You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah : Waktu Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah : Waktu Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah

Waktu Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah

1. Waktu Pembacaan Wiridan Pagi

Waktu pilihan untuk wiridan pagi adalah setelah shalat shubuh sampai waktu shalat dhuha yang paling akhir. Waktu daruratnya dari waktu dhuha yang paling akhir sampai tenggelamnya matahari. Membaca wiridan pada dua waktu ini dikategorikan membacanya secara “ada’an dan bukan qadha an (membaca pada waktunya dan bukan mengqadhanya).”

Boleh memajukan waktu pembacaan wiridan pagi ini pada malam hari sebelumnya meski tanpa adanya udzur, bahkan perkara ini termasuk perkara yang lebih utama lantaran keutamaan dzikir diwaktu malam daripada dzikir di waktu pagi, begitu juga semua amalan kebaikan.

Waktu pertama memajukan pembacaan wiridan pagi adalah setelah shalat Isya sekitar dia mampu membaca 5 hizib Al Qur’an dan orang-orang tidur. Didalam Al Ifadah disebutkan: “Barangsiapa yang ingin memajukan pem-bacaan wiridan pagi, maka dia bisa memajukannya satu jam setelah shalat isya, dengan perkiraan seorang yang membaca Al Qur’an mampu membaca 5 hizib dan orang-orang pada tidur.”

Waktu untuk memajukan bacaan wiridan pagi ini sampai terbit fajar, nah ketika sang ikhwan sedang membacanya lalu terbit fajar yang dtandai dengan adzan shubuh, maka dia harus menyempumakan bacaan tersebut dan mengulangi lagi pembacaan wiridan pagi. Jika dia membacanya setelah adzan shubuh sebelum berdiri melaksanakan shalat shubuh atau setelahnya dia tetap harus mengulangi lagi pembacaan wiridan pagi itu.

2. Waktu Pembacaan Wiridan Sore

Waktu pilihan untuk wiridan sore adalah setelah shalat Ashar hingga waktu shalat isya yang paling akhir, sedangkan waktu daruratnya adalah sejak waktu isya paling akhir hingga terbit fajar (dengan adanya adzan shubuh); ini waktu yang dapat dipilih. Ikhwan yang brdzikir pada waktu pilihan ini dikategorikan telah melakukannya secara “ada`an dan bukan qadha’ an (membaca pada waktunya dan bukan mengqadhanya).”

Jika ada ikhwan yang membaca wiridan sore setelah wajibnya shalat Ashar (setelah adzan Ashar), namun dia belum melakukan shalat Ashar, maka dia harus mengulangi pembacaan wiridan tersebut, sebab posisinya kala itu dia sama saja sedang membaca wiridan pagi.

Jika toh dia memiliki udzur yang diperkirakan terjadi esok hari, maka dia boleh memajukan pembacaan wiridan sore pada malam hari sebelumnya dengan membaca wiridan pagi yang waktunya dimajukan terlebih dahulu, lalu dilanjut dengan wiridan sore yang waktunya dimajukan. Hal ini bertujuan agar tertib dalam pembacaannya.

Tidak boleh memajukan waktu pembacaan wiridan sore pada siang hari meski ada udzur, ikhwan tersebut harus mengakhirkan waktunya hingga waktu darurat jika benar udzurnya itu. Dalam Al Ifadah Al Ahmadiyyah disebutkan, “Barangsiapa yang ingin memajukan pembacaan wiridan Ashar (sore), maka dia tidak boleh memajukannya kecuali jika adanya udzur di waktu itu; jika demikian, maka dia boleh memajukan pembacaannya pada malam hari.”

Terkait dengan ragam dzikiran khusus seperti bacaan surah Al Fatihah dengan niat isim a’zham, shalawat fatih dengan niatan isim a’zham serta semua dzikiran dengan niatan isim a’zham, maka ikhwan tersebut tidak boleh membacanya sama sekali pada waktu sore/malam, dia harus menanti waktu shubuh tiba. Lain halnya dengan rahasia berziarah, waktu yang paling utamanya adalah mengakhirkan bacaan ini hingga waktu Shubuh bagi orang yang memajukan pembacaan wiridan pada malam hari. Jika toh ikhwan tersebut membaca bacaan Sirr Ziyarah ini pada malam hari, itu tidak mengapa namun menyelisihi waktu yang utama dalam pembacaannya.

3. Waktu Pembacaan Wazhifah

1X24 jam adalah waktu pembacaannya, namun jika dibaca pada malam hari, maka itu lebih baik. Waktu paling utama membaca wazhifah adalah setelah shalat Maghrib dan sebelum Isya. Inilah yang terus menerus dilakukan oleh Sayyidi Syaikh Ahmad At-Tijany Ra.

Tidak boleh memajukan pembacaan wazhifah pada malam hari kecuali bagi ikhwan yang memang membaca wazihfah dua kali dalam sehari; pagi dan sore. Waktu pembacaan wazhifah ini adalah sesuai dengan waktu pembacaan wiridan, begitu juga waktu pilihan yang dianjurkan membaca wazhifah sama dengan waktu pilihan pembacaan wiridan, begitu juga dengan waktu daruratnya. Tidak perlu tertib antara pembacaan wiridan dan juga wazhifah, tetapi boleh memajukan waktu pembacaannya kapan saja. Ketika waktu pembacaannya telah lewat, maka wazhifah wajib diqadha.

4. Waktu Pembacaan Hailalah Jum’at

Waktu pilihan pembacaan hailalah adalah setelah Ashar hari Jum’at; sejak usai shalat Ashar hingga tenggelamnya matahari; kisaran 1 jam sebelum matahari tenggelam. Ikhwan boleh membaca hailalah tersebut dengan menentukan jumlah tertentu, yang mana setelah ia membaca sejumlah itu, diapun boleh melanjutkan pekerjaannya, dimana hailalah ini tidak di-qadha jika terluputkan. Sayyidi Al Kansusi menilai baik jika hailalah diqadha; yaitu bagi ikhwan yang sengaja meninggalkan bacaan hailalah ini. Sementara ikhwan yang lupa atau memiliki udzurr syar’i tidaklah perlu meng-gadha-nya. Pendapat pertamalah yang terkenal.

Sumber : BUKU NAHJUL HAMID RAGAM KEWAJIBAN BAGI MUQADDAM DAN MURID (NAHJUL HAMID FIMA YAJIBU ‘ALAL MUQADDAMI WAL MURIID) SYAIKH IBRAHIM AL HUSAINI AT-TIJANY