
Elsubha.com – Persahabatan Ruhani Dengan Rasulullah Saw
عَنْ خُزَيْمَةَ بْنِ ثَابِتٍ، قَالَ: رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنِّي أَسْجُدُ عَلَى جَبْهَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَخْبَرْتُ بِذَلِكَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: “إِنَّ الرُّوْحَ لَيَلْقَى الرُّوْحَ، وَأَقْنَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ هَكَذَا، فَوَضَعَ جَبْهَتَهُ عَلَى جَبْهَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.
Diriwayatkan dari Khuzaimah bin Tsabit Ra, dia berkata: “Aku telah bermimpi, seolah-olah aku sujud di atas kening Nabi Saw.” Maka akupun mengabarkan itu kepada Rasulullah Saw, maka beliaupun bersabda, “Sungguh ruh itu akan menemui ruh (lainnya).” Maka Nabi Saw merundukkan kepala beliau seperti ini dan dia menaruhkan keningnya di kening Nabi Saw. (HR. Ahmad dengan beragam sanad, dimana hadits ini merupakan salah satu yang memiliki sanad yang muttashil (bersambung sampai ke Rasulullah Saw); HR. Ath-Thabrani, dimana ia berkata, “Maka Nabi Saw bersabda, ‘Duduk dan sujudlah, serta berbuatlah sebagaimana yang kau lihat (dalam mimpimu); para periwayat keduanya tsiqât.)
Al Bukhari meriwayatkan dari Anas Ra, Nabi Saw bersabda,
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَقَدْ رَآنِي فَإِنَّ الشَّيْطَانَ لَا يَتَخَيَّلُ بِي وَرُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ
“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpi, maka ia telah melihatku, karena syeithan tidak bisa berkhayal menjadi diriku. Mimpi orang mukmin merupakan bagian dari empat puluh enam bagian kenabian.”
Diriwayatkan pula dari hadits Abu Hurairah, ia
berkata: Aku mendengar Nabi Muhammad Saw bersabda,
مَنْ رَآنِي فِي الْمَنَامِ فَسَيَرَانِي فِي الْيَقَظَةِ وَلَا يَتَمَثَّلُ الشَّيْطَانُ بِي
“Barangsiapa yang melihatku dalam mimpinya, niscaya ia melihatku dalam kondisi terjaga atau sadar diri dan syeithan tidak bisa menyerupaiku.”
Abu Abdillah berkata: “Ibnu Sirin pernah berkata, ‘yaitu dia melihat gambaran beliau’.”
Beragam buku As-Sunnah dipenuhi dengan ulasan yang menjelaskan bahwa bermimpi melihat Nabi Saw itu benar adanya dan syeithan tidak bisa menyerupai beliau.
Syeithan terkadang mengelabuhi sebagian manusia dengan gambaran seolah-olah Allah Swt sedang berdialog dengan orang tersebut, namun hal yang demikian ini tidak bisa terjadi pada sisi Nabi Saw, Syeithan tidak bisa berwujud baginda Nabi Saw.
Allah Swt disucikan dari gambaran apapun, maka seorang mukmin tidak akan tertipu dengan bisikan syeithan yang mengaku sebagai tuhan, sementara Rasulullah Saw adalah manusia biasa yang Allah Swt anugerahkan keutamaan, yaitu tidak bisa diserupai oleh syeithan.
Contoh itu berlaku bagi orang yang mengaku bahwa didalam dirinya ada sisi ketuhanan, dimana terkadang ia menampakkan beragam perkara diluar kebiasaan manusia. Namun ini tidak berlaku bagi orang yang mengaku-ngaku sebagai seorang nabi secara dusta. Hal tersebut lantaran mustahilnya seseorang mengaku sebagai tuhan, sehingga tidak ada lagi yang harus diragukan. Namun jika kemampuan supranatural ini nampak pada pendusta, maka perkara itupun akan sulit dibedakan; sulit pula membedakan mana orang yang jujur dan mana yang berdusta, dimana pintu ma’rifat pun sudah tersumbat.
Maka barangsiapa yang mengaku bahwa syeithan nampak dalam mimpi atau dalam kondisi sadarkan diri dan syeithan mengaku bahwa ia adalah Nabi Muhammad Saw, maka orang yang mengaku demikian adalah pendusta, penentang As-Sunnah yang shahih.
