
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,
قُلْ يَتَوَفّٰٮكُمْ مَّلَكُ الْمَوْتِ الَّذِيْ وُكِّلَ بِكُمْ ثُمَّ اِلٰى رَبِّكُمْ تُرْجَعُوْنَ
qul yatawaffaakum malakul-mautillazii wukkila bikum summa ilaa robbikum turja’uun
“Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikan kamu, kemudian kepada Tuhanmu, kamu akan dikembalikan.””
(QS. As-Sajdah 32: Ayat 11)
Dan juga firman-Nya,
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الْاَ نْفُسَ حِيْنَ مَوْتِهَا وَا لَّتِيْ لَمْ تَمُتْ فِيْ مَنَا مِهَا ۚ فَيُمْسِكُ الَّتِيْ قَضٰى عَلَيْهَا الْمَوْتَ وَ يُرْسِلُ الْاُ خْرٰۤى اِلٰۤى اَجَلٍ مُّسَمًّى ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ
allohu yatawaffal-angfusa hiina mautihaa wallatii lam tamut fii manaamihaa, fa yumsikullatii qodhoo ‘alaihal-mauta wa yursilul-ukhrooo ilaaa ajalim musammaa, inna fii zaalika la-aayaatil liqoumiy yatafakkaruun
“Allah memegang nyawa/jiwa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 42)
Juga berkaitan dengan perkataan Abul Hasan Asy-Syadzili, “Dicabutnya nyawa kami di tangan-Mu, tetapi sesuatu diposisikan antara kami dan selain-Mu.”
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Perlu diketahui, bahwa sesungguhnya Allah lah yang sebenarnya mencabut ruh tetapi Dia menugaskan malaikat Izra il untuk tugas ini sebagai tirai penghalang sisi hikmah-Nya, yang dengan itu mampu mengalihkan sisi kemampuan Allah Swt yang sebenarnya. Karena rahasia kemampuan Allah Swt yang asli tidaklah Allah tampakkan kepada seorangpun, namun Allah Swt tampakkan kemampuan itu dengan bahasa hikmah. Allah Swt lah yang mencabut nyawa sebenarnya secara bathin dan dari sisi kemampuan-Nya, Dia pulalah yang menugaskan malaikat Izra`il yang bertugas mencabut nyawa secara zhahir dan legal.
Tirai penghalang yang berupa hikmah ini terkadang Allah Swt angkat pada beberapa orang sebagai keutamaan dari Allah bagi mereka dan juga secara khusus pada apa yang Allah Swt kehendaki diluar dari keumuman yang berlaku, maka Allah pun mencabut nyawa mereka sendiri tanpa menugaskan malaikat Izra`il, namun bukan berarti bahwa orang yang langsung Allah Swt cabut nyawanya lebih utama dari orang-orang yang nyawanya dicabut oleh malaikat Izra`il, sebab ini adalah sebuah keistimewaan, dimana keistimewaan ini tidak hanya dikhususkan bagi sosok yang unggul (para nabi As) namun juga mencakup sosok biasa (para wali Allah), keistimewaan ini mencakup segala sesuatu dan segala kedudukan yang ada, sebagaimana yang akan kami jelaskan selanjutnya.
Kami sudah jelaskan bahwa tidak ada halangan bagi Allah dalam melakukannya, Dia bisa melakukan dan bertindak apa saja pada kerajaan-Nya berdasarkan keumuman dan sisi kemutlakan khabar diatas, Allah Swt pun mengkhususkan suatu tindakan pada orang yang Dia kehendaki, sekalipun tindakan ini bertentangan dari keumuman khabar diatas, dimana jika tindakan ini berdasarkan pada khabar yang khusus juga, maka hal itu sudah jelas dan tidak perlu dijelaskan kembali.
Allah Swt senantiasa mengkhususkan keistimewaan pada orang yang unggul (para nabi) dalam setiap tingkatan makhluk, namun terkadang Allah pun mengkhususkan keistimewaan tersebut para orang-orang biasa (para wali Allah) dalam sebagian tingkatan makhluk. Telah diriwayatkan secara tsabit dari Rasulullah Saw,
إِنَّ اللَّهِ عِبَادَاً لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمُ النَّبِيُّوْنَ وَالشُّهَدَاءُ، لِمَقْعَدِهِمْ وَقُرْهِمْ مِنَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Sungguh Allah memiliki hamba-hamba yang bukan dari kalangan para nabi dan juga orang-orang yang mati syahid, para nabi dan orang-orang yang mati syahid pun cemburu pada mereka lantaran kedudukan dan kedekatan mereka di sisi Allah pada hari Kiamat.”
Dari sini jelas sudah bagimu, bahwa terkadang Allah pun mengkhususkan keistimewaan pada orang biasa dan bukan pada orang yang unggul saja, bahkan inilah keistimewaan yang paling besar dari yang lainnya, dimana para nabi dengan segenap ketinggian martabat mereka berangan-angan tentang kedudukan orang yang tidak memiliki apa-apanya dibanding kedudukan yang telah mereka miliki.
Terkait penyingkapan rahasia kisah ini, yang mana didalamnya terkait keistimewaan yang tidak diberikan kepada pembesar nabi sekalipun meski mereka memiliki kedudukan yang tinggi. Maka orang-orang yang mereka cemburui ini layaknya anak kecil yang ada di buaian Allah Swt, Allah sayangi mereka dengan beragam pemberian lantaran mereka tidak memiliki kemampuan untuk mengemban beban hadhrah ilahiyyah yang datang pada mereka dari sisi tajalli-Nya pada waktu itu, hal ini sebagaimana yang Allah Swt firmankan,
يَوْمَ تَرَوْنَهَا تَذْهَلُ كُلُّ مُرْضِعَةٍ عَمَّاۤ اَرْضَعَتْ وَتَضَعُ كُلُّ ذَا تِ حَمْلٍ حَمْلَهَا وَتَرَى النَّا سَ سُكٰرٰى وَمَا هُمْ بِسُكٰرٰى وَلٰـكِنَّ عَذَا بَ اللّٰهِ شَدِيْدٌ
yauma tarounahaa taz-halu kullu murdhi’atin ‘ammaaa ardho’at wa tadho’u kullu zaati hamlin hamlahaa wa taron-naasa sukaaroo wa maa hum bisukaaroo wa laakinna ‘azaaballohi syadiid
“(Ingatlah) pada hari ketika kamu melihatnya (guncangan itu), semua perempuan yang menyusui anaknya akan lalai terhadap anak yang disusuinya, dan setiap perempuan yang hamil akan keguguran kandungannya, dan kamu melihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, tetapi azab Allah itu sangat keras.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 2)
Ketika ruh tak lagi mampu menghadapi sisi tajalli ini, maka Allah Swt mengasihi kalangan kecil orang-orang yang Dia cintai dengan apa yang dicemburui para pembesar nabi, guna menghibur mereka dari tekanan sisi ini dan sebagai simbol kasih sayang terhadap orang-orang yang lemah, yang telah mengeraskan tangisan dan rintihan mereka lantaran sulitnya sisi tajalli yang mereka lihat.
Sementara para nabi As yang notabene memiliki kedudukan yang kuat dalam mengemban sisi hadhrah ilahiyyah dan mampu menangkap semua yang mencuat dari sisi tajalli dengan adab mereka yang sempuma, maka mereka ini seperti gunung yang kokoh, ragam sisi tajalli Allah tidak lagi mengagumkan mereka, ragam perkara pelik pun tidak lagi mengagetkan mereka, sehingga Allah tidak menggerakkan pada mereka yang berupa keistimewaan yang hanya bisa memberikan efek ketenangan pada kalangan orang berkedudukan rendah yang Allah cintai, sebagai informasi dari Allah Swt bagi para nabi As, bahwa kedudukan mereka yang tinggi, tempat mereka yang agung dengan ragam tingginya adab hadhrah ilahiyyah serta sisi ma’rifat mereka dengan kebesaran dan keagungan Allah tidak lagi memerlukan keistimewaan ini. Walhasil, sisi keistimewaan ini adalah bentuk kasih sayang Allah bagi hamba-hamba-Nya yang lemah.
Sedangkan para pembesar wali yang memiliki pangkat yang luhur; maka tdak ada keridhaan dari diri mereka dan tidak ada pula keridhaan bagi mereka, sebagaimana yang tertera dalam beberapa kitab yang Allah turunkan, didalamnya disebutkan:
مَا لِلْأَقْوِيَاءِ وَالشَّهَوَاتِ، إِنَّمَا أَبَحْتُ الشَّهَوَاتِ لِضَعْفَةِ خَلْقِي يَسْتَعِينُوْنَ بِهَا عَلَى طَاعَتِي
“Tiada keridhaan bagi orang-orang kuat dan tidak pula keridhaan pada syahwat, akan tetapi Aku perbolehkan syahwat itu bagi makhluk-makhluk-Ku yang lemah guna membantu mereka untuk ta’at pada-Ku.”
Contoh yang menguatkan pangkat ini adalah, tingginya kedudukan para nabi, yaitu kejadian yang terjadi pada nabi Ibrahim As yang digiring menuju ketapel besar dan akan dilemparkan ke dalam api yang panas. Nabi Ibrahim As tidak merintih dan tidak pula meminta pertolongan untuk membuktikan sisi hukum tajalli-nya Allah Swt pada waktu itu dan juga demi memenuhi adab sisi tajallinya Allah Swt. Lalu datanglah malaikat Jibril As dari langit seraya berkata pada nabi Ibrahim As, “Apakah engkau butuh bantuan?”
Nabi Ibrahim As tahu bahwa diutusnya malaikat Jibril As kepadanya adalah untuk menolong beliau dari kondisi tersebut, sungguh sebenarnya ini merupakan bentuk perhatian Allah Swt pada beliau lantaran tingginya kedudukan beliau di hadapan Allah Swt, bahkan ketika beliaupun menerima bantuan itu, itu pun tidak termasuk dalam kategori adab yang buruk di hadapan Allah tidak pula manandakan martabat beliau turun, karena beliau menerima beragam hal dari Allah Swt sesuai detikan yang hadir pada jiwa beliau, tetapi kala beliau melihat bahwa ketika menerima bantuan dari malaikat Jibril As itu dapat menurunkan kedudukan dan mengurangi adab yang sempurna di hadapan Allah Swt, meski beliau telah mendapatkan karunia bahwa beliau akan berada dalam kondisi senang dan diterima oleh Allah Swt, berdasarkan hukum sabda Rasulullah Saw,
إِنَّ اللَّهَ تَصَدَّقَ عَلَيْكُمْ بِرُحَصِهِ فَاقْبَلُوهَا
“Sungguh Allah Swt bersedekah pada kalian dengan memberikan keringanan, maka terimalah.”
Juga sesuai dengan hukum yang berlaku pada kenyataan yang ada; yaitu seperti firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
بَلٰۤى ۙ اِنْ تَصْبِرُوْا وَتَتَّقُوْا وَيَأْتُوْكُمْ مِّنْ فَوْرِهِمْ هٰذَا يُمْدِدْكُمْ رَبُّكُمْ بِخَمْسَةِ اٰلَا فٍ مِّنَ الْمَلٰٓئِكَةِ مُسَوِّمِيْنَ
balaaa ing tashbiruu wa tattaquu wa ya-tuukum ming faurihim haazaa yumdidkum robbukum bikhomsati aalaafim minal-malaaa-ikati musawwimiin
“”Ya” (cukup). Jika kamu bersabar dan bertakwa ketika mereka datang menyerang kamu dengan tiba-tiba, niscaya Allah menolongmu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 125)
وَمَا جَعَلَهُ اللّٰهُ اِلَّا بُشْرٰى لَـكُمْ وَلِتَطْمَئِنَّ قُلُوْبُكُمْ بِهٖ ۗ وَمَا النَّصْرُ اِلَّا مِنْ عِنْدِ اللّٰهِ الْعَزِيْزِ الْحَكِيْمِ
wa maa ja’alahullohu illaa busyroo lakum wa litathma-inna quluubukum bih, wa man-nashru illaa min ‘ingdillaahil-‘aziizil-hakiim
“Dan Allah tidak menjadikannya (pemberian bala bantuan itu) melainkan sebagai kabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar hatimu tenang karenanya. Dan tidak ada kemenangan itu, selain dari Allah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 126)
Kedua hal ini adalah tanda kemenangan dan kegembiraan bagi para sahabat nabi Muhammad Saw lantaran lemahnya kedudukan mereka, meski mereka bukanlah nabi.
Maka tanda pertama terkait golongan lemah dari orang-orang yang dicintai Allah, dimana Allah perlakukan mereka dengan lemah lembut lantaran ketidakmampuan ruh mereka mengemban beratnya hal yang terdetik pada jiwa mereka. Kemudian tanda terakhir terkait golongan lemah dari orang-orang yang dicintai Allah adalah para pembesar wali, mereka tidak peduli kecuali hanya kepada Allah Swt. Maka ketika ada kecondongan jiwa untuk mengambil keringanan itu dapat menurunkan adab, sementara dia harus memenuhi kondisi jiwa dengan adab yang sempurna dihadapan hadhrah ilahiyyah dan dalam kondisi sempurna saat memikul karunia tersebut, dimana kondisi ini tidak disisipi kondisi jiwa yang nyaman atau juga syahwat, meski demikian kondisinya, beliau memutuskan untuk meninggalkan bantuan itu, sehingga beliau menjawabnya, “Sedangkan kepadamu, maka aku tidak butuh bantuan.”
Kata ini mengindikasikan tidak adanya keridhaan jiwa beliau untuk menuruti syahwat jiwa, sekalipun itu merupakan bagian dari karunia Allah Swt, tetapi beliau tidak ridha kecuali menjunjung tinggi adab yang luhur dengan sikap berserah diri pada Allah Swt dari segala sisi kondisi jiwa, meski ada bisikan ditelinga beliau, hal ini ditunjukkan dalam riwayat hadits (Jibril berkata), “Mintalah engkau pada-Nya,” beliau (nabi Ibrahim menjawab, “Cukuplah pengetahuan-Nya terhadap kondisiku dari permintaanku pada-Nya.”
Jika engkau sudah mengetahui kondisi ini, maka engkau telah tahu jauhnya perbedaan antara maqam (kedudukan) para nabi dari maqam orang-orang yang dicemburui. Hal yang membuat mereka berangan-angan menempati posisi orang-orang yang dicemburui ini adalah lantaran adanya kasih sayang bagi para pemimpin, bagi para pengikut dan juga kerabat mereka agar mereka tidak mampu mengemban beban magam tersebut dan memang maqam itu tidak diperuntukkan bagi mereka sehingga mereka pun memperbanyak rintihan dan tangisan mereka.
Pada sisi kemanusiaan ada kecondongan diri pada kerabat dan orang-orang yang dicinta serta adanya rasa kasihan kepada mereka akan cobaan dan bencana yang menimpa. Andai yang memiliki sisi kemanusiaan ini menempati maqam yang tinggi, maka pantaslah selain para nabi cemburu ingin menempati maqam ini dengan alasan mereka tidak memiliki pegangan dari ketakutan mereka atas kerasnya kucuran ilahiyyah yang datang pada mereka.
Diantara keistimewaan yang sudah kami janjikan pada awal jawaban ini adalah, apa yang terjadi pada ‘Umar dan ‘Ammar bin Yasir, yang Rasulullah Saw abadikan dengan sabda beliau,
مَا سَلَكْتَ فَجَاً إِلَّا سَلَكَ الشَّيْطَانُ فَجَاً غَيْرَهُ
“Tidaklah engkau berjalan pada sebuah gang, kecuali setan berjalan pada gang yang lainnya.”
Rasulullah Saw juga pernah bersabda tentang ‘Ammar,
إِنَّ اللَّهَ عَصَمَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ لَا يُوَسْوِسُ إِلَيْهِ
“Sungguh Allah menjaganya dari setan, setan tidak bisa memberikan gangguan padanya.”
Sementara kedua sabda nabi Saw ini tidak pada posisi yang sejajar dengan martabat kenabian, tetapi kedua hal ini merupakan keistimewaan bagi mereka berdua dan bukan bagi Nabi Saw, meski sejatinya dua keistimewaan ini telah ada hakikatnya pada nabi Muhammad Saw, sebab beliaulah pokok dan sentral itu semua, ‘Umar maupun ‘Ammar hanyalah cabang dari beliau. Allah Swt menampakkan tersebut pada cabang dan bukan pada sentralnya yaitu nabi Muhammad Saw.
Inipun sama dengan keistimewaan nabi Ibrahim As lantaran beliaulah sosok yang pertama kali akan dikenakan baju dari semua ciptaan Allah Swt pada hari Kiamat, juga seperti keistimewaan nabi Musa As lantaran beliaulah sosok yang pertama kali akan ditumbuhkan jenggot dari semua makhluk ciptaan Allah pada hari Kiamat dimana ini tidak terjadi pada nabi Muhammad Saw, sementara martabat nabi Muhammad Saw sudah terlihat sangat jelas.
Keistimewaan ini juga seperti kisah ‘Ashif bin Barkhiya bersama nabi Sulaiman As, dimana nabi Sulaiman As memintanya untuk mendatangkan singgasana Ratu Balqis, ia berkata,
قَا لَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْـكِتٰبِ اَنَاۡ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَ ۗ فَلَمَّا رَاٰ هُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَا لَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ ۗ لِيَبْلُوَنِيْٓءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ ۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِ نَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ
qoolallazii ‘ingdahuu ‘ilmum minal-kitaabi ana aatiika bihii qobla ay yartadda ilaika thorfuk, fa lammaa ro-aahu mustaqirron ‘ingdahuu qoola haazaa ming fadhli robbii, liyabluwaniii a asykuru am akfur, wa mang syakaro fa innamaa yasykuru linafsih, wa mang kafaro fa inna robbii ghoniyyung kariim
“Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia.””
(QS. An-Naml 27: Ayat 40)
Ini adalah keistimewaan yang Allah beri kepada ‘Ashif, dimana ia bukanlah seorang nabi. Nabi Sulaiman As dilarang melakukan hal ini lantaran ketinggian maqam beliau, meski memang ada sedikit permasalahan pada kasus nabi Sulaiman As dan ‘Ashif, dimana status ‘Ashif adalah murid nabi Sulaiman As. Ia mengambil izin isim a’zham dari nabi Sulaiman As dan dengan kekuatan isim inilah ia dapat melakukan hal yang diinginkan.
Jawaban mengenai permasalahan ini adalah, bahwa posisi nabi Sulaiman As yang martabatnya terlihat jelas dan maqam beliau tinggi tidaklah terbebani akan keistimewaaan semacam ini dan tidak perlu beliau menyodorkan bukti yang mengarah pada kemampuan itu, karena yang ada pada maqam kenabian hanyalah menerima semua sisi tajalli Allah Swt yang sifatnya dzati, shifati, asma i dan juga fi’li, mereka menerima ini apa adanya tanpa terdetik satu detikan pun dalam kalbu mereka untuk merubah satu dari berbagai tajalliyat tersebut, bahkan tidak terdetik pula untuk merubah dari tujuan asalnya yang merupakan salah satu perkara yang datang dari sisi hadhrah ilahiyyah. Mereka menerima dan menetapkan semua tajalliyat yang hadir, baik itu sesuai dengan kondisi jiwa mereka atau malah bertolak belakang.
Oleh karena itu, para nabi senantiasa tidak keluar dari ragam sebab alamiah dan condong pada hal diluar kebiasaan manusia biasa, kondisi ini terjadi lantaran sempumanya adab mereka dan juga tenggelamnya mereka dalam pengetahuan mereka terhadap Allah Swt dan sirnanya keinginan mereka pada keinginan Allah Swt sehingga mereka tidak menginginkan kecuali apa yang Allah Swt inginkan dan bagi mereka ini adalah penyifatan sisi Dzat Allah. Inilah yang mengokohkan maqam mereka, sehingga pada posisi tersebut merekapun tidak lagi terkejut dengan ragam tajalli ini sekalipun bentuk tajalli-nya itu dahsyat.
Sebab, pada kondisi ini para nabi tegap berdiri untuk Allah dan dengan (kekuatan dari) Allah Swt, mereka terdorong ke arah itu, mereka tenggelam dalam melihat Allah Swt, sehingga Allah Swt kuatkan mereka dengan kekuatan-Nya, kokohkan mereka dengan kekokohan-Nya dan Allah kuatkan mereka mengemban beban sisi hadhrah ilahiyyah meski itu berat dan sulit membedakan ragam tujuan jiwa, bahkan mereka tidak peduli hal lainnya, inilah kondisi para nabi As. Ini seperti yang telah kami sebutkan sebelumnya, bahwa mereka tidak condong menampakkan hal-hal diluar adat kebiasaan manusia selagi kondisi tersebut tidak menggiring mereka untuk menampakkannya lantaran sangat diperlukan dan tak lain guna mengokohkan risalah mereka dan menunjukkan pada khalayak ramai tentang kebenaran pengutusan mereka kepada umat, sehingga lantaran inilah mereka menampakkan hal yang diluar adat kebiasaan manusia sebagai bagian dari bekal risalah, agar yang melihat pun mau mengakui keabsahan risalah yang mereka emban.
Keanehan diluar adat kebiasaan manusia dalam istilah kaum muslimin biasa dinamakan dengan mu’jizat, para utusan Allah Swt menampakkan mu ‘jizat ini sampai misi mereka tuntas, ketika pembuktian itu tuntas, mereka pun segera kembali pada kebiasaan manusia seperti sediakala meski tanpa adanya perintah ilahiyyah untuk berhenti menampakkan hal tersebut. Ini seperti tiga kejadian yang terjadi pada nabi Musa As; yang terakomodir dalam beberapa firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
فَاَ وْحَيْنَاۤ اِلٰى مُوْسٰۤى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَا كَ الْبَحْرَ ۗ فَا نْفَلَقَ فَكَا نَ كُلُّ فِرْقٍ كَا لطَّوْدِ الْعَظِيْمِ
fa auhainaaa ilaa muusaaa anidhrib bi’ashookal-bahr, fangfalaqo fa kaana kullu firqing kath-thoudil-‘azhiim
“Lalu Kami wahyukan kepada Musa, “Pukullah laut itu dengan tongkatmu.” Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.”
(QS. Asy-Syu’ara’ 26: Ayat 63),
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذِا سْتَسْقٰى مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ فَقُلْنَا اضْرِبْ بِّعَصَا كَ الْحَجَرَ ۗ فَا نْفَجَرَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا ۗ قَدْ عَلِمَ کُلُّ اُنَا سٍ مَّشْرَبَهُمْ ۗ کُلُوْا وَا شْرَبُوْا مِنْ رِّزْقِ اللّٰهِ وَلَا تَعْثَوْا فِى الْاَ رْضِ مُفْسِدِيْنَ
wa izistasqoo muusaa liqoumihii fa qulnadhrib bi’ashookal-hajar, fangfajarot min-husnataa ‘asyrota ‘ainaa, qod ‘alima kullu unaasim masyrobahum, kuluu wasyrobuu mir rizqillaahi wa laa ta’sau fil-ardhi mufsidiin
“Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah darinya dua belas mata air. Setiap suku telah mengetahui tempat minumnya (masing-masing). Makan dan minumlah dari rezeki (yang diberikan) Allah dan janganlah kamu melakukan kejahatan di bumi dengan berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 60)
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
وَاِ ذْ قَا لَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖۤ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تَذْبَحُوْا بَقَرَةً ۗ قَا لُوْاۤ اَتَتَّخِذُنَا هُزُوًا ۗ قَا لَ اَعُوْذُ بِا للّٰهِ اَنْ اَكُوْنَ مِنَ الْجٰـهِلِيْنَ
wa iz qoola muusaa liqoumihiii innalloha ya-murukum ang tazbahuu baqoroh, qooluuu a tattakhizunaa huzuwaa, qoola a’uuzu billaahi an akuuna minal-jaahiliin
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.””
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 67)
Beragam perkara ini terjadi murni atas perintah ilahiyyah meski bukan untuk menunjukkan mu ‘jizat, sehingga nabi Musa As pun tidak menentang perintah ini.
Sementara para wali Allah, diri mereka tidak condong untuk menampakkan hal diluar adat kebiasaan manusia kecuali itu terlahir karena kelemahan mereka dalam memikul beragam perkara yang bersumber dari sisi ilahiyyah dan sebagai simbol ketidakmampuan mereka lantaran sulitnya ragam tajalliyat Allah Swt. Oleh karena itu, mereka condong pada perkara diluar adat istiadat manusia secara umum guna menghibur ruhani mereka dari tekanan beragam hal yang datang dari Allah Swt dan jiwa menikmati sebagian syahwat diri, mereka ini dimaklumi. Sebab, Allah Swt memang tidak memberikan mereka kekuatan seperti kekuatan para nabi. Oleh karena itulah nabi Sulaiman As tidak melakukan perkara diluar adat kebiasaan manusia seperti yang dilakukan oleh ‘Ashif. Hal ini untuk menempatkan diri pada posisi kenabian seperti yang sudah kami sebutkan.
Andai engkau mengatakan: Jika memang ini adalah maqam (kedudukan) nabi Sulaiman As dan beliau tidak ridha menunjukkan keistimewaan itu lantaran takut adanya kecemburan terhadap maqam beliau, lantas mengapa beliau malah meminta orang yang hadir untuk melakukannya (memindahkan singgasana Ratu Bilqis)?
Jawaban untuk perkara ini: Maqam nabi Sulaiman As adalah seperti yang telah kami sebutkan, akan tetapi ketika karunia Allah Swt datang pada kerajaannya, dimana semuanya ditundukkan untuknya, sebagaimana yang digambarkan dalam firman-Nya,
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَآءُ مِنْ مَّحَا رِيْبَ وَتَمَا ثِيْلَ وَجِفَا نٍ كَا لْجَـوَا بِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍ ۗ اِعْمَلُوْۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗ وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَا دِيَ الشَّكُوْرُ
ya’maluuna lahuu maa yasyaaa-u mim mahaariiba wa tamaasiila wa jifaaning kal-jawaabi wa quduurir roosiyaat, i’maluuu aala daawuuda syukroo, wa qoliilum min ‘ibaadiyasy-syakuur
“Mereka (para jin itu) bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya (membuat) gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
(QS. Saba’ 34: Ayat 13)
‘Ashif termasuk orang yang ditundukkan dibawah hukum ayat ini, dimana ia dapat melakukan perbuatan itu (memindahkan singgasana Ratu Balqis), anginpun termasuk yang ditundukkan dibawah hukum ayat diatas, sehingga ‘Ashif beserta pasukannya mampu membawa dan memangkas waktu satu bulan dalam membawa singgasana tersebut.
Disaat penundukan semua yang ada di kerajaannya menjadi kaki dan tangannya, dimana beliau tidak ingin menurunkan kedudukannya dihadapan Allah Swt, maka Allah pun menundukkan baginya sosok yang telah ditundukkan dibawah hukum nabi Sulaiman As, yang dapat melakukan pekerjaan tersebut (memindahkan singgasana Ratu Balqis), ini semata-mata karena karunia Allah Swt, dimana terkadang juga beliau dapat melakukan perbuatan diluar adat kebiasaan manusia dengan adanya izin dari-Nya, sedangkan kalbu beliau tetap ada pada maqam kenabian tersebut.
