
Elsubha.com – Bahasa Alam Barzakh
Al Bukhari dalam Shahih-nya menyebutkan:
عَنِ ابْنِ عُمَرَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: بَيْنَا أَنَا نَائِمٌ أُتِيْتُ بِقَدَرٍ لَبَنَ فَشَرِبْتُ حَتَّى إِنِّي لَأَرَى الرِّيَّ يَخْرُجُ فِي أَظْفَارِي، ثُمَّ أَعْطَيْتُ فَضْلِي عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، قَالُوْا مَنْ حَوْلَهُ: فَمَا أَوَّلْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟
قَالَ: الْعِلْمُ
Diriwayatkan dari Ibnu Umar: Rasulullah Saw bersabda, “Di saat aku tidur, aku diberikan secawan susu, maka aku meminumnya, sungguh aku melihat sisa susu itu keluar (menetes) di kukuku, kemudian kelebihan (susu) itu kuberikan kepada Umar bin Al Khaththab.” Sahabat yang ada di sekitar beliau berkata, “Lantas apa takwilanmu wahai Rasulallah?” Beliau bersabda, “Ilmu.”
Rasulullah Saw mentakwilkan, “Al Qamish (pakaian)” dengan agama, “Sawari Adz-Dzahab (kalung emas)” dengan para pendusta: Musailamah dan Al Aswad Al ‘Anasi. Juga mimpi Nabi Yusuf As yang ada dalam kitabullah. Ada pula penakwilan, “Al Qaidu (ikatan (tali]),” dengan kokohnya agama.”
Maka, beragam makna yang ada di alam mimpi itu digambarkan dengan “simbol;” terkait ini ada ilmu khusus yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang diberi ma’rifat oleh Allah Swt.
Contoh: Terkadang Rasulullah Saw -sosok yang sempurna- terlihat (dalam mimpi) dengan gambaran tidak memiliki jari-jemari atau tidak memiliki tangan, maka takwilan mimpi tersebut adalah: wahai engkau yang melihat dalam mimpi, engkau telah memiliki kesiapan diri untuk berbuat baik, akan tetapi ada sisi ihsan dan sisi muliamu yang kurang.
Rasulullah Saw nampak bagi seseorang sesuai dengan cerminan kalbunya, jika ada yang kurang, maka beliau bagian dari itu.
Barangsiapa yang melihat Rasulullah Saw dengan gambaran orang buruk rupa, maka itu sebagai pemberitahuan baginya atas detikan kalbunya yang harus dihilangkan. Dan seharusnya hal yang demikian ini dikembalikan kepada syari’at. Apa yang syari’at terima, maka mimpi itupun dapat diterima dan jika tidak demikian, maka mimpi tersebut pun haruslah ditakwilkan.
Bermimpi melihat Allah Swt dalam sebuah gambaran (yang mana sejatinya Dzat Allah Swt terhindar dari keterikatan dengan suatu gambaran), ini merupakan pesan dari Allah Swt untuk hamba-Nya di dalam gambaran itu, dimana gambaran tersebut menempati posisi tulisan dan juga guratan. Ini merupakan pesan simbolik -sebagaimana ketika seseorang bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw-. Dari orang yang ‘Arif billah inilah dapat diketahui makna tajalli simbolik-Nya Allah Swt. Ini merupakan tajalli dari balik tirai penghalang berupa sebuah gambaran. Hal ini dapat dipahami sebagaimana dipahaminya makna ilmu dari gambaran “susu” yang telah disebutkan diatas.
Orang yang tidak mengetahui bahasa seorang ‘alim, maka bagaimana ia bisa memahami pesan yang disampaikannya? Orang yang mampu mengaplikasikan bahasa alam malakut dan alam suci nan tinggi, dirinya tidak takut lagi akan tajalli Dzat-Nya Allah Swt yang tunggal di seluruh lapisan langit dan bumi serta pada segala sesuatunya. Dia pun mampu mengetahui pesan suci yang disampaikan dan juga mengetahui maksudnya, diri orang ini selalu bersama Allah Swt dan dengan kekuatan yang datangnya dari Allah Swt semata.
Sebagian kaum bertemu dengan seseorang, lalu sebagian kaum itu memberikan sesuatu kepada orang tersebut, seraya berkata padanya, “Ambillah itu dan itu bukanlah milikmu,” orang tersebut menimpali, “Aku terima itu dan itu bukan dari dirimu.”
Makna pernyataan di atas bukan berarti bahwa bermimpi melihat Allah Swt di dunia itu nyata adanya, sebab Nabi Muhammad Saw pernah bersabda,
فَاعْلَمُوا أَنَّكُمْ لَنْ تَرَوْا رَبَّكُمْ ، حَتَّى تَمُوتُوْا
“Maka ketahuilah oleh kalian, bahwa sungguh kalian tidak akan pernah melihat Rabb kalian sampai kalian meninggal dunia.”
Maksudanya adalah dengan pandangan maknawi, yaitu dengan pandangan ruh dan bukan pandangan jasad.
Kini jelas sudah bagimu penyebab ulasan bahasa alam barzakh hingga sampai pada ulasan beragam pengetahuan yang dikhususkan dan diasas oleh Rasulullah Saw, dimana perkara ini beliau berikan sebagai wiratsah al muhammadiyyah. Allah Swt memangkas sisi jauh bagi hamba-Nya, Allah Swt memakaikan mereka sutra ketuhanan dan membekali mereka dengan izin; izin khusus dari sisi ketuhanan.
Rasulullah Saw pernah bersabda,
إِذَا أَحَبُّ اللَّهُ الْعَبْدَ نَادَى جِبْرِيلَ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فَلَانًا فَأَحْبِبْهُ، فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ فَيُنَادِي جِبْرِيلُ فِي أَهْلِ السَّمَاءِ: إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فَلَانًا فَأَحِبُّوْهُ، فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُوْلُ فِي الْأَرْضِ
“Apabila Allah telah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Sungguh Allah mencintai fulan, maka cintailah ia, maka Jibril pun mencintainya. Jibril (lalu) menyeru pada penghuni langit, ‘Sungguh Allah mencintai fulan’, cintailah ia, maka penghuni langitpun mencintainya. Kemudian Dia meletakkan pengkabulan (keinginan) baginya di bumi.”
Inilah izin khusus dari sisi ketuhanan yang dimaksudkan oleh kaum sufi. Bagaimana jika Allah Swt memberikan karunia kepada seorang hamba, sehingga ia mampu mendengar suatu panggilan dengan keutamaan-Nya? Amboi, bagaimana kondisi jiwanya kala itu?.
Telah diriwayatkan dari Nabi Saw, bahwa beliau pernah bersabda kepada Ubay bin Ka’b,
إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أَقْرَأَ عَلَيْكَ ( لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا )
“Sungguh Allah memerintahkanku agar aku membacakan kepadamu ayat, ‘Orang-orang kafir tidak akan….” Ubay berkata, وَسَمَّانِي ? Dan Allah menyebutkan namaku?” Nabi Saw bersabda, نعم “Iya.” Maka Ubay pun menangis kala itu. (HR. Asy-Syaikhani dan At-Tirmidzi).
Lisan mereka (kaum sufi) merupakan lisan yang haq (yang dikontrol oleh Allah Swt), kalbu mereka merupakan kalbu haq, tangan mereka merupakan tangan haq, pandangan mereka merupakan pandangan haq, mereka adalah rabbaniyyun (orang yang sempurna iman dan takwanya kepada Allah Swt), orang yang bijaksana dan para pakar fikih. Dimana figh al haq adalah fikihnya alam ruhani dan asrar.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
مَا كَا نَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَا لْحُكْمَ وَا لنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّا سِ كُوْنُوْا عِبَا دًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰـكِنْ كُوْنُوْا رَبَّا نِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ
maa kaana libasyarin ay yu-tiyahullohul-kitaaba wal-hukma wan-nubuwwata summa yaquula lin-naasi kuunuu ‘ibaadal lii ming duunillaahi wa laaking kuunuu robbaaniyyiina bimaa kungtum tu’allimuunal-kitaaba wa bimaa kungtum tadrusuun
“Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah, serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia, “Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah,” tetapi (dia berkata), “Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah, karena kamu mengajarkan Kitab dan karena kamu mempelajarinya!””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 79)