Pernyataan Nabi, “Dan syeithan tidak bisa menyerupaiku,” maka hukum yang diberlakukan adalah sesuai dengan keumuman lafazh ini dan bukan lantaran sebab yang khusus. Banyak orang shaleh yang pernah melihat Nabi Saw, inilah kondisi nyata yang menunjukkan bentuk pemeliharaan Allah Swt kepadanya. Dalam syari’at telah ditetapkan bahwa pertemuan semacam ini merupakan pertemuan yang benar adanya, tidak ada campur tangan syeithan didalamnya. Perkara tersebut terjadi sebagai hasil dari ketulusan cintanya kepada Nabi Muhammad Saw dalam kesungguhannya mengikuti As-Sunnah (secara zhahir dan bathin), bukan mengikuti As-Sunnah yang terselubung, yaitu mengikuti As-Sunnah secara zhahir saja namun sisi bathinnya mengingkari.
Yang dimaksud dengan mengikuti As-Sunnah adalah mengikuti tuntunan Nabi Saw pada beragam perkara yang wajib dilakukan setiap individu, yang mana perkara tersebut merupakan bagian dari kesempurnaan iman. Selain mengikuti tuntunan Nabi Saw, bisa juga berupa penyucian diri secara zhahir dan bathin, menghiasi diri dengan akhlak yang terpuji, serta mengisi kalbu dan perilaku dengan ragam perkara yang diperintahkan oleh syari’at yang diterangi dengan cahaya rabbani. Dengan semua ini, hamba tersebut sudah siap menerima kondisi kebersamaan dengan Nabi Saw, sesuai dengan firman Allah Swt,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَا لصِّدِّيْقِيْنَ وَا لشُّهَدَآءِ وَا لصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا
wa may yuthi’illaaha war-rosuula fa ulaaa-ika ma’allaziina an’amallohu ‘alaihim minan-nabiyyiina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaaa-i wash-shoolihiin, wa hasuna ulaaa-ika rofiiqoo
“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 69)
Telah diriwayatkan secara shahih dari para sufi, bahwa Al Ma’iyyah (kebersamaan dengan baginda Nabi Saw) itu dibenarkan bagi orang yang Allah Swt kehendaki di dunia dan akhirat.
Orang yang telah mengetahui perkara ini, maka ia tetap dalam pengetahuannya dan orang bodoh akan hal ini pun akan tetap tidak mengetahuinya. Kebenaran inipun tidak akan pupus dengan keberadaan orang yang tidak tahu akan hal ini. Orang yang tidak mendapatkan keutamaan ini tidak bisa dijadikan dalih untuk orang yang sudah mendapatkan kondisi ini, bahkan yang benar adalah orang yang sudah mengetahui perihal ini, ia menjadi hujjah untuk orang yang belum mengetahuinya.
Syari’at telah membicarakan perkara kebersamaan dengan Nabi Muhammad Saw ini secara gamblang, maka silahkan bagi orang yang mengerti hukum agar menghukuminya. Allah Swt berfirman,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum, fa ing tanaaza’tum fii syai-ing fa rudduuhu ilallohi war-rosuuli ing kungtum tu-minuuna billaahi wal-yaumil-aakhir, zaalika khoiruw wa ahsanu ta-wiilaa
“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 59)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُوْنَ حَتّٰى يُحَكِّمُوْكَ فِيْمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوْا فِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
fa laa wa robbika laa yu-minuuna hattaa yuhakkimuuka fiimaa syajaro bainahum summa laa yajiduu fiii angfusihim harojam mimmaa qodhoita wa yusallimuu tasliimaa
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 65)
Nabi Muhammad Saw juga pernah bersabda,
الْأَرْوَاحُ جُنُودٌ مُجَنَّدَةٌ، فَمَا تَعَارَفَ مِنْهَا الْتَلَفَ، وَمَا تَنَاكَرَ مِنْهَا اختلف
“Ruh itu layaknya tentara yang berkelompok, mana saja yang saling mengenal ia akan cocok dan mana yang saling mengingkari, ia akan berselisih.” (HR. Ahmad, Syaikhani dan Abu Daud.)
Kami akan berikan contoh tentang orang-orang yang Allah Swt berikan kemuliaan ini:
Imam Ahmad meriwayatkan dari Al Mutsanna; maksudnya Ibnu Sa’id, ia berkata: Aku pernah mendengar Anas berkata, “Aku tidur sedikit dimalam hari dan ada yang mendatangiku, kecuali (ketika itu) aku melihat dalam mimpiku sahabat karibku (Nabi Muhammad Saw).” Anas Ra mengucapkan itu dengan keduanya berlinang air mata. (Lih. Majma’ Az-Zawa’ld, vol. 7: 182. Para periwayat hadits ini merupakan periwayat Ash-Shahih.)
Syaikh Ibnu Al Hajj Al Maliki menyebutkan dalam kitabnya Al Madkhal, dari guru beliau; Al ‘Arif Al Kamil Al Hafiz Ibnu Abi Jamrah: Bahwa ada seorang ulama Maliki, saat ada musibah (nazilah) yang menimpanya, salah seorang sahabatnya melihat Nabi Muhammad Saw dan Nabi memberikan solusi atas permasalahan tersebut. Dia selalu mengembalikan permasalahan yang dihadapi kepada Nabi Saw.
Engkau bisa rujuk kembali kitab Al Madkhal pada pembahasan “Keutamaan beragam kondisi sakit yang mendapatkan keajaiban.”
Dinukil dari Al Imam Abu Al Qasim Al Qusyairi, bahwa anaknya pernah sakit keras, ia berkata kala itu, “Aku sampai putus asa dari penyakit yang diderita anakku dan itu sangat memberatkan diriku, lalu aku melihat Nabi Saw dalam mimpiku, akupun mengadu kepada beliau perihal penyakit anakku dan beliau berkata, “Mana dirimu dari ayat-ayat penyembuh.”
Akupun terbangun dan aku pikir ulang kata-kata beliau dan ternyata ayat-ayat penyembuh itu ada di dalam Al Qur’an:
- Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قَا تِلُوْهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللّٰهُ بِاَ يْدِيْكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرْكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُوْرَ قَوْمٍ مُّؤْمِنِيْنَ
qootiluuhum yu’azzib-humullohu bi-aidiikum wa yukhzihim wa yangshurkum ‘alaihim wa yasyfi shuduuro qoumim mu-miniin
“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tanganmu dan Dia akan menghina mereka dan menolongmu (dengan kemenangan) atas mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman,”
(QS. At-Taubah 9: Ayat 14) - Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ
yaaa ayyuhan-naasu qod jaaa-atkum mau’izhotum mir robbikum wa syifaaa-ul limaa fish-shuduuri wa hudaw wa rohmatul lil-mu-miniin
“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.”
(QS. Yunus 10: Ayat 57) - Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
ثُمَّ كُلِيْ مِنْ كُلِّ الثَّمَرٰتِ فَا سْلُكِيْ سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۗ يَخْرُجُ مِنْۢ بُطُوْنِهَا شَرَا بٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَا نُهٗ فِيْهِ شِفَآءٌ لِّلنَّا سِ ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يَةً لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
summa kulii ming kullis-samarooti faslukii subula robbiki zululaa, yakhruju mim buthuunihaa syaroobum mukhtalifun alwaanuhuu fiihi syifaaa-ul lin-naas, inna fii zaalika la-aayatal liqoumiy yatafakkaruun
“kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan, lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu).” Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berpikir.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 69) - Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْـقُرْاٰ نِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَا رًا
wa nunazzilu minal-qur-aani maa huwa syifaaa-uw wa rohmatul lil-mu-miniina wa laa yaziiduzh-zhoolimiina illaa khosaaroo
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 82) - Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِيْنِ
wa izaa maridhtu fa huwa yasyfiin
“dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 80) - Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَلَوْ جَعَلْنٰهُ قُرْاٰ نًا اَعْجَمِيًّا لَّقَا لُوْا لَوْلَا فُصِّلَتْ اٰيٰتُهٗ ۗ ءَاَعْجَمِيٌّ وَّعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَآءٌ ۗ وَ الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ فِيْۤ اٰذَا نِهِمْ وَقْرٌ وَّهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۗ اُولٰٓئِكَ يُنَا دَوْنَ مِنْ مَّكَا نٍۢ بَعِيْدٍ
walau ja’alnaahu qur-aanan a’jamiyyal laqooluu lau laa fushshilat aayaatuh, a a’jamiyyuw wa ‘arobiyy, qul huwa lillaziina aamanuu hudaw wa syifaaa, wallaziina laa yu-minuuna fiii aazaanihim waqruw wa huwa ‘alaihim ‘amaa, ulaaa-ika yunaadauna mim makaanim ba’iid
“Dan sekiranya Al-Qur’an Kami jadikan sebagai bacaan dalam bahasa selain bahasa Arab niscaya mereka mengatakan, “Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya?” Apakah patut (Al-Qur’an) dalam bahasa selain bahasa Arab sedang (Rasul), orang Arab? Katakanlah, “Al-Qur’an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, dan (Al-Qur’an) itu merupakan kegelapan bagi mereka. Mereka itu (seperti) orang-orang yang dipanggil dari tempat yang jauh.””
(QS. Fussilat 41: Ayat 44)
Al Imam Al Qusyairi berkata, “Lalu aku tuliskan itu semua di secarik kertas, aku masukkan ke dalam air dan aku minumkan air tersebut, spontan anakku kembali pulih.”
Setelah semua pemaparan diatas, kini telah jelas bagimu makna thariqah dan apa yang menjadi maksud dari thariqah, yaitu agar seseorang sampai pada kondisi ber-suhbah ruhani dengan Rasulullah Saw, sehingga seorang hamba mampu mengaplikasikan beragam adab ilahiyyah dan mengistiqomahkannya pada hadrah Allah Swt; baik secara keilmuan, pengamalan, maupun penyaksian jiwa.
Tidak ada yang lebih utama daripada ber-suhbah dengan baginda Nabi Saw, sebagaimana ada pula sebagian orang yang ber-suhbah dengan para sahabat nabi atau orang shaleh lainnya. Semua itu merupakan perkara baik yang dianjurkan oleh syari’at.
Barangsiapa yang ber-suhbah dengan salah satu dari mereka dan berjanji saling mencintai karena Allah Swt, saling menasehati dalam agama, serta saling tolong menolong dalam menggapai keridhoan Allah Swt sesuai landasan Al Qur’an dan As-Sunnah, maka ini merupakan perkara yang sangat baik dan telah dianjurkan oleh syari’at. Dalam perkara tersebut tidak ada unsur yang menyelisihi syari’at sebagaimana yang diduga oleh sebagian orang bodoh, bahkan perkara ini adalah inti dari syari’at; salah satu dari maksud syari’at.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim
“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)
Tidak diragukan lagi, bahwa martabat tertinggi daripada al ittiba’ adalah dikala seseorang mampu menyatukan antara ittiba’ zhahir dan ittiba’ bathin.
Maka barangsiapa yang sampai pada maqam ini, ia telah mengetahui beragam adab ilahiyyah dari sumbernya. Posisinya yang bersama para nabi dan ash-shiddiqîn adalah benar adanya, tidak ada penutup dan tidak pula tabir penghalang, ini dilakukan secara mukasyafah dan mu’ayanah.
Bentuknya berupa penyaksian, pengaplikasian dan menjadikan itu sebagai akhlak. Tauhid dirinya merupakan sebenar-benarnya tauhid, keimanannya merupakan sebenar-benarnya iman, keyakinannya merupakan sebenar-benarnya keyakinan. Ketika cahaya ilahiyyah tersingkap, maka sirnalah keraguan, kegelapan akan tercerahkan dan dugaan pun akan hilang
Inilah thariqah Ahlullâh dan orang-orang khusus-Nya, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِذَا تَدَايَنْتُمْ بِدَيْنٍ اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى فَا كْتُبُوْهُ ۗ وَلْيَكْتُبْ بَّيْنَكُمْ كَا تِبٌ بِۢا لْعَدْلِ ۖ وَلَا يَأْبَ كَا تِبٌ اَنْ يَّكْتُبَ كَمَا عَلَّمَهُ اللّٰهُ فَلْيَكْتُبْ ۚ وَلْيُمْلِلِ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ وَلْيَتَّقِ اللّٰهَ رَبَّهٗ وَلَا يَبْخَسْ مِنْهُ شَيْــئًا ۗ فَاِ نْ كَا نَ الَّذِيْ عَلَيْهِ الْحَـقُّ سَفِيْهًا اَوْ ضَعِيْفًا اَوْ لَا يَسْتَطِيْعُ اَنْ يُّمِلَّ هُوَ فَلْيُمْلِلْ وَلِيُّهٗ بِا لْعَدْلِ ۗ وَا سْتَشْهِدُوْا شَهِيْدَيْنِ مِنْ رِّجَا لِكُمْ ۚ فَاِ نْ لَّمْ يَكُوْنَا رَجُلَيْنِ فَرَجُلٌ وَّا مْرَاَ تٰنِ مِمَّنْ تَرْضَوْنَ مِنَ الشُّهَدَآءِ اَنْ تَضِلَّ اِحْدٰٮهُمَا فَتُذَكِّرَ اِحْدٰٮهُمَا الْاُ خْرٰى ۗ وَ لَا يَأْبَ الشُّهَدَآءُ اِذَا مَا دُعُوْا ۗ وَلَا تَسْــئَمُوْۤا اَنْ تَكْتُبُوْهُ صَغِيْرًا اَوْ كَبِيْرًا اِلٰۤى اَجَلِهٖ ۗ ذٰ لِكُمْ اَقْسَطُ عِنْدَ اللّٰهِ وَاَ قْوَمُ لِلشَّهَا دَةِ وَاَ دْنٰۤى اَ لَّا تَرْتَا بُوْۤا اِلَّاۤ اَنْ تَكُوْنَ تِجَا رَةً حَا ضِرَةً تُدِيْرُوْنَهَا بَيْنَكُمْ فَلَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَا حٌ اَ لَّا تَكْتُبُوْهَا ۗ وَاَ شْهِدُوْۤا اِذَا تَبَايَعْتُمْ ۖ وَلَا يُضَآ رَّ كَا تِبٌ وَّلَا شَهِيْدٌ ۗ وَاِ نْ تَفْعَلُوْا فَاِ نَّهٗ فُسُوْقٌ بِۢكُمْ ۗ وَ اتَّقُوا اللّٰهَ ۗ وَيُعَلِّمُكُمُ اللّٰهُ ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuuu izaa tadaayangtum bidainin ilaaa ajalim musammang faktubuuh, walyaktub bainakum kaatibum bil-‘adli wa laa ya-ba kaatibun ay yaktuba kamaa ‘allamahullohu falyaktub, walyumlilillazii ‘alaihil-haqqu walyattaqillaaha robbahuu wa laa yabkhos min-hu syai-aa, fa ing kaanallazii ‘alaihil-haqqu safiihan au dho’iifan au laa yastathii’u ay yumilla huwa falyumlil waliyyuhuu bil-‘adl, wastasy-hiduu syahiidaini mir rijaalikum, fa il lam yakuunaa rojulaini fa rojuluw wamro-ataani mim mang tardhouna minasy-syuhadaaa-i ang tadhilla ihdaahumaa fa tuzakkiro ihdaahumal-ukhroo, wa laa ya-basy-syuhadaaa-u izaa maa du’uu, wa laa tas-amuuu ang taktubuuhu shoghiiron au kabiiron ilaaa ajalih, zaalikum aqsathu ‘ingdallohi wa aqwamu lisy-syahaadati wa adnaaa allaa tartaabuuu illaaa ang takuuna tijaarotan haadhirotang tudiiruunahaa bainakum fa laisa ‘alaikum junaahun allaa taktubuuhaa, wa asy-hiduuu izaa tabaaya’tum wa laa yudhooorro kaatibuw wa laa syahiid, wa ing taf’aluu fa innahuu fusuuqum bikum, wattaqulloh, wa yu’allimukumulloh, wallohu bikulli syai-in ‘aliim
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila kamu melakukan utang-piutang untuk waktu yang ditentukan, hendaklah kamu menuliskannya. Dan hendaklah seorang penulis di antara kamu menuliskannya dengan benar. Janganlah penulis menolak untuk menuliskannya sebagaimana Allah telah mengajarkan kepadanya, maka hendaklah dia menuliskan. Dan hendaklah orang yang berutang itu mendiktekan, dan hendaklah dia bertakwa kepada Allah, Tuhannya, dan janganlah dia mengurangi sedikit pun dari padanya. Jika yang berutang itu orang yang kurang akalnya atau lemah (keadaannya), atau tidak mampu mendiktekan sendiri, maka hendaklah walinya mendiktekannya dengan benar. Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada (saksi) dua orang laki-laki, maka (boleh) seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang-orang yang kamu sukai dari para saksi (yang ada), agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya. Dan janganlah saksi-saksi itu menolak apabila dipanggil. Dan janganlah kamu bosan menuliskannya, untuk batas waktunya baik (utang itu) kecil maupun besar. Yang demikian itu, lebih adil di sisi Allah, lebih dapat menguatkan kesaksian, dan lebih mendekatkan kamu kepada ketidakraguan, kecuali jika hal itu merupakan perdagangan tunai yang kamu jalankan di antara kamu, maka tidak ada dosa bagi kamu jika kamu tidak menuliskannya. Dan ambillah saksi apabila kamu berjual-beli, dan janganlah penulis dipersulit dan begitu juga saksi. Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sungguh, hal itu suatu kefasikan pada kamu. Dan bertakwalah kepada Allah, Allah memberikan pengajaran kepadamu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 282)
Kita semua memohon kepada Allah Swt, agar Dia memberikan kita taufiq untuk bisa mengikuti tuntunan Nabi Muhammad Saw secara sempurna dan menyelamatkan kita dari kesalahan dan kesesatan.
