
Elsubha.com – Aku bertanya kepada Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra tentang perbedaan antara ulûm, asrâr, futûhât, mawahib, fuyûdhât, haqâ `iq, daqâ `iq, tajalliyât, musyahadât, mukasyafât, ma’arif, hadharât, maqamât, manâzil, anwâr, wâridât dan ahwâl.
Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra menjawab:
Ketahuilah, penjelasan dari semua perkara ini adalah futuh, dan hakekat futûh ialah perkara ghaib yang tampak karena hilangnya hijab setelah sebelumnya ter-hijab. la meliputi seluruh hakekat yang telah disebutkan di atas, berupa ‘ulûm dan selainnya. Setiap sesuatu yang ter-hijab kemudian terbuka, maka itu adalah futûh.
Disamping itu, futûh adalah ungkapan dari hilangnya hijab. Sesuatu yang tampak setelahnya dari beberapa hakekat makna tersebut disebut juga dengan faidh, karena ia mengalir yang sebelumnya tertahan. Disamping itu, faidh juga meliputi ‘ulum, asrâr, haqa ‘iq, ma’arif dan anwâr.
Sirr adalah sesuatu yang diletakkan Allah Swt ke dalam hati seorang hamba, berupa ragam pemahaman. Diantaranya adalah sesuatu yang diberitahukan pada seorang hamba sesuai dengan apa yang dikehendaki Allah Swt dalam mengatur semesta ini, kenapa semesta ini tercipta sebagai elemen atau materi? Apa yang dikehendaki Allah darinya? Apa yang muncul darinya? Dan termasuk hadhrah apakah ia?
Bagian dari asrar adalah mengalirnya beberapa hikmah dan bagian-bagian terkecilnya. Yang termasuk bagian dari asrar adalah sesuatu yang mengistirahatkan seorang hamba secara totalitas dan mengeluarkannya dari daerah rasa, serta menenggelamkannya ke dalam lautan hadhrah uluhiyyah, sehingga dia tidak lagi merasakan selain hadhrah uluhiyyah, baik dirinya atau selainnya. Disana dia mendengar dan menyaksikan sesuatu yang akal tidak mampu memahami permulaan nya saja, apalagi memahami akhirannya, kemudian dengan sirr yang menenggelamkannya itu dia mampu memahami permula an dan akhirannya, dengan penyaksian, pendengaran, pemahaman dan dzauq (rasa). Ini termasuk asrar tertinggi yang dianugerahkan Allah Swt kepada seorang hamba.
Bagian dari asrar lainnya adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat digambarkan dan diduga apalagi sampai bisa diungkapan dengan kata-kata, dimana kondisi ini meliputi seluruh ranah isyarat lantaran begitu tinggi kekuasaan dan keagungan perkaranya, juga termasuk apa yang tersimpan didalamnya berupa fawa `id dan kesempurnaannya. Tidak ada batasan bagi asrar. Perkara ini tidak diketahui kecuali oleh orang yang dapat merasakannya secara langsung dan kiranya penjelasan ini sudah cukup.
Ma’rifat adalah tersingkapnya hijab dari samarnya hakekat sifat dan asma Allah Swt, karena ma’rifat dan futûh adalah dua hal yang saling melengkapi namun berlainan. Hakekat futûh adalah tersingkapnya hijab yang menghalangi antara seorang hamba dengan Allah Swt; yaitu melihat pada hakekat sifat dan asma ‘-Nya, meleburnya gambaran alam semesta dari pengetahuan, perasaan, indera, pemahaman dan ketergantungan seorang hamba, sehingga tidak ada yang wujud, selain wujudnya Allah Al Haq dengan Al Haq kepada Al Haq dalam Al Haq dari Al Haq. Apabila hal ini telah terjadi, maka ma’rifat secara kasat mata akan muncul dengan pasti, kemudian lautan yakin akan menyirami hamba tersebut secara totalitas, tetapi masih dalam keadaan sadar. Sedangkan kondisi jiwa sang hamba sebelum kejadian ini berupa penyaksian alam semesta secara zhahir dan batin, maka kondisi ini disebut kasyaf, bukan futûh dan ma’rifat.
Warid adalah ungkapan tentang munculnya sesuatu yang datang dari sisi Allah Swt, dari hadhrah Allah Al Haq kepada seorang hamba, dengan bentuk qahriyyah atau bentuk jamaliyyah. Ia meliputi semua ulûm, ma’arif, asrâr, ahwâl, yaqin dan anwâr.
Sedangkan Hal adalah ungkapan tentang perkara yang datang dari hadhrah Allah Al Haq dengan bentuk qahriyyah atau jamaliyyah, yang memberikan seorang hamba gambaran yang menutupi dirinya, seperti kondisi seseorang yang dicambuk sebanyak seratus kali mengenai kulitnya, dia tidak bergerak, tidak merintih dan rona wajahnya tidak berubah. Namun, setelah kondisi itu dikatakan kepadanya, lantas kemudian dia dicambuk baru satu kali, maka dia spontan berteriak.
Kondisi yang pertama, dia mengalami hal dari sisi musyahadah Allah Al Haq, yang diliputi kesempurnaan mahabbah terhadap Dzat Allah Al Haq, serta kesempurnaan ta’zhim dan pengagungan. Hal itu menjalar dalam seluruh tubuhnya, sehingga rasa sakit nya hilang lantaran kenikmatan musyahadah yang menguasai diri, sehingga pukulan yang berat pun tidak terasa dan tidak membuatnya sakit. Namun, setelah hamparan hal itu dilipat dan ter-hijab dari musyahadah, lalu dia dicambuk satu kali, maka dia akan berteriak histeris, karena hål tersebut telah sirna darinya.
Hakekat anwar telah diketahui bersama, yaitu sinar. Raqa `iq, daqâ iq dan latha ‘if adalah ungkapan tentang sesuatu yang tidak jelas dari hakekat ‘ulûm, ma’arif dan asrar. Sedangkan hadharât, manâzil, musyahadât dan mawâfiq penjelasannya telah disebutkan sebelumnya. Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada kami.-
Kemudian Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra berkata:
Ilmu yang dihasilkan dengan cara riyadhah membutuhkan beberapa hal: Pertama adalah mengetahui pengobatan karakter, kemudian mengetahui puncak tujuan, lalu mengetahui cara untuk mencapai tujuan tersebut, selanuutnya mengetahui hijab yang memutus darinya, lalu mengetahui cara untuk menghilangkan hijab tersebut agar bisa menggapainya, kemudian mengetahui pangkal hijab yang menghalanginya, lalu berusaha maksimal untuk menghilangkan pangkal hijab tersebut, kemudian mengetahui beberapa perkara yang dapat menghilangkan hijab-nya, baik secara global atau terperinci, lalu dilanjutkan dengan menghunuskan pedang cita-cita dan menunggangi kendaraan mujahadah dengan mengikut sertakan apa yang telah diketahui dari beberapa perkara di atas serta mengamalkan sesuai tuntunannya.
Mengetahui pengobatan karakter adalah dengan cara bersikap tawassuth (pertengahan; tidak berlebihan) dalam makan dan minum, tanpa berlebihan dan sembarangan, kemudian memperhatikan waktu dan situasi sebuah daerah, panas dan dingin, basah dan kering, demikian pula dengan usia. Kemudian melakukan setiap sesuatu yang dapat menguatkan dirinya sehingga tidak mudah berpaling.
Sedangkan puncak tujuannya adalah tersingkapnya hijab dari ruh Rabbani dan mengembalikan ruh pada keadaan yang suci, sebagaimana keadaannya sebelum tersusun dalam jasad. Ini adalah sebab untuk mengetahui semua ‘ulûm dan ma’arif, ahwal dan akhlak, maqâmât dan futûhât, mawahib dan kedekatan hakiki dengan Allah Swt. Ini juga menjadi sebab tercapainya kebahagiaan dunia dan akhirat. Barangsiapa yang kehilangannnya, maka dia tidak akan sampai pada kebahagiaan akhirat.
Mengetahui cara untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengikuti Rasulullah Saw dalam semua ucapan, perbuatan, kondisi jiwa dan akhlak, dengan memenuhi hak-hak Allah Swt, secara zhahir dan batin, ikhlas karena Allah (dan bersih) dari seluruh kotoran dunia dan akhirat. Itu semua dilakukan karena ta’zhim dan mengagungkan Allah Swt di atas hamparan ridha, pasrah dan tafwidh, berpengang teguh kepada-Nya dan kembali kepada-Nya dalam setiap sesuatu.
Sementara mengenai perkara mengetahui hijab yang dapat memutus dari tujuan tersebut adalah dengan cara tenggelamnya ruh dalam lautan hasrat, syahwat dan mengagungkan diri sendiri, serta berusaha menarik sisi positifnya serta menjauhkan sisi negatifnya.
Mengetahui cara untuk menghilangkan hijab tersebut adalah dengan memutus hasrat, syahwat dan meninggalkan kebiasaan mengagungkan diri sendiri, serta berusaha menarik sisi positifnya dan memutus sisi negatifnya dengan bersikap zuhud di dalamnya secara totalitas, tetapi dengan lemah lembut.
Mengetahui pangkalnya hijab, yaitu banyak makan dan minum, banyak bergaul dan banyak berbicara, banyak tidur dan sering lalai dari dzikir kepada Allah Swt.
Begitu juga mengenai upaya maksimal dalam memutus pangkal hijab tersebut adalah dengan cara lapar dan haus dengan tidak berlebihan, memutus pergaulan dari manusia, selalu diam kecuali mengatakan sesuatu yang sedikit mudharat-nya, selalu bangun malam, senantiasa berdzikir kepada Allah Swt dengan hati dan lisan, serta tidak memikirkan sesuatu yang dapat diindera.
Sedangkan untuk mengetahui beberapa perkara yang dapat menghilangkan hijab secara global dan terperinci, caranya adalah dengan senantiasa berdzikir kepada Allah Swt dalam hati dan lisan dengan dzikiran apapun itu. Berdzikir kepada Allah Swt yang dapat menghilangkan ragam hijab, diantaranya adalah hijab secara global-, ialah dzikiran yang dapat memutus setiap hijab dari ruh, seperti apapun bentuknya; diantaranya adalah hijab secara terperinci, yang tidak dapat diputus kecuali satu persatu.
Dzikiran yang dapat menghilangkan hijab secara global adalah dzikiran dengan lafazh “La ilaha illallahu,” atau shalawat atas Nabi Saw, atau “Subhanallaah,” atau “Alhamdulillaah,” atau “Allâhu Akbar,” atau “Bismillahir-rahmânir-rahîm,” atau “Allâhu Allâhu Allâhu,” atau “Allâhu lâ ilaha illâ Huwal Hayyul Qayyum.
Sedangkan dzikiran yang dapat menghilangkan hijab secara terperinci adalah semua Asmaul Husna, atau setiap nama Allah yang dapat menghilangkan sebagian dari hijab dan tidak bisa menghilangkan bagian yang lainnya.
Redaksi ungkapan diatas, “Menghunus pedang cita-cita…” tidak perlu dibahas karena sudah jelas. Selesai sudah apa yang di-imla ‘kan Sayyidi Syaikh Ahmad bin Muhammad At-Tijany Ra kepada Syaikh Muhammad bin Al Musyri.
