You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Ada Wali Allah Yang Jika Melihatnya Bisa Mengingatkan Seseorang Pada Allah Swt

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ada Wali Allah Yang Jika Melihatnya Bisa Mengingatkan Seseorang Pada Allah Swt

Apabila ada seorang muslim yang bermimpi melihat Rasulullah Saw dan dalam mimpi tersebut Rasulullah berkata padanya, “Siapa yang melihatmu akan masuk surga, maka orang yang dengki itu akan menggiring pernyataan ini bahwa muatan pernyataan itu tidak lagi terikat dengan sebuah ikatan dan juga syarat. Sementara kami malah akan menggiring pernyataan itu pada sabda Rasulullah Saw,

لاَ تَمَسُّ النَّارُ مُسْلِمًا رَآنِي أَوْ رَأَى مَنْ رَآنِي

“Tidak akan tersentuh api neraka, yaitu seorang muslim yang sudah melihatku atau melihat orang yang sudah melihatku, ” (HR. At-Tirmidzi dimana ia berkata, “Hasan Gharib”; Ibnu Abi ‘Ashim; Abu Nu’aim dalam Al Ma’rifah; Adh-Dhiya dari riwayat Jabir.) baik itu melihat dalam mimpi ataupun yang lainnya. Rasulullah Saw juga bersabda,

مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي

“Barangsiapa yang melihatku dalam tidur (mimpinya), maka ia telah (benar-benar) melihatku. ” (HR. Al Bukhari.) Hadits ini sifatnya umum bagi setiap umat manusia, dimana bermimpi demikian juga ada beberapa persyaratannya:

Pertama, adanya keimanan. Ini merupakan perkara mendasar yang harus dipenuhi. Jika Allah Swt tidak mengaruniai keimanan, maka ia tidak dapat melakukan itu. Sang penipu; pembenci Tijany menghapus kata-kata, “Andai meninggal dunia dengan keimanan,” dari pernyataan asli yang dinisbatkan kepada Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Kedua, adanya kecintaan yang benar. Rasulullah Saw pernah bersabda,

أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ

“Engkau kelak bersama orang yang kau cintai,” (HR. Al Bukhari; At-Tirmidzi; Ahmad; Abdurrazzaq; Ibnu Hibban; Ad-Darimi; Al Baihaqi; Abu Ya’la; Al Bazzar; Abdullah Al Humaid.) dimana kecintaan yang benar inilah yang menggiring dirinya untuk bisa mengikuti beragam sunnah beliau. Maka lantaran tidak adanya kedua perkara ini, maka orang-orang kafir tidak bisa melihat Rasulullah Saw.

Rasulullah Saw pernah bersabda,

أَوْلِيَاءُ اللَّهِ: الَّذِينَ إِذَا رُءُوا ذُكِرَ اللَّهُ

“Para wali Allah adalah mereka yang jika dilihat, dapat mengingatkan (kita) pada Allah.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Hakim dari riwayat Ibnu ‘Abbas, yang redaksinya, “Rasulullah Saw pernah ditanya siapakah wali Allah itu?, lalu beliau menyebutkan hadits tersebut.” Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Al Bazzar dengan periwayat yang tsiqât, pemilik kitab Al Hilyah meriwayatkannya dari Sa’ad bin Abi Waqash, Ibnu Jarir juga meriwayatkannya dari Sa’id secara mursal. Sebab melihat mereka merupakan bagian dari nikmat Allah Swt. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَا ذْكُرُوْنِيْۤ اَذْكُرْكُمْ وَا شْکُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun

“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 152)

Redaksi hadits Nabi Muhammad Saw,

لاَ تَمَسُّ النَّارُ مُسْلِمًا رَآنِي أَوْ رَأَى مَنْ رَآنِي

“Tidak akan tersentuh api neraka, seorang muslim yang sudah melihatku atau melihat orang yang sudah melihatku.” (HR. At-Tirmidzi; Adh-Dhiya Al Maqdisi, sanadnya shahih.) Para generasi salaf terdahulu menggiring hadits ini pada makna zhahimya (makna yang nampak jelas dari redaksi hadits), bahkan mereka sangat berharap bisa mendapatkan keutamaan tersebut. Thalhah pernah berkata, “Aku sudah pernah melihat Jabir,” Musa berkata, “Aku sudah melihat Thalhah,” Yahya berkata, “Musa berkata padaku, Engkau telah melihatku dan kami berharap pada Allah Swt (akan keutamaan itu).

Kita juga sebagai pengamal thariqah Tijany berharap mendapatkan keutamaan tersebut dari Allah Swt.

Berkumpul dengan orang shaleh merupakan satu penyebab seseorang bisa bertobat kepada Allah Swt, hadits akan hal ini sangatlah masyhur. Diantara keutamaan thariqah Tijany adalah, bahwa beragam kabar gembira yang akan kita dapatkan, itu membuat kita gembira dan tidak malah membuat kita terkelabuhi, dimana perkara ini tidaklah menjadi pondasi dalam bersuluk menuju Allah Swt, janganlah engkau bersandar dengan mengandalkan modal sudah berkumpul dengan orang shaleh. Sungguh orang yang berdusta itu akan mengatakan, “Sungguh bertemu dengan orang shaleh itu dapat membuat seseorang mendapatkan rasa aman,”

Meninggal dunia dengan membawa keimanan merupakan syarat seseorang bisa mendapatkan bisyarah tersebut, sementara kita tidak tahu akhir hidup kita, dan ini cukup menjadi alasan agar kita tidak merasa aman dari makar Allah Swt.

Sumber : BUKU SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ MENJAWAB, ANTARA TUDUHAN DAN FAKTA (RADD AKADZIB AL MUFTARRIN; ULAMA TAZKIYAT AN-NAFS MIN A’LAM AN-NAS BIL KITAB WAS-SUNNAH) SYAIKH MUHAMMAD AL HAFIZ AT-TIJANY AL MISHRI