You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pendahuluan dalam kitab Radd Akâdzib Al Muftarrin; Ulama Tazkiyat An-Nafs Min A’lâm An-Nâs bil Kitab was-sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Pendahuluan

Alhamdulillah wash-shalātu was-salamu ‘ala sayyidina Muhammadin khaira khalqillahi wa ‘alâ âlihi waman wâlâh.

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga Allah meridhoi kalian, aku juga ridha pada kalian serta kami kelak bisa bersama kalian.

Aku berharap kalian dalam kondisi baik dan selalu dalam kebaikan. Aku sudah memeriksa beberapa tulisan yang menyatakan bahwa sang penulis mengaku dalam tulisannya bahwa ia membela agama dan menuduh pengamal thariqah Tijaniyyah yang Allah Swt agungkan dengan kemampuan mengamalkan Al Qur’an dan As-Sunnah, penulis ini menuduh dengan tuduhan yang mengada-ada dan menisbatkan hal-hal baik pada dirinya. Sang penulis menyandarkan pemikirannya pada dua tokoh: Muhammad Al Khidr bin Ma Ya’ba Al Janki dan Abdurrahman yang mengaku dari Afrika, namun penisbatannya itu dusta, sebab dalam pengertian orang Arab, Afrika adalah kawasan bagian Tharabulus, Tunis dan Al Jazair. Dan disana tidak ada tokoh yang bernama demikian, mungkin dia berasal dari daerah Tikro yang tidak masuk kedalam kawasan Afrika.

Alhamdulillah kami sudah membantah segala tuduhan Khidr dari akarnya, sementara Abdurrahman, mungkin cukup bagiku manyebutkan kedustaan dirinya dengan tulisan ini, dimana ia berkata, “Shalawat Fatih bagian dari Al Qur’an,” maka kukatakan dengan tegas bahwa sosoknya bukanlah orang yang bertakwa, tidak tahu nilai kejujuran dan tidak pula mau insaf. Aku sebutkan perihal sosoknya itu dihadapan majelis para guru dan temannya ketika aku berada di Madinah pada bulan Muharram 1359 H, bahkan setelah kami sebutkan sosoknya dan juga kedustaannya, kawan-kawannya pun mengejeknya, sebab pernyataan yang ia gembar-gemborkan berada dalam kitab Al Ifadah Al Ahmadiyyah nyatanya tidak ada, meski ada sebagian orang yang fanatik dengan pemikirannya menyatakan, “Apa yang diperbuat oleh ‘Abdurrahman tersebut dapat kita kategorikan sebagai tipuan belaka.” Pernyataan ini lebih buruk dari pernyataan sebelumnya.

Ulama salaf dan khalaf selalu mengemban amanah terkait ungkapan yang mereka nukil dari yang lainnya, sehingga jiwa kitapun merasa tenang dengan sifat amanah tersebut. Oleh karena itu, ada ungkapan yang melekat kuat dikalangan mereka, yaitu “Para ulama itu terpercaya dalam apa yang mereka nukilkan, mereka mengkaji secara komperhensif apa yang mereka ucapkan.” Sebab keutamaan seorang ‘alim terletak pada kejujuran dan sifat amanahnya.

Andai mereka berijtihad lantas disalahkan oleh pihak yang benar dalam pandangan keduanya, maka itu tak mengapa selagi tidak keluar dari ragam kaidah hukum syari’at yang telah disepakati oleh para ulama. Sebagian ulama ada yang berdebat dan yang lainnya juga membantah kembali, bahkan sesekali ada sebagian mereka yang keras dalam membantah, namun mereka pun masih bersikap amanah dalam menukil dari musuh mereka, mereka ikhlas menolong perkara yang mereka lihat benar sesuai pemahaman mereka. Maka ketika mereka benar dalam pendapatnya, mereka mendapat pahala orang yang benar lagi ikhlas dan ketika mereka salahpun mereka mendapatkan pahala orang yang kalah lagi ikhlas.

Ketika kulihat beragam tuduhan yang mereka gencarkan pada thariqah Tijaniyyah dimana akupun dimuliakan bisa masuk ke dalamnya, aku temui bahwa apa yang mereka tuduhkan itu tidak ada pada pengamal thariqah, akupun memberikan penjelasan kepada mereka, “Aku telah menemukan pernyataan yang berkiblat pada istilah suatu kaum yang mereka pun belum pernah bertemu dan tidak diketahui kemana arah pemikiran tersebut dan dalam keyakinanku bahwa jika mereka (pengamal thariqah Tijaniyyah) mau menelisik lebih dalam pernyataan kaum tersebut, aku sangat yakin bahwa mereka sangat jauh dari apa yang dituduhkan.”

Akupun runtuhkan tuduhan para pembenci Tijany terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, yang mana mereka menisbatkan sebuah perkataan dan menyatakan bahwa itu dinukil dari kitab Jawahirul Ma’âni, yaitu perihal perkataan, “Sungguh wiridan ini disimpan oleh Nabi Saw dan tidak beliau ajarkan kepada salah seorang sahabat nabi.”

Selama aku bergumul dengan beragam buku thariqah Tijaniyyah, aku bahkan tidak pernah melihat pernyataan itu tertuang di kitab Jawahirul Ma’âni, dan buku thariqah Tijaniyyah lainnya. Sangat disayangkan jika ada seorang alim yang menggunakan senjata kedustaan, yang mana kedustaan merupakan satu dari sekian tanda kemunafikan dan ketika ada yang melakukan itu berarti ia telah mengeluarkan dirinya dari syarat mendasar seorang ulama, yaitu sikap amanah. Aku sudah mencari pernyataan di atas dalam kitab Jawahirul Ma’âni milik Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, diawal aku berpikiran positif bisa menemukan perkataan itu didalamnya atau minimal ada sisa nukilan itu dalam buku tersebut, bahkan aku mencoba memeriksanya baris demi baris dan kalimat demi kalimat tetapi tetap tidak aku temukan. Aku coba lagi mencari di buku-buku thariqah Tijaniyyah dan hasilnya nihil. Dari sini aku berkesimpulan bahwa kaum tersebut telah berdusta dengan pernyataannya itu, mereka menciptakan sendiri fitnah itu dengan kondisi mereka yang tidak takut pada Allah Swt. Jika toh seseorang telah berdusta terkait penukilannya, maka ia pun sudah gugur dari nama “ulama,” toh sekalipun ia masih tergolong didalamnya, ia adalah ulama yang buruk, kami memohon perlindungan dari itu.

Kita kembali pada pembahasan seputar wiridan yang mereka tuduhkan bahwa Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah berkata, “Sungguh Nabi Saw telah menyimpankannya untukku,” dan yang aku temui dari wiridan thariqah Tijaniyyah adalah kalimat istighfar, shalawat dengan lafazh apa saja dan juga kalimat “Lâ ilaha illallah,” lantas apa yang disembunyikan oleh baginda Nabi Saw?.

Apa kalimat istighfar? Tentu tidak masuk akal. Shalawat kepada Nabi Saw dengan lafazh apapun?! Bahkan shalawat fatih sekalipun, jika mereka beranggapan bahwa shalawat itu yang disembunyikan, toh shalawat ini sudah terkenal sejak sebelum adanya Sayyidi Syaikh Ra, bahkan kamipun memiliki beberapa riwayat akan shalawat tersebut dari Sayyidi Syaikh Ra.

Lalu apakah mungkin baginda Nabi Saw menyembunyikan kalimat La ilaha illallah?.

Inilah wiridan thariqah Tijaniyyah, jika demikian kondisinya maka mereka memang orang-orang yang membenci thariqah Tijaniyyah, mereka sudah banyak dicemooh oleh banyak orang bahkan sampai orang yang percaya pada mereka sekalipun.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu ing jaaa-akum faasiqum binaba-ing fa tabayyanuuu ang tushiibuu qoumam bijahaalating fa tushbihuu ‘alaa maa fa’altum naadimiin

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
(QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Semua pernyataan yang sudah kami kemukakan, baik itu dinukil oleh ‘Allamah Al Khidr bin Ma Ya ba atau Syaikh Abdurrahman atau si fulan lainnya, maka tetap saja bahwa itu merupakan pernyataan dusta yang dibuat-buat, dengan demikian maka mereka sejatinya sudah mengkhianati amanah keilmuan. Hal yang sudah pasti adalah bahwa tidak ada pengamal thariqah Tijaniyyah yang berkeyakinan bahwa Rasulullah Saw telah menyembunyikan beberapa perkara yang Allah Swt sudah perintahkan untuk menyampaikannya, inilah poin pertama. Maka pengamal thariqah Tijaniyyah terbebas dari tuduhan tersebut, para pembenci Tijany lah yang seharusnya membebaskan diri dari pernyataan dusta itu jika memang mereka masih memiliki keimanan.

Kemudian, izinkanlah aku untuk mengungkapkan sebuah kaidah ilmiah yang merupakan pandangan kami dan juga pandangan para ulama yang insaf, yaitu bahwa hukum syar’i merupakan hukum yang berlaku bagi setiap muslim dimanapun berada, baik ia seorang pakar fikih atau seorang ahli ilmu kalam atau bahkan seorang sufi sekalipun, termasuk Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; maka jika ada sebuah pernyataan yang dinisbatkan kepada seseorang, dimana pernyataan tersebut bisa digiring pada perkara yang sesuai dengan syari’at dan bisajuga digiring kepada makna lain diluar syari’at, maka kami pasti akan menggiring pernyataan tersebut pada perkara yang sesuai dengan syari’at.

Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah ditanya, “Apakah akan ada orang yang berbohong atas namamu?”, Sayyidi Syaikh Ra menjawab, “Iya, maka jika kalian mendengar sesuatu dariku, timbanglah itu dengan neraca syari’at; jika sesuai, amalkanlah dan jika bertentangan, tinggalkanlah.” Sayyidi Syaikh Ra sendiri sudah mengumumkan bahwa perkara yang bertentangan dengan syari’at adalah perkara dusta yang dinisbatkan pada beliau, sebab Sayyidi Syaikh Ra selalu terikat dengan syari’at dan senantiasa mengembalikan segala sesuatunya pada syari’at, dimana para ulama dizamannya telah menyaksikan hal tersebut pada diri beliau, bahkan neraca yang selalu dikedepankan oleh beliau dan para sahabatnya adalah neraca syari’at Allah Swt, maka segala pernyataan yang dinisbatkan pada beliau memiliki dua sisi; sisi yang sesuai syari’at dan sisi lain yang bertentangan dengan syari’at. Kamipun akan senantiasa menggiringnya pada hal yang sesuai dengan syari’at, kami juga menyerahkan diri pada Allah Swt dari segala perkara yang bertentangan dan sesuai dengan pengamalan dan pengetahuan kami mengikuti Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, kami yakin sepenuhnya bahwa beliau tidak pernah berkata dengan pernyataan yang bertentangan dengan syari’at, beliau terbebas dari tuduhan tersebut.

Jika toh memang pernyataan tersebut tidak bisa digiring kepada syari’at dengan ragam kajian yang biasa dilakukan para ulama, maka kamipun akan menolak pernyataan tersebut dan yakin bahwa itu merupakan hal dusta yang dinisbatkan kepada beliau, sebagaimana Sayyidi Syaikh Ra sendiri pernah menyampaikan hal tersebut semasa hidup beliau, bahkan beliau pernah berwasiat kepada para sahabatnya untuk menolak itu, salah satunya seperti pernyataan pembenci Tijany, “Sungguh wiridan ini telah disimpankan oleh Nabi Saw untukku dan tidak Nabi Saw ajarkan kepada sahabatnya.” Dengan hal ini berarti kita telah mengaplikasikan syari’at dan juga menyelamatkan akidah kita.

Secara global, tuduhan para pembenci Tijany ada tiga bentuk, antara lain sebagai berikut:

1. Bentuknya perkara dusta yang dibuat-buat dan tidak ada didalam buku yang mereka nisbatkan, bahkan tidak ada juga dibeberapa buku thariqah Tijaniyyah lainnya, seperti masalah pernyataan sebelumnya dan juga pernyataan bahwa shalawat fatih bagian dari Al Qur`an.

2. Bentuknya seperti tipuan penukilan, yang merupakan hal yang sangat hina, seperti perbuatan orang yang menyatakan dengan mengutip firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَقْرَبُوا الصَّلٰوةَ وَاَ نْـتُمْ سُكَا رٰى حَتّٰى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ وَلَا جُنُبًا اِلَّا عَا بِرِيْ سَبِيْلٍ حَتّٰى تَغْتَسِلُوْا ۗ وَاِ نْ كُنْتُمْ مَّرْضٰۤى اَوْ عَلٰى سَفَرٍ اَوْ جَآءَ اَحَدٌ مِّنْكُمْ مِّنَ الْغَآئِطِ اَوْ لٰمَسْتُمُ النِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوْا مَآءً فَتَيَمَّمُوْا صَعِيْدًا طَيِّبًا فَا مْسَحُوْا بِوُجُوْهِكُمْ وَاَ يْدِيْكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَفُوًّا غَفُوْرًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuu laa taqrobush-sholaata wa angtum sukaaroo hattaa ta’lamuu maa taquuluuna wa laa junuban illaa ‘aabirii sabiilin hattaa taghtasiluu, wa ing kungtum mardhooo au ‘alaa safarin au jaaa-a ahadum mingkum minal-ghooo-ithi au laamastumun-nisaaa-a fa lam tajiduu maaa-ang fa tayammamuu sho’iidang thoyyibang famsahuu biwujuuhikum wa aidiikum, innalloha kaana ‘afuwwan ghofuuroo

“Wahai orang yang beriman! Janganlah kamu mendekati sholat, ketika kamu dalam keadaan mabuk, sampai kamu sadar apa yang kamu ucapkan, dan jangan pula (kamu hampiri masjid ketika kamu) dalam keadaan junub kecuali sekadar melewati untuk jalan saja, sebelum kamu mandi (mandi junub). Adapun jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau sehabis buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, sedangkan kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan debu yang baik (suci); usaplah wajahmu dan tanganmu dengan (debu) itu. Sungguh, Allah Maha Pemaaf, Maha Pengampun.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 43), tanpa melanjutkannya sampai firman-Nya,

وَاَ نْـتُمْ سُكَا رٰى

“ketika kamu dalam keadaan mabuk”

Atau juga mengutip firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اِنَّ اللّٰهَ ثَا لِثُ ثَلٰثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ اِلٰهٍ اِلَّاۤ اِلٰـهٌ وَّا حِدٌ ۗ وَاِ نْ لَّمْ يَنْتَهُوْا عَمَّا يَقُوْلُوْنَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْهُمْ عَذَا بٌ اَ لِيْمٌ
laqod kafarollaziina qooluuu innalloha saalisu salaasah, wa maa min ilaahin illaaa ilaahuw waahid, wa il lam yangtahuu ‘ammaa yaquuluuna layamassannallaziina kafaruu min-hum ‘azaabun aliim

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 73) , tanpa menyebutkan kata-kata sebelumnya:

لَـقَدْ كَفَرَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا

“Sungguh, telah kafir orang-orang yang mengatakan bahwa”

atau juga mengutip firman Allah Swt,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ 
fa wailul lil-musholliin

“Maka celakalah orang yang sholat,”
(QS. Al-Ma’un 107: Ayat 4), dan tidak menyertakan ayat selanjutnya,

الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَا تِهِمْ سَاهُوْنَ 
allaziina hum ‘ang sholaatihim saahuun

“(yaitu) orang-orang yang lalai terhadap sholatnya,”
(QS. Al-Ma’un 107: Ayat 5)

Contoh lainnya adalah apa yang dinukil dari perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, “Sahabatku tidak akan dimakan api neraka, sekalipun sudah membunuh tujuh puluh orang,” Namun para pendusta tersebut tidak menukil lanjutannya; yaitu “Jika ia bertobat setelah melakukan pembunuhan tersebut.” Sementara bertobat tentu wajib bagi mereka, maka dimana sisi amanahnya si penukil tadi?.

Tipuan penukilan seperti ini juga dilakukan oleh Al Khidr Ma Ya’ ba, ia menukil dari Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, lalu ia nisbatkan pada kitab Al Jaisy, dalam nukilan tersebut ia mengutip: “Ada salah seorang dari sahabat Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata pada beliau, ‘Apakah Nabi Saw tahu mengenai keutamaan shalawat fatih? Sayyidi Syaikh Ra berkata, ‘Beliau tahu namun tidak menyebutkannya kepada salah seorang sahabatnya lantaran waktu pemberitahuannya ingin diakhirkan dan ketika itu belum ada orang yang akan Allah Swt tampakkan shalawat fatih padanya’.”

Al Khidr Ma Ya’ ba menambahkan kalimat, “Kepada salah seorang,” sungguh ia telah berdusta, kami sudah mencari kalimat tersebut dari kitab Al Jaisy, bahkan pada semua kitab thariqah Tijaniyyah, namun kami tidak dapat menemukan kalimat itu, lantas mengapa si penipu ini malah menambahkannya?.

Karena perkataan yang dinukil tanpa tambahan kata tersebut dapat diartikan bahwa Nabi Muhammad Saw mungkin telah menyebutkannya pada sebagian sahabatnya. Sebagaimana yang kita ketahui dalam kaidah ilmu bahasa; andai Al Khidir Ma Ya’ba menafikan, bahwa Nabi Saw telah menyebutkan shalat fatih kepada semua sahabatnya, maka itu tidak menafikan bahwa bisa jadi Nabi Saw telah menyebutkannya pada sebagian sahabat beliau. Seperti contohnya, aku katakan, “Engkau tidak bisa membuat paham semua muridmu,” maka perkataan itu tidak menafikan bahwa engkau telah membuat sebagian mereka bisa memahami, maka Al Khidr Bin Ma Ya’ba sudah pasti paham ilmu kebahasaan ini. Mungkin ketika pernyataannya itu tidak menunjukkan pada apa yang diakuinya, maka ia menambahkan perkataan tambahan itu. Dari sini sudah jelas bahwa ini menunjukkan sedikitnya pengetahuan agama dan minimnya sikap amanah dalam dirinya, bahkan diapun diikuti oleh Syaikh ‘Abdurrahman.

Contoh lainnya adalah, hadits Mu’adz bin Jabal, (Haditsnya adalah, “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Tiada Ilah yang patut disembah melainkan Allah’, ia akan masuk surga.” Hadits ini diriwayatkan dalam Al Hilyah dari riwayat Mu’adz bin Jabal; At-Tirmidzi meriwayatkan dari Az-Zuhri; Al Hakim dalam Al Mustadrak-nya dari riwayat Thalhah Al Anshari, yaitu dengan redaksi tambahan, “dia wajib mendapatkan surga (sebagai ganjarannya).”; Dalam Al Mu’jam Al Kabir dari riwayat Salamah bin Nu’aim Al Asyja’ie; Dalam Mu’jam Al Awsath dari riwayat Abu Ad-Darda`.) yang sudah disepakati keshahihannya. Dalam hadits tersebut, Nabi Saw memerintahkannya untuk tidak menyebutkan hadits ini kepada orang lain, Mu’adz merasa berdosa ketika menyebutkannya sesaat menjelang ajalnya tiba. Mu’adz meninggal dunia setelah Nabi Saw wafat, meski sebenarnya perkara ini merupakan perkara yang sepele.

Tetapi Al Khidr bin Ma Ya’ba malah menyebutkan, jika di luar sana ada beragam perkara yang Nabi Saw bebas memilihnya, sehingga bisa saja keutamaan pada hadits Mu’adz tadi sebagai perkara yang tidak diperintah untuk disampaikan kepada umat, dimana keutamaan Mu’adz dengan diberikannya hadits itu tidak lebih penting daripada perkara penentuan malam lailatul qadar dan tidak pula waktu ijabah dihari Jum’at, tidak pula kitab yang Nabi Saw minta untuk dituliskan sebelum meninggal dunia, toh jika perkara itu memang termasuk perkara yang harus disampaikan pada umat, maka tidak ada lagi perdebatan; apakah hadits itu harus disampaikan atau tidak. Jika pun beliau memerintahkan untuk menyembunyikannya, maka mengapa mereka masih menuliskannya?.

Sungguh keutamaan ilahiyyah itu sangat luas, bisa mencakupi orang kafir nan durjana yang bertobat kepada-Nya, bahkan Allah Swt bisa saja memberikannya pahala tanpa ia perlu beramal. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Al Khidr Ma Ya’ba terkait beragam keutamaan Allah Swt.

Kami akan tampilkan kedustaan dan tipuan Al Khidr Ma Ya’ba, agar orang yang sadar bisa insaf dan yang tidak mau insaf bisa melihatnya:

A. Pernyataan Asli Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra

Syarat sebuah wiridan adalah menjaga shalat lima waktu berjama’ah, menjaga ragam perkara syari’ah, berhati-hati dari sikap diri merasa aman dari makar Allah Swt dalam dosa-dosa kalian, karena itu adalah kehancuran yang sebenar-nya. Berhati-hatilah dan memohon perlindungan dari Allah Swt akan sikap merasa aman dari makar Allah ketika melakukan dosa, yang wujudnya berupa keyakinan diri bahwa dia tidak akan diadzab ketika melakukan itu. Sungguh orang yang bersikap demikian, merasa tidak akan diadzab di hadapan Allah Swt dan senantiasa demikian, ia akan meninggal dunia dalam kondisi kafir. (Jawahirul Ma’âni vol. 2: Risalah Sayyidi Syaikh Ra)

B. Tuduhan Dusta Ibnu Ma Ya’ba Al Janki Atas Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra

Orang ini menjadikan wiridannya sebagai pen-jamin diri bagi orang yang mengambilnya, yang dapat orang itu menyebabkan masuk surga tanpa hisab dan juga tanpa diadzab, ditempatkan di surga ter-tinggi bersama para nabi dan rasul tanpa terikat dengan suatu ikatan dan syarat. Pengikut lelaki ini menggapai kemuliaan itu tanpa disyarati dengan beragam syarat dan sifat, bahkan dosa mereka diampuni baik dosa yang besar maupun yang kecil, sekalipun selama hidup mereka tidak berbuat amal shaleh sama sekali.

3. Bentuknya berupa perkara yang dipalingkan dari pembahasannya dan digiring kepada makna yang tidak diyakini semua pemeluk thariqah. Kami sudah jelaskan, bahwa semua tuduhan mereka yang isinya menafikan akidah yang benar, maka kami tidak pernah mengucapkan demikian, sekalipun mereka mengatakan bahwa tuduhan mereka ada didalam kitab thariqah Tijaniyyah, maka tentu makna tersebutpun tidak bisa digiring kepada makna yang bertentangan, bahkan seharusnya digiring kepada makna yang sesuai dengan syari’at. Dari pandangan ini, maka kami bisa simpulkan bahwa perbedaan antara kami dan juga mereka (pembenci thariqah Tijaniyyah) adalah, bahwa mereka memahami pernyataan dalam buku thariqah dengan pemahaman mereka dan kami pun memahaminya dengan pemahaman lainnya, mereka berkata, “Makna perkataan ini menyelisihi syari’at,” sedangkan kami menyatakan, “Makna perkataan ini tidak menyelisihi syari’at.” Diluar itu ada perkara yang sudah pasti dan tidak diperdebatkan, bahwa kami selaku pemeluk thariqah Tijaniyyah tidak berakidah semua akidah yang mereka (pembenci Tijany) nisbatkan kepada kami dan kamipun tidak menerima akidah yang mereka tuduhkan kepada kami, bahkan kamipun tidak pernah mengatakan apa yang mereka tuduhkan itu.

Yang jelas bahwa pernyataan ini mungkin tidak sesuai dengan pemahaman mereka para pembenci thariqah. Yang perlu digarisbawahi adalah, pemeluk akidah yang menyimpang sekalipun, pasti mereka akan mengakui akidahnya, bahkan mereka akan membela akidah mereka.

Mari kita lihat pada kelompok Al Bahaiyyah, mereka ini jelas orang kafir, namun mereka mengaku beriman kepada Rasulullah Saw dan juga Al Qur’an, merekapun tidak mengingkari bahwa pemimpin mereka telah menyatakan bahwa syari’at Nabi Muhammad Saw sudah dihapus, bahkan mereka membela pendapat tersebut.

Orang-orang yang ingkar akan syafa’at Nabi Saw, mereka pulalah yang kemudian berdebat tentang siapa yang bisa memberikan syafa’at. Begitu pula dengan orang yang ingkar bahwa Allah akan terlihat di Akhirat kelak. Sama pula dengan orang yang menyatakan bahwa kalamullah itu hadist (baru); mereka mengingkari itu namun memperdebatkannya. Semua hal ini karena memang itulah yang mereka dapatkan dari para guru mereka, inilah kebiasaan kelompok-kelompok yang sesat.

Jika ada seorang Syaikh pengikut Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkeyakinan dengan akidah yang menyimpang, niscaya para pengikutnya pun akan mengikuti akidah tersebut dan dia tidak membebaskan diri dari keyakinan itu, maka semua pemeluk thariqah, baik kalangan ulama maupun orang awam mengikrarkan terbebasnya diri dari keburukan akidah ini. Maka jika ada pengamal thariqah yang menyelisihi para pendahulunya dan membuat-buat perkara yang menyelisihi thariqah, maka yang dijadikan patokan adalah apa yang ada pada pendahulu thariqah dan mengabaikan pernyataan orang tersebut.

Beragam tuduhan yang dipahami oleh para pembenci thariqah Tijaniyyah, kamipun tidak paham kalau itulah yang dimaksudkan oleh Sayyidi Syaikh Ra. Sekalipun jika memang itulah yang Sayyidi Syaikh Ra inginkan dari pernyataan tersebut, maka tentu kamipun akan meyakini beragam akidah tersebut, namun nyatanya mereka pun tidak berkeyakinan dengan akidah yang rusak itu, maka fakta ini sangat jelas (sisi kedustaannya) bagi siapa saja yang ingin insaf.

Sementara orang-orang yang sengaja menggiring sebuah pernyataan kepada pemahaman yang buruk, maka tak salah lagi, bahwa mereka adalah para pendusta. Sudah kuketahui pernyataan dusta mereka, dimana mereka menyatakan bahwa Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra mengatakan, “Sungguh shalawat fatih itu bagian dari Al Qur’an.” Aku sengaja mencari pernyataan itu diberbagai buku thariqah dan nyatanya pernyataan tersebut tidak ada. Aku lakukan itu bukan bermaksud ingin merendahkan perbuatan mereka, namun Allah Swt telah menginginkanku untuk menjadi penolong thariqah yang mulia ini. Sudah seyogyanya dia membuat masyarakat sibuk dengan ragam ibadah, menjalankan segala aktifitas agama dan duniawi sesuai dengan manhaj ilmiah As-Sunnah yang benar, dengan berupaya mengaplikasikan ragam akhlak Nabi Saw sesuai kemampuan, bukan malah memaparkan kedustaan kepada kaum muslim dan juga bukan dengan mengumbar aib orang lain, sebab Nabi Saw sudah melarang kita untuk itu, sebagaimana yang tertera dalam sabda beliau,

يا مَعْشَرَ مَنْ آمَنَ بِلِسَانِهِ وَلَمْ يُؤْمِنْ بِقَلْبِهِ لَا تَغْتَابُوْا الْمُسْلِمِينَ وَلَا تَتَّبِعُوْا عَوْرَاتَهُمْ فَإِنَّهُ مَنْ تَتَبَّعَ عَوْرَةَ أَخِيهِ الْمُسْلِمِ تَتَّبِعُ اللَّهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ تَتَبَّعَ اللَّهُ عَوْرَتَهُ يُفَضِّحْهُ وَلَوْ فِي جَوْفِ بَيْتِهِ

“Wahai semua orang yang beriman pada lisan namun tidak pada kalbunya, janganlah kalian mengghibah kaum muslimin dan mengumbar aib mereka, sungguh orang yang mengumbar aib seorang muslim, niscaya Allah akan mengumbar aibnya dan orang yang Allah umbar aibnya, Dia akan mempermalukannya meski ia berada didalam rumahnya sendiri.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman)

Kami kembali pada pembahasan diatas, anggap saja kami mendengar secara langsung dari Sayyidi Syaikh Ra, ungkapan, “Shalawat fatih dari Al Qur’an,” atau anggaplah kami juga mendengar ucapan itu keluar dari lisan ulama yang berpegang teguh dengan agamanya, secara otomatis kami pun akan beradab baik ketika mendengarnya. Kamipun juga tahu bahwa dia (orang yang berdusta) itu cerdas dan akalnya tidak konslet. Dengan demikian kami pun paham bahwa pernyataannya itu seharusnya memiliki makna yang benar lantaran dia adalah ulama yang alim dan cerdas. Maka jika kita lihat kembali redaksi kata, “Al Qur`an” dalam pernyataan tersebut, maka seyogyanya tidak mengarah pada pernyataan yang tidak benar, pernyataan yang tak layak keluar dari lisan penuntut ilmu pemula, lantas bagaimana jika kata itu nyatanya keluar dari lisan seorang Imam yang ‘Alim?! Kebenaran apa yang ia giring disini? Apakah dia membenarkan bahwa makna shalawat fatih tersebut diambil dari Al Qur`an? Jika iya, maka itu memang sudah menjadi kaidah dasar yang dilakukan para ulama disetiap zaman. Inilah makna yang mengarah pada perkara yang benar. Jika ini yang ia nyatakan, maka ini baru ciri muslim berakal dan cerdas, yang harus menggiring makna ucapan, bahwa shalawat fatih itu dipetik dari penggalan ayat Al Qur’an.

Sumber : BUKU SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ MENJAWAB, ANTARA TUDUHAN DAN FAKTA (RADD AKADZIB AL MUFTARRIN; ULAMA TAZKIYAT AN-NAFS MIN A’LAM AN-NAS BIL KITAB WAS-SUNNAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI