
Elsubha.com – Berdo’a Dengan Asma` Al Husna Merupakan Pondasi Dasar Thariqah
Apabila ada seseorang yang bermimpi melihat Rasulullah Saw dan dalam mimpi tersebut Rasulullah melarangnya ber-tawajjuh dengan asma ul husna dan mengarahkannya untuk berdzikir dengan dzikiran yang lainnya, maka orang yang dengki itu akan menggiring makna mimpi tersebut kepada makna agar meninggalkan dzikiran dengan asma ul husna bahkan akan melarang-nya, maka ini jelas merupakan kebodohan yang parah, mereka belum memahami makna ber-tawajjuh dalam istilah kaum sufi.
Maka apakah mungkin pernyataan diatas digiring pada makna bahwa Rasulullah Saw memiliki perhatian khusus pada seorang muslim tersebut?; yang mana ketika Nabi Saw melihat kondisi jiwa orang itu lebih condong pada sisi Jamal, maka beliau memerintahkannya untuk ber-tawajjuh dengan asma’ Allah yang mengandung sisi keindahan atau ketika melihat kondisi jiwa orang itu lebih condong pada sisi Jalal, maka beliau memerintahkannya untuk ber-tawajjuh dengan asma Allah yang meng-andung sisi Jalal, begitu pula ketika Rasulullah Saw melihat kondisi jiwa orang itu sedang tertutupi sesuatu, maka beliau memerintahkannya untuk ber-tawajjuh dengan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Jelas sudah bahwa kondisi jiwa ini tidak terkait dengan diperbolehkan atau dilarangnya suatu perkara.
Makna tawajjuh bukan hanya mengkhususkan seseorang dengan satu macam ibadah saja, contohnya; ber-tawajjuh dengan shalawat kepada Nabi Muhammad Saw. Makna dari hal ini bukanlah kita meninggalkan untaian pujian pada Allah Swt dan juga asma Allah Al Husna, akan tetapi menjadikan shalawat itu sebagai ibadah yang lebih banyak bagi diri kita.
Tidak ada nukilan pernyataan Sayyidi Syaikh Ra yang melarang untuk berdo’a dengan asma al husna, sungguh itu merupakan hal dusta yang disampaikan oleh para pembenci tijany. Berdzikir dengan asma al husna merupakan satu dari beragam pondasi thariqah. Jika memang duduk perkaranya adalah seperti yang dikemukakan para pendusta tadi, maka didalam thariqah tidak ada istilah berdzikir dengan asma al husna, lantas apa yang menjadi pondasi sebuah thariqah? Sementara pernah diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib secara mauquf,
كُلُّ دُعَاءٍ مَحْجُوبٌ حَتَّى يُصَلَّى عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Setiap do’a itu terhalang hingga ia bershalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad Saw.” (HR. Ath-Thabrâni dalam Al Ausath dengan periwayat yang tsiqat.)
At-Tirmidzi juga meriwayatkan dari Abu Qurrah Al Asadi dari Sa’id bin Al Musayyab, dari ‘Umar bin Al Khaththab secara mauquf, ia pernah berkata,
إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لَا يَصْعَدُ مِنْهُ شَيْءٌ، حَتَّى تُصَلِّيَ عَلَى نَبِيِّكَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
“Sungguh do’a itu terhenti diantara langit dan bumi; tidak ada sesuatupun yang naik (naik ke langit) sampai engkau (yang berdo’a) bershalawat kepada Nabimu.” (HR. At-Tirmidzi.)
Diriwayatkan dari Fadhalah Ra, Nabi Saw mendengar seorang lelaki yang berdo’a dalam shalatnya dan tidak bershalawat kepada Nabi Saw, Nabi Saw bersabda,
عَجِلَ هَذَا ، ثُمَّ دَعَاهُ ، فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ، ثُمَّ لْيُصَلِّ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، ثُمَّ لْيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ.
“Lelaki ini cepat-cepat,” kemudian Nabi Saw memanggilnya seraya berkata kepadanya atau kepada yang lainnya, “Jika seseorang diantara kalian shalat (berdo’a), maka mulailah dengan memuji Allah kemudian hendaknya ia bershalawat kepada Nabi Saw, lalu berdo’a setelahnya dengan apa yang dia kehendaki,” (HR. At-Tirmidzi, Abu Daud dan An-Nasa’i.)
Diriwayatkan pula secara marfu’ dari ‘Umar, ia berkata,
الدُّعَاءِ مَوْقُوْفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ ، لَا يَصْعَدُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيَّ، فَلَا تَجْعَلُوْنِي كَغُمْرِ الرَّاكِبِ، صَلُّوا عَلَيَّ، أَوَّلَ الدُّعَاءِ، وَأَوسَطَهُ، وآخره
“Do’a itu terhenti diantara langit dan bumi, ia tidak naik sampai orang yang berdo’a bershalawat kepadaku, jangan kalian jadikan aku layaknya cawan seorang musafir, bershalawatlah padaku pada awal, pertengahan dan akhir do’a.” (HR. At-Tirmidzi dengan lafazh milik Razin)
