
Elsubha.com – Beragam Ilmu Islam, Rujukannya Al Qur’an dan Al Hadits
Tidak diperdebatkan lagi oleh para ahli, bahwasanya Al Qur’an dan Al Hadits merupakan dua sumber agama -Islam- dan kepadanya pula kita merujuk (inilah qiyas yang benar).
Dari kaidah inilah, ilmu fikih yang berupa ibadah, mu’amalah, penggemblengan jiwa dan penyuciannya, ilmu akhlaq dan lain sebagainya berdiri dan berlandaskan. Periwayatan hadits juga harus sampai kepada Rasulullah Saw, begitu juga dengan ilmu tazkiyah (penyucian jiwa) yang bermuara pada Rasulullah Saw. Sedangkan Ilmu Logika, orang Islam mengakui, bahwa ilmu tersebut memang dibawa dari Yunani beberapa abad setelah masa sahabat dan tabi’in dan memang ilmu ini dinisbatkan kepada Yunani, sebagaimana penisbatan ilmu kedokteran kepada empunya. Begitu juga dengan penisbatan buku, “Kalilah wa Dimnah pada Baydeba India. Yakinlah, seandainya saja bangsa Arab mengambil adab menuju Allah Swt dari India atau Persia, maka kaum muslimin pun kelak akan menisbatkan kepada empunya.
Tidak menutup kemungkinan, ada segelintir kelompok yang akhir-akhir ini mengaku sufi dan banyak memasukkan beragam istilah aneh yang sebelumnya tidak diketahui oleh para sufi terdahulu. Bagi orang yang mengetahui seluk beluk tasawuf Islami, beragam tradisi sufi tersebut sejatinya tidak merubah akidah mereka dan akidah kaum Salafush-shalih sebelum mereka, beragam perkara ini pun tidak bisa melencengkan mereka dari jalan Allah Swt; baik sedikit maupun banyak.
Penyusup yang mengaku-ngaku dirinya sebagai sufi padahal ia berbohong-, maka kami tidak menganggap mereka sebagai sufi. Mereka sejatinya adalah musuh-musuh Islam, pengakuan mereka sebagai seorang sufi sebenarnya tidak ada artinya.
Hal yang membedakan antara sufi dan orang yang mengaku-ngaku sufi terletak pada dasar-dasar kepercayaan dan furu’amaliyah yang ada pada diri mereka.
Siapa saja yang beriman sesuai dengan akidah Salafush-Shalih dari tiga abad (Abad ke-1 sampai ke-3), -yang telah disepakati kebenarannya dan tidak ada pertentangan di kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah, juga tidak keluar dari beragam perkara furu’iyyah, berupa ibadah dan mu’amalah yang telah disepakati para ulama dan tidak melenceng perkataan mereka -Ra-; ia juga berjalan sesuai adab ahli thariq (Adab orang yang melakukan perjalanan menuju Allah Swt), berupa berpegang teguh pada ragam perkara agung, yang bertujuan untuk selalu mendekat kepada Allah Swt dengan apa yang telah Rasulullah Saw paparkan melalui Sunnah-nya.
Kaum sufi merupakan orang yang paling tahu akan Sunnah beliau (Beragam Sunnah Nabi yang berupa perkataan, perbuatan dan pengakuan), mereka inilah pembawa Sunnah beliau; baik yang berupa teori maupun praktek, bahkan mereka inilah yang selalu menerapkan ragam Sunnah tersebut. Jika demikian kondisinya, maka mereka itulah sufi sejati.
Sedangkan jika akidah yang dipegang tidak seperti yang tertera di atas; maka kita bisa sebut mereka dengan “Budha, Hindu, Yahudi, Nasrani atau bahkan Atheis.” Kita bisa hukumi mereka sesuai dengan porsi yang pantas untuk mereka, yaitu yang sesuai dengan keyakinan dan hukum syari’at yang berlaku bagi kondisi mereka itu.
Agama Islam tidak terpengaruh dengan adanya pengakuan orang-orang munafik terhadap Islam dengan segala intrik yang mereka miliki, begitu juga dengan para sufi, pengakuan musuh-musuh, bahkan musuh Islam tidak memiliki pengaruh apa-apa. Perkara ini sudah sangat jelas bagi orang yang beragama dan memiliki kesadaran.
