
Elsubha.com – Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah Sesuai Al Qur’an dan As-Sunnah
Tuduhan dusta terhadap Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, bahwa beliau pernah berkata, “Wiridan ini telah Nabi Saw simpan untukku dan tidak diajarkan kepada seorangpun dari sahabatnya.” Bahkan dia menyatakan bahwa pernyataan ini ada dalam kitab Jawahir Al Ma’ani dan Al Jaisy
Ini merupakan pernyataan dusta, pernyataan yang belum pernah diucapkan oleh Sayyidi Syaikh dan tidak satupun sahabat beliau yang mengucapkan pernyataan tersebut. Pernyataan ini tidak ada dalam kitab Jawahir Al Ma’âni, tidak pula pada Al Jaisy, serta tidak pula ada pada salah satu buku thariqah.
Apa saja yang dimaksud dengan wiridan itu? Jika istighfar, shalawat kepada Nabi Muhammad Saw dengan shighat apapun dan kalimat mulia; Lâ Ilaha Illalah yang dimaksud, maka apakah mungkin seorang penghuni dunia berfikir bahwa Nabi Muhammad Saw menyembunyikan ini semua?!
Tentang shalawat fatih; jika ada orang yang beranggapan bahwa Syaikh Ahmad At-Tijany Ra berkata, “Shalawat fatih itu diturunkan kepada beliau dan Nabi Muhammad Saw menyembunyikannya dari para sahabat Nabi Saw dan hanya mengajarkannya kepada Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.” Maka ini merupakan perkataan yang tidak pernah diucapkan oleh Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan tidak satupun dari sahabat beliau yang menyatakan hal tersebut, bahkan shalawat fatih sudah terkenal sebelum Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lahir.
Tuduhan dusta terhadap Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra; bahwa beliau Ra pernah berkata (terkait dengan shalawat fatih), “Barangsiapa yang tidak berkeyakinan bahwa shalawat fatih merupakan bagian dari Al Qur`an, maka ia tidak akan mendapatkan pahala yang ada di dalamnya.”
Ini merupakan pernyataan dusta dan mengarang-ngarang belaka. Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak pernah menyatakan bahwa shalawat fatih merupakan bagian dari Al Qur’an, tidak pula bahwa shalawat fatih merupakan kalam Allah al qadim atau bahwa itu berasal dari hadits qudsi atau satu dari sekian sisi wahyu kenabian. Sayyidi Al ‘Arabi bin Sa’ ih pernah berkata, “Orang yang beranggapan bahwa shalawat fatih merupakan bagian dari Al Qur’an, maka yang bersangkutan memahami perkataan Syaikh berdasarkan makna yang dipahaminya.”
Maksudnya adalah, bahwa shalawat fatih merupakan bagian dari ilham; yaitu bahwa shalawat tersebut merupakan do’a yang diterima oleh Al ‘Arif billah dari hadrah qudsiyyah (hadrah-nya Allah Swt) atau dari Nabi Muhammad Saw atau yang bersangkutan mendengar dari sisi ghaib atau melihatnya secara tertulis. Maka maksud dari kalamullah disini adalah, bahwa itu merupakan cara Allah Swt untuk menyampaikan kepada para wali dalam tidur mereka.
Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tidak pernah menyatakan, “Sungguh shalawat fatih turun kepadaku atau Allah Swt membicarakan itu kepadaku.” Yang benar adalah shalawat fatih ini dinisbatkan kepada Asy-Syaikh Sayyidi Muhammad Al Bakiri, beliau melihat shalawat fatih tersebut tertulis diatas secarik kertas dari cahaya. Terkait kondisi penerimaan ini, maka ini tidak menjadi masalah, Syaikh Ahmad At-Tijany Ra dan para ‘Arifin mempercayai ini dan shalawat ini sudah sangat terkenal sebelum masa Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.
Pada ulasan yang sudah kusebutkan dimuka, Al Hilali juga menuliskan tuduhan:
“Sungguh semua pengamal thariqah adalah wali syeithan, karena mereka menyelisihi Allah Swt dan Rasul-Nya. Mereka membuat beragam wiridan dengan sifat dan tata cara yang belum dijelaskan Allah Swt dan Rasulullah Saw.”
Maha Suci Allah, apakah ini yang namanya ilmu? apakah ini adabnya ulama? Apakah ini bentuk husnuzhan yang telah diperintahkan kepada setiap muslim? Lantas bagaimana halnya dengan orang yang mengaku-ngaku bahwa ia seorang yang alim?.
Apakah bacaan, “Lâ ilaha Ilallah, istighfar dan juga shalawat kepada Nabi Saw tidak disyari’atkan Allah Swt dan tidak pula oleh Rasulullah Saw serta tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Swt?. Terkait dengan sifat dan juga tatacara yang dilakukan ketika seseorang berdzikir,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاِ ذَا قَضَيْتُمُ الصَّلٰوةَ فَا ذْكُرُوا اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِكُمْ ۚ فَاِ ذَا اطْمَأْنَنْتُمْ فَاَ قِيْمُوا الصَّلٰوةَ ۚ اِنَّ الصَّلٰوةَ كَا نَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا
fa izaa qodhoitumush-sholaata fazkurulloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubikum, fa izathma-nangtum fa aqiimush-sholaah, innash-sholaata kaanat ‘alal-mu-miniina kitaabam mauquutaa
“Selanjutnya, apabila kamu telah menyelesaikan sholat(mu), ingatlah Allah ketika kamu berdiri, pada waktu duduk, dan ketika berbaring. Kemudian, apabila kamu telah merasa aman, maka laksanakanlah sholat itu (sebagaimana biasa). Sungguh, sholat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 103)
Maksudnya adalah ingatlah Allah Swt dalam setiap kondisi. Dalam hadits disebutkan,
كَانَ يَذْكُرُ اللَّهَ فِي كُلِّ أَحْيَانِهِ
“Nabi Saw senantiasa mengingat Allah Swt pada setiap kondisi.” (HR. Muslim, Abu Daud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah dari hadits Sayyidah ‘Aisyah Ra.)
Apakah pengamal thariqah yang membuat kalimat La ilaha Ilallâh?, Apakah pengamal thariqah yang membuat kalimat istighfar?.
Bukankah Nabi Muhammad Saw telah mengakui beragam do’a, dzikir atau hal lainnya yang diucapkan oleh para sahabat beliau?! Lantas betapa beraninya orang yang sok alim itu menyatakan bahwa beragam dzikiran ini tidak memiliki asal dari firman Allah Swt dan merupakan perkara bid’ah, setiap perkara bid’ah itu adalah sesat dan kesesatan itu tempatnya di neraka. Sungguh mereka tidak mengetahui seluk-beluk bid’ah.
