You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 30. Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72),
اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang maksud firman Allah Swt,

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا 
innaa ‘arodhnal-amaanata ‘alas-samaawaati wal-ardhi wal-jibaali fa abaina ay yahmilnahaa wa asyfaqna min-haa wa hamalahal-ingsaan, innahuu kaana zholuumang jahuulaa

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Amanah adalah berdiri tegak dengan beragam hak martabat ilahiyyah dengan makna secara keseluruhan; baik yang berkaitan dengan makhluk maupun yang berkaitan dengan sisi ketuhanan. Langit-langit dan bumi pun tak mampu mengemban amanah ini, sehingga muncul firman-Nya, وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ “dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia.” ,maka yang dimaksud dengan, “manusia,” disini adalah insal kamil yang dengannya Allah Swt jaga peraturan alam semesta ini dan dengannyalah Allah Swt mengasihi semua yang ada ini; dengannya pula adanya kebaikan bagi alam semesta, dialah inti kehidupan semuanya; dengannya pula semuanya ini bisa berdiri tegak. Jika saja wujud insan kamil ini hilang sekejap saja, maka alam semesta inipun akan akan sirna sekejap mata. Inilah sosok yang biasa dibahasakan dengan petingginya wali quthb dan Al Ghauts Al Jami’

Sedangkan makna firman-Nya,

اِنَّا عَرَضْنَا الْاَ مَا نَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا لْجِبَا لِ فَاَ بَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَ شْفَقْنَ مِنْهَا وَ حَمَلَهَا الْاِ نْسَا نُ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًا 
innaa ‘arodhnal-amaanata ‘alas-samaawaati wal-ardhi wal-jibaali fa abaina ay yahmilnahaa wa asyfaqna min-haa wa hamalahal-ingsaan, innahuu kaana zholuumang jahuulaa

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72)

Maksud kata, “Amat zhalim,” adalah ia melanggar batasan sisi kemanusiaan, sisi penciptaan dan keluar ke hadapan alam semesta dengan hak martabat ilahiyyah, yang tidak ada kata “dimana”, tidak tergambar serta tidak ada batasan. Maka terkait hal ini tiada yang mampu kecuali Allah Swt, ini adalah makna kezhalimannya lantaran ia melangkahi martabat penciptaan manusia, sementara ia sendiri tidak mampu akan hal itu. Sebab, perkara yang sudah dilangkahi biasanya tidak ada lagi puncak dan akhirnya, karena meliputi itu semua sejatinya adalah perkara yang mustahil.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يَعْلَمُ مَا بَيْنَ اَيْدِيْهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِهٖ عِلْمًا
ya’lamu maa baina aidiihim wa maa kholfahum wa laa yuhiithuuna bihii ‘ilmaa

“Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan terjadi) dan apa yang di belakang mereka (yang telah terjadi), sedang ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 110), Inilah yang dimaksud dengan redaksi, “Al Jahlu.”

Kezhaliman disini adalah kezhaliman diri dimana dia menisbatkan martabat utusan Allah Swt bagi manusia pada dirinya, sedangkan kebodohan yang dinisbatkan kepadanya adalah dia menafikan batasan pada sisi dzat Allah Swt, dimana ini adalah puncak ma’rifat kepada Allah, dimana ma’rifat ini berada diluar lingkup sisi Dzat Allah Swt, inilah yang biasa disebut dengan lingkaran Ash-Shiddiqiyyah, maksudnya adalah bahwa ma’rifat para Ash-Shiddiqin memiliki lingkarannya tersendiri yang sesuai dengan kondisi ke-ma’rifat-an tersebut, dimana lingkaran itu memiliki batasan dan puncak yang tidak dapat dilangkahi.

Sementara insan kamil menapaki semua lingkaran ini dan bisa wushul dari sisi ke-ma’rifat-an diri bahkan sampai dimana tidak ada lagi batasan pada Dzat-Nya, tidak pula ada batasan, tidak pula ada kata dimana Dia?, tidak bisa ditanya tentang bagaimana-Nya, tidak bisa digambarkan, tidak bisa dilingkupi. Insan kamil inilah yang mampu mengitari lautan yang tak bertepi. Jika saja sebiji atom saja dari kewibawaan Allah Swt dikucurkan di alam semesta ini, niscaya semua yang ada akan binasa dalam tempo waktu yang kurang dari kedipan mata lantaran terbakar oleh sisi wibawanya Allah. Tidak ada yang dimampukan pada martabat ini apalagi sampai bisa memberikan semua sisi tajalli-nya Allah kecuali Al Fard Al Jami’ yang biasa dibahasakan oleh kalangan umum dengan Quthb Al Aqthab. Jika saja ibadah semua penghuni alam semesta selain para malaikat, para nabi dan utusan Allah dan juga para sahabat dikumpulkan sejak terciptanya alam semesta hingga sangkakala ditiupkan, maka ini semua tidak bisa menyamai ibadahnya Quthb Al Aqthab.

-Selesai sudah apa yang di-imla’ kan pada kami dari hafalan dan perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra.-

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 1 – KAJIAN SEPUTAR AL-QUR’AN (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY