You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Pembahasan 27. Akupun pernah bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat dzikir

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Akupun pernah bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang hakekat dzikir

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Hakekat dzikir pada martabat yang paling rendahnya adalah lupa pada selain Allah Swt, sedangkan martabat yang pling tingginya adalah martabat ishtiläm yang paling tinggi, dimana martabat ishtilâm paling tinggi adalah jiwanya menyaksikan bahwa dialah inti Dzat Allah tersebut, inilah yang kerap dibahasakan dengan tersungkur pingsan dan terhapusnya jiwa.

Hakekat ishtilâm awalnya adalah merasa asing dari alam ini yang biasa dibahasakan dengan sakar (mabuk karena kecintaan pada Allah), tengahnya adalah kondisi fana’dari alam ini dan yang paling tinggi adalah fana’ dari ke-fanaan dirinya. Martabat yang paling tinggi dari ini adalah dia menyaksikan bahwa dirinya adalah dzat Allah, inilah yang kerap dibahasakan dengan pingsan dan terhapusnya jiwa, dimana hakekat dari kondisi pingsan dan hilangnya jati diri yang merupakan kata yang seorang hamba secara menyimbolkan fana ‘nya menyeluruh.

Ibnu Al Faridh pernah berkata:

وَمُنْذُ عَفَا رَسْمِي وَهَمْتُ فِي # وُجُوْدِي فَلَمْ تَعْثُرْ بِكَوْنِي حَقِيقَتِي

Sejak gambaran diriku pupus, akupun tak tahu petunjuk diriku #dan Engkaupun tidak menemuiku ketika mencari hakekat-Ku.

Yang lain pun ada yang mengatakan:

حَيَّرْتَنِي فِي أَمْرِي مُذْ غِبْتَ عَنِّى حَتَّى # خَاطَبْتَنِي فِي سِرَّى مَنْ أَنْتَ قُلْتُ أَنْتَ

Kau membuatku pusing sejak Engkau hilang dariku sampai #Kau bilang padaku siapa aku dan kukatakan aku adalah Engkau.

-Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Diantara perkara yang di-imla`kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami tentang cinta makhluk kepada Allah Swt adalah, beliau berkata:

Cinta makhluk kepada Allah Swt terbagi menjadi empat bagian:

Pertama, cinta mereka karena balasan.

Kedua, cinta mereka karena anugerah dan nikmat-Nya.

Ketiga, cinta mereka karena kesempurnaan dan keindahan-Nya.

Keempat, cinta mereka karena Dzat Yang Luhur.

Cinta mereka karena pahala sudah kita ketahui bersama, demikian pula cinta mereka karena anugerah dan nikmat-Nya. Kedua cinta ini dimiliki oleh orang-orang mukmin secara umum. Keduanya memang memiliki bagian dan keuntungan, namun kedua cinta ini akan sirna bersamaan dengan sirnanya motivasi dari keduanya.

Motivasi cinta yang ketiga selalu ada, yaitu sifat yang dimiliki oleh Rabb kita berupa kesempurnaan, keagungan dan keindahan. Cinta ini dimiliki oleh para auliya shaghir, cinta ini tidak bisa menyamai cinta yang keempat, karena cinta yang keempat tidak memiliki motif, alasan dan indikator. Cinta ini tidak dimiliki kecuali oleh orang yang telah dibuka dan diangkat hijab darinya, dia telah menyaksikan rahasia-rahasia asma dan sifat, anugerah, hakekat dan kesempurnaan Allah Swt.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Ada sebuah hadits yang menunjukkan tentang bagian cinta yang pertama dan kedua. Rasulullah Saw bersabda,

أَحِبُّوْا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ، وَأَحِبُّونِي لِحُبِّ اللَّهِ، وَأَحِبُّوْا أَهْلَ بَيْتِي حُبِّي

“Cintailah Allah lantaran Dia senantiasa memberikan ragam nikmat-Nya pada kalian, cintailah aku lantaran kecintaan kalian pada Allah dan cintailah keluargaku lantaran kecintaan kalian padaku.”

Rabi’ah Al Adawiyah Ra berkata:

أُحِبُّكَ حُبَّيْنِ حُبُّ الْهَوَى # وَحُبِّ لِأَنَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ

“Aku mencintai-Mu dengan dua cinta; cinta hawa nafsu, dan cinta karena Kau memang pantas untuk itu.”

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjelaskan tentang bagian cinta yang ketiga dan keempat, beliau berkata:

Cinta yang murni memicu tumbuhnya rasa cemburu bagi pemiliknya. Ada yang bertanya kepada Asy-Syibli Ra, “Kapan kau akan istirahat (dari dzikir)?” Dia menjawab, “Jika kami tidak lagi melihat orang yang berdzikir kepada-Nya selain aku.” Abu Yazid Al Busthami Ra berkata kepada sahabatnya yang mengatakan kepadanya, “Kenapa kau tidak menanyakan (cara) mengenal-Nya?” Dia menjawab, “Diamlah, aku cemburu jika ada orang lain yang mengenal-Nya.”

Terkait dengan makna ini, Ibnu Al Faridh Ra bersenandung:

فَدَعْ عَنْكَ دَعْوَى الْحُبِّ وَادْعُ لِغَيْرِهِ # فُؤَادَكَ وَادْفَعْ عَنْكَ غَيَّكَ بِالَّتِي

وَجَانِبُ جَنَابَ الْوَصْلِ هَيْهَاتَ لَمْ يَكُنْ # وَهَا أَنْتَ حَيٌّ إِنْ تَكُنْ صَادِقًا مُتِ

هُوَ الْحُبُّ إِنْ لَمْ تَقْضِ لَمْ تَقْضِ مَأْرِبًا # مِنَ الْحُبِّ فَاخْتَرْ ذَاكَ أَوْ حَلَّ خُلَّتِي

فَقُلْتُ لَهَا رُوْحِي لَدَيْكَ وَقَبْضُهَا # إِلَيْكَ فَمَنْ لِي أَنْ تَكُوْنَ بِقَبْضَتِي

“Tinggalkanlah pengakuan cinta sementara hatimu memanggil yang lainnya # Jangan sampai kau tertipu.

Menjauhlah tak perlu berjumpa, (cinta itu) tidak akan pernah ada # kini engkau masih hidup jika benar kecintaanmu, maka matilah!.

Itulah cinta, jika kau tidak melakukan (apa-apa), kau tak akan mendapatkan cinta # Maka pilihlah itu atau menyingkirlah

Aku mengatakan kepadanya ‘jiwaku hanya untukmu dan menjadi milikmu’, lantas siapa yang akan memiliki aku?

Sebelumnya dia juga bersenandung:

فَقَالَتْ هَوَى غَيْرِى فَصَدْتَ وَدُوْنَهُ اقْ # تَصَدْتَ عَمِيًّا عَنْ سَوَاءِ مَحَجَّتِي

وَغَرَّكَ حَتَّى قُلْتَ مَا قُلْتَ لَا بِسًا # بِهِ شَيْنَ مَيْنَ لُبْسُ نَفْسٍ تَنَمَّتْ

وَفِي أَنْفَسِ الْأَوْطَارِ أَمْسَيْتَ طَامِعًا # بِنَفْسٍ تَعَدَّتْ طَوْرَهَا فَتَعَدَّتْ

فَكَيْفَ بِحُبِّي وَهُوَ أَحْسَنُ خُلَّتِي # تَفُوْهُ بِدَعْوَى وَهُوَ أَقْبَحُ خُلَّة

وَأَيْنَ السُّهَيِ إِلَى أَخِرِهِ

“Hasrat cemburuku berkata, ‘Yang kau tuju adalah selain-Ku #selain itu engkau cukupkan diri dalam keadaan buta dari selain alasanku’

la akan menipumu hingga kau mengatakan apa yang kau katakan # yang dipenuhi harapan nafsu belaka

Kau memasuki sore hari dalam hembusan nafas keinginan # dengan berharap mendapatkan berbagai macam keinginannya

Bagaimana dengan cintaku? Ia adalah harapan terbaikku # yang diklaim sebagai harapan terburukku.”

Sebelumnya dia juga bersenandung:

وَعَنْ مَذْهَبِي فِي الْحُبِّ مَا لِي مَذْهَبُ # وَإِنْ مِلْتُ عَنْهُ يَوْمًا فَارَقْتُ مِلَّتِي

وَلَوْ خَطَرَتْ لِي فِي سِوَاكَ إِرَادَةُ # عَلَى خَاطِرِي سَهْوًا قَضَيْتَ بِرِدَّتي

“Tentang madzhabku dalam cinta aku tidak memiliki madzhab, # jika sehari saja aku berpaling darinya, maka aku meninggalkan agamaku

Jika terdetik keinginan dalam hatiku selain engkau # yang dibalut dengan syahwat, maka aku pastikan kemurtadanku.”

Beliau juga bersenandung dengan menggunakan bahr kafi.

كُلُّ مَنْ فِي حِمَاكَ يَهْوَاكَ لَكِنْ # أَنَا وَحْدِى بِكُلِّ مَنْ فِي حماك

“Setiap orang yang ada dalam perlindunganmu menginginkan-Mu, tetapi #aku merasa sendiri bersama setiap orang yang dalam lindungan-Mu.”

Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau berkata:

Mengenai tauhid khash (khusus); Al Junaid Al Baghdadi Ra berkata, “Ilmu tauhid menjelaskan tentang wujud Allah Swt, dan wujud-Nya menerangkan tentang pengetahuan-Nya. Apabila akal orang-orang yang cerdas sepakat tentang tauhid, maka hilanglah kerancuan didalamnya.”

Ja’far Ash-Shadiq Ra berkata, “Barangsiapa yang mengetahui perpisahan dan pertemuan, gerak dan diam, maka dia telah mencapai kemantapan dalam tauhid.” Aku mendapati sebagai penguat apa yang telah dicantumkan nya setelah basmalah serta shalawat dan salam kepada Nabi Saw: Inilah tauhid orang-orang yang ‘Arifbillah, Al Haq berkata kepada mereka: “Wahai hamba-hamba-Ku, dalam apa kalian meng-Esakan-Ku? Dengan apa kalian meng-Esakan-Ku? Dan apa yang telah menunjukkan kalian tentang ke-Esaan-Ku? Jika kalian mengesakan-Ku secara zhahir, maka kalianlah yang akan mengatakan hulul (menyatu dengan Al Khaliq), dan orang-orang yang mengatakan hulul bukanlah orang yang bertauhid, karena dia menetapkan dua perkara; (1) haal (subyek) dan (2) mahall (tempat). Jika kalian meng-Esakan-Ku dalam Dzat tanpa sifat dan afal, maka bagaimana mungkin kalian meng-Esakan-Ku? Karena akal dan pikiran tidak akan mampu menembusnya. Kabar (yang benar) datangnya dari Aku. Lantas, siapakah yang mengabarkan itu kepada kalian?

Jika kalian meng-Esakan-Ku dalam martabat uluhiyyah beserta apa yang diliputinya; berupa beberapa sifat filiyah dan dzatiyah -karena semua itu adalah satu-kesatuan-, yang beragam nisbat, sandaran, hukum, kaitan, keperluan dan hukum-hukum martabat uluhiyyah lainnya. Lantas, dengan apa kalian meng-Esakan-Ku? Apakah dengan akal kalian atau dengan-Ku? Apapun itu yang terjadi, maka sejatinya kalian tidak meng-Esakan-Ku, karena ke-Esaan-Ku ialah peng-Esaan dari orang yang bertauhid, bukan dengan akal kalian bukan pula dengan-Ku. Karena tauhid kalian kepada-Ku, dengan-Ku, sejatinya tauhid-Ku bukan tauhid kalian. Sedangkan (tauhid kalian) dengan akal kalian, maka bagaimana mungkin Aku dapat dihukumi dengan sesuatu yang Aku ciptakan sendiri? M

Setelah kalian mengklaim bertauhid kepada-Ku dengan cara apapun itu dan dalam bentuk apapun itu, lantas apa kesimpulan kalian tentang ke-Esaan-Ku? Jika kesimpulannya adalah wujud kalian, berarti kalian berada di bawah ketentuan kesimpulan kalian itu, yaitu kalian keluar dari-Ku, lantas manakah tauhid itu? Jika kesimpulannya adalah perkara-Ku, ketahuilah perkara-Ku itu bukanlah Aku. Maka, atas kekuasaan-Ku lah orang yang berjumpa dengan kalian, jika kalian melihatnya dari-Ku, namun siapakah diantara kalian yang dapat melihatnya demikian? Dan jika kalian tidak melihatnya dari-Ku, maka manakah tauhid itu, hai orang-orang yang bertauhid? Bagaimana mungkin maqam ini menjadi benar, sementara kalian tampak zhahir dalam pandangan-Ku dan Akulah Yang Maha Zhahir. Yang tampak zhahir jelas berbeda dengan yang hanya sekedar identitas, lantas manakah tauhid itu?”

Tidak ada tauhid dalam data atau berita, karena data itu adalah aku, diri kalian, nisbat dan tempat. Maka tidak ada tauhid dalam data tersebut. Jika engkau mengatakan (tauhid itu) ada dalam wujud, maka tidak ada tauhid di dalamnya, karena wujud itu adalah eksistensi dari setiap yang wujud. Perbedaan yang tampak menunjukkan perbedaan wujud yang zhahir. Nisbatnya orang alim bukanlah nisbatnya orang bodoh, bukan pula pelajar. Maka, manakah tauhid itu? Dalam hal ini tidak ada kecuali hanya sebatas data dan makhluk.

Jika engkau mengatakan, tidak adanya pengetahuan dan ketidaktahuan, serta tidak adanya yang ada dan tidak ada, adalah eksistensi tauhid. Maka kami katakan, berdasarkan apa yang engkau ketahui bahwa dalam pembagian beberapa data, ada yang dapat menerima sifat ini, sehingga dia pun masuk dalam data tersebut. Lantas, manakah tauhid itu? Wahai orang-orang yang bertauhid perbaikilah kesalahan kalian, dalam hal ini tidak ada selain Allah. Sedangkan makhluk dalam hal ini adalah selain Dia. Lantas, manakah tauhid itu?

Jika kalian mengatakan, tauhid yang dimaksud berada dalam eksistensi makhluk. Maka kami katakan, itu adalah tauhid jami’ (penyatuan semua jenis), lantas manakah tauhid itu? Karena sejatinya, tauhid itu tidak disandarkan dan menjadi tempat sandaran. Persiapkanlah jawaban kalian, hai orang-orang yang bertauhid, tentang masalah ini jika ada pertanyaan.

Jika orang-orang musyrik tidak diampuni, maka hakekatnya mereka tidak mendapatkan hal itu (tauhid yang benar). Seandainya mereka diampuni, tentu mereka tidak akan menyatakan persekutuan, kemudian mereka menyaksikan perkara ini sesuai kenyataan.

Jika engkau mengatakan, dari manakah malapetaka yang mereka dapatkan itu sementara mereka berada dalam ketetapan ini, dan tidak adanya ampunan bagi mereka adalah pujian atas mereka? Kami jawab, karena mereka menentukan persekutuan, sehingga mereka pun celaka. Seandainya mereka tidak menentukannya, maka mereka akan beruntung. Tetapi mereka terlambat dari orang-orang yang bertauhid dalam mendapatkan derajat ilmu tersebut.

Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang tauhid ini,

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:

Yaitu tauhid-Nya kepada Dzat-Nya dengan Dzat-Nya dari Dzat-Nya. Tauhid ini tidak bisa dicapai kecuali dengan cara fana`.

Al Jariri Ra berkata, “Setiap isyarat yang diisyaratkan makhluk kepada Al Haq, maka semua itu tertolak, sehingga mereka mengisyaratkan kepada Al Haq dan Al Haq.” Yang dimaksud Al Jariri Ra dengan apa yang telah kami sebutkan itu adalah menghilangkan berbagai macam nisbat, hingga berbagai macam nisbat itu terhapus dari Dzat Allah Swt. Kemudian dia berkata, “Hal itu tidak bisa dicapai oleh mereka.” Karena sesuatu yang dapat tercapai dalam kesempurnaan fana, maka isyarat dan yang memberi isyarat akan sirna, sehingga tidak ada selain Dia dengan Dzat-Nya dalam Dzat-Nya kepada Dzat-Nya dari Dzat-Nya. Tidak ada isyarat dan yang memberi isyarat. Karena itu, dia (Al Jariri) mengatakan, hal itu tidak bisa dicapai oleh mereka.

Sesungguhnya orang-orang yang meng-Esakan-Nya dalam martabat uluhiyyah hanya untuk mendapatkan kebahagiaan dan menjalankan kewajiban mereka saja. Sejatinya, mereka hanya mencari keuntungan untuk diri mereka sendiri, bukan meng-Esakan-Nya. Karena orang yang telah keluar dari dirinya dan batasan-batasannya tidak akan mengenal dirinya sendiri apalagi orang lain, semuanya tidak ada selain Dia (Allah) semata.

Asy-Syibli Ra pernah berkata kepada seseorang yang datang menemuinya, “Kamu hendak kemana?” Orang itu menjawab, “Aku hendak bertanya tentang Asy-Syibli.” Dia berkata, “Asy-Syibli telah mati. Semoga Allah tidak merahmatinya.”

Adapun martabat Ahadiyyah, maka tidak ada tauhid di dalamnya, karena jika Dia ber-tajalli -jika orang yang melihat dapat merasakannya-, maka sejatinya sudah bukan Ahadiyyah (satu), karena saat itu sudah ada dua. Sifat kecemburuan Al Haq tidak mau dari hal tersebut, karena ia sudah bukan satu. Apabila dia lebur di dalamnya, kemudian dia tidak dapat mengenal dirinya sendiri dan fana’, maka tidak ada musyahadah dalam kondisi demikian itu. Yang ada hanya Al Haq dengan Dzat-Nya dalam Dzat-Nya kepada Dzat-Nya dari Dzat-Nya. Lantas, manakah sifat cemburu itu sehingga sifat Ahadiyah ber-tajalli kepadanya?

Oleh karena itu, seluruh orang yang ‘Arifbillah sepakat bahwa tajalli dengan sifat Ahadiyyah tidak mungkin. Demikian pula Dzat yang ber-tajalli dengan sifat Ahadiyyah juga tidak mungkin. Maksudnya adalah, Dzat-Nya (Allah) yang mutlak dan terbebas dari berbagai macam nisbat dan idhafah, kecuali Al Fard Al Jami’. Karena itu, Allah-lah yang ber-tajalli kepadanya, sebab ia adalah hijab antara sifat Ahadiyyah dengan makhluk, semua makhluk berada di bawah naungannya. Seandainya naungan itu hilang, maka semua makhluk akan binasa lebih cepat daripada kedipan mata.

Al Fard Al Jami’ memiliki dua sisi: Satu sisi kembali kepada Dzat Al Muqaddasah (Allah), ia melebur di dalamnya, tajalli-nya sesuai dengan sifat-Nya, yaitu Mulia, Agung, Besar, dan Tinggi, tidak ada seorang pun yang mampu memiliki sifat ini selain Dia.

Sisi yang lain kembali kepada makhluk, sesuai dengan martabat uluhiyyah, yaitu barzakh yang mengumpulkan antara Allah dengan makhluk-Nya. Masalah ini tidak bisa dipahami hanya dengan “katanya,” tetapi dapat dipahami dengan cara dzauq dan hâl. -Selesai sudah apa yang di-imlakan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra juga menyenandungkan sebuah bait sya’ir kepadaku:

وَإِذَا صَفَا لَكَ مِنْ زَمَانِكَ وَاحِدُ # فَهُوَ الْمُرَادُ وَأَيْنَ ذَاكَ الْوَاحِدُ

“Apabila (Allah) telah membersihkan jiwa seseorang (wali Allah) dari zamanmu, # maka dialah yang akan dituju, namun dimanakah sosoknya itu?”

Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata: Bait sya’ir ini memiliki dua makna:

Makna pertama, sya’ir ini menjadi penguat dalam pembahasan ini. Yang dimaksud dengan redaksi, “Apabila (Allah) telah membersihkan jiwa seseorang (wali Allah) dari zamanmu,,” adalah Allah Yang Haq yang membersihkan jiwanya.

Sedangkan yang dimaksud dengan “Bersih-Nya” adalah menghilangkan yang lain dan dzat lainnya, sehingga tidak ada lagi dimana, bagaimana, dan nisbat, tidak ada lagi salah persepsi, bentuk, pertemuan dan perpisahan kecuali Dia dalam Dia, dari Dia, tentang Dia, untuk Dia dan bersama Dia. Demikian inilah yang dimaksud dari ragam tawajjuh yang hanya tertuju pada-Nya. Lantas, dimanakah sosok tunggal yang dibersihkan oleh Allah Yang Maha Esa dengan sifat bersih tersebut? Dan dimanakah orang itu, sehingga ia menjadi bukti bahwa dia sangat jauh?

Makna Kedua, redaksi, “Apabila (Allah) telah membersihkan jiwa seseorang (wali Allah) dari zamanmu,” maksudnya adalah kawan dekat yaitu Allah; Tuhan Yang Maha Esa, Dialah yang akan memberikan dan mewujudkan semua keinginanmu, sehingga engkau tidak akan melakukan kesalahan. Maka, Dialah yang akan menjadi tujuan dan dimanakah sosok yang memiliki sifat ini? -Wassalam. Selesai sudah apa yang di-imla kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Hakekat tajalli adalah nampak. Tajalli dengan Asma ilahiyyah senantiasa bisa terjadi pada setiap orang ‘Arifbillah sesuai kadar martabat dirinya. Sementara Al Fard Al Jami’ adalah sosok yang meliputi semua martabat yang ada. Orang ‘Arifbillah akan melihat dirinya bahwa selainnya tidak ada yang mampu ber-tajalli dengan sifat dan asma Allah tersebut. Demikian kondisi setiap orang Arifbillah. Merekapun tahu bahwa martabat jiwa mereka termasuk dari kucuran wali Quthb. Seandainya wali Quthb berkehendak untuk menahannya, maka kondisi itupun akan tertahan. Maka dalam perkara tajalli ini, setiap orang yang ‘Arifbillah akan mendapatkan porsinya sesuai kadar martabat dirinya kecuali Al Quthb Al Jami’, karena sosoknya mampu meliputi semua martabat yang ada, bahkan martabat para malaikat sekalipun.

Di samping itu, Al Quthb Al Jâmi, memiliki sisi tajalli dengan asma dan sifat yang dibutuhkan alam semesta sesuai dengan kadar yang Allah kehendaki, dimana Allah Swt memiliki asma dan sifat yang tidak terhingga. Setiap orang yang ‘Arifbillah melihat bahwa semua makhluk berada di bawah kehendak-Nya dan tercipta sesuai dengan kehendak-Nya, hidup dengan penghidupan dari-Nya, masing-masing sesuai dengan kadar martabat kecuali Al Fard Al Jâmi, dia memiliki seluruh martabat yang ada, memiliki kekuasaan atas seluruh martabat, memiliki dzauq dalam seluruh martabat, memiliki pengetahuan yang meliputi seluruh martabat, dan memiliki otoritas untuk menahan dan memberi dalam seluruh martabat yang ada.

Diantara Perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, beliau berkata:

Asma Allah yang menggantikan posisi semua perkara yang dipinta alam semesta ini adalah asma dimana tanpanya alam semesta tidak tercipta, asma` inilah yang cari oleh semua orang yang ‘Arifbillah, ia adalah asma yang luhur. Barangsiapa yang mengetahui nya, maka dia akan tahu karena apa suatu dzat itu ada, apa tujuan Allah dari penciptaannya itu, bagaimana penghujung perkaranya; apakah baik atau buruk, dan apakah ia akan tetap dalam akhirat?. Dari perkara ini engkau akan tahu bahwa setiap butiran dari semesta ini memiliki asma (nana). Demikian pula seluruh butiran dari bagian semesta ini juga mempunyai asma`.

Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Apabila petinggi wali Allah ingin ber-tawajjuh pada salah satu bagian alam semesta ini, maka dia ber-tawajjuh kepada Allah dengan asma yang khusus baginya, sehingga bagian dari alam semesta tersebut akan datang meski dalam keadaan tak suka. Demikian pula ‘askarah al asma (kumpulan ragam asma). Ia di luar dari ragam nama alam semesta. Maka ketika petinggi wali Allah ingin ber-tawajjuh, maka ia ber-tawajjuh seperti nama-nama alam semesta. Perkara ini termasuk rahasia yang tidak pantas disebutkan di muka umum.

Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra juga pernah berkata:

Seluruh asma yang ada di alam semesta ini tidak bersifat hadits (baru), maksudnya maknanya, bukan huruf dan bunyinya-, karena Allah Swt telah mengucapkannya dalam azali-Nya, apapun dari kalam-Nya bersifat qadim. Beliau Ra tidak membahas masalah ini panjang lebar. Wassalam.-

Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau berkata:

Allah Swt memiliki ragam hukum sifat qadar bagi makhluk-Nya, yaitu yang menyelisihi bentuk syari’at. Di atas hukum tersebut ada hukum lain sebagai imbal-balik. Dalam istilah hikmah disebut ‘uqubat (akibat) dan jaza (balasan). Hukum ini pasti ada dan pasti datang. Sesekali Al Haq Swt mendatangkan ‘uqubât sebagai balasan dari dosa dengan salah satu cara dari berbagai macam cara, seperti terlewatkan untuk bersedekah atau menyambung silaturrahim, atau membantu orang yang ter-zhalimi, atau meminta syafa’at seorang wali, atau yang lainnya. Sesekali ‘uqubât datang tanpa sebab. Para pelaku mengerjakannya, lalu mereka pun terjatuh ke dalamnya sendiri. Sesekali datang kepada para pelaku, lalu menimpa mereka yang mendapatkannya. Barangsiapa diantara wali Allah yang berusaha untuk menolak hal itu agar bisa santai, Allah malah justru akan menguasakan itu padanya. Ia tidak keluar dari itu kecuali secara berangsung-angsur.

Diantara perkara yang di-imla`kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami adalah:

Allah Swt mengatur sebagian makhluk-Nya, Dia menjadikan harta di tangan-tangan mereka. Siapa diantara mereka yang menjaganya, serta menjaga perintah Allah Swt dalam harta tersebut tanpa menyia-siakannya, maka Allah Swt akan menjaga harta yang ada di tangannya, serta melindunginya dari harta tersebut dan menjadikannya berkah bagi dirinya. Begitu juga siapa yang menyia-nyiakan harta tersebut dengan meremehkan-nya, maka Allah Swt akan menyia-nyiakannya dan menjadikannya butuh kepada harta tersebut namun dia tidak bisa mendapatkannya.

Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Diantara perkataan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra, beliau berkata:

Maksud dari redaksi, “Setiap wali mengikuti jejak nabi,” adalah, dia memiliki dzauq sebagaimana dzauq-nya nabi, ber-tawajjuh sebagaimana tawajjuh-nya nabi tanpa merasakan apa yang dirasakan nabi, namun dia mendapat kan bagian dari apa yang dirasakan oleh nabi.-Selesai.-

Aku mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Maksud dari redaksi, “Perbedaan yang terjadi diantara ulama umat ini,” adalah bahwa masing-masing dari mereka mengikuti salah satu jalan dari beberapa jalan para rasul, maksudnya, ulama yang berijtihad dengan benar-. Apabila engkau telah mengetahui hal ini, maka sebagian dari mereka tidak boleh mengingkari sebagian yang lain, karena mereka semua dalam posisi yang tepat dan benar, sehingga tidak ada yang menentang mereka, selain orang jahil.” -Selesai sudah apa yang di-imla “kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-

Aku mendengar Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:

Sifat yang saling memiliki kesamaan antara dzat Al Qadim dan Al Hadits; hakekat sebenarnya adalah satu, tidak terganti dan tidak berubah. Tetapi sifat yang bersama dengan al qadim menjadi qadim, dan yang bersama al hadits menjadi hadits. Namun sekarang sifat itu menjadi kekal dalam pandangan oran-orang yang ‘Arifbillah. Ini termasuk perkara yang pelik, tidak ada yang mampu memahaminya kecuali Ahlullah. Semoga Allah Swt menjadikan kita bagian dari mereka.- Amin.”

Sumber : BUKU SAYYIDI SYAIKH RA MENJAWAB JILID 3 – KAJIAN SEPUTAR HADITS, SULUK, DAN FIKIH (JAWAHIR AL MA’ANI) SYAIKH AL HAJJ ALI HARAZIM AT-TIJANY