak bersama orang yang kau cintai,” Anas kembali berkata, “Aku cinta pada Allah dan Rasul-Nya, juga cinta kepada Abu Bakar dan Umar, maka aku berharap semoga aku tergolong bersama mereka meski belum bisa beramal seperti mereka.”
Mari kita renungi redaksi, “Meski belum bisa beramal seperti mereka,” dari sini jelas sudah bahwa pahala yang akan diperoleh pun adalah seperti pahala sosok figur yang diikuti.
Dalam hadits qudsi disebutkan,
مَنْ عَادَ لِي وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَنِي بِالْمُحَارَبَةِ
“Barangsiapa yang memusuhi wali-Ku, maka secara terang-terangan dia telah menabuh genderang perang dengan-Ku.”
Dalam sebuah kitab disebutkan, “Barangsiapa yang mengangkat seorang diantara wali-Ku, maka Aku akan pilih dan dekatkan ia pada-Ku.” Maka tidak diragukan lagi bahwa para sahabat Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah mendapatkan keutamaan ini lantaran mereka mengikuti Sayyidi Syaikh Ra, bahkan Sayyidi Syaikh Ra pernah mengatakan secara gamblang mengenai perkara itu, kala Sayyidi Muhammad bin Al Musyri bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ra, “Keutamaan yang agung ini mereka dapatkan sebab mereka mengkonsistenkan sholawat Fatih atau dengan sebab lain?” Sayyidi Syaikh Ra diam sejenak lalu berkata, “Lantaran kami, segala puji bagi Allah atas karunia tersebut.”
Selanjutnya tidak ada orang yang mengingkari ragam jaminan dan kabar gembira yang datangnya dari Nabi Muhammad Saw kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra kecuali dia adalah orang yang nakal. Sayyidi Al Mallali Ra pernah mengatakan, “Aku melihat tulisan tangan Syaikh As-Sanusi, yang redaksinya: ‘Perkara yang menunjukkan bahwa ada yang datang dari seorang wali Allah yang berupa kabar gembira dengan masuk surga, maka hal tersebut tidaklah menyelisihi As-Sunnah terlebih ketika itu datangnya sosok figur yang patut diikuti, Nabi Muhammad Saw sendiri telah memberikan kabar gembira bagi sekelompok sahabat bahwa mereka akan masuk surga, dan ini bagian daripada mu’jizat Nabi Muhammad Saw.
Bahkan jumhur ulama dari kalangan Ahlussunnah menyatakan, “Segala sesuatu yang mungkin menjadi mukjizat bagi seorang nabi, maka itupun mungkin menjadi karomah bagi seorang wali. Jika saja seorang wali mampu menerawang perkara akhir hidup beliau pada sekelompok ulama tahqiq, maka itu pun mungkin beliau lakukan pada orang lainnya.” Lihat selengkapnya dalam kitab Al Jaisyul Kafil.
Jika perkara ini sudah mantap dalam pikiranmu, maka aku katakan, bahwa apa yang akan aku sebutkan dalam buku ini yang berupa 40 keutamaan; dimana 14 diantaranya akan didapatkan oleh setiap orang yang memiliki keterikatan diri pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra yang berupa keyakinan diri; patuh pada beliau; penghormatan kepada beliau, tidak mengkritik beliau dalam semua perkara; baik perkara yang nampak jelas di depan mata, maupun perkara yang tersembunyi; cinta pada beliau dan pada pengamal thariqahnya dengan bentuk menghormati dan memuliakan mereka serta tidak menyakiti mereka. Sementara keutamaan lain sisanya adalah bagi pengamal thariqah beliau; thariqah At-Tijaniyyah yang senantiasa menjaga wiridannya, meski belum pernah bertemu beliau Ra di dunia ini, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam Jawahirul Ma’âni.
Semua keutamaan yang ada ini merupakan jaminan dari Nabi Muhammad Saw untuk Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang semua itu bisa terjadi dengan syarat tidak merasa aman dari murka Allah Swt.
Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah mewanti-wanti pada sahabat beliau seraya memberikan petunjuk pada mereka, beliau mengatakan, “Sayyidil wujud, Nabi Muhammad Saw telah memberikan jaminan bagi kami, bahwa orang yang mencela kami dan terus saja mencela kami serta tidak bertobat, maka dia tidak akan mati kecuali dalam keadaan kafir. Akupun katakan pada ikhwan. ‘bahwa murid Tijany yang telah mengambil wiridan thariqah kami dan mendengar perkara masuk surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab dan juga kemaksiatan tidak akan memudharatkanya, sehingga menjebloskan dirinya dalam kemaksiatan pada Allah Swt, serta menjadikan hal tersebut sebagai ikatan dirinya untuk merasa aman dari adzab Allah Swt, Allah akan membuat hatinya membenci kami hingga ia mencela kami, ketika ia telah mencela kami, Allah Swt akan mematikannya dalam keadaan kafir, maka berhati-hatilah kalian dari kemaksiatan. Jika toh ada diantara kalian yang Allah takdirkan dengan suatu dosa- dimana memang manusia tidaklah ma’shum, maka kami tidak akan mendekatkannya pada kami kecuali hatinya menangis (dengan tangisan penyesalan) lantaran takut dari adzab-Nya Allah Swt.”
I. Keutamaan Muhibbin dan Pengamal Thariqah At-Tijaniyyah
Ragam keutamaan yang akan didapatkan bagi orang yang memiliki keterikatan diri pada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, meskipun ia belum masuk ke dalam thariqah beliau; thariqah At-Tijaniyyah, yaitu:
1. Akan meninggal dunia dengan membawa Islam dan Iman.
2. Allah Swt akan ringankan ia menghadapi sakaratul maut.
3. Dia akan melihat ragam perkara yang menyenangkan dalam kubumya.
4. Allah Swt akan memberikannya rasa aman dari segala adzab, serta meringankan adzab tersebut baginya dan juga meringankan semua keburukan sejak ia meninggal dunia hingga ia menetap di surga.
5. Allah Swt akan senantiasa mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu maupun yang akan datang.
6. Allah Swt akan mengganti semua kezhaliman yang pernah ia lakukan dari sisi keutamaan Allah Swt, bukan dari kebaikannya.
7. Allah Swt tidak akan menghisab, mendebat dan mempertanyakan; baik sedikit maupun banyak pada hari Kiamat kelak.
8. Allah Swt akan menaungi mereka dengan naungan-Nya pada hari Kiamat.
9. Allah Swt akan menyeberangkan mereka pada titian shirat dengan sekejap mata dan berada di atas punggung malaikat.
10. Allah Swt akan memberikan mereka minuman dari telaga Rasulullah Saw pada Hari Kiamat.
11. Allah Swt akan memasukkan mereka ke dalam surga tanpa dihisab dan tanpa diadzab, serta pada fase golongan yang pertama.
12. Allah Swt akan menempatkan mereka pada surga yang tinggi; surga Firdaus dan surga A’dn.
13. Nabi Muhammad Saw mencintai setiap orang yang mencintai Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra
14. Orang yang mencintai Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak akan meninggal dunia kecuali dirinya telah menjadi walinya Allah.
Sementara murid Tijany yang masuk ke dalam thariqah beliau Ra, maka iapun mendapatkan keutamaan diatas ditambah dengan ragam keutamaan berikut ini:
15. Kedua orang tua murid Tijany, suami/istri, kedua mertua dan keluarga yang terpisah darinya selain cucu; mereka kelak akan masuk surga tanpa dihisab, tanpa diadzab; semua dosa-sosa kecil dan besar diampuni, Allah pun akan ganti semua kesalahan mereka dengan syarat mereka tidak mencela, tidak membenci dan tidak memusuhi Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; juga dengan syarat senantiasa mencintai Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra meski tidak memiliki keterikatan diri dengan beliau Ra. Keutamaan ini mereka dapatkan lantaran mereka memiliki hubungan dengan orang yang mengamalkan thariqah At-Tijaniyyah.
16. Nabi Muhammad Saw turut menyertakan mereka, dimana baliau Saw berkata kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Fuqara mu adalah fugaraku, para muridmu adalah muridku, para sahabatmu adalah sahabatku.”
17. Seluruh orang yang menyakiti murid Tijany berarti mereka telah menyakiti Nabi Muhammad Saw.
18. Nabi Muhammad Saw akan hadir ketika murid Tijany meninggal dunia.
19. Nabi Muhammad Saw akan hadir ketika dua malaikat menanyainya dalam kubur.
20. Imam Mahdi termasuk saudara dalam thariqah At-Tijaniyyah. Aku pernah baca sebuah buku yang menyatakan bahwa ciri-ciri kemunculan Imam Mahdi adalah kala pengamal thariqah ini banyak.
21. Murid Tijany memiliki derajat lebih tinggi daripada wali Quthb. Jika wali Quthb melihat mereka, mereka sontak berkata, “Kami tidak diberikan sesuatu (seperti mereka),” dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لَا يُسْـئَـلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْئَــلُوْنَ
laa yus-alu ‘ammaa yaf’alu wa hum yus-aluun
“Dia (Allah) tidak ditanya tentang apa yang dikerjakan, tetapi merekalah yang akan ditanya.”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 23)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
لِيَجْزِيَهُمُ اللّٰهُ اَحْسَنَ مَا عَمِلُوْا وَيَزِيْدَهُمْ مِّنْ فَضْلِهٖ ۗ وَا للّٰهُ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَآءُ بِغَيْرِ حِسَا بٍ
liyajziyahumullohu ahsana maa ‘amiluu wa yaziidahum ming fadhlih, wallohu yarzuqu may yasyaaa-u bighoiri hisaab
“(mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 38)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَا تُؤْمِنُوْۤا اِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِيْنَكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْهُدٰى هُدَى اللّٰهِ ۙ اَنْ يُّؤْتٰۤى اَحَدٌ مِّثْلَ مَاۤ اُوْتِيْتُمْ اَوْ يُحَآ جُّوْكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ ۗ قُلْ اِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللّٰهِ ۚ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
wa laa tu-minuuu illaa limang tabi’a diinakum, qul innal-hudaa hudallohi ay yu-taaa ahadum misla maaa uutiitum au yuhaaajjuukum ‘ingda robbikum, qul innal-fadhla biyadillaah, yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim
“Dan janganlah kamu percaya selain kepada orang yang mengikuti agamamu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya petunjuk itu hanyalah petunjuk Allah. (Janganlah kamu percaya) bahwa seseorang akan diberi seperti apa yang diberikan kepada kamu, atau bahwa mereka akan menyanggah kamu di hadapan Tuhanmu.” Katakanlah (Muhammad), “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 73)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا يَوَدُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَلَا الْمُشْرِكِيْنَ اَنْ يُّنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِّنْ خَيْرٍ مِّنْ رَّبِّکُمْ ۗ وَا للّٰهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
maa yawaddullaziina kafaruu min ahlil-kitaabi wa lal-musyrikiina ay yunazzala ‘alaikum min khoirim mir robbikum, wallohu yakhtashshu birohmatihii may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Orang-orang yang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak menginginkan diturunkannya kepadamu suatu kebaikan dari Tuhanmu. Tetapi secara khusus Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang besar.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 105)
22. Seorang pengamal thariqah At-Tijaniyyah akan berdzikir bersama 70 ribu malaikat, yang mana pahala dzikirnya para malaikat itu akan ditulis untuknya.
23. Dalam wiridan lazimah thariqah At- Tijaniyyah terdapat isim a’zham yang dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw.
24. Dalam wiridan thariqah At-Tijaniyyah terdapat isim a ‘zham yang khusus dimiliki oleh Nabi Muhammad Saw.
25. Setiap murid Tijany yang membaca wiridan, maka dirinya akan mendapatkan bagian dari pahala isim a’zham al kabir per individu sekalipun dirinya tidak mengetahui isim a’zham tersebut, maka apalagi jika dia selalu melantunkannya.
26. Murid Tijany mendapatkan pahala ragam dzikiran yang luhur dari isim a zham al kabir dan yang dibawahnya; yang tidak didapatkan oleh pembesar ‘Arifbillah dan wali quthb.
27. Allah Swt akan memberikan kepada mereka dari amalan seseorang yang Allah Swt terima, berupa 100 ribu kali lipat lebih banyak dari apa yang diperoleh oleh orang yang mengerjakan amalan tersebut.
28. Setiap murid Tijany aman dari tercerabutnya iman seketika saat kematian datang. Tidak ada yang bisa mencerabutnya kecuali para wali Quthub.
29. Bagi pengamal thariqah Tijaniyyah, jika ada orang yang dapat melihatnya pada hari Senin atau Jum’at, maka orang yang dapat melihat ini akan masuk surga tanpa dihisab dan juga tanpa diadzab, ini adalah warisan dari sisi Ahmadiyyah At-Tijaniyyah. Seyogyanya setiap murid Tijany berpenampilan seperti wajahnya para sahabat Sayyidi Syaikh Ra pada dua hari tersebut dan berniat agar yang melihat mereka bisa mendapatkan kemuliaan yang utama itu, sebab bisa jadi di jalan ia berpapasan dengan orang yang dikhususkan mendapatkan keutamaan tersebut.
30. Sungguh diantara murid Tijany ada orang yang jika melihatnya, ia berkata, “Saksikanlah bahwa aku telah melihatmu,” orang yang dilihatpun menjawab, “Akupun bersaksi padamu bahwa engkau telah melihatku,” sebab orang yang melihatnya tadi bisa masuk surga tanpa hisab dan tanpa adzab.
31. Orang yang tidak menghormati para pengamal thariqah At-Tijaniyyah (murid Tijany) bahkan sampai menyakiti mereka, Allah kelak mengusirnya dari sisi kedekatan-Nya, dan akan mencabut apa yang telah Dia beri.
32. Murid At-Tijany tidak akan mengalami panasnya kematian.
33. Murid Tijany akan mendapatkan luthuf khusus dari Allah Swt setelah mereka mendapatkan luthuf umum bagi mereka dan kaum muslimin.
34. Di padang Mahsyar nanti murid Tijany akan berada di suatu tempat di bawah naungan Arasy, mereka akan berada di sana sendirian.
35. Kedua orang tua, suami/istri dan kedua mertua serta keluarga yang terpisah dari mereka; yang tidak termasuk cucu, semua mereka berada pada tempat yang tinggi dengan syarat yang diawal sudah disebutkan.
36. Mereka tidak terkena huru-hara hari Kiamat, tidak akan melihat kilatan petir dan gempa bumi yang dahsyat. Mereka aman berada di pintu surga, bahkan sampai pada taraf bahwa mereka dapat masuk surga dengan golongan yang pertama, yaitu bersama para sahabat. Tempat mereka (pengamal thariqahnya Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) adalah di sisi Nabi; pada tempat yang tertinggi, tepatnya di samping para sahabat Nabi.
37. Banyak dari pengamal thariqah Tijaniyyah setiap harinya mendapatkan keutamaan menziarahi Rasulullah Saw di Raudhah beliau yang agung dan juga menziarahi semua wali Allah dan orang-orang sholeh dari awal penciptaan hingga saat dimana dia membaca dzikiran tersebut. Yaitu dengan cara ia membaca sholawat Jauharatul Kamal sebanyak 12 kali dalam wazhifah atau bacaan lainnya dengan niatan berziarah.
38. Nabi Muhammad Saw, para khalifah yang empat (Abu Bakar, ‘Umar, ‘Utsman dan ‘Ali) dan juga Sayyidi Syaikh Ra selalu hadir setiap harinya pada pengamal thariqah Tijaniyyah, yaitu ketika mereka hadir saat pembacaan sholawat Jauharatul Kamal dalam pembacaan wazhifah.
39. Nabi Muhammad Saw mencintai murid Tijany dengan kecintaan khusus, selain kecintaan umum yang sudah mereka dan semuanya dapatkan.
40. Pengamal thariqah At-Tijaniyyah memiliki ciri-ciri yang dapat membedakan mereka dengan yang lainnya, yaitu, bahwa akan tertulis dikeningnya kata, “Muhammad Saw,” didalam hati yang menembus punggungnya tertulis, Muhammad bin ‘Abdillah. Di atas kepala mereka terdapat mahkota dari cahaya yang tertulis, “Ath-Thariqah At-Tijaniyyah Mansyauha Al Haqiqah Al Muhammadiyyah” (Thariqah Tijaniyyah yang asalnya adalah Hakikat Al Muhammadiyyah).
J. Tawassul Dengan Silsilah At-Tijaniyyah
Yang kiranya pantas kusebutkan dalam buku ini adalah sya’irku, yang kuberi judul An-Nafhah Al Arîhah fit-Tawassuli bi Ahli Silsilatî At-Tijaniyyah. Orang yang membacanya kala kondisinya sulit, insya Allah dengan keberkahan ahli silsilah ini kesulitannya itu segera berubah menjadi kelapangan. Cara membacanya diawali dengan bacaan sholawat Fatih sebanyak 3 kali dan ditutup pun dengan itu. Demikian sya’ir tersebut:
بِسْمِ اللَّهِ الْمَوْلَى الْفَرَجِ # وَالْحَمْدُ لَهُ طُولَ الْحُجَجِ
وَصَلَاةُ اللَّهِ عَلَى الْمُخْتَ #ارِ النُّوْرِ الْبَرَجِ
Dengan nama Allah, Tuanku pemberi kelapangan # segala puji bagi-Nya sepanjang tahun
Semoga sholawat Allah terlimpah pada sosok terpilih; # Muhammad; sang cahaya nan gugusan bintang
مَوْلَانَا نَفْسِي قَدْ ظَلَمْتُ # وَغَدَوْتُ فِي الْعِصْيَانِ الخرج
وَإِذَا نَظَرْتُ غَيًّا هَرَعْتُ # يَجْرِى عَدُوًّا نَحْوَ الْعِوَجِ
Tuan kami, jiwaku ini telah berbuat zhalim # aku pun terus saja berbuat kemaksiatan
Jika kulihat penyelewengan, # akupun bersigera lari padanya
وَإِذَا نَظَرْتُ رُشْدًا وَكَعْتُ # وَسَعْتُ لِلشَّرِّ وَلِلَّهْوِ
رَكَنْتُ الْجِسْمِ وَحَدِمْتُهُ # كَالْبَهِمِ فَصَارَتْ فِي حَرَجٍ
Jika kulihat petunjuk, akupun menentangnya # semena-mena berbuat keburukan dan hal yang melalaikan
Jiwakupun tunduk pada jasad seraya berkhidmah padanya # persis seperti hewan, sehingga jiwaku berada kesulitan
تَبِعْتُ مَا يُوْقِعُهَا فِيْهِ # سُلْطَانٌ هَوَاهَا ذُو الْمَرَجِ
أَغَرَّاهَا إِبْلِيسُ فَطَغَتْ # مُسْتَحْسَنَةً فِعْلَ الْهَمَجِ
Jiwaku mengikuti alur itu dan terjerumus # kekuasaan hawa yang menggembalakan
Iblis pun menyelewengkan jiwaku sehingga durjana # menganggap baik perbuatan biadab
نَبَذْتُ كُلَّ الْخَيْرَاتِ وَلَمْ # تَأَلَّفْ أَيْضًا غَيْرَ الْحَرَجِ
يَا نَفْسُ انْكَفِي عَنْ خَطَا # وَإِذَا تُمْتُ الطَّاعَاتِ لَجَى
Jiwakupun telah melempar segala perbuatan baik, meski demikian jiwaku belum merasa puas
Wahai jiwa, berhentilah engkau dari berbuat salah # dan jika engkau cium adanya perbuatan baik maka tekunilah
يَا نَفْسِي رَبُّكَ ذُوْ بَطْشٍ # فَأَخْشَى سَطْوَتَهُ وَانْتَهِجِي
يَا نَفْسِي يَكْفِي تَقْصِيرًا # وَكَفَى مَا فَاتَ مِنْ الْهَرَجِ
Wahai Jiwaku, Rabbmu memiliki balasan # aku takut akan balasan siksa-Nya, maka ikutilah jalur-Nya
Wahai jiwaku cukuplah engkau lalai # dan cukuplah fitnah yang pernah kau perbuat
أَفَلَمْ يَرْدَعُكَ عَنِ الْعِصْيَا # نِ سُقُوْطُكَ فِي دَرْجِ الْوَهِجِ
يَا نَفْسِي أَتِعِظِي بِالْمَوْتَى # وَاتَّهِجِي مَنْهَجَ خَيْرَ نَحِي
Tidak cukupkah pengalamanmu jatuh pada kehausan nafsu # mampu mencegahmu dari perbuatan maksiat
Wahai jiwaku, tidakkah engkau temasehati dengan kematian yang akan datang, oleh karena itu, berjalanlah pada jalan yang memberikan keselamatan yang baik
يَا نَفْسُ أَحِي وَابْتَهِلِي # اللَّهِ وَدَوْمِي فِي اللُّجَجِ
مُتَشَفِّعَةً مُتَوَسِّلَةَ # بِالْهَادِي الْقُرَشِيِّ الْبَهِيجِ
Wahai jiwa, berusahalah menampik (gangguan itu) dan mohonlah pada Allah dan terus memohon dengan berkeras hati
Memohon syafa’at dan bertawassul dengan (Nabi Muhammad Saw) yang indah; sang pemberi petunjuk dari kaum Quraisy
طَهَ ذِي الْجَاهِ أَبَى الزَّهْرَا # جَدَّ الْحُسَيْنِ أَبِي الْفَرَجِ
الْفَاتِحِ مُنْغَلِقَ الْأَبْوَا # بِ البِرِّ النَّافِي لِلْحَرَجِ
Thoha yang memiliki kedudukan di sisi Allah, ayahnya Fatimah Az-Zahra, # Kakeknya Al Husain; adalah bapaknya kelapangan
Pembuka ragam puntu tertutup, # yang baik lagi menafikan kesulitan
الْخَاتِمِ لِلرُّسُلِ الْفُضَلَا # ءِ مُرَقِّيْهِمْ أَعْلَى الدَّرَجِ
النَّاصِرِ دِيْنِ الْحَقِّ بِهِ # الْبَدْرِ الْهَادِي ذِي الْبَلَجِ
Sang penutup para Rasul yang unggul, # beliaulah yang membuat para Rasul lain menaiki derajat tinggi
Penolong agama Allah dengan kebenaran dari-Nya # sang purnama lagi memberi petunjuk dengan kegembiraan
عَيْنِ الْحَقِّ الْكَنْزِ السَّامِي # ذِي الْأَخْلَاقِ الْعُظْمَى الْبَلِجِ
نُوْرِ الأَكْوَانِ هُوَ الْآتِي # بِالدِّيْنِ السَّمْحِ الْمُنْبَلِجِ
Mata kebenaran, perbendaharaan yang luhur, pemilik akhlak agung nan berseri wajahnya
Cahaya alam semesta, sosok yang datang membawa agama yang toleran nan jelas
بَحْرَ الْعِرْفَانِ وَمَعْدَنِهِ # غَوْثَ الْمَلْهُوْفِ وَكُلِّ نَخَى
مُخْتَارَ اللَّهِ وَرَحْمَتُهُ # الشَّافِعُ فِي الْيَوْمِ الْحَرَجِ
Lautan ma’rifat nan logam mulia, penolong yang sedang dirundung duka dan semuanya akan selamat
Pilihan Allah dan simbol rahmat-Nya, sang pemberi syafa’at di hari sulit
ذِي الْخَوْضِ الْمَوْرُودِ الْأَسْمَى # وَالْعِزَّ الْأَثْمَى وَالْأَرَجِ
وَبِخَتْمِ الْقَوْمِ وَسَيِّدِهِمْ # سِبْطِ الْعَدْنَانِ الْبَهِجِ
Pemilik telaga yang terkenal# nan pemilik kemuliaan yang paling tinggi nan harum semerbak
Dan (aku bertawassul) dengan penutup wali dan penghulu mereka, # putra keturunan Adnan yang menggembirakan
أَعْنِي الْقُطْبَ الْمَكْتُوْمِ # لَاذَ الْخَائِفُ حَشْرًا مِنْ وَهِجِ
هُمْ عَيْثُ اللَّاحِي التِّجَانِي # أَحْمَدَ الْمُفَدِّى بِالْمَهِحِ
Yang kumaksud adalah sang wali Quthub yang tersembunyi nan brpijar kedudukannya # orang yang takut akan berlindung dibawah golongan beliau
Beliau adalah penolong, tempat berlindungnya pengamal Tijany; (syaikh) Ahmad yang rela mempertaruhkan dengan darah
تَاجَ الْأَقْطَبِ مُمِدُّهُمْ # شَيْخَ الْإِنْحَابِ إِلَيْهِ عَجِّ
كَهْفَ الْغُرَبَاءِ وَبَابَ رَسُ # ولِ اللهِ فَلُذْ حُبِّى وَلِجِ
Mahkotanya para wali Quthub serta yang menyalurkan madad pada mereka # Syaikh yang nantinya disoraki permintaan tolong
Naungannya orang yang terasingkan, pintunya Rasulullah, # maka berlindunglah dengan kecintaan, engkau (akan) masuk golongannya
شَمْسَ الْعِرْفَانِ وَمَصْدَرَهُ # مِنْهُ كُلَّ الْأَسْرَارِ تَجِي
يَنْبُوْعَ الْعِلْمِ وَمَعْدَنِهِ # مَنْ جَاءَ بِنَهْجِ كَالسُّرُجِ
Matahari dan sumbernya ma’rifat, # dari beliaulah segala asrar datang
Sumber dan pusatnya ilmu # sosok yang datang denga manhaj yang terang seperti pelita
أَوْرَادٌ رَتَّبَهَا الْهَادِي # لَا تُبْصِرْ فِيهَا مِنْ عِوَجِ
لَا يَسْتَنْقِصُهَا إِلَّا مَنْ # أَعَمَّاهُ اللَّهُ عَنِ الْبَلِجِ
Ragam wiridan yang disusun oleh Al Hadi (Rasululah)# engkau tidak akan lihat penyelengan di sana
Tidak ada orang yang mengurangi kadanya kecuali orang # yang Allah halangi ia dari kegembiraan
وَشُرُوطٌ أَوْضَحَ مِنْ شَمْسٍ # لَا تُنْكِرُ إِلَّا مَنْ سَجَّ
وَضَمَانَاتِ غَرَّاءٍ أَتَتْ # عَنْ خَيْرِ الرُّسُلِ الْمُنْبَهِجِ
Ragam persyaratan (thariqah beliau) paling jelas daripada sinar matahari # tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang yang (jiwanya) tertutup
Ragam jaminan yang mulia itu datang dari #paling baiknya utusan Allah yang menggembirakan
مِنْهَا مَوْتُ التَّلْمِيذُ عَلَى # دِيْنِ الْإِسْلَامِ الْمُنْبَلِجِ
لَا يَشْعُرُ أَصْلًا بِوَفَاةٍ # وَبِقَبْرٍ لَيْسَ بِمنْزَعِجِ
Diantaranya matinya sang murid # dengan membawa keislaman diri yang menyenangkan
Tidak merasakan kematian # dan di dalam kuburan tidak kaget
وَيُجَوِّزُ صِرَاطَ اللَّهِ عَلَى # أَمْلَاكِ اللَّهِ بِلَا مَرَجِ
وَشَفَاعَتُهُ لَا قَارِبَهُ # وَرَقَّيَّهِمْ أَعْلَى دَرَجٍ
Melintas jalan Allah diatas # punggung malaikat Allah tanpa ragu
Syafaat beliau Saw akan didapat, bukan sekedar kedekatan diri # bahkan akan meninggikan mereka hingga derajat yang tinggi
يُسْقَى مِنْ حَوْضِ مُحَمَّدِنَا # وَهُنَاكَ يَشُمُّ شَذَا الْأَرَجِ
فِي الْجَنَّةِ يَسْكُنُ أَعْلَاهَا # بِجِوَارِ الرُّسْلِ أَوْلَى الْبَلِجِ
Akan diberi minuman dari telaga Muhammad # di sanalah tercium semerbak wewangian
Bertempat di surga yang paling tinggi # disamping para Rasul yang lebih berhak mendapatkan kegembiraan
وَفَضَائِلَ عُظْمَى لَا تُحْصَى # لَآخِذِ وِرْدِ الْخَتْمِ يَجِي
فَعَلَيْكَ بِهِ يَا خِلُّ تَفُزُ # إِذْ مَا تَرْجُوْهُ مِنْهُ يَجِي
Dan masih banyak lagi ragam kemuliaan agung yang tak bisa dihitung # bagi pengamal wiridan Tijany, dia akan datang dengan keutamaan itu
Hendaknya engkau berpegang teguh padanya wahai kawan, niscaya engkau akan menang, # sebab akan yang kaharapkan akan datang (padamu)
يَا رَبِّ بِهِ وَحَلْيَفَتِهِ # ذِي التَّصَرُّفِ الْأَسْمَى الْبَهْجِ
حَامِلُ أَعْلَامِ طَرِيقَتِنَا # مَوْلَايَ عَلِيَّ ذِي الْحُجَجِ
Wahai Rab, Aku memohon dengan beliau Saw dan khalifahnya yang #bisa ber-tasharruf memberikan sukacita Pemegang panji thariqah kami # Tuanku Ali yang memiliki argumen yang jelas
مَنْ شَرَّفَ أَرْضِ تَمَاسِ # يْنَ وَحَمَاهَا حَقًّا مِنْ هَرَجِ
وَبِبَحْرِ الْعِلْمِ مُحَمَّدُ الـ # قُطْبِ الْعَرَبِي الْمُنْبَهِجِ
Sosok yang membuat Tamasin menjadi mulia dan menjaganya dari rongrongan
(dan Aku ber-tawassul pada-Mu) dengan lautan ilmu (sayyidi) Muhammad # sang wali Quthb Al ‘Arabi
الشَّرْقَاوِي السَّائِحِ مَنْ # يَنْمِي لِّلْفَارُوْقِ الْبَرَجِ
وَبِتِرْيَاقِ الْقَلْبِ اللَّاهِي # عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ مَدَى الْحُجَجِ
Asy-Syarqawi As-Sa ‘ihi, sosok #yang nasabnya berujung pada Al faruq
(akupun bertawassul) dengan bentuk penyangkalan kalbu
(ku) yang lalai ini dari mengingat Allah sepanjang waktu
الْأَقْرَانِي حِسْبَتُهُمْ # فَخْرَ الْعُلَمَاءِ بِلَا حَرَجٍ
وَبِقُدُوْمِنَا الْعُظْمَى سَنَدِي # الشَّنْقِطِي رَاقِي الدَّرَجِ
Yang keterkaitanku dengan mereka erat # tidak diragukan lagi, beliau adalah kebanggan ulama
Dan (aku bertawassul) dengan muqaddam agung kami; Sayyidi # Asy-Syingqithi, yang menggiring menaiki tingkatan rohani
وَبِشَيْخِي سَمَّى الخَتَمَ بِهِ # نَرْجُوْ الْإِنْقَاذَ مِنَ الْوَهَجِ
وَبِشَيْخِي ذِي النَّسَبِ الْعَالِي وَالْكَرَمِ النَّامِي وَ الْبَلَجِ
(Akupun bertawassul) dengan Syaikhku; pemiliki martabat khatm. # kamipun berharap pertolongan dari silaunya huru-hara (Kiamat)
(aku juga bertawassul) dengan syaikhku pemiliki nasab yang luhur # dan kemuliaan diri nan memberi kegembiraan
ذُخْرِى السَّامِي بَحْرَ الْإِحْسَانِ # نَسَبًا عَيْنَ الْبِرِّ الْبَلَجِ
أَحْمَدَ أُسْتَاذِي وَمَلَاذِي # الْمَانِحِ مَنْ لِنِدَاءٍ يَجِي
Simpanan perbendaharaanku, sang lautan kebaikan, # lagi memiliki nasab yang baik lagi menggembirakan (sayyidi) Ahmad yang merupakan ustadz dan tempat berlindungku # yang jika dipanggil akan datang
يَا رَبِّ بِهِمْ فَرِّجْ خَطَبِي # وَأَزِجَ غَمِّى وَأَزِلَّ وَهَجِي
وَاحْرُسْنَا رَبِّي وَأَغِثْنَا # بِالنَّصْرِ وَجَعْلٍ بِالْفَرَجِ
Wahai Rabb, (aku bertawassul) dengan kemuliaan mereka, agar Engkau lapangkan kesusahanku # sibak kesedihanku dan Engkau hilangkan kesilauanku (terhadap hawa nafsu) Jagalah kami wahai rabbku, tolonglah kami # dengan kemenangan dan solusi kelapangan jiwa
وَامْنَحْنَا مَا نَرْجُوْ دَوْمَا # يَا غَوْثَ الْخَائِفِ مِنْ وَهَجِ
وَاحْفَظْنَا مِنْ كُلِّ الْأَسْوَا # ءِ وَالْحِفْنَا بِعُلَا الدَّرَجِ
Senantiasa berilah kami apa yang kami harapkan # wahai penolong yang yang ketakutan dari hari yang panas (di Kiamat) nanti
Jagalah kami dari segala keburukan # berilah kami derajat yang tinggi
وَاغْفِرْ لِلنَّاظِمِ وَالتَّالِي # وَالْحَاضِرِ وَاحْمِ مِنَ الْهَرَجِ
بِجَمِيعِ الرُّسُلِ وَأَفْضَلِهِمْ # وَصَحَابَتِهِ أَهْلُ الْأَرَجِ
Ampuni yang mengarang sya’ir ini, yang membacanya, # dan juga yang hadir # jagalah kami dari kekacauan (hari Kiamat)
(aku memohon pada-Mu) dengan semua utusan Allah dan yang paling unggul diantara mereka (Nabi Muhammad Saw) dan juga dengan (kemuliaan) para sahabat nabi nan semerbak wangi
فَعَلَيْهِمْ صَلَّى مَوْلَانَا # وَالآلِ أَوْلَى الْخَلْقِ الْبَهِجِ
وَالقُطْبِ الْأَكْبَرِ قُدْوَتُنَا # الْخَتْمِ الْأَشْهَرِ ذِي الْبَلَجِ
Atas merekalah Tuanku (Allah) bersholawat dan juga bagi keluarga beliau; paling mulianya makhluk nan menyenangkan kalbu
Dan juga bagi sang wali Quthub terbesar; tauladan kami; pemilik maqam khatam yang terkenal lagi bersahaja wajahnya
مَا مُنِحَ الْقُرْبُ وَزِيْحَ الْكَرَ # بُ وَزَوَالِ الْخَطْبِ مَعَ الخرج
وَدَوَامَ مَقَالِ الطَّصْفَاوِي # بِسْمِ الْمَوْلَى مَوْلَى الْفَرَجِ
Tidaklah (dengan mereka) kecuali (kita) diberikan kedekatan pada Allah, tersingkirnya ujian # lanyapnya kesusahan dan kesulitan
Ucapan Ath-Thashfawi senantiasa diawali # dengan nama Tuhanku; pemberi kelapangan
أَبْيَات قَصِيْدِي عِدَّتُهَا # لَفْظُ (اللّٰه) اقْرَأْ تَبَجْهَجِ
Jumlah sya’irku sebanyak bilangan # lafazh Allah, maka bacalah engkau akan senang.
Pada bab ini, kami telah sebutkan ragam keutamaan murid Tijany yang senantiasa terikat dengan sang wali Quthub terbesar, Sayyidina wa Maulana Abul Abbas Ahmad bin Muhamad At-Tijany Ra, semoga kita dipersatukan dengan beliau Ra di dunia dan akhirat kelak.
Inilah apa yang ingin aku sampaikan dalam buku ini terkait dengan ragam perkara penting bagi setiap murid Tijany. Aku hanya berharap semoga kita senantiasa digolongkan sebagai orang yang terikat dengan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; semoga Allah masukkan kita ke dalam surga tanpa hisab; Allah memuliakan kita kelak bersama semua guru-guru kita, orang yang kita cinta, sahabat, kedua orang tua, suami/istri kita di sisi baginda Nabi Muhammad Saw pada derajat yang paling tinggi di surga.
Semoga pula dengan selesainya buku ini, buku ini bisa tersebar luar dimanapun dan memberikan manfaat bagi orang yang membacanya dari kalangan pecinta thariqah At-Tijaniyyah maupun pengamalnya.
Semoga Allah memberikan kita semua pahala yang berlimpah dan hanya Allahlah tempat sandaran kami dan sebaik-baiknya penolong. Segala puji bagi Allah dengan ungkapan pujian yang memadai atas ragam karunia-Nya dan sepadan dengan ragam anugerah tambahan lainnya.
Semoga Allah berkenan menyampaikan sholawat atas pusatnya rahmat Rububiyyah dan sang mutiara yang tak ternilai; Sayyidina Muhammad Saw; sang pembuka; sang penutup, dan (sholawatpun semoga terlimpah) pada keluarga dan para sahabat beliau.
Buku ini diselesaikan pada jam 5 dihari Kamis, 18 Ramadhan tahun 1328 H.
