
Elsubha.com – Ma’rifat (Penyembahan Sempurna -Puncak Tauhid-)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَوَجَدَا عَبْدًا مِّنْ عِبَا دِنَاۤ اٰتَيْنٰهُ رَحْمَةً مِّنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنٰهُ مِنْ لَّدُنَّا عِلْمًا
fa wajadaa ‘abdam min ‘ibaadinaaa aatainaahu rohmatam min ‘ingdinaa wa ‘allamnaahu mil ladunnaa ‘ilmaa
“lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 65)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ وَاُ ولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِۢا لْقِسْطِ ۗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
syahidallohu annahuu laaa ilaaha illaa huwa wal-malaaa-ikatu wa ulul-‘ilmi qooo-imam bil-qisth, laaa ilaaha illaa huwal-‘aziizul-hakiim
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 18)
Ma’rifat adalah pengetahuan tentang sesuatu secara komperhensif. Maka makna ini tidaklah pantas untuk seorang hamba; dimana pengetahuan seputar Dzat Allah Swt merupakan hal yang tidak boleh dilakukan oleh makhluk (manusia). Orang yang terbatas tidak mungkin bisa mengetahui hal lain yang berada di luar batasan dirinya, maka bagaimana pula dengan mengetahui Dzat yang adanya di luar batasan?. Nabi Muhammad Saw selaku makhluk yang paling mengetahui seluk beluk Allah Swt bersabda,
سُبْحَانَكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ
“Mahasuci Engkau sebagaimana Engkau telah memuji diri-Mu, dimana aku tidak bisa menghitung pujianku kepada-Mu.”
Maka yang diinginkan dari ma’rifat adalah menggapai apa yang mungkin diketahui dari kesempurnaan diri-Nya yang suci dari batasan, dengan cara mengenal Ilahi yang selalu menampakkan kebaikan pada sisi zhahir dan pada sisi bathin-Nya dengan kucuran rahmat Allah Swt semata dan juga mengaplikasikan akhlak yang pantas bagi Allah Swt.
Setiap kali seorang hamba bertambah dekat dengan Allah Swt, maka semakin bertambah pula ilmu pengetahuan dan rasa takutnya kepada Allah Swt. Hal ini sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Swt,
وَمِنَ النَّا سِ وَا لدَّوَآ بِّ وَا لْاَ نْعَا مِ مُخْتَلِفٌ اَ لْوَا نُهٗ كَذٰلِكَ ۗ اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَا دِهِ الْعُلَمٰٓ ؤُا ۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ
wa minan-naasi wad-dawaaabbi wal-an’aami mukhtalifun alwaanuhuu kazaalik, innamaa yakhsyalloha min ‘ibaadihil-‘ulamaaa, innalloha ‘aziizun ghofuur
“Dan demikian (pula) di antara manusia, makhluk bergerak yang bernyawa, dan hewan-hewan ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun.”
(QS. Fatir 35: Ayat 28)
Yaitu berupa rasa takut yang sempurna, dimana ulamanya Allah Swt adalah orang-orang yang menyaksikan seperti halnya kesaksian para malaikat.
Seorang salik adalah orang yang melakukan perjalanan menuju Rabbnya. Dia berada antara sikap takut dan penuh pengharapan. Jika kedua sikap ini saling berdekatan, maka kondisi dirinya layaknya kondisi al qabdhu dan al basthu, dan apabila kedua sikap ini mendekat lagi, maka kondisi jiwa yang menyelimutinya kala itu berupa kewibawaan dan ketentraman jiwa.
Kondisi awal seorang salik seperti yang digambarkan dalam firman Allah Swt,
وَقَا لَ اِنِّيْ ذَاهِبٌ اِلٰى رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
wa qoola innii zaahibun ilaa robbii sayahdiin
“Dan dia (Ibrahim) berkata, “Sesungguhnya aku harus pergi (menghadap) kepada Tuhanku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 99)
Jika salik ini semakin mendekat kepada Allah Swt, maka kondisi jiwanya seperti yang tergambar pada firman Allah Swt,
قَا لَ كَلَّا ۚ اِنَّ مَعِيَ رَبِّيْ سَيَهْدِيْنِ
qoola kallaa, inna ma’iya robbii sayahdiin
“Dia (Musa) menjawab, “Sekali-kali tidak akan (tersusul); Sesungguhnya Tuhanku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku.””
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 62)
Jika Allah Swt mengambil jiwanya, maka dalam perjalanan suluknya, ia tidak lagi merasakan kecuali adanya kehadiran Allah Swt. Dan ketika Allah Swt kembalikan kesadaran dirinya, maka perjalanan dirinya menuju Allah Swt merupakan bentuk ma’rifat diri dan juga pelaksanaan perintah-Nya, hal ini seperti yang tergambar dalam firman Allah Swt,
وَاَ مَّا الْجِدَا رُ فَكَا نَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَا نَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَا نَ اَبُوْهُمَا صَا لِحًـا ۚ فَاَ رَا دَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
wa ammal-jidaaru fa kaana lighulaamaini yatiimaini fil-madiinati wa kaana tahtahuu kangzul lahumaa wa kaana abuuhumaa shoolihaa, fa arooda robbuka ay yablughooo asyuddahumaa wa yastakhrijaa kangzahumaa rohmatam mir robbik, wa maa fa’altuhuu ‘an amrii, zaalika ta-wiilu maa lam tasthi’ ‘alaihi shobroo
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 82)
Kembalinya kesadaran itu adalah untuk jiwanya dan untuk makhluk lainnya; dan bukan dengan jiwa-Nya, tetapi kesadaran itu sejatinya adalah bentuk rahmat yang dihadiahkan oleh-Nya.
Maka ma’rifat itu adalah engkau selalu bersama Allah Swt dalam semua kondisi jiwamu. Ini merupakan maqam warisan Nabi Muhammad Saw; -warisan yang bisa diindera dan juga warisan ruhani, ini juga merupakan bentuk pengaplikasian sisi khalifatullah di muka bumi ini,- dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ نَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
wa innaka la’alaa khuluqin ‘azhiim
“Dan sesungguhnya engkau benar-benar, berbudi pekerti yang luhur.”
(QS. Al-Qalam 68: Ayat 4)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْ ۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَآ ءً حَسَنًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
fa lam taqtuluuhum wa laakinnalloha qotalahum wa maa romaita iz romaita wa laakinnalloha romaa, wa liyubliyal-mu-miniina min-hu balaaa-an hasanaa, innalloha samii’un ‘aliim
“Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 17)
Didalam ma’rifat juga terdapat sisi aplikatif yaitu terpisah setelah berkumpul, kalangan sufi biasa menamakannya dengan perpisahan kedua.
Perpisahan pertama adalah terhalangnya seseorang kepada Allah Swt dengan makhluk ciptaan-Nya, dimana orang tersebut akan lebih condong pada makhluk ciptaan-Nya sebagaimana yang berlaku pada orang secara umum. Yang tersisa dari kondisi ini adalah gambaran manusia dan kegandrungan kalbu dengan sesamanya. Seorang hamba tidak bisa lolos dari kondisi ini kecuali dengan kondisi fanâ, yang mana di dalam fanâ tersebut terdapat bentuk peruntuhan gambaran manusia dan sebab (sebab-akibat yang biasa ada pada makhluk), di dalam kondisi fanâ tersebut ia tidak akan memandang makhluk Allah Swt secara umum, bahkan ia pun tidak melihat pada semua kondisi jiwanya kecuali adanya Allah Swt semata.
فَأَلْقَتْ عَصَاهَا وَاسْتَقَرَّ بِهَا النَّوَى # كَمَا قَرَّ عَيْنَا بِالْإِيَابِ الْمُسَافِرَ
“Maka ia pun melemparkan tongkat itu dan di dalamnya ada satu benih # sebagaimana mata gembira dengan pulangnya seorang yang bepergian jauh.”
Yang lebih sempurna dari maqam ini adalah maqam penyaksian Allah Swt dan juga penyaksian makhluk dengan adanya Allah Swt, dimana ini merupakan maqam Al Baqa’ -atau disebut juga dengan perpisahan kedua-, Setiap martabat akan terpenuhi hak-haknya, sehingga seseorang tidak terhalang dengan banyaknya sesuatu dari Dzat yang satu, dimana sesuatu yang banyak itu pun kembali pada Dzat yang satu. Tidak pula seseorang terhalang dengan Dzat yang satu dari melihat sesuatu yang banyak, sebab kondisi tersebut merupakan bagian dari yang lainnya.
Sebagai contoh; matahari ada satu, apabila cahaya matahari mengenai kaca yang memiliki warna berbeda-beda, maka ia pun akan menghasilkan warna yang beragam, dimana cahaya tersebut sejatinya tidak berubah. Maka jika ada orang yang berpandangan dan menyangka, bahwa beragam warna itu berasal dari cahaya yang berbeda-beda, maka ia belum disebut berma’rifat. Begitu juga dengan orang yang melihat cahaya yang satu dan ia tidak melihat beragam penampakan cahaya yang dihasilkan, maka ma’rifat dirinya belumlah sempurna. Lain halnya dengan orang yang mengetahui seluk beluk matahari, bahwa ia tetaplah matahari, yang tidak berubah, tidak bisa bersatu dengan ragam kaca, dimana kaca tidak bisa bersatu dengan matahari, ia pun mengetahui bekas dari terbitnya matahari tersebut, maka ia telah dikategorikan sebagai orang yang sudah berma’rifat.
Sedangkan perihal sebagian orang yang mendekatkan gambaran tegaknya alam semesta ini yang dilakukan oleh Allah Swt dengan tegaknya gambaran es pada air:
وَمَا الْخَلْقُ فِي التَّمْثَالِ إِلَّا كَثَلْجَةٍ # وَأَنْتَ لَهَا الْمَاءُ الَّذِي هُوَ نَابِعُ
“Dan tidaklah makhluk itu dalam perumpamaannya kecuali seperti salju # dan engkau pada salju itu punya air yang merupakan sumber ia berasal.”
Kaum sufi sepakat, bahwa Allah Swt suci dari hal yang serupa dan semisal dengan-Nya. Orang yang beranggapan, tentang maksud pernyataan di atas, bahwa Allah adalah materi alam semata, maka ia sesat dan perkataanya batil. Tidak ada mukmin yang menyatakan demikian, bahkan akal sehat pun pasti menolaknya. Akal meyakini bahwa Allah Swt tidak terikat dengan semua sisi alam semesta ini.
Jika ada orang yang menggambarkan Allah Swt dengan seorang manusia yang mengenakan pakaian dan melepaskannya, maka dia tidaklah ma’rifat kepada Allah Swt. Sebab ia telah menyifati Allah Swt dengan sifat yang dimiliki manusia. Ini adalah bentuk kesesatan yang sangat jauh, sungguh Allah Swt tidak mengenakan dan juga melepas pakaian. Jika penyataan ini keluar dari orang yang berada dalam suatu kondisi jiwa tertentu, tentu kala itu akal pikirannya hilang, sehingga perkataannya ini pun tidak dianggap apa-apa.
Akan tetapi makna yang mereka inginkan dari ungkapan itu adalah, bahwa gambaran salju itu tidaklah bisa terbentuk kecuali dengan air dan tidak terpikirkan bahwa salju itu bisa terjadi begitu saja tanpa ada asalnya. Seluruh alam semesta ini tidak bisa tegak kecuali dengan adanya Allah Swt dan tidak berdiri dengan sendirinya, dimana tegaknya alam semesta ini tidak serupa dengan Dzat Allah Swt yang digambarkan dengan gambaran makhluk-Nya, Allah Swt berfirman,
سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ
sub-haana robbika robbil-‘izzati ‘ammaa yashifuun
“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan.”
(QS. As-Saffat 37: Ayat 180)
Yang diinginkan dari pernyataan di atas adalah, penjelasan keperkasaan Allah Swt dan bukan penyerupaan-Nya. -Hanya Allahlah pemberi perumpamaan yang agung-.
Allah Swt telah memberikan contoh perumpamaan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَللّٰهُ نُوْرُ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۗ مَثَلُ نُوْرِهٖ كَمِشْكٰوةٍ فِيْهَا مِصْبَا حٌ ۗ الْمِصْبَا حُ فِيْ زُجَا جَةٍ ۗ اَلزُّجَا جَةُ كَاَ نَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُّوْقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُّبٰـرَكَةٍ زَيْتُوْنَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَّلَا غَرْبِيَّةٍ ۙ يَّـكَا دُ زَيْتُهَا يُضِيْٓءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَا رٌ ۗ نُوْرٌ عَلٰى نُوْرٍ ۗ يَهْدِى اللّٰهُ لِنُوْرِهٖ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَ يَضْرِبُ اللّٰهُ الْاَ مْثَا لَ لِلنَّا سِ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
allohu nuurus-samaawaati wal-ardh, masalu nuurihii kamisykaating fiihaa mishbaah, al-mishbaahu fii zujaajah, az-zujaajatu ka-annahaa kaukabung durriyyuy yuuqodu ming syajarotim mubaarokating zaituunatil laa syarqiyyatiw wa laa ghorbiyyatiy yakaadu zaituhaa yudhiii-u walau lam tamsas-hu naar, nuurun ‘alaa nuur, yahdillaahu linuurihii may yasyaaa, wa yadhribullohul-amsaala lin-naas, wallohu bikulli syai-in ‘aliim
“Allah (pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya, seperti sebuah lubang yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk kepada cahaya-Nya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. An-Nur 24: Ayat 35)
Ayat tersebut merupakan bentuk pendekatan gambaran Dzat Allah Swt dengan penegasan Dzat-Nya yang suci dari segala sesuatu dan juga dengan penafian adanya dzat yang serupa dengan-Nya. Begitu pula apa yang mereka sebutkan, sebenamya itu semua merupakan bagian dari perumpamaan semacam ini.
Sebagian orang beranggapan, bahwa meningkatnya kondisi jiwa kaum sufi bentuknya positif dan tidak negatif, hal ini adalah anggapan yang salah. Sebab, orang yang ‘Arif billah akan merasakan keberadaan dirinya bersama dengan Allah Swt dengan penyaksian dirinya terhadap hancumya memandang sisi makhluk dan fana nya mereka pada Dzat Allah Swt, dimana keberadaan diri mereka seolah-olah tidak ada lagi. Namun keberadaan dirinya tetap ada dengan tetapnya sifat-sifat ketuhanan dan kucuran rahmat-Nya, bukan dengan keberadaan sifat diri dan juga amal perbuatannya; dia pun bersikap pemurah, penyayang, penyabar, menjadi cendekiawan, sosok pengamal Al Qur’an sisi zhahir dan bathin, dia nampak pada makhluk yang lainnya seperti manusia kebanyakan, ia menyeru kepada Allah Swt dengan kebenaran yang ada, ia pun wushul kepada Allah Swt pada maqam yang tinggi kala ia fana; dengan wushul yang pantas bagi kondisi orang yang butuh pada Dzat yang Kaya dan Maha Suci; yaitu Allah Swt, Dialah yang mengatur semua alam semesta ini, dan inilah sebenarnya hakikat daripada kewalian.
Al ‘Arif Ibnu Al Faridh Ra pernah berkata,
وَظِلْتُ بِهَا لَا بَي إِلَيْهَا أَدُلُّ مَنْ # بِهِ ضَلَّ عَنْ سُبُلِ الْهَوَى وَهِيَ دَلْتِ
“Aku masih tetap dengan kecintaan itu, yang menuntunku kepadanya, aku tunjukkan orang # yang sesat dari ragam jalan hawa (kecenderungan biologis; hasrat kebinatangan), dimana kecintaan itupun menujukkanku pada hal itu.”
Suatu hubungan yang terjalin dengan adanya tirai penghalang tentu berbeda dengan hubungan yang dilakukan dengan bentuk penyaksian diri. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَفَتُمٰرُوْنَهٗ عَلٰى مَا يَرٰى
a fa tumaaruunahuu ‘alaa maa yaroo
“Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya itu?”
(QS. An-Najm 53: Ayat 12)
Sudah umum diketahui, bahwa manusia biasanya merasa malu melakukan perbuatan yang dibenci oleh banyak orang di hadapan mereka, lantas bagaimana dengan orang yang mampu melihat jin dan malaikat? Bagaimana pula dengan seorang ‘Arif billah yang Allah Swt beri karunia padanya, dimana dengan karunia itu ia masuk ke dalam alam malakut dan alam lain sesuai dengan keinginan Allah Swt, seolah-olah ia berada di alam akhirat. Kondisi jiwanya menyerupai kondisi malaikat dalam ibadah dan penghambaan dirinya kepada Allah Swt. Allah Swt memberikan ketenangan jiwa selagi ia berdo’a pada Rabbnya dan juga beribadah kepada-Nya?
Seluruh kesempumaan maqâmât sebelumnya terkumpul dan terlengkapi pada maqam ma’rifat, yang mana dalam maqam ini terdapat bentuk tauhid perbuatan, tauhid asma dan juga tauhid sifat, wihdatul wujud dan wihdatusy-syuhud, juga terdapat bentuk kucuran rahmat yang nampak jelas dan kucuran rahmat yang turun secara perlahan dengan tauhid Allah Swt untuk diri-Nya sendiri, Dialah Dzat yang tunggal sebelum adanya makhluk. Dia menyaksikan kemanunggalan diri-Nya sendiri dan kita pun akhimya mengakui hakikat tersebut, lantas apa kelebihan yang kita miliki?
Ada perbedaan yang jelas antara sumber pengetahuan filosof dengan sumber pengetahuan seorang sufi. Sumber pengetahuan filosof berasal dari pengetahuan hasil olah pikirannya, seorang sufi pun juga melakukan ini, dengan ditambah kucuran rahmat Allah Swt yang khusus bagi mereka; dimana hal ini tidak dapat dicena oleh akal pikiran.
Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi berkata, “Sungguh Ahlullah (para sufi) yang melaksanakan perintah Allah Swt atas dasar keimanan dirinya kepada Allah Swt, ia memiliki pertemuan khusus yang tidak bisa didapatkan oleh orang yang caranya bukan dengan keimanan diri.”
Ahwal adalah beragam makna yang hadir di dalam kalbu tanpa disengaja, tanpa adanya usaha dan tanpa adanya beban.
Jika Allah Swt telah memberikan karunia dan nikmat kepada seorang hamba dengan memberikannya sifat ruhani pada jasadnya, maka ia tidak lagi terikat dengan beragam kekhususan materi. Apa yang ada didalam jasadnya adalah apa yang terdapat pada ruhnya. Hal ini hanya diketahui oleh orang yang bergelut di dalamnya. Orang yang berada dalam suatu kondisi jiwa akan mengaplikasikan hal tersebut pada maqam ma’rifat dengan kondisi jiwanya itu, dimana bersamaan dengan itu pula, Allah Swt melindungi dirinya dan ia nampak seperti halnya manusia lain secara umum, ia pun mengikuti alur sebab-akibat pada dunia ini, sekalipun di dalam jiwanya telah terpatri beragam rumus alam dan ragam kesulitan yang ada di dalamnya.
Jika saja ada seseorang yang berjalan bersama Khidir dan dia menyelesaikan permasalahnnya itu, sebagaimana Al Khidir menyelesaikan permasalahan nabi Musa As, niscaya dalam kalbu orang ini tidak akan ada pertentangan terkait perkara yang diperbuat olehnya sekalipun maksud yang dikehendaki Al Khidir tidaklah diketahui, lantas bagaimana pula dengan orang yang langsung diajar oleh Tuhannya Khidir?
Lihatlah adabnya Khidir, saat ia berkata terkait perahu,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
اَمَّا السَّفِيْنَةُ فَكَا نَتْ لِمَسٰكِيْنَ يَعْمَلُوْنَ فِى الْبَحْرِ فَاَ رَدْتُّ اَنْ اَعِيْبَهَا ۗ وَكَا نَ وَرَآءَهُمْ مَّلِكٌ يَّأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبًا
ammas-safiinatu fa kaanat limasaakiina ya’maluuna fil-bahri fa arottu an a’iibahaa, wa kaana warooo-ahum malikuy ya-khuzu kulla safiinatin ghoshbaa
“Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu.”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 79)
Juga saat ia berkata terkait anak tersebut,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاَ رَدْنَاۤ اَنْ يُّبْدِلَهُمَا رَبُّهُمَا خَيْرًا مِّنْهُ زَكٰوةً وَّاَقْرَبَ رُحْمًا
fa arodnaaa ay yubdilahumaa robbuhumaa khoirom min-hu zakaataw wa aqroba ruhmaa
“Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya).”
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 81)
Al Khidir disini ini berkata, “Kami menghendaki,” sebagai sebuah penisbatan hal yang baik pada Allah Swt. Dan pada yang lainnya yang terkait dengan adanya pembunuhan, ia menisbatkan itu pada dirinya.
Al Khidir pun berkata,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاَ مَّا الْجِدَا رُ فَكَا نَ لِغُلٰمَيْنِ يَتِيْمَيْنِ فِى الْمَدِيْنَةِ وَكَا نَ تَحْتَهٗ كَنْزٌ لَّهُمَا وَكَا نَ اَبُوْهُمَا صَا لِحًـا ۚ فَاَ رَا دَ رَبُّكَ اَنْ يَّبْلُغَاۤ اَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنْزَهُمَا رَحْمَةً مِّنْ رَّبِّكَ ۚ وَمَا فَعَلْتُهٗ عَنْ اَمْرِيْ ۗ ذٰلِكَ تَأْوِيْلُ مَا لَمْ تَسْطِعْ عَّلَيْهِ صَبْرًا
wa ammal-jidaaru fa kaana lighulaamaini yatiimaini fil-madiinati wa kaana tahtahuu kangzul lahumaa wa kaana abuuhumaa shoolihaa, fa arooda robbuka ay yablughooo asyuddahumaa wa yastakhrijaa kangzahumaa rohmatam mir robbik, wa maa fa’altuhuu ‘an amrii, zaalika ta-wiilu maa lam tasthi’ ‘alaihi shobroo
“Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya.””
(QS. Al-Kahf 18: Ayat 82)
Sebab dalam ayat ini semuanya berisikan kebaikan semata. Dan itulah yang layak diucapkan dalam adab penghambaan yang sempurna.
1. Bahasa Alam Barzakh
Al Bukhari dalam Shahih-nya menyebutkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيْتُ بِقَدَرٍ لَبَنَ فَشَرِبْتُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَخْرُجُ فِي أَظْفَارِي، ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، قَالُوْا مَنْ حَوْلَهُ: فَمَا أَوَّلْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: الْعِلْمُ
Diriwayatkan dari Ibnu Umar: Rasulullah Saw bersabda, “Di saat aku tidur, aku diberikan secawan susu, maka aku meminumnya, sungguh aku melihat sisa susu itu keluar (menetes) di kukuku, kemudian kelebihan (susu) itu kuberikan kepada Umar bin Al Khaththab.” Sahabat yang ada di sekitar beliau berkata, “Lantas apa takwilanmu wahai Rasulallah?” Beliau bersabda, “Ilmu.”
Rasulullah Saw mentakwilkan, “Al Qamish (pakaian)” dengan agama, “Sawari Adz-Dzahab (kalung emas)” dengan para pendusta: Musailamah dan Al Aswad Al ‘Anasi. Juga mimpi Nabi Yusuf As yang ada dalam kitabullah. Ada pula penakwilan, “Al Qaidu (ikatan (tali]),” dengan kokohnya agama.”
Maka, beragam makna yang ada di alam mimpi itu digambarkan dengan “simbol;” terkait ini ada ilmu khusus yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang diberi ma’rifat oleh Allah Swt.
Contoh: Terkadang Rasulullah Saw -sosok yang sempurna- terlihat (dalam mimpi) dengan gambaran tidak memiliki jari-jemari atau tidak memiliki tangan, maka takwilan mimpi tersebut adalah: wahai engkau yang melihat dalam mimpi, engkau telah memiliki kesiapan diri untuk berbuat baik, akan tetapi ada sisi ihsan dan sisi muliamu yang kurang.
Rasulullah Saw nampak bagi seseorang sesuai dengan cerminan kalbunya, jika ada yang kurang, maka beliau bagian dari itu.
Barangsiapa yang melihat Rasulullah Saw dengan gambaran orang buruk rupa, maka itu sebagai pemberitahuan baginya atas detikan kalbunya yang harus dihilangkan. Dan seharusnya hal yang demikian ini dikembalikan kepada syari’at. Apa yang syari’at terima, maka mimpi itupun dapat diterima dan jika tidak demikian, maka mimpi tersebut pun haruslah ditakwilkan.
Bermimpi melihat Allah Swt dalam sebuah gambaran (yang mana sejatinya Dzat Allah Swt terhindar dari keterikatan dengan suatu gambaran), ini merupakan pesan dari Allah Swt untuk hamba-Nya di dalam gambaran itu, dimana gambaran tersebut menempati posisi tulisan dan juga guratan. Ini merupakan pesan simbolik -sebagaimana ketika seseorang bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw-. Dari orang yang ‘Arif billah inilah dapat diketahui makna tajalli simbolik-Nya Allah Swt. Ini merupakan tajalli dari balik tirai penghalang berupa sebuah gambaran. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dipahaminya makna ilmu dari gambaran “susu” yang telah disebutkan diatas.
Orang yang tidak mengetahui bahasa seorang ‘alim, maka bagaimana ia bisa memahami pesan yang disampaikannya? Orang yang mampu mengaplikasikan bahasa alam malakut dan alam suci nan tinggi, dirinya tidak takut lagi akan tajalli Dzat-Nya Allah Swt yang tunggal di seluruh lapisan langit dan bumi serta pada segala sesuatunya. Dia pun mampu mengetahui pesan suci yang disampaikan dan juga mengetahui maksudnya, diri orang ini selalu bersama Allah Swt dan dengan kekuatan yang datangnya dari Allah Swt semata.
Sebagian kaum bertemu dengan seseorang, lalu sebagian kaum itu memberikan sesuatu kepada orang tersebut, seraya berkata padanya, “Ambillah itu dan itu bukanlah milikmu,” orang tersebut menimpali, “Aku terima itu dan itu bukan dari dirimu.”
Makna pernyataan di atas bukan berarti bahwa bermimpi melihat Allah Swt di dunia itu nyata adanya, sebab Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,
فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ ، حَتَّى تَمُوتُوْا
“Maka ketahuilah oleh kalian, bahwa sungguh kalian tidak akan pernah melihat Rabb kalian sampai kalian meninggal dunia.”
Maksudanya adalah dengan pandangan maknawi, yaitu dengan pandangan ruh dan bukan pandangan jasad.
Kini jelas sudah bagimu penyebab ulasan bahasa alam barzakh hingga sampai pada ulasan beragam pengetahuan yang dikhususkan dan diasas oleh Rasulullah Saw, dimana perkara ini beliau berikan sebagai wiratsah al muhammadiyyah. Allah Swt memangkas sisi jauh bagi hamba-Nya, Allah Swt memakaikan mereka sutra ketuhanan dan membekali mereka dengan izin; izin khusus dari sisi ketuhanan.
Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِذَا أَحَبُّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فَلَانًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فَلَانًا فَأَحِبُّوْهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي الْأَرْضِ
“Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Sungguh Allah mencintai fulan, maka cintailah ia, maka Jibril pun mencintainya. Jibril (lalu) menyeru pada penghuni langit, ‘Sungguh Allah mencintai fulan’, cintailah ia, maka penghuni langitpun mencintainya. Kemudian Dia meletakkan pengkabulan (keinginan) baginya di bumi.”
Inilah izin khusus dari sisi ketuhanan yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Bagaimana jika Allah Swt memberikan karunia kepada seorang hamba, sehingga ia mampu mendengar suatu panggilan dengan keutamaan-Nya? Amboi, bagaimana kondisi jiwanya kala itu?.
Telah diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau pernah bersabda kepada Ubay bin Ka’b,
إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ ( لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا )
“Sungguh Allah memerintahkanku agar aku membacakan kepadamu ayat, ‘Orang-orang kafir tidak akan….” Ubay berkata, وَسَمَّانِي ? Dan Allah menyebutkan namaku?” Nabi Saw bersabda, نعم “Iya.” Maka Ubay pun menangis kala itu. (HR. Asy-Syaikhani dan At-Tirmidzi).
Lisan mereka (kaum sufi) merupakan lisan yang haq (yang dikontrol oleh Allah Swt), kalbu mereka merupakan kalbu haq, tangan mereka merupakan tangan haq, pandangan mereka merupakan pandangan haq, mereka adalah rabbaniyyun (orang yang sempurna iman dan takwanya kepada Allah Swt), orang yang bijaksana dan para pakar fikih. Dimana figh al haq adalah fikihnya alam ruhani dan asrar.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا كَا نَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَا لْحُكْمَ وَا لنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّا سِ كُوْنُوْا عِبَا دًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنْ كُوْنُوْا رَبَّا نِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ
maa kaana libasyarin ay yu-tiyahullohul-kitaaba wal-hukma wan-nubuwwata summa yaquula lin-naasi kuunuu ‘ibaadal lii ming duunillaahi wa laaking kuunuu robbaaniyyiina bimaa kungtum tu’allimuunal-kitaaba wa bimaa kungtum tadrusuun
“Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya!””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 79)
2. Catatan Pinggir Kitab Fushus Al Hikam
Wujud makhluk merupakan perkara yang berkaitan dengan keyakinan. Orang yang berakal tidak pemah ragu akan hal ini. Setiap orang tahu dan yakin bahwa wujud dirinya itu ada. Pengetahuan yang dibarengi keyakinan merupakan bagian dari pengetahuan wujud keberadaan dzat seseorang, baik orang tersebut dapat menjabarkan hal itu ataupun tidak.
Keberadaan diri merupakan perkara penting bagi orang yang berakal, yang tidak perlu lagi dijabarkan, dimana ketiadaan itu dapat diketahui saat wujud dzatnya tidak ada. Akal seseorang tidak dinyatakan benar jika ia menyatakan bahwa keberadaan dan ketiadaan dzat itu bisa terjadi pada satu waktu.
3. Dzat Wajib, Mungkin dan Mustahil
Gambaran akal manusia tidak akan terlepas dari: dzat yang wujudnya ada, yang tidak mungkin dzatnya tiada, ia adalah Dzat (Allah) yang wajib. Kemudian dzat yang wujudnya bisa ada, bisa juga tiada; juga dzat yang wujudnya tiada, namun wujudnya mungkin ada, ia adalah dzat yang mungkin, yang bisa jadi wujudnya ada dan juga tidak ada. Lalu dzat yang tiada dan tidak mungkin wujudnya ada, ia adalah dzat yang mustahil; yaitu yang tidak ada keberadaannya.
Dzat yang wajib adalah Allah Swt, yang wujud Dzatnya selalu ada dan tidak pernah tiada, dimana ia memberikan wujud diri-Nya itu kepada yang lain, Dzat-Nya tidak pernah terkena imbas ketiadaan dari segala segi.
Kemudian dzat yang bersifat mungkin, wujud keberadaan dirinya berkaitan dengan kehendak Allah Swt di zaman azali, bahwa wujud keberadaannya harus ada. Andaipun dinyatakan ia harus ada, maka sisi wajib dirinya ada itu bersifat nisbi, karena keberadaan dirinya memang harusnya ada, dimana ini tidak keluar dari perkara kemungkinan bisa terjadi. Sebab, dari sisi keberadaan dirinya memang bisa saja dirinya ada, jika hal ini masih berkaitan dengan sisi kehendak Allah Swt.
Kemudian dzat yang mungkin keberadaannya, dzatnya berkaitan dengan kehendak Allah Swt di zaman azali, bahwa wujud dirinya tidak ada dan tidak ada jalan bahwa dirinya menjadi ada. Andaipun ia dinyatakan mustahil keberadaannya dari segala sisi, maka sisi mustahil dirinya ini bersifat nisbi, sebab ia tidak serta merta bisa disifati sebagai dzat yang wujudnya ada, ia pun tidak bisa berpindah dari kemungkinan dzatnya mungkin ada. Sebab, dari sisi wujud dirinya, bisa jadi wujudnya ada jika hal itu berkaitan dengan sisi kehendak Allah Swt.
Sementara dzat yang wujudnya mustahil dan dzat yang wujudnya mungkin ada dan dzat yang mungkin diadakan wujudnya sebelum wujudnya ada, maka semua tingkatan ini bergantung pada pemikiran yang sehat, bersamaan dengan penyifatan tidak ada.
Dzat yang mustahil, wujud dirinya tidak boleh dikaitkan dengan ketentuan masa azali.
Dzat yang mungkin, yang keberadaan dirinya tidak mungkin ada; jika keberadaan dirinya dikaitkan dengan ketentuan masa azali, maka ia bisa saja wujudnya ada. Sedangkan dzat mungkin yang berkaitan dengan kehendak Allah Swt di masa azali, maka ketiadaan wujudnya itu sudah pasti, bahwa ia akan nampak dengan sifat wujud tambahan, dimana dirinya tidak memiliki kuasa apapun.
Beragam tingkatan ini saling memiliki keistimewaan tersendiri dalam kondisi ketiadaan dzatnya.
Dzat yang mungkin, yang keberadaan dirinya dikaitkan dengan ketentuan masa azali, martabat ketiadaan wujudnya tidak sama dengan kondisi keberadaan wujudnya.
Semua martabat ini tidak benar jika dicampuradukkan dengan akal sehat atau pada dalil yang shahih atau juga dalam kasyaf yang benar, maka hal ini tidak serta merta menjadi dzat yang wujud dirinya mustahil ada dengan adanya dzat lain dan bukan seuatu yang sifatnya mungkin terjadi. Hal ini pun tidak serta merta menjadikan dzat yang mungkin itu menjadi wajib atau dzat yang wujudnya wajib menjadi wujudnya mungkin ada, dimana tidak ada campur tangan akal, tidak pula dalil yang mendukung serta tidak pula kasyaf dalam semua kondisi ini.
Semua sufi sepakat, hal mendasar yang tidak diselisihi oleh seorang pun adalah, bahwa beragam martabat ilmu itu tidak berubah, semua yang dipahami dari pernyataan mereka (para sufi). Yang tidak sesuai dengan pemahaman ini, maka orang tersebut telah salah dalam memahami pernyataan mereka, sebab ia tidak mengenal istilah mereka (para sufi). Penjelasan global pernyataan mereka sudah cukup sebagai hujjah dalam memahami pernyataan mereka.
Setiap orang yang mencampuradukkan dzat yang hadits dan dzat yang qadim (Allah Swt), maka ia bukanlah orang yang ma’rifat pada Allah Swt, ia pun dinyatakan tidak paham akan syari’at dan tidak pula mengerti tentang hakikat, bahkan ia pun dinyatakan tidak mengetahui seluk beluk alam semesta, ia tersisihkan dari jalur ma’rifat, seperti tersisihkannya Islan dari dasar-dasarnya.
Orang yang berkata, “Aku Allah atau aku di dalam Allah atau sungguh Allah ada di dalamnya,” jika memang kesadaran jiwanya mengalahkan dirinya, maka syari’at memakluminya dan ia pun dimaklumi di sisi Allah Swt. Dirinya yang dalam kondisi demikian ini, tidaklah menginginkan pemahaman yang terkenal dengan tajsid [Allah memiliki tubuh) atau hulul [Allah bisa menempati hamba-Nya] atau ittihad [Allah bisa menyatu dengan hamba-Nya] atau juga perubahan. Terkadang yang digunakan adalah sisi metaforanya dalam memberikan makna terminologi hal tersebut yang hanya bisa dipahami oleh lawan bicara saja. Orang yang banyak menelaah buku-buku para sufi, ia pun akan menemukan ulasan ini dengan penjelasan yang gamblang dalam buku mereka, yaitu tentang ungkapan mereka yang masih rancu.
Orang yang mengatakan hal ini dan yang ia inginkan adalah makna yang sudah banyak dikenal ini (seperti tajsid [Allah memiliki tubuh), hulul [Allah bisa menempati hamba-Nya], ittihad [Allah bisa menyatu dengan hamba-Nya]), maka ia kafir, bodoh dengan prihal Rabbnya, ia tidak lagi menjadi bagian dari agama Islam. -semoga Allah Swt menjaga kita dari keterplesetan ini dengan karunia-Nya.-
Jika ada orang yang mengira, bahwa Syaikh Akbar Sayyidi Muhyiddin Ibnu ‘Araby tidak bisa membedakan beragam martabat tersebut, maka ia tidak mengenal sosoknya. Dalam beberapa karya beliau, sungguh dipenuhi dengan beragam rincian hal ini,beliau pun memberikan penjelasan secara gamblang pada setiap martabatnya. Kami tidak menemukan ada penentang Ibnu ‘Arabi yang selamat dari perbuatan durjana padanya ataupun kajian mereka itu tidak tuntas. Bahkan di dalam pernyataan beliau ada beragam kaidah dasar yang menunjukkan, bahwa pernyataan beliau itu ada pada satu bagian dan pernyataan penentangnya ada pada bagian lainnya.
Dzat yang sempuma nan dermawan serta yang mampu memberikan; andai Dia tidak memberikan dengan perbuatan, maka Dia pun memberikannya dengan kekuatan. Pemberian dengan perbuatan memiliki martabat yang tertinggi daripada pemberian dengan kekuatan.
Allah Swt memiliki kesempunaan Dzat yang tidak ada tandingannya, Dia bahkan di atas kesempurnaan, Dialah dzat yang memberi dengan perbuatan. Jikalau dzat yang mungkin dihadapkan pada Dzat yang wajib di zaman azali, niscaya Dia akan memberikannya wujud tu. A kan tetapi yang menjadi catatan adalah, bahwa martabat dzat yang mungkin itu tidak bisa terjadi kecuali didahului dengan ketiadaan sebelumnya. Allah Swt telah memberikan dzat yang mungkin ini keberadaan wujud dirinya sesuai dengan martabat yang dimiliki, dimana ketentuan di zaman azali tersebut sudah berkaitan dengan pemberian ini, maka Allah Swt pun telah memberikan pemberian ini sejak zaman azali, Dialah yang telah memberi dengan perbuatan-Nya pada masa azali. Dzat yang mungkin wujud, asal wujud dirinya adalah ketiadaan -sebelum ditiupkan keberadaan diri sekalipun ia bersama dzat mustahil yang statusnya tidak ada, terkecuali jikadzat yang mungkin itu mungkin bisa ada, sedangkan dzat yang mustahil sejatinya tidak mungkin bisa ada keberadaannya. Tingkatan keberadaan wujud dzat yang mungkin itu lebih tinggi daripada tingkatan ketiadaan wujud dzat yang mungkin. Atas dasar inilah, maka kesempurnaan dzat yang mungkin itu sesungguhnya terletak pada wujud dirinya.
Seolah-olah beragam martabat dzat yang mungkin dalam kisaran ketiadaan wujudnya, meminta keberadaan diri dari Allah Swt sang Pemberi nikmat, agar Dia memberikan nikmat wujud dan yang lebih dari itu.
Orang yang ‘Arif billah melihat kesempurnaan ini sebagaimana mestinya. Pada tingkatan ini ia tidak lagi melihat rasa sakit dan nikmat yang tampak. la pun tidak menafikan, bahwa dzat yang paling banyak disifati dengan kesempurnaan diri, maka ia memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari yang lainnya, sekalipun yang tertinggi kesempurnaan dirinya itu merasakan sakit pada masa hidupnya dan yang memiliki tingkatan di bawahnya merasakan kenikmatan.
Atas dasar inilah, semua makhluk hidup sejatinya sedang berenang pada ragam nikmat yang dikucurkan lantaran kesempurnaan wujud diri-Nya.
Inilah titik fokus pandangan orang-orang yang ‘Arif billah, yaitu dengan tetap menjaga berbagai tingkatan kesempurnaan. Setiap kali dzat itu meningkat naik dan bertambah sempurna, maka engkau sejatinya lebih dekat dengan kesempurnaan dzat, yaitu kesempurnaannya Allah Swt.
Sedangkan mengenai martabat dzat yang mungkin, diantaranya adalah martabat yang di dalamnya nampak sifat wujud saja, lalu martabat yang di dalamnya nampak dua atau tiga atau empat atau juga lima sifat dan seterusnya.
Dzat wujud yang mungkin (makhluk; manusia) tidak lain hanyalah berupa beberapa martabat kesempurnaan Allah Swt, tidak ada yang nampak pada beragam tingkatan wujud ini kecuali berupa perwujudan Asma Al Husna, Al Haqq, Al Qadir, Al Murid, Al ‘Alîm, Al Hayy, As-Samî’, Al Bashîr, Al Mutakallim; dan juga rahasia dalam kesempurnaan Dzat.
Beragam martabat dzat yang mungkin, wujud keberadaan dirinya tidak mungkin dapat tampak kecuali membawa kesempurnaan Dzat Allah Swt, dimana martabat dzat yang mungkin ini meminta sendiri keberadaan dirinya untuk bisa tampak (terlihat) dengan kesempurnaan tersebut yang terwujud dalam Asma Al Husna.
Apabila engkau katakan, “Beragam martabat atau tingkatan di atas itu terlihat dengan kehendak Allah Swt dan pada Dzat Allah Swt,” maka engkau adalah orang yang jujur. Maksud perkataan, “Bi al haqqi,” adalah dengan kehendak Allah Swt sendiri. Diantara dangkalnya pengetahuan akan hakikat adalah ketika engkau menyangka bahwa kata “فِي” ini menunjukkan sebuah posisi atau juga sebuah gambaran dalam dzat yang wujudnya mungkin ada, akan tetapi yang dimaksud di sini adalah bahwa wujudnya itu tidak berkaitan dengan dzatnya, ia hilang dalam wujudnya Allah Swt bersamaan dengan bersandarnya diripada Allah Swt, juga tegaknya Dzat Allah Swt. Bukan dengan dzat lain yang wujud dirinya mungkin ada, serta juga bukan dengan dzat dirinya sendiri.
Apabila engkau katakan, “Sungguh nama-nama Allah Swt nampak dari beragam martabat atau tingkatan ini. Atau bahwa kesempurnaan Dzat Allah Swt itu nampak pada Asma’ Al Husna, maka engkau adalah orang yang jujur. Sebab, Allah yang Maha Pemberi telah menganugerahkannya pada masa azali, maka kehendak-Nya itu berkaitan dengan penampakan Dzat-Nya pada beragam martabat dzat yang mungkin keberadaan wujudnya ada (makhluk), dengan beragam kesempurnaan Dzat yang tidak dapat dihitung pada semua martabat dzat yang wujudnya mungkin ada.
Maka tidak ada keinginan dalam hakikat diri-Nya, kecuali dengan nampaknya kesempurnaan Dzat-Nya pada beragam martabat tersebut. Terkait kesempurnaan Dzat-Nya, maka itu sudah ditetapkan sejak zaman azali, dimana terlihatnya kesempurnaan Dzat adalah dengan nampak-Nya Allah Swt. Maka tidak ada yang tampak di alam ini kecuali kesempurnaan Dzat-Nya atau bahwa tidak ada yang nampak dari alam ini kecuali dengan tajalli-nya Dzat Allah Swt dengan segala kesempurnaan-Nya. Dengan kesempurnaan Dzat-Nya dan juga dengan perantara Asma’ Al Husna, Dia ingin memperlihatkan ragam kesempurnaan atau Allah terlihat dengan ragam kesempurnaan Dzat-Nya dalam alam semesta ini dan pada ragam martabat dzat yang wujudnya mungkin ada. Maksudnya adalah, nampaknya Allah Swt pada martabat dzat yang wujudnya mungkin ada, dimana Allah ber-tajalli dengan Asma’ Al Husna.
Pernyataan Syaikh Muhyiddin Ibnu Arabi, “Dzat-Nya nampak,” sebab itulah tingkatan tertinggi dari dzat yang wujudnya mungkin ada, dimana Allah Swt membentangkan selendang kesempumaan Dzat-Nya.
Tidak mungkin Allah Swt menginginkan Dzat-Nya tidak sempurna dalam penampakan Dzat pada beragam martabat dzat yang wujudnya mungkin ada. -Maha Suci Allah dari hal yang demikian. Penampakan Dzat Allah berujung pada sisi kekayaan dan dermawannya Dzat; wujudnya Allah yang demikian merupakan lawan kata dari “membutuhkan.”
Permohonan dzat yang wujudnya mungkin ada dengan gambaran kondisi dzatnya, itu merupakan simbol pengagungan sifat ilahi pada dzat tersebut (dzat yang wujudnya mungkin ada) dengan beragam nama-nama ketuhanan yang mengarah pada kesempurnaan Dzat Allah Swt tanpa dugaan adanya pengaruh permohonan dzat yang wujudnya mungkin ada tersebut untuk nampak, namun hal itu murni bentuk kedermawanan Allah Swt.
Tidak ada penisbatan antara pencipta dengan makhluk kecuali bentuk kekayaan mutlak (pada sisi Dzat Allah) sebagai lawan dari membutuhkan secara mutlak (yang ada pada sisi makhluk). Hal tersebut lantaran Dzat Allah Swt yang bersifat dermawan, dimana la menampakkan beragam rahasia kepada hamba-Nya tersebut.
Seolah-olah dzat yang wujudnya mungkin ada meminta kepada Allah Swt agar Allah menyelubungkan diri orang tersebut dengan hiasan kesempurnaan, dimana setiap martabat itudisesuaikan dengan diri dzat tersebut. Maka martabat yang kemudian nampak itu adalah “isim Allah Swt.”
Beragam Asma’ Al Husna seperti, Ar-Rahmân, Ar-Rahîm, Al Malik, Al Quddus, Al Mu’thi, Al Mâni’, Al Hadi, Al Muhyi dan Al Mumit kembali pada isim jami’ yaitu “Allah”.
Setiap martabat makhluk sejatinya memohon Asma Allah yang sesuai dengan tujuan martabatnya, ia juga memohon kepada Allah; sebagai isim jami yang merupakan pusat kembalinya seluruh Asma Al Husna, baik sebagai isim yang menyendiri (seperti: Al Quddûs) maupun bersamaan dengan yang lain.
Dengan penjelasan ini, maka jelas sudah pernyataan Syaikh Ibnu ‘Arabi, yang menyatakan, “Sungguh setiap dzat yang wujudnya mungkin ada meminta Asma Al Husna, dimana Asma masuk dalam isim jami, yang mana semua ini meminta pada Allah Swt agar Allah memberikan karunia pada dzat yang wujud dirinya mungkin ada dengan nampaknya Asma Al Husna pada dzat tersebut, dimana isim jami’ masuk kepada dzat tersebut.” -Selesai sudah penyataan Ibnu Arabi.-
Semua paparan tersebut sebenarnya merupakan gambaran kebutuhan dzat terhadap kedermawanan dan juga kekayaan mutlak (yang dimiliki oleh Allah Swt), dimana alam semesta adalah deretan martabat dzat yang wujudnya mungkin tidak ada, dalam rangka bentuk penghormatan Allah Swt terhadap nampaknya kesempurnaan dzat (makhluk). Kesempurnaan Allah Swt adalah kesempurnaan Dzat-Nya, mustahil jika Dzat Allah itu semakinsempurna dengan nampaknya alam semesta ini atau juga menjadi berkurang tanpanya.
Alam semesta merupakan gambaran kesempurnaan Allah Swt yang hakiki, yaitu gambaran yang sesuai dengan ragam martabatnya secara terperinci dan juga global, dimana itu merupakan isim jami’.
Ini pula yang menjadi makna pernyataan mereka (kaum sufi), “Alam semesta dengan seisinya ini merupakan kumpulan gambaran Allah Swt,” maksudnya bahwa kesempurnaan Dzat Allah Swt nampak pada beragam martabatnya; seperti Al Hayat, Al Qudrah, Al ‘Ilm, Al Hikmah, Al Jûd, Al ‘Adl. Ini pulalah makna dari hadits Nabi Saw yang menyatakan, bahwa “Allah Swt menciptakan Adam dengan gambaran-Nya.” Maksudnya adalah disifati dengan kesempurnaan sisi ketuhanan dan bukan bermakna yang kerap berlaku bagi manusia. Sebab hal itu mustahil lantaran di dalam dirinya terdapat ilmu, kehidupan, kemampuan diri, pendengaran, penglihatan, mampu berbicara, sikap dermawan, rahmat, hikmah dan beragam kesempurnaan lainnya.
