You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Bermimpi Melihat Rasulullah Saw Benar Adanya

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Bermimpi Melihat Rasulullah Saw Benar Adanya

Apabila ada orang yang bermimpi melihat Rasulullah Saw, maka mimpinya itu benar adanya, sebagaimana yang tertera dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari,

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَخَيَّلُ بِي

“Barangsiapa yang telah melihatku dalam mimpi, maka ia benar telah melihatku, sebab syeithan tidak bisa berkhayal untuk menyerupaiku.” (HR. Al Bukhari)

Sabda Rasulullah Saw lainnya,

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي

“Barangsiapa yang telah melihatku dalam mimpi, maka ia benar telah melihatku, karena sungguh syeithan tidak bisa menyerupaiku.” (HR. Al Bukhari)

Abu ‘Abdillah Az-Zurqani memberikan penjelasan ketika ia men-syarah kitab Al Muwaththa pada pembahasan zakat harta terpendam; berikut ceritanya: Dahulu ada seorang lelaki yang bermimpi melihat Nabi Saw dan Nabi Saw bersabda kepadanya, “Pergilah engkau ke suatu tempat dan galilah di sana, karena di sana ada harta karun. Ambillah itu untukmu. Tidak ada tanggungan dari lima bagian itu bagimu.” Pagi harinya, ia pergi ke tempat tersebut lalu menggalinya dan ia menemukan harta karun di sana. Iapun meminta fatwa ulama pada masanya dan mereka memfatwakan bahwa tidak ada keharusan mengeluarkan bagian seperlima baginya lantaran mimpi itu benar adanya, sementara Al ‘Izz bin ‘Abdussalam memfatwakan bahwa ia punya keharusan mengeluarkan seperlima bagiannya, Al ‘Izz melanjutkan, Mayoritas mimpi tersebut menempati posisi hadits shahih, namun ia bertentangan dengan hadits yang lebih shahih, yaitu hadits:

فِي الرَّكَازِ الْخُمُسَ

“Dalam harta karun ada seperlima bagian (yang harus dikeluarkan zakatnya).” (HR.Abu Daud)

Pendapat semisal juga dikemukakan oleh As-Suyûthi, Al ‘Azîzi Al ‘Aththâr dalam hasyiyah-nya (catatan pinggir buku yang pernah ia tulis); Abu ‘Abdillah bin Qanun dalam penjelasannya terhadap hadits Al Muwaththa menyatakan, mereka ini berpendapat bahwa yang demikian itu (melihat Nabi Muhammad Saw dalam mimpi) merupakan mimpi yang benar, sesuai dengan sabda Rasulullah Saw,

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Karena sesungguhnya syeithan tidak bisa menyerupaiku.” Ini merupakan hadits general dan tidak bisa dikhususkan seenaknya sendiri, mimpi yang demikian itu merupakan mimpi yang harus ditakwilkan, karena sesuatu yang nampak dari mimpi itu tidak sesuai dengan syari’at. Inilah yang disepakati oleh para ulama tahqiq (ulama yang senantiasa mengkaji sesuatu secara komperhensif).

Maka jika kemudian ada dari anak zaman ini yang menyatakan bahwa mimpi yang demikian ini (mimpi bertemu Nabi Saw) merupakan mimpi yang dimasuki syeithan, maka dia telah beradab buruk karena menyelisihi hadits Nabi Saw, sementara tidak ada dalil apapun yang dapat memalingkan perkara ini dari keumumannya saat ada kemungkinan perkara ini digiring pada makna yang benar, bahkan tidak ada satupun ulama pada masa itu yang menyatakan mimpi tersebut salah, mereka tunduk patuh pada sabda Nabi Muhammad Saw,

فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَمَثَّلُ بِي

“Sungguh syeithan tidak dapat menyerupaiku,” dan pada perkara yang tidak menyelisihi syari’at.

Jika kemudian ada orang yang bermimpi Rasulullah Saw, dimana beliau bersabda (dalam bisyarah mimpi itu), “Bunuhlah jiwamu,” Maka perbuatan salah yang dilakukan oleh orang yang dengki adalah menggiring makna itu pada makna “membunuh jiwa sebenarnya,” kemudian dia akan mengatakan bahwa mimpi itu tidaklah benar adanya. Berbeda dengan kami yang akan mengatakan, “Sungguh membunuh itu haram dalam syari’at Nabi Muhammad Saw, maka tidak mungkin Nabi Saw memerintahkan demikian, sehingga yang dimaksud dari perintah membunuh secara maknawi adalah dengan cara menjauhi semua hal yang buruk dan mengikuti syari’at Nabi Muhammad Saw secara totalitas.

Lalu jika Rasulullah Saw bersabda dalam mimpi itu, “Bergembiralah, sungguh Allah Swt akan memberimu pahala yang besar lantaran untaian bacaan tasbihmu, yaitu sebesar pahala berhaji, berumrah dan bangun malam selama setahun,” maka perbuatan yang salah adalah mereka menggiringnya kepada makna, bahwa untaian tasbih itu lebih utama daripada menunaikan haji, umrah, bangun malam dan juga puasa, kemudian ia akan mengatakan bahwa mimpi itu tidak benar adanya.

Sementara kami, kami akan mengatakan bahwa keutamaan Allah Swt itu sangatlah luas, Dia bisa memberikan seorang muslim apa saja dan bagaimana saja, perkara ini tidak hanya bisa didapatkan oleh hamba yang istiqamah lagi gemar bertobat, akan tetapi ini juga mencakup setiap orang yang kerap berbuat maksiat dan hanya bertobat kepada Allah Swt ketika sekarat maut saja, meski ia belum pernah shalat, belum pernah bertasbih memuji Allah Swt, belum pernah berpuasa setelah ia bertobat, semua ini murni karena keutamaan Allah Swt bukan lantaran amal perbuatan yang pernah ia lakukan atau juga kebaikan yang pernah ia berikan. Perkara ini akan diberikan pada seorang muslim sesuai tingkatannya. Allah Swt bisa saja memberikannya sesuatu, selain kenabian dan status sahabat nabi, sebagaimana yang tertera dalam hadits bahwa Allah telah memilih para sahabat Nabi Saw,

إِنَّ اللَّهَ إِخْتَارَ أَصْحَابِي عَلَى الْعَالَمِينَ سِوَى النَّبِيِّينَ وَالْمُرْسَلِينَ

“Sungguh Allah telah memilih sahabatku dari semua alam semesta selain para nabi dan para utusan Allah.” (HR. Al Bazzar.)

Kemudian tanyalah kepada ulama, “Apakah keutamaan Allah bisa mencakup itu semua?” Mereka akan menjawab pertanyaan kalian dengan, “Iya, akan tetapi tidak bertopang pada sisi kemanusiaan dan dirinya tidak merasa aman dari makar Allah Swt.

Jika Rasulullah Saw bersabda padamu, “Sungguh Allah akan memberikan ganjaran shalawatmu dengan pahala seribu khataman Al Qur`an.” Seharusnya orang-orang yang memiliki intelektualitas tinggi paham bahwa perkara itu terjadi sesuai dengan keutamaan yang Allah Swt berikan, bukan lantaran orang itu pantas mendapatkannya, bukan pula diartikan bahwa dia lebih baik dari orang lain, tidak pula berarti bahwa untaian shalawatnya kepada Rasulullah Saw itu lebih utama daripada membaca Al Qur’an, sebagaimana yang disangkakan oleh para pendusta. Sebab, keutamaan Al Qur’an dibanding dengan yang lainnya terlihat sangat jelas, maka silahkan saja kalian giring opini sesuai keinginan kalian wahai para pendusta, yang pasti keyakinan kami adalah bahwa Al Qur’an merupakan kalam yang paling utama dibanding seluruh kalam lainnya. Lantas apa salahnya jika ada seorang hamba yang tamak dengan keutamaan Allah Swt yang terhampar luas?! Sementara keutamaan ilahiyyah itu sangat luas, bahkan sekalipun Allah Swt memberikan seribu kali lipat dari keutamaan tersebut kepada setiap muslim tanpa si muslim itu perlu beramal, maka hal tersebut bisa saja terjadi dan sekali lagi ini murni dari sisi pemberian Allah Swt yang berbeda dari sisi keimanan yang diberikan-Nya.

Gambaran akan hal ini telah diriwayatkan dari Abu Dzarr Ra, ia berkata: Rasulullah Saw pernah bersabda,

عَنْ أَبِي ذَرِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا، مِنْهَا : رَجُلٌ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ: اعْرِضُوا عَلَيْهِ صِغَارَ ذُنُوبِهِ وَارْفَعُوا عَنْهُ كِبَارَهَا . فَتُعْرَضُ عَلَيْهِ صِغَارُ ذُنُوبِهِ، فَيُقَالُ : عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا وَعَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ: نَعَمْ. لَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَ وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ كِبَارِ ذُنُوبِهِ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْهِ. فَيُقَالُ لَهُ: فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةٌ. فَيَقُولُ: رَبِّ قَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لا أَرَاهَا هَا هُنَا . فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ.

Diriwayatkan dari Abu Dzarr, dia berkata: Rasulullah Saw bersabda, “Sungguh aku tahu penghuni surga yang terakhir memasuki surga dan penghuni neraka yang terakhir memasuki neraka, diantaranya adalah lelaki yang pada hari Kiamat dihadirkan (dihadapan Allah), dikatakan: ‘Tampakkanlah dosa-dosa kecilnya dan angkatlah dosa-dosa besarnya’, maka dosa-dosa kecilnya pun ditampak-kan padanya dengan dikatakan padanya, ‘Engkau telah berbuat pada hari ini seperti ini dan itu, dan engkau telah berbuat pada hari itu seperti ini dan itu’, lelaki itu berkata, ‘iya, aku telah melakukannya’, dia tidak bisa mengingkari itu, meski telah dikasihani dengan tidak ditampakkan dosa-dosa besarnya. Dikatakan padanya, ‘Sungguh engkau mendapatkan kebaikan dari setiap keburukan yang ada’, lelaki itu berkata, ‘Wahai Rabb, aku telah berbuat banyak hal yang tidak kulihat disini. Periwayat berkata: ‘Aku telah melihat Rasulallah Saw tertawa hingga terlihat gigi seri beliau’.” (HR. Muslim dalam Shahih-nya.)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Ra, ia berkata: Rasulullah Saw bersabda,

لَيَتَمَنَّيَنَّ أَقْوَامٌ لَوْ أَكْثَرُوا مِنَ السَّيِّئَاتِ قَالُوا: بِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: الَّذِينَ بَدَّلَ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ.

“Hendaknya kaum-kaum yang banyak berbuat ke-maksiatan itu berangan-angan,” para sahabat berkata, “Berangan-angan dengan apa wahai Rasulullah?” Beliau bersabda “yaitu orang-orang yang Allah ganti keburukan mereka dengan kebaikan.” (HR. Al Hakim, diakui oleh Adz-Dzahab.)

Maka janganlah kemunafikan kalian itu men-yebabkan kalian merasa aman dari adzab Allah Swt, sebab masa depan kita belum kita ketahui, maka sikap yang tepat ketika masa depan kita belum kita ketahui adalah dengan mengambil sikap tidak merasa aman dari adzab Allah Swt.

Sumber : BUKU SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ MENJAWAB, ANTARA TUDUHAN DAN FAKTA (RADD AKADZIB AL MUFTARRIN; ULAMA TAZKIYAT AN-NAFS MIN A’LAM AN-NAS BIL KITAB WAS-SUNNAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI