You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Akidah Tokoh Sufi

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Akidah Tokoh Sufi

Kami akan menyebutkan akidah sufi yang dinukil dari Risalah Al Qusyairiyah karya seorang Imam yang memadukan antara syari’at dan hakikat, yaitu Abu Al Qasim Abdul Karim bin Hawazin Al Qusyairi Ra.

Dia berkata dalam risalah-nya, Inilah teks Arab terkait paparan akidah beliau dalam kitabnya:

قال شيوخ هذه الطريقة، على ما يدل عليه متفرقات كلامهم، ومجموعاتهم، ومصنفاتهم في التوحيد : إن الحق سبحانه وتعالى موجود قديم واحد حکیم قادر علیم قاهر رحیم فريد، سميع مجيد، رفيع، متكلم، بصير متكبر، قدير، حي أحد، باق، صمد، وأنه عالم يعلم، قادر بقدرة؛ مريد بإرادة سميع بسمع، بصير يبصر؛ متكلم بكلام؛ حي بحياة، باقي ببقاء.

وله يدان هما صفتان يخلق بهما ما يشاء، سبحانه، على التخصيص، وله الوجه. وصفات ذاته مختصة بذاته، لا يقال هي هو ولا هي غيار له، بل هي صفات أزلية، ونعوت سرمدية، وأنه أحدى الذات، ليس يشبه شيئاً من المصنوعات، ولا يشبهه شيء من المخلوفات، ليس بجسم، ولا جوهر ولا عرض، ولا صفاته أعراضا، ولا يتصور في الأوهام، ولا يتقدر في العقول، ولا له جهة ولا مكان ولا يجري عليه وقت وزمان ولا يجوز في وصفه زيادة ولا نقصان، ولا يخصه هيئة وقد، ولا يقطعه نهاية وحد، ولا يحله حادث، ولا يحمله على الفعل باعث، ولا يجوز عليه لون ولا كون، ولا ينصره مدد ولا عون؛ ولا يخرج عن قدرته مقدور؛ ولا ينفك عن حكمه مفطور؛ ولا يعزب عن علمه معلوم؛ ولا هو على فعله كيف يصنع وما يصنع ملوم؛ لا يقال له: أي؛ ولا حيث؛ ولا كيف؛ ولا يستفتح له وجود فيقال : متى كان ولا ينتهي له بقاء: فيقال إستوفى الأجل والزمان، ولا يقال: لم فعل ما فعل؛ إذ لا علة لأفعاله؛ ولا يقال ما هو؛ إذ لا جنس له فيتميز بأمارة عن أشكاله. يُرى لا عن مقابلة ، و يرى غيره لا عن مماقلة ويصنع لا عن مباشرة ومزاولة له الأسماء الحسنى، والصفات العلا، يفعل ما يريد، ويذل الحكمته العبيد، لا يجري في سلطانه إلا ما يشاء، ولا يحصل في ملكه غير ما سبق به القضاء، ما علم أنه يكون من الحادثات أراد أن يكون. وما علم أنه لا يكون مما جاز أن يكون أراد أن لا يكون. خالق إكساب العباد: خيرها وشرها. ومبدع ما في العالم من الأعيان والآثار: قُلها وكثرها. ومرسل الرسل إلى الأمم من غير وجوب عليه.

ومتعبد الأنام على لسان الأنبياء عليهم الصلاة والسلام؛ بما لا سبيل لأحد باللوم والاعتراض عليه، ومؤيد نبينا محمد صلى الله عليه وسلم بالمعجزات الظاهرة، والآيات الباهرة، بما أزاح به العذر، وأوضح به اليقين والنكر، وحافظ بيضة الإسلام بعد وفاته، صلى الله عليه وسلم، بخلفائه الراشدين، ثم حارس الحق وناصره بما يوضحه من حجج الدين على ألسنة أوليائه، عصم الأمة الحنفية عن الاجتماع على الضلالة، وحسم مادة الباطل بما نصب من الدلالة، وأنجز ما وعد من نصرة الدين بقوله : ” ليظهره على الدين كله ولو كره المشركون . “

“Ini merupakan beberapa pasal yang menghimpun penjelasan akidah mereka (sufi) dalam masalah tauhid, kami akan menyebutkannya dengan tertib. Beberapa Syaikh thariqah ini berkata tentang masalah yang menjadi perselisihan pendapat dan juga masalah yang menjadi kesepakatan mereka, begitu juga beragam karya mereka dalam bidang tauhid: ‘Sesungguhnya Al Haq Swt itu Wujud, Kekal, Tunggal, Bijaksana, Kuasa, Mengetahui, Memaksa, Menyayangi, Menghendaki, Mendengar, Mulia, Tinggi, Bisa berbicara, Melihat, Mempunyai kebesaran, Maha Kuasa, Hidup dengan kehidupan dan Kekal dengan kekekalan.

Dia memiliki dua tangan, yang dengan kedua tangan itu Dia menciptakan apa saja yang Dia kehendaki secara khusus. Dia juga memiliki wajah yang indah. Beberapa sifat dari Dzat-Nya itu hanya tertentu kepada Dzat-Nya, sehingga tidak bisa dikatakan bahwa sifat-sifat-Nya itu adalah Dia dan sifat-sifat itu bukanlah bagian pengganti untuk-Nya.

Jadi, sifat-sifat itu bukan pengganti dzat ditinjau dari sisi wujud, karena tidak ada wujud bagi sifat-sifat itu selain wujudnya dzat. Sifat-sifat itu bukanlah materi dzat ditinjau dari sisi akal, karena akal bisa mengetahui dzat dan ia juga bisa mengetahui bahwa Dia memiliki beberapa sifat yang sempurna, disertai kepastian bahwa sifat-sifat itu tidak memiliki wujud yang terpisah dari dzat. Jika tidak demikian, maka yang gadim memiliki jumlah yang banyak dan ini mustahil.

Tidak ada wujud selain wujud dzat yang butuh kepada dzat, karena ini adalah sifat yang mungkin dan kesempumaan Al Haq itu qadim lagi wajib. Mahasuci Rabb yang Maha Mulia dari apa yang mereka sifati.

Bahkan, semua itu adalah sifat-sifat-Nya yang azali lagi kekal abadi, Dialah satu-satunya Dzat, tidak ada satu karya pun yang menyerupai-Nya dan tidak ada satu ciptaan pun yang menyamai-Nya. Dia tidak berupa jism, materi dan dzat. Sifat-sifat-Nya pun tidak berbentuk dzat. Dia tidak bisa digambarkan dengan angan-angan dan tidak bisa diperkirakan dengan akal. Dia tidak memiliki arah, tempat, serta tidak ada waktu dan masa yang melewati-Nya.

Di dalam sifat-Nya tidak boleh ada kelebihan dan kekurangan. Tidak ada keadaan tertentu bagi-Nya. Tidak ada tujuan yang bisa menghentikan-Nya. Tidak ada hal baru yang bisa menempati-Nya. Tidak ada seorangpun yang mendorong-Nya untuk melakukan sesuatu. Tidak boleh ada warna dan rupa pada-Nya. Tidak ada pembantu dan penolong bagi-Nya. Tidak ada ketentuan yang keluar dari takdir-Nya. Tidak ada makhluk yang bebas dari hukum-Nya. Tidak ada pengetahuan yang jauh dari ilmu-Nya. Dia tidak membutuhkan cara dalam melakukan apa yang Dia lakukan.

Tidak ada pertanyaan untuk-Nya ‘dimana’, ‘sekiranya’ dan “bagaimana’. Tidak ada wujud yang dijadikan permulaan untuk-Nya, sehingga dikatakan bahwa Dia mengambil batas waktu dan masa. Tidak ada pertanyaan, ‘Kenapa Dia melakukan apa yang telah Dia lakukan?’ karena tidak ada cacat pada perbuatan-Nya Tidak ada pertanyaan, ‘Dia itu apa?’ karena tidak ada jenis bagi Nya, sehingga Dia bisa dibedakan dengan mengetahui bentuk fisiknya.

Dia bisa melihat tanpa berhadapan. Dia bisa melihat selain Nya tanpa berbaur. Dia melakukan tanpa menyentuh dan memindahkan. Dialah pemilik nama-nama yang bagus dan sifat-sifat yang mulia. Dia melakukan apa yang Dia inginkan. Dia merendahkan hamba-hamba-Nya karena hikmah-Nya. Tidak ada yang berlaku dalam kekuasaan-Nya, kecuali apa yang Dia kehendaki. Tidak ada yang terlaksana dalam kekuasaan-Nya, kecuali apa yang telah ada ketentuannya. Apa yang Dia ketahui bahwa perkara baru itu akan ada, berarti Dia menginginkan itu ada dan apa yang Dia ketahui bahwa itu tidak akan ada dari sesuatu yang bisa saja ada, berarti Dia menghendaki itu tidak ada.

Dialah Pencipta potensi semua hamba, baik dan buruknya. Dialah Pengatur apa yang ada di alam semesta ini berupa benda dan pengaruh, baik sedikit atau banyak. Dialah Pengutus semua utusan (rasul) kepada umat tanpa ada kewajiban atas-Nya. Dialah yang menjadikan manusia sebagai hamba-Nya melalui lisan para nabi As dengan apa yang tidak ada jalan bagi seorang pun untuk mencela dan menentang-Nya.

Dialah yang menguatkan Nabi kita Muhammad Saw dengan beberapa mukjizat yang nyata dan ayat-ayat yang indah, dengannya beliau bisa menghilangkan semua alasan dan dengannya beliau bisa menampakkan keyakinan dan kecerdasan.

Dialah Penjaga kemurnian Islam setelah Nabi Saw wafat melalui para khalifah beliau yang mendapatkan petunjuk.

Kemudian Dialah Penjaga kebenaran dan Penolongnya dengan apa yang Dia jelaskan dari beberapa hujjah agama melalui lisan para wali-Nya. Dialah yang melindungi umat yang hanif ini dari kesesatan. Dialah yang menghilangkan materi kebatilan dengan menunjukkan beberapa dalil. Dialah yang meluluskan apa yang telah Dia janjikan berupa pertolongan terhadap agama, dengan firman-nya,

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ
huwallaziii arsala rosuulahuu bil-hudaa wa diinil-haqqi liyuzh-hirohuu ‘alad-diini kullihii walau karihal-musyrikuun

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 33)

Demikianlah pasal yang menunjukkan beberapa akidah mendasar para Syaikh thariqah yang disebutkan secara ringkas.

Pada kesempatan ini kami juga akan menyebutkan akidah Al Arif Al Kamil Al Imam Sayyid Muhyiddin bin ‘Arabi Ra yang dinukil dari kitabnya yang berjudul “Al Fûtûhât Al Makkiyah”. Melalui kitab ini, jelaslah bahwa beliau terbebas dari setiap penyimpangan terhadap syari’at yang suci ini. Sedangkan pendapat yang dinisbatkan kepadanya berupa pendapat yang menyelisihi keyakinannya yang telah diterangkan dan dijelaskan, maka itu adalah kedustaan dan kezhaliman atas nama dirinya. Pihak lain telah menyisipkan pendapat atas nama dirinya, sebagaimana yang dilakukan terhadap selainnya dan berdusta atas nama dirinya, sebagaimana dia berdusta atas nama orang yang lebih baik darinya. Jadi, tidak boleh mengambil kecuali dengan apa yang dia ikuti secara syari’at.

Ibnu Al Arabi Ra berkata pada permulaan jilid pertama dari Al Futûhât.

Demikian ini teks Arab yang tertera dalam kitab beliau:

“فيا إخوتى المؤمنين، ختم الله لنا ولكم بالحسنى، لما سمعت قوله تعالى عن نبيه هود عليه السلام حين قال لقومه المكذبين به وبرسالته : إني أشهد الله واشهدوا أني بريء مما تشركون) فأشهد عليه السلام قومه مع كونهم مكذبين به على نفسه بالبراءة من الشرك بالله و الإقرار بأحديته، لما علم عليه السلام أن الله سبحانه سيوقف عباده بين يديه ويسألهم عما هو عالم به الإقامة الحجة لهم أو عليهم حتى يؤدى كل شهادته. وقد ورد أن المؤذن يشهد له مدى صوته من رطب ويابس وكل من سمعه ولهذا يدبر الشيطان عند الأذان وله حصاص، وفي رواية وله ضراط، وذلك حتى لا يشهد نداء المؤذن بالشهادة فيلزمه أن يشهد له، فيكون بتلك الشهادة له من جملة من يسعى في سعادة المشهود له، وهو عدو محض ليس له إلينا خير البتة لعنه الله، وإذا كان العدو لا بد أن يشهد لك بما أشهدته به على نفسك فأحرى أن يشهد لك وليك وحبيبك ومن هو على دينك وملتك، وأحرى أن تشهده أنت في الدار الدنيا على نفسك بالوحدانية و الإيمان.
فيا إخوتي ويا أحبائي رضي الله عنكم، أشهدكم عبد ضعيف مسكين فقير إلى الله تعالى في كل لحظة وطرفة، وهو مؤلف هذا الكتاب ومنشئه، أشهدكم على نفسه بعد أن أشهد الله تعالى وملائكته ومن حضره من المؤمنين وسمعه أنه يشهد قولا وعقدا: أن الله تعالى إله واحد لا ثاني له في ألوهيته متره عن الصاحبة والولد مالك لا شريك له، ملك لا وزير له، صانع لا مدير معه، موجود بذاته من غير افتقار إلى موجد يوجده، بل كل موجود سواه مفتقر إليه تعالى في وجوده فالعالم كله موجود به، وهو وحده متصف بالوجود لنفسه لا افتتاح لوجوده، ولا نهاية لبقائه، بل وجود مطلق غير مقيد، قائم بنفسه، ليس بجوهر متحيز فيُقدّر له المكان، ولا بعرض فيستحيل عليه البقاء، ولا يجسم فتكون له الجهة والتلقاء، مقدس عن الجهات والأقطار، مرئي بالقلوب والأبصار، إذا شاء استوى على عرشه كما قاله وعلى المعنى الذي أراده، كما أن العرش وما سواه به استوى، وله الآخرة والأولى، ليس له مثل معقول، ولا دلت عليه العقول، لا يحده زمان ولا يقله مكان، بل كان ولا مكان وهو على ما عليه كان، خلق المتمكن والمكان، وأنشأ الزمان، وقال: أنا الواحد الحي، لا يؤوده حفظ المخلوقات، ولا ترجع إليه صفة لم يكن عليها من صنعة المصنوعات، تعالى أن تحله الحوادث أو يحلها، أو تكون بعده أو يكون قبلها، بل يقال: كان ولا شيء معه، فإن القبل والبعد من صيغ الزمان الذي أبدعه، فهو القيوم الذي لا ينام، والقهار الذي لا يرام، ليس كمثله شيء، خلق العرش وجعله حد الاستواء، وأنشأ الكرسي وأوسعه الأرض والسماوات العلى اخترع اللوح والقلم الأعلى، وأجراه كاتبا بعلمه في خلقه إلى يوم الفصل والقضاء، أبدع العالم كله على غير مثال سبق، وخلق الخلق وأخلق الذي خلق، أنزل الأرواح في الأشباح أمناء، وجعل هذه الأشباح المترلة إليها الأرواح في الأرض خلفاء، وسخر لنا ما في السموات وما في الأرض جميعا منه، فلا تتحرك ذرة إلا إليه وعنه خلق الكل من غير حاجة إليه، ولا موجب أوجب ذلك عليه، لكن علمه سبق بأن يخلق ما خلق، فهو الأول والآخر والظاهر والباطن وهو على كل شيء قدير أحاط بكل شيء علما، وأحصى كل شيء عددا، يعلم السر وأخفى، يعلم خائنة الأعين وما تخفي الصدور، كيف لا يعلم شيئا هو خلقه،(ألا يعلم من خلق وهو اللطيف الخبير)، علم الأشياء منها قبل وجودها، ثم أوجدها على حد ما علمها، فلم يزل عالما بالأشياء، لم يتجدد له علم عند تجدد الإنشاء، بعلمه أتقن الأشياء وأحكمها، وبه حكم
عليها من شاء وحكمها، علم الكليات على الإطلاق، كما علم الجزئيات بإجماع من أهل النظر الصحيح واتفاق، فهو عالم الغيب والشهادة، فتعالى الله عما يشركون، فعّال لما يريد، فهو المريد الكائنات في عالم الأرض والسموات، لم تتعلق قدرته بشيء حتى أراده، كما أنه لم يرده حتى علمه، إذ يستحيل في العقل أن يريد ما لا يعلم أو يفعل المختار المتمكن من ترك ذلك الفعل ما لا يريد، كما يستحيل أن توجد نسب هذه الحقائق في غير حى، كما يستحيل أن تقوم الصفات بغیر ذات موصوفة بها، فما في الوجود طاعة ولا عصيان، ولا ربح ولا خسران ولا عبد ولا حر ، ولا برد ولا حر، ولا حياة ولا موت، ولا حصول ولا فوت، ولا نهار ولا ليل، ولا اعتدال ولا ميل، ولا بر ولا بحر، ولا شفع ولا وتر، ولا جوهر ولا عرض، ولا صحة ولا مرض، ولا فرحولا ترح، ولا روح ولا شبح، ولا ظلام ولا ضياء، ولا أرض ولا سماء، ولا تركيب ولا تحليل ولا كثير ولا قليل، ولا غداة ولا أصيل، ولا بياض ولا سواد، ولا رقاد ولا سهاد، ولا ظاهر ولا باطن، ولا متحرك ولا ساكن، ولا يابس ولا رطب ولا قشر ولا لب، ولا شيء من هذه النسب المتضادات منها والمختلفات والمتماثلات إلا وهو مراد للحق تعالى، وكيف لا يكون مرادا له وهو أوجده؟، فكيف يوجد المختار ما لا يريد؟، لا راد لأمره ولا معقب لحكمه، يؤتي الملك من يشاء ويترع الملك ممن يشاء ويعزّ من يشاء ويذل من يشاء، ويضل من يشاء ويهدي من يشاء، ما شاء كان وما لم يشأ أن يكون لم يكن لو اجتمع الخلائق كلهم على أن يريدوا شيئا لم يرد الله تعالى أن يريدوه ما أرادوه، أو يفعلوا شيئا لم يرد الله تعالى إيجاده وأرادوه عندما أراد منهم أن يريدوه ما فعلوه ولا استطاعوا على ذلك ولا أقدرهم عليه، فالكفر والإيمان والطاعة والعصيان من مشيئته وحكمه وإرادته، ولم يزل سبحانه موصوفا بهذه الإرادة أزلاً والعالم معدوم غير موجود، وإن كان ثابتا في العلم في عينه، ثم أوجد العالم من غير تفكر ولا تدبر عن جهل أو عدم علم فيعطيه التفكر والتدبر علم ما جهل، جل وعلا عن ذلك، بل أوجده عن العلم السابق وتعيين الإرادة المترهة الأزلية القاضية على العالم بما أوجدته عليه من زمان ومكان وأكوان وألوان فلا مريد في الوجود على الحقيقة سواه، إذ هو القائل سبحانه : (وما تشاؤون إلا أن يشاء الله)، وإنه سبحانه كما علم فأحكم وأراد فخصص وقدّر فأوجد؛ كذلك سمع ورأى ما تحرك أو سكن أو نطق في الورى من العالم الأسفل والأعلى، لا يحجب سمعه البعد فهو القريب، ولا يحجب بصره القرب فهو البعيد، يسمع كلام النفس في النفس، وصوت المماسة الخفية عند اللمس، ويرى السواد في الظلماء والماء في الماء، لا يحجبه الامتزاج ولا الظلمات ولا النور، وهو السميع البصير، تكلم سبحانه لا عن صمت متقدم ولا سكوت متوهم – بكلام قديم أزلي كسائر صفاته من علمه وإرادته وقدرته، – كلم به موسى عليه السلام، سماه التتريل والزبور والتوراة والإنجيل، من غير حروف ولا أصوات، ولا نغم ولا لغات، بل هو خالق الأصوات والحروف واللغات، فكلامه سبحانه من غير لهاة ولا لسان، كما أن سمعه من غير أصمحة ولا آذان، كما أن بصره من غير حدقة ولا أجفان، كما أن إرادته في غير قلب ولا جنان، كما أن علمه من غير اضطرار ولا نظر في برهان، كما أن حياته من غير بخار تجويف قلب حدث عن امتزاج الأركان، كما أن ذاته لا تقبل الزيادة والنقصان، فسبحانه سبحانه من بعيد دان، عظيم السلطان، عميم الإحسان، جسيم الامتنان، كل ما سواه فهو عن جوده فائض، وفضله وعدله الباسط له والقابض، أكمل صنع العالم وأبدعه حين أوجده واخترعه لا شريك له في ملكه، ولا مدير معه في ملكه، إن أنعم فنعم فذلك فضله، وإن أبلى فعذب فذلك عدله، لم يتصرف في ملك غيره فينسب إلى الجور والحيف ولا يتوجه عليه لسواه حكم فيتصف بالجزع لذلك والخوف كل ما سواه تحت سلطان قهره ومتصرف عن إرادته وأمره، فهو الملهم نفوس المكلفين التقوى والفجور، وهو المتجاوز عن سيئات من شاء والأخذ بها من شاء هنا وفي يوم النشور ، لا يحكم عدله في فضله، ولا فضله في عدله، أخرج العالم قبضتين وأوجد لهم مترلتين، فقال : هؤلاء للجنة ولا أبالي وهؤلاء للنار ولا أبالي، ولم يعترض عليه معترض هناك إذ لا موجود كان ثم سواه، فالكل تحت تصريف أسمائه، فقبضة تحت أسماء بلائه، وقبضة تحت أسماء آلائه، ولو أراد سبحانه أن يكون العالم كله سعيداً لكان، أو شقياً لما كان من ذلك في شأن، لكنه سبحانه لم يرد؛ فكان كما أراد، فمنهم الشقي والسعيد، هنا وفي يوم المعاد، فلا سبيل إلى تبديل ما حكم عليه القديم، وقد قال تعالى في الصلاة : هي خمس وهي خمسون (ما يبدل القول لدي وما أنا بظلام للعبيد)، لتصرفي في ملكي وإنفاذ مشيئتي في ملكي، وذلك الحقيقة عميت عنها الأبصار والبصائر، ولم تعثر عليها الأفكار ولا الضمائر، إلا يوهب إلهي وجود رحماني لمن اعتنى الله به من عباده، وسبق له ذلك بحضرة إشهاده، ، أعلم أن الألوهة أعطت هذا التقسيم، وأنه من رقائق القديم، فسبحان من لا فاعل سواء فعلم حين ولا موجود لنفسه إلا إياه، (والله خلقكم وما تعملون)، (ولا يُسأل عما يفعل وهم يسألون)، (فلله الحجة البالغة، فلو شاء لهداكم أجمعين). الشهادة الثانية : وكما أشهدت الله وملائكته وجميع خلقه وإياكم على نفسي بتوحيده، فكذلك أشهده سبحانه وملائكته وجميع خلقه وإياكم على نفسي بالإيمان بمن اصطفاه واختاره واجتباه من وجوده؛ ذلك سيدنا محمد صلى الله عليه وسلم، الذي أرسله إلى جميع الناس كافة بشيرا ونذيرا وداعيا إلى الله بإذنه وسراجا منيرا، فبلغ صلى الله عليه وسلم ما أنزل من ربه إليه وأدى أمانته، ونصح أمته، ووقف في حجة وداعه على كل من حضر من أتباعه، فخطب وذكر، وخوف وحذر، وبشر وأنذر، ووعد وأوعد، وأمطر وأرعد، وما خص بذلك التذكير أحدا من أحد، عن إذن الواحد الصمد، ثم قال : ألا هل بلغت؟ فقالوا : بلغت يا رسول الله، فقال صلى الله عليه وسلم : اللهم اشهد. وإني مؤمن بكل ما جاء به صلّى الله عليه وسلم مما علمت وما لم أعلم، فمما جاء به فقرر أن الموت عن أجل مسمّى عند الله إذا جاء لا يؤخر، فأنا مؤمن بهذا إيمانا لا ريب فيه ولا شك، كما آمنت وأقررت أن سؤال فتاني القبر حق وعذاب القبر حق، وبعث الأجساد من القبور حق والعرض على الله تعالى حق والحوض حق، والميزان حق، وتطاير الصحف حق، والصراط حق، والجنة حق والنار حق، وفريقا في الجنة وفريقا في النار حق، وكرب ذلك اليوم حق، على طائفة وطائفة أخرى لا يحزنهم الفزع الأكبر، وشفاعة الملائكة والنبيين والمؤمنين وإخراج أرحم الراحمين بعد الشفاعة من النار من شاء حق، وجماعة من أهل الكبائر المؤمنين يدخلون جهنم ثم يخرجون منها بالشفاعة والامتنان حق، والتأبيد للمؤمنين والموحدين في النعيم المقيم في الجنان حق والتأبيد لأهل النار في النار حق، وكل ما جاءت به الكتب والرسل من عند الله علم أو جهل حق.
فهذه شهادتي على نفسي أمانة عند كل من وصلت إليه أن يؤديها إذا سئلها حيثما كان نفعنا الله وإياكم بهذا الإيمان، وثبتنا عليه عند الانتقال من هذه الدار إلى الدار الحيوان، وأحلنا منها دار الكرامة والرضوان … “

“Wahai saudaraku yang beriman, semoga Allah menutup hidup kami dan kalian dengan husnul khatimah, karena aku mendengar firman Allah Swt tentang nabi-Nya Hud As ketika dia berkata kepada kaum yang mendustakannya serta mendustakan kerasulannya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنْ نَّقُوْلُ اِلَّا اعْتَـرٰٮكَ بَعْضُ اٰلِهَتِنَا بِسُوْٓءٍ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اُشْهِدُ اللّٰهَ وَا شْهَدُوْۤا اَنِّيْ بَرِيْٓءٌ مِّمَّا تُشْرِكُوْنَ 
in naquulu illa’tarooka ba’dhu aalihatinaa bisuuu, qoola inniii usy-hidulloha wasy-haduuu annii bariii-um mimmaa tusyrikuun

“kami hanya mengatakan bahwa sebagian sesembahan kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu.” Dia (Hud) menjawab, “Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah bahwa aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan,”
(QS. Hud 11: Ayat 54)

Maka dia bersaksi kepada kaumnya -walaupun saat itu mereka mendustakannya- bahwa dirinya berlepas diri dari menyekutukan Allah Swt dan mengakui ke-Esaan-Nya, karena Hud As mengetahui bahwa Allah Swt akan menghadapkan para hamba di hadapan-Nya dan akan meminta pertanggungjawaban dari mereka tentang apa yang sebenarnya dia ketahui, hal ini dilakukan guna mendirikan hujjah yang bermanfaat bagi mereka atau juga yang berdampak negatif terhadap mereka, hingga setiap saksi memberikan kesaksiannya.

Diriwayatkan bahwa seorang muadzin akan disaksikan oleh yang dekat dan yang jauh, sesuai rentang jauhnya suara itu terdengar. Dia juga akan disaksikan oleh setiap orang yang mendengarnya. Karena itu, syeithan lari terbirit-birit sambil mengeluarkan kentut ketika adzan dikumandangkan. Hal itu dilakukan agar syeithan tidak mendengar panggilan muadzin sehingga dia akan dimintai kesaksian untuknya. Karena dengan kesaksian itu, dia akan menjadi bagian dari orang-orang yang membantu memberikan kebahagiaan bagi orang yang disaksikan, sementara dia adalah musuh yang murni, dia tidak memiliki kebaikan yang bisa diberikan kepada kita sedikit pun semoga Allah Swt melaknatnya-.

Apabila seorang musuh saja wajib memberikan kesaksian kepadamu lantaran apa yang telah kamu persaksikan kepadanya atas dirimu sendiri, maka alangkah pantasnya engkau diberi kesaksian oleh walimu, kekasihmu dan orang yang seagama denganmu. Alangkah pantasnya engkau bersaksi kepadanya di dunia ini atas dirimu sendiri dengan wahdaniyah (mengesakan Allah Swt) dan iman.

Karena itu, wahai saudaraku dan kekasihku -semoga Allah Swt meridhai kalian-, aku bersaksi kepada kalian bahwa hamba yang dha ‘if yang selalu butuh kepada Allah Swt dalam setiap kejapan mata dan dia adalah pengarang kitab ini. Aku bersaksi kepada kalian atas dirinya setelah aku bersaksi kepada Allah Swt, para malaikat-Nya, serta orang yang menghadiri kesaksian tersebut dari kalangan orang-orang yang beriman dan mendengarnya, bahwa dia mempersaksikan ucapan dan keyakinan bahwa Allah Swt adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada yang kedua bagi-Nya dalam sifat ketuhanan-Nya, Dia disucikan dari seorang sahabat dan anak, Dialah Yang Maha Menguasai, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dialah Maha Raja, tidak ada menteri bagi-Nya. Dialah Yang Menciptakan, tidak ada arsitek bersarna-Nya, Dia ada dengan Dzat-Nya tanpa membutuhkan orang yang mewujudkan-Nya.

Bahkan, setiap yang wujud selain-Nya butuh kepada-Nya dalam perwujudannya, Dialah Yang Maha Mengetahui, semuanyawujud karena-Nya, Dialah yang memiliki sifat wujud dengan sendiri-Nya, tidak ada permulaan bagi wujud-Nya dan tidak ada akhir bagi kekekalan-Nya. Bahkan, wujud-Nya itu mutlak tanpa batasan, Dialah yang berdiri sendiri, Dia tidak memiliki partikel-pertikel yang bisa dibedakan dengan yang lain-Nya sehingga sebuah tempat bisa diperkirakan untuk-Nya, Dia tidak memiliki Dzat yang bisa dipandang sehingga menjadikan-Nya mustahil memiliki sifat kekal, Dia juga tidak memiliki jism sehingga Dia memiliki arah dan tempat pertemuan, Dia disucikan dari setiap arah dan tempat, Dia bisa dilihat dengan hati dan mata. Apabila Dia berkehendak, Dia bersemayam di atas ‘Arasy-Nya sebagaimana yang Dia firmankan sesuai dengan makna yang Dia kehendaki, sebagaimana ‘Arasy dan yang selainnya bersemayam dengan-Nya.

Dialah yang terakhir dan yang pertama, Dia tidak seperti yang bisa dibayangkan oleh akal dan tidak ada akal yang bisa menunjukkan wujud-Nya, Dia tidak dibatasi oleh masa dan tidak terperangkap dalam sebuah tempat. Bahkan, Dia ada tanpa tempat. Dia sesuai dengan keadaan-Nya, Dialah yang menciptakan tempat dan Dialah yang memunculkan masa. Dia berfirman, “Akulah Yang Maha Esa lagi Maha Hidup”.

Penjagaan makhluk tidak bisa meliputi-Nya dan tidak kembali kepada-Nya sifat yang tidak Dia miliki berupa perkerjaan para makhluk. Tidak ada hal baru (makhluk) yang bisa menempati-Nya atau Dia yang menempati hal yang baru itu atau ia ada setelah-Nya atau Dia ada sebelumnya. Bahkan, dikatakan bahwa Dia ada ketika tidak ada sesuatu pun bersama-Nya, karena sebelum dan sesudah itu termasuk bagian dari masa yang Dia ciptakan. Dialah Dzat yang berdiri sendiri lagi tidak pernah tidur. Dialah yang Maha Perkasa, Dia tidak menyerupai sesuatu apapun, Dialah yang menciptakan Arasy dan menjadikannya sebagai batasan bersemayam, Dialah yang menjadikan Kursi dan meluaskannya seluas bumi dan langit. Dialah yang menciptakan lauh (catatan di lauhul mahfuzh) dan pena yang paling mulia dan menjalankannya sebaga pencatat dengan ilmu-Nya tentang makhluk-Nya hingga hari perincian amal dan hukuman, Dialah yang menciptakan semua semesta ini tanpa contoh sebelumnya, Dialah yang menciptakan makhluk.

Dialah yang menurunkan ruh ke dalam jasad manusia dalam keadaan aman, kemudian Dia menjadikan manusia yang telah diberi ruh itu sebagai khalifah di muka bumi. Dialah yang mengatur untuk kita apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, semua itu dari-Nya, sehingga biji sawi tidak akan bergerak kecuali kepada-Nya atau dari-Nya. Dialah yang menciptakan semua ini tanpa membutuhkannya dan tidak ada yang menuntut untuk melakukannya. Tetapi ilmu-Nya telah mengetahui bahwa Dia akan menciptakan apa yang telah Dia ciptakan. Dialah yang pertama dan yang terakhir, yang zhahir dan yang bathin.

Dia menguasai setiap sesuatu. Dia meliputi segala sesuatu dengan ilmu-Nya dan Dia mengetahui bilangan setiap sesuatu. Dia mengatahui yang samar dan tersembunyi, Dia mengetahui mata yang mencuri pandangan dan apa yang terselip dalam dada, bagaimana mungkin Dia tidak mengetahui sesuatu sementara Dialah yang menciptakannya?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَ لَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ ۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ
alaa ya’lamu man kholaq, wa huwal-lathiiful-khobiir

“Apakah (pantas) Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui? Dan Dia Maha Halus, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Mulk 67: Ayat 14)

Dia telah mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu dicipta, kemudian Dia menciptakannya sesuai dengan batasan yang telah diketahui-Nya, sehingga Dia senantiasa mengetahuinya. Tidak ada ilmu yang diperbaharui untuk-Nya ketika adanya ciptaan yang baru. Dengan ilmu-Nya, Dia membuat kokoh segala sesuatu dan menyempurnakannya, serta dengan ilmu-Nya pula, Dia mengangkat orang yang dikehendaki-Nya sebagai penguasanya dan menjadikannya sebagai penguasa. Dia mengetahui semua ciptaan secara mutlak, sebagaimana Dia mengetahui bagian-bagiannya sesuai dengan kesepakatan ahli tafakkur yang shahih.

Dia mengetahui yang ghaib dan yang tampak, sehingga “Allah Maha Luhur dari apa yang mereka sekutukan.” Dialah yang melakukan apa yang Dia kehendaki, sehingga Dialah yang menghendaki untuk menciptakan di bumi dan langit. Kekuasaan-Nya tidak berhubungan dengan sesuatu hingga Dia menghendakinya, sebagaimana Dia tidak akan menghendakinya sampai Dia mengetahuinya. Karena, secara akal mustahil Dia menghendaki sesuatu yang tidak Dia ketahui atau Dzat Yang Maha Memilih lagi bisa meninggalkan perbuatan tersebut melakukan apa yang tidak Dia kehendaki, sebagaimana mustahil beberapa hakikat ini wujud dalam sesuatu yang tidak hidup,

Dia telah mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu dicipta, kemudian Dia menciptakannya sesuai dengan batasan yang telah diketahui-Nya, sehingga Dia senantiasa mengetahuinya. Tidak ada ilmu yang diperbaharui untuk-Nya ketika adanya ciptaan yang baru. Dengan ilmu-Nya, Dia membuat kokoh segala sesuatu dan menyempurnakannya, serta dengan ilmu-Nya pula, Dia mengangkat orang yang dikehendaki-Nya sebagai penguasanya dan menjadikannya sebagai penguasa. Dia mengetahui semua ciptaan secara mutlak, sebagaimana Dia mengetahui bagian-bagiannya sesuai dengan kesepakatan ahli tafakkur yang shahih.

Dia mengetahui yang ghaib dan yang tampak, sehingga “Allah Maha Luhur dari apa yang mereka sekutukan.” Dialah yang melakukan apa yang Dia kehendaki, sehingga Dialah yang menghendaki untuk menciptakan di bumi dan langit. Kekuasaan-Nya tidak berhubungan dengan sesuatu hingga Dia menghendakinya, sebagaimana Dia tidak akan menghendakinya sampai Dia mengetahuinya. Karena, secara akal mustahil Dia menghendaki sesuatu yang tidak Dia ketahui atau Dzat Yang Maha Memilih lagi bisa meninggalkan perbuatan tersebut melakukan apa yang tidak Dia kehendaki, sebagaimana mustahil beberapa hakikat ini wujud dalam sesuatu yang tidak hidup, sebagaimana mustahil beberapa sifat yang ada tanpa dzat yang disifati.

Jadi, dalam semesta ini tidak ada taat dan maksiat, tidak ada untung dan rugi, tidak ada budak dan merdeka, tidak ada dingin dan panas, tidak ada hidup dan mati, tidak ada keberhasilan dan kegagalan, tidak ada siang dan malam, tidak ada yang lurus dan miring, tidak ada daratan dan lautan, tidak ada genap dan ganjil, tidak ada partikel dan dzat, tidak ada sehat dan sakit, tidak ada bahagia dan derita, tidak ada ruh dan jasad, tidak ada gelap dan terang, tidak ada bumi dan langit, tidak ada yang tersusun dan berserakan, tidak ada banyak dan sedikit, tidak ada pagi dan petang, tidak ada putih dan hitam, tidak ada tidur dan bangun, tidak ada zhahir dan bathin, tidak ada gerak dan diam, tidak ada kering dan basah, tidak ada kulit dan isi, tidak ada sesuatu pun yang berlawanan, yang berselisih dan yang seimbang, kecuali itu berada dalam kehendaknya Allah Swt.

Bagaimana mungkin ia tidak berada di bawah kehendak-Nya, sementara Dialah yang menciptakannya? Bagaimana mungkin Dzat Yang Maha Memilih akan menciptakan apa yang tidak Dia kehendaki? Tidak ada yang bisa menolak perintah-Nya, tidak ada yang bisa menunda keputusan-Nya. Dia akan memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia akan mencabut kekuasaan dari siapa saja yang Dia kehendaki. Dia akan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki dan Dia akan memberi petunjuk kepada siapa saja yang Dia kehendaki. Apa yang Dia kehendaki, pasti ada dan apa yang tidak Dia kehendaki, tidak akan pernah ada.

Seandainya semua makhluk sepakat, bahwa mereka menghendaki sesuatu yang mana Allah Swt tidak berkehendak menjadikan mereka menghendakinya, maka mereka tidak akan menghendakinya; atau mereka akan melakukan sesuatu yang mana Allah Swt tidak berkehendak untuk mewujudkannya dan mereka menghendakinya ketika Dia tidak berkehendak untuk menjadikan mereka menghendakinya, maka mereka tidak akan melakukannya. Mereka tidak akan mampu untuk melakukan hal tersebut sementara Dia tidak mentakdirkan mereka untuk melakukannya.

Jadi, kufur dan iman, serta taat dan maksiat termasuk bagian dari kehendak-Nya, keputusan-Nya dan keinginan-Nya. Allah Swt senantiasa disifati dengan kehendak ini sejak zaman azali, sedangkan semesta ini masih belum ada meskipun Dia telah menetapkan dalam ilmu-Nya, kemudian Dia menciptakan semesta ini tanpa menyertakan tafakkur dan tadabbur tentang kebodohan dan tidak adanya keilmuan, lalu Dia memberikannya tafakkur dan tadabbur, sehingga ia mengetahui apa yang tidak ia ketahui, sedangkan Allah Maha Mulia dan Maha Tinggi dari hal itu-. Bahkan Dia menciptakannya dari ilmu yang terdahulu dan memberikan ketentuan berupa kehendak yang disucikan, yang azali bagi semesta dengan apa yang ia wujudkan untuknya (alam semesta) berupa zaman, tempat, bentuk dan juga warna.

Jadi, tidak ada yang berkehendak dalam wujud hakikat ini selain Allah Swt, karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا تَشَآءُوْنَ اِلَّاۤ اَنْ يَّشَآءَ اللّٰهُ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا 
wa maa tasyaaa-uuna illaaa ay yasyaaa-alloh, innalloha kaana ‘aliiman hakiimaa

“Tetapi kamu tidak mampu (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 30)

Allah Swt itu sebagaimana yang Dia ketahui, maka Dia akan menghakimi, sebagaimana yang Dia kehendaki, maka Dia mengkhususkan, sebagaimana Dia tentukan, maka Dia pun mewujudkannya. Demikian juga, Dia mendengar dan melihat apa yang bergerak atau diam atau berbicara di semua sudut semesta ini, baik yang rendah maupun yang tinggi. Pendengaran-Nya tidak terhalang oleh jarak yang jauh, sehingga Dia dekat dan pandangan-Nya tidak terhalang oleh jarak yang dekat, sehingga Dia jauh. Dia mendengar ucapan hati dalam lubuk hati dan suara sentuhan yang samar ketika menyentuh. Dia melihat warna hitam dalam kegelapan dan air dalam genangan air. Dia tak terhalang oleh desakan, kegelapan dan cahaya. Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Allah Swt berbicara tanpa didahului dengan tidak berbicara (diam), dengan kalam yang qadim lagi azali, sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain, dari ilmu-Nya, kehendak-Nya dan kekuasaan-Nya, dengannya Dia berbicara langsung kepada Musa As-. Dia menamainya dengan nama Tanzil (Al Qur’an), Zabur, Taurat dan Injil tanpa huruf, tanpa suara, tanpa nada dan tanpa bahasa. Bahkan, Dialah pencipta suara, huruf dan bahasa, sehingga kalam-Nya itu tanpa logat dan lisan, sebagaimana pendengaran-Nya tanpa lubang dan daun telinga, sebagaimana penglihatan-Nya tanpa bola mata dan pelupuk mata, sebagaimana kehendak-Nya tanpa hati dan anggota badan, sebagaimana ilmu-Nya tanpa usaha dan melihat dalil, sebagaimana hidup-Nya tanpa penguapan dan tanpa melubangi hati yang baru agar tidak bercampur dengan bagian yang lain, sebagaimana Dzat-Nya tidak menerima kelebihan dan kekurangan.

Jadi, Allah Swt itu Maha Suci dari jarak yang jauh, Dia Maha Dekat, memiliki kerajaan yang agung, memberikan kebaikan secara merata dan banyak memberikan anugerah. Maka, setiap sesuatu selain-Nya banyak memperoleh anugerah dari-Nya. Dialah yang Maha Adil, Maha melapangkan rezeki dan menyempitkannya. Dia menyempurnakan penciptaan semesta dan mengaturnya sejak Dia menciptakannya. Tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya dan tidak ada yang mengatur bersama-Nya dalam kerajaan-Nya. Jika Dia memberikan nikmat, maka itu adalah dari anugerah-Nya. Namun jika Dia memberikan ujian, maka Dialah yang memberikan adzab. Yang demikian itu sifat keadilan-Nya.

Tidak ada yang mengatur kekuasaan selain Dia. Setiap sesuatu selain Dia berada di bawah kekuasaan dan keperkasaan-Nya, serta berada di bawah aturan dari kehendak dan perintah-Nya. Dialah yang memberikan ilham dalam jiwa-jiwa yang dibebani dengan takwa dan kelaliman. Dialah yang mengampuni kesalahan orang yang Dia kehendaki dan menyiksa orang yang Dia kehendaki di Hari Kiamat. Dia tidak memutuskan keadilan-Nya dalam anugerah-Nya dan tidak memutuskan anugerah-Nya dalam keadilan-Nya.

Dialah yang mengeluarkan semesta ini dengan dua kali genggaman dan menjadikan untuk mereka dua tempat, lalu Dia berfirman, “Mereka untuk surga, Aku pun tidak peduli dan mereka untuk neraka, Aku tidak peduli.”

Saat itu tidak ada seorang pun yang menentang-Nya, karena tidak ada yang wujud selain Dia. Semua itu berada di bawah aturan nama-nama-Nya, sehingga sebagian berada di bawah nama-nama ujian-Nya dan sebagian yang lain berada di bawah nama-nama nikmat-Nya.

Seandainya Allah Swt menghendaki semua manusia ini bahagia, pasti itu terlaksana; atau Dia menghendaki celaka, maka hal itu termasuk dari bagian kehendak-Nya. Tetapi Allah Swt tidak menghendaki demikian, sehingga yang terjadi adalah sebagaimana yang Dia kehendaki. Diantara mereka ada yang celaka dan bahagia, baik di dunia dan di akhirat. Tidak ada yang bisa mengganti apa yang telah diputuskan oleh Al Qadim.

Allah Swt berfirman tentang shalat, “la itu lima waktu shalat dan ia pula lima puluh waktu shalat. Tidak ada yang bisa mengganti ucapan di hadapan-Ku dan Aku tidak melakukan penganiayaan kepada hamba-hamba, karena aturan-Ku berlaku dalam kekuasan-Ku dan terlaksananya kehendak-Ku berada dalam kekuasaan-Ku.”

Demikian itu, untuk sebuah hakikat yang tidak bisa dilihat mata secara zhahir dan bathin, yang tidak pernah terlintas dalam pikiran dan hati, kecuali dengan pemberian dari Tuhan yang wujud lagi Maha Pengasih, bagi orang yang Allah Swt kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan hal itu telah didahului dengan kehadiran kesaksiannya. Sehingga dapat diketahui bahwa uluhiyyah (sifat ketuhanan) diberikan dalam pembagian ini dan sesungguhnya itu termasuk dari sifat belas kasih Al Qadim.

Maha Suci Dzat yang tidak ada pelaku selain Dia dan tidak ada yang mewujudkan dirinya sendiri selain Dia. “Allah menciptakan kalian dan apa yang tidak kalian ketahui.” “Dia tidak akan dimintai pertanggungan jawab atas apa yang Dia lakukan, sementara mereka akan dimintai pertanggungan jawab.” “Milik Allah-lah hujjah yang sempuma. Apabila Dia berkehendak, tentu Dia memberi hidayah kepada kalian semua.”

Kesaksian kedua: Sebagaimana aku bersaksi kepada Allah Swt, kepada para malaikat-Nya, kepada semua makhluk-Nya dan kepada kalian serta atas diriku, bahwa aku mengesakan-Nya, maka demikian pula aku bersaksi kepada-Nya, kepada para malaikat-Nya, kepada semua makhluk-Nya dan kepada kalian serta atas diriku, bahwa aku beriman kepada manusia yang dipilih-Nya dari wujud-Nya, yaitu junjungan kita Muhammad Saw, yang Dia utus kepada semua manusia, sebagai pembawa peringatan dan kabar gembira, serta penyeru untuk beriman kepada Allah Swt dengan izin-Nya, juga sebagai lentera dan juga lampu penerang.

Beliau Saw menyampaikan kepada umatnya apa yang diturunkan dari Rabbnya kepadanya. Beliau menunaikan amanah dan menasihati umatnya. Beliau mendirikan hujjah dan menyampaikannya kepada setiap orang yang hadir dari para pengikutnya, lalu beliau berpidato, mengingatkan, menakut-nakuti, meminta untuk waspada, memberi kabar gembira, memberi peringatan, berjanji, mengancam, berkeringat dan gemetar. membuat orang-orang

Dengan peringatan itu, beliau tidak mengkhususkan kepada seorang pun sesuai dengan izin Dzat Yang Maha Esa lagi tempat bergantung, kemudian beliau bersabda, “Ingatlah, bukankah aku telah menyampaikan?” Mereka menjawab, “Kau telah menyampaikan wahai Rasulullah.” Lalu beliau bersabda, “Ya Allah saksikanlah.”

Aku juga beriman kepada setiap apa yang dibawa oleh Rasulullah Saw dari apa yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Apa yang beliau bawa, lalu beliau menetapkan bahwa kematian itu sesuai masa yang telah ditentukan oleh Allah Swt. Apabila kematian itu tiba, ia tidak akan bisa diundur sedikit pun, maka aku pun mengimani hal ini dengan keimanan yang tidak ada keraguan di dalamnya.

Sebagaimana aku beriman dan yakin bahwa pertanyaan dua malaikat kubur adalah haq (benar), adzab kubur adalah haq, kebangkitan jasad dari kubur adalah haq, menghadap Allah Swt adalah haq, telaga (Rasulullah Saw di surga) adalah haq, timbangan amal adalah haq, lembaran yang beterbangan adalah haq, shirath atau titian adalah haq, surga adalah haq, neraka adalah haq, sebagian di surga dan sebagian di neraka adalah haq, kesulitan hari itu menimpa sekelompok manusia adalah haq sementara kelompok yang lain tidak merasa takut dengan adanya kekagetan yang besar, syafa’at para malaikat, para nabi dan orang-orang yang beriman, serta Dzat Yang Maha Penyayang diantara para penyayang mengeluarkan orang yang dikehendaki-Nya setelah adanya syafa’at adalah haq, sekelompok orang yang memiliki dosa besar dari kalangan orang-orang yang beriman akan masuk ke dalam neraka, kemudian mereka akan keluar darinya berkat syafa’at dan anugerah adalah haq, kekekalan bagi orang-orang yang beriman lagi mengesakan Allah Swt di dalam surga yang penuh kenikmatan adalah haq, kekekalan bagi penduduk neraka di dalam neraka adalah haq dan setiap apa yang dibawa oleh kitab-kitab dan para rasul dari sisi Allah Swt, baik diketahui atau tidak diketahui adalah haq.

Maka inilah kesaksian diriku yang merupakan amanah bagi setiap orang yang mana kesaksian ini sampai kepadanya, agar dia menyampaikannya jika dia ditanya tentang kesaksian ini, dimana pun dia berada. Semoga Allah Swt memberikan manfaat kepada kami dan kalian dengan keimanan ini. Semoga Dia juga meneguhkan kita di atas keimanan itu ketika kita berpindah dari negeri ini menuju negeri akhirat. Dan semoga Dia menempatkan kita di tempat kemuliaan dan keridhaan. (Demikianlah yang disampaikan oleh Ibnul Arabi).

Maksud dari pernyataan Ibnu ‘Arabi, “Tidak mungkin hal yang baru (makhluk) bisa menempati-Nya atau Dia menempati hal yang baru atau hal yang baru ada setelah-Nya atau Dia ada sebelumnya” adalah, menafikan masa qabliyah (sebelum penciptaan). Sedangkan wujud Al Haq yang mendahului hal-hal yang baru (makhluk), maka itu adalah bentuk pendahuluan Dzat yang disucikan dari masa (rentang waktu); maksudnya adalah bukan pendahuluan dalam segi masa, karena masa itu adalah makhluk.

Apabila sore hari mendahului hari ini -misalnya, maka hari ini tidak membutuhkan masa yang telah mendahuluinya, sebagaimana yang disebutkan oleh para muhaqqiq. Namun jika tidak demikian, tentu masa (waktu) itu butuh kepada masa yang lain dan masa yang lain pun butuh kepada masa yang lainnya lagi dan seterusnya. Lantas bagaimana dengan Dzat yang tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya? Maha Suci Rabbmu, Rabb yang mulia dari apa yang telah mereka sifati. Karena itu, setelah pernyataan itu Ibnu Al Arabi berkata, “Karena kata ‘sebelum dan sesudah’ itu termasuk bagian dari masa (rentang waktu) yang Dia ciptakan.”

Dengan demikian, jelaslah bahwa maksud ungkapan di atas adalah menafikan masa qabliyah dan menetapkan Dzat qabliyah, karena itulah yang pantas untuk Dzat yang disucikan dari masa (rentang waktu).

Sebagaimana Allah Swt disucikan dari tempat dan Dia telah ada sebelum adanya tempat. Ketika Dia menciptakan tempat, maka Dia sudah ada sebagaimana adanya, yang disucikan dari tempat. Demikian juga dengan masa.

Kemudian Ibnu Al Arabi Ra menjelaskan akidah ini dengan istilah lain, lalu dengan istilah yang lainnya lagi, sedangkan maksudnya adalah sama walaupun kalimatnya berbeda. Setiap hal yang dia sebutkan secara parsial dalam kitabnya, bahkan dalam semua kitab-kitabnya akan kembali kepada akidah ini, walaupun ungkapannya berbeda. Hal ini telah diketahui oleh setiap orang dari kalangan orang-orang yang ahli dalam bidang ini, yang memahami berbagai istilah para sufi, memiliki pemahaman yang mantap akannya dan terbebas dari hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan).

Setiap sesuatu yang tidak bisa dipahami secara ilmiah berdasarkan hal ini, maka itu adalah penipuan atas nama Ibnu Al Arabi, sementara dia berlepas diri dari hal itu. Bacalah Muqadimah Al Yawâqit wal Jawahir karya Syaikh Asy-Sya’rani yang menetapkan, bahwa sesuatu yang menyelisihi syari’at adalah penipuan atas nama Syaikh Al Akbar (Ibnu Araby) Ra. Baca juga kitab Barâ ‘ah Ibnu ‘Arabi ‘an Tha’n Al Baghyi karya Al Hafizh As-Suyûthi dan kitab Al Ightibâth karya Al Allamah Al Fairuz Abadi pemilik Al Qamus.

Orang-orang yang menohok Ibnu Al Arabi dan sufi lainnya banyak yang kembali dari penohokannya ketika telah jelas bagi mereka, bahwa mereka tidak memperoleh apa yang menjadi tujuan mereka, apa yang para sufi pahami tidaklah seperti yang mereka pahami. Dalam setiap kondisi, pada dasarnya orang yang beriman itu terlepas dari semua tuduhan ini. Penuduhlah yang dimintai bukti untuk menetapkan dugaan negatif mereka kepada yang bersangkutan, sementara kondisi orang yang beriman adalah kondisi yang mendorong yang lainnya untuk melakukan kebaikan.

Ada sekelompok orang yang mengutip sebagian perkataan Ibnu ‘Arabi yang tidak mereka pahami, kemudian mereka nisbatkan kepada pernyataan ini beberapa akidah yang sebenarnya Ibnu ‘Arabi sendiri berlepas diri dari akidah tersebut.

Barangsiapa yang mengetahui bentuk ungkapan ketawadhu’an sufi, maka dia tidak akan menemukan sisi yang menyeleweng padanya, hal itu karena kejelasan ungkapan mereka, sedangkan orang yang insyaf, dia akan mengembalikan sesuatu yang belum dipahami kepada makna tersebut.

Sumber : BUKU SUFI MENGGAPAI ILAHI (AHL AL HAQQ AL ‘ARIFUNA BILLAAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI