
Elsubha.com – Permasalahan Yang Biasa Terjadi Dalam Wiridan Thariqah At-Tijaniyyah : Ragam Persepsi Salah Tentang Thariqah
Ragam Persepsi Salah Tentang Thariqah
Perkara salah yang mendasar pada Ahlullah. Sebagian orang beranggapan ada ragam perkara yang tidak diperbolehkan bagi pengamal thariqah dan diperbolehkan bagi yang lain. Juga ada ragam perkara yang diperbolehkan bagi pengamal thariqah dan tidak diperbolehkan bagi kaum muslimin lainnya, keyakinan seperti ini tidak boleh dibiarkan bahkan tidak ada seorangpun yang boleh mengamalkan keyakinan ini. Hukum yang telah ditetapkan syari’at berlaku umum, maka ini mencakup semua kaum muslimin dan muslimat; baik implikasi hukumnya itu mengarah pada perkara wajib, sunah, haram, makruh atau mubah.
Orang yang bersuluk dijalan Allah tidaklah boleh menentang kebenaran, tidak pula menerima kebenaran kecuali dari figur yang dia sukai. Sebab perkara ini merupakan musibah besar bahkan kondisinya bisa mengarah pada penolakan ragam hadits dan nash agama untuk memuaskan sosok yang diidolakannya meski beliau tidak paham akan Sunnah Nabi Saw.
Sebagian mereka pun beranggapan bahwa seorang murid tidak punya pilihan kecuali apa yang dipilihkan oleh Syaikhnya. Kalimat ini benar namun yang diinginkan dari kalimat ini adalah perkara batil. Sebab, gurunya murid Tijany adalah Syaikh Ahmad At-Tijany Ra sendiri, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikh Islam Ibrahim Inyas dalam berbagai tulisan beliau, terutama dalam kitab As-Sirr Al Akbar.
“Penting untuk diketahui bahwa Syaikh Ahmad At-Tijany Ra termasuk ulama yang sangat berpegang teguh pada As-Sunnah dan senantiasa mengikuti ragam adab Nabi Saw. Ada perdebatan beliau dengan para ulama fikih lantaran beliau sangat berpegang teguh pada As-Sunnah dan ini terekam dalam profil kehidupan beliau. Beliau menanggung semua beban demi berpegang teguh pada As-Sunnah. Beliau adalah seorang sufi mujtahid, beraliran sunni yang teguh. Ikhwan yang mengaku mengikuti imam ini kemudian lantas memberikan keringanan dalam menolak ragam hadits Nabi Saw dan ragam dalil syari’at, maka dia telah menzhalimi dirinya. Para muqaddam termasuk orang yang sangat keras dalam mengikuti beliau daripada para murid Tijany, sebab tidak benar murid Tijany kecuali dengan benarnya para muqaddam, maka kita pun semua dituntut untuk mengikuti para muqaddam.”
Berikut ini kami kutipkan jawaban Syaikh Ibrahim Inyas terhadap orang-orang yang mengkritik thariqah At-Tijaniyyah sebagaimana tertera dalam kitab Mathrab As-Sâmi’în wan-Nâzhiriin.
“Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamîn, was-shalâtu was-salâmu ‘ala afdhalil mursalin, wa Ålihi wa shahâbatihi wat-tabi’âna wa tabi’îhim bi ihsanin ila yaumid-Din. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
قُلْ هٰذِهٖ سَبِيْلِيْۤ اَدْعُوْۤا اِلَى اللّٰهِ ۗ عَلٰى بَصِيْرَةٍ اَنَاۡ وَمَنِ اتَّبَعَنِيْ ۗ وَسُبْحٰنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَنَاۡ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ
qul haazihii sabiiliii ad’uuu ilalloh, ‘alaa bashiirotin ana wa manittaba’anii, wa sub-haanallohi wa maaa ana minal-musyrikiin
“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Maha Suci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.””
(QS. Yusuf 12: Ayat 108)
Wa ba’du. Thariqah At-Tijaniyyah yang ditalqinkan kepada kami oleh sahabat-sahabat beliau (Syaikh Ahmad At-Tijany Ra) dan juga disebarluaskan ke seantero alam; yang membuat Islam semakin kuat memiliki tiga dzikiran: Istighfar, shalawat kepada Nabi Saw dengan shighat apapun dan juga kalimat musyarrafah, Lâ ilâha Illallah. Kami pun telah membahasnya dengan panjang lebar tentang itu dan juga tentang tasawuf secara umum pada selain kitab ini. Yang ingin memperdalaminya bisa baca buku kami; Kâsyif Al Ilbås ‘An Faidhatil Khatmit-Tijany Abil Abbas. Didalam buku tersebut ada bahasan ilmiah tentang materi diatas.
Thariqah ini diperkenalkan oleh salah satu tokohnya Syaikh Islam di Qatar Tunisia, sayyidi Ibrahim Abdul Qadir Ar-Riyahi pada tahun 1366 H, beliau menuliskan profil Sayyidi Syaikh ra secara ringkas. Aku akan nukilkan dari ijazah Asy-Syaikh Ar-Riyahi yang beliau tulis pada tahun 1344 H, berupa ijazah beliau kepada Syaikh Abul Abbas Ahmad bin Asy-Syaikh Sayyidi Ath-Thahir Ath-Thalifi, aku dapat ini dari seorang ‘Allamah negeri Tunisia sekaligus mufti negeri tersebut; Syaikh Muhammad Al Fadhil bin ‘Asyûr- semoga Allah panjangkan umur beliau..Aamiin.
Syaikh Ar-Riyahi berkata, “Segala puji hanya bagi Allah. Inilah thariqahnya guru kami Abul Abbas At-Tijany Ra, beliau membaca ta’awwudz dan basmalah, kemudian mengucapkan Astagfirullah (100 kali), lalu shalawat kepada Nabi Saw sejumlah 100 dengan redaksi apapun, tetapi dengan redaksi shalawat fatih itu lebih utama lantaran didalamnya terdapat pahala yang besar; yaitu redaksi, Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammadinil fatihi lima ughliqa wal khâtimi lima sabaq, nâshiril haqqi bil haqqi wal hadi ila shirâthikal mustaqim wa’ala Alihi haqqa qadrihi wamiqdarihil ‘azhîm’, kemudian membaca kalimat Lâ ilaha illallah sebanyak 100 kali. Inilah yang kamu baca setelah shalat shubuh, begitu pula setelah shalat Ashar.
Perkara ini sesuai dengan firman Allah Swt,
وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَـهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ
wazkur robbaka fii nafsika tadhorru’aw wa khiifataw wa duunal-jahri minal-qouli bil-ghuduwwi wal-aashooli wa laa takum minal-ghoofiliin
“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 205)
Selanjutnya adalah wazhifah yang engkau baca, rentang waktunya 1 X 24 jam, bacaannya adalah Astaghfirullahal azhîm Alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyum (30 kali), shalawat fatih (50 kali) dengan shighat. Allahumma Shalli ‘Ala Sayyidina Muhammadinil Fâtihi lima ughliqa wal khatimi lima sabaq, nâshiril haqqi bil haqqi wal hâdi ila shirâthikal mustaqim wa’ala Alihi haqqa qadrihi wamiqdarihil ‘azhîm. Kemudian membaca kalimat, Lâ ilâha illallah (100 kali) lalu shalawat jauharatul kamal (12 kali); yang lafazhnya sebagai berikut: Allahumma shalli wa sallim ‘ala ‘ainir-rahmatir- Rabbaniyyati wal yaquutatil mutahaqqi-qatil ha ithati bimarkazil fuhûmi wal awâni, wa nûrikal akwânil mutakawwinatil âdamiyyi shahibil haqqir-Rabbani, al barqil astha bimuzûnil arbâhil mâli`ati likulli muta’aridhin minal buhûri wal awâni, wa nûrikal- lâmi’il ladzi mala `ta bihi kaunakal ha itha biamkinatil makâni. Allahumma shalli wa sallim ‘ala ‘ainil haqqil-latii tatajalla minha ‘urîsyl haqâ `iqi, ‘ainil ma’arifl aqwami shirothikat-tâmil asqam. Allahumma shalli wa sallim ala thol’atil haqqi bil haqqil kanzil a’zham. Ifådhatika minka ilaika ihâthatin-nûril muthalsam, shallallahu ‘alaihi wa ‘ala Ålihi shalâtan tu’arrifunâ bihâ iyyahu.
Inilah gambaran thariqah At-Tijaniyyah. Diantara persyaratannya adalah menjaga ragam perkara yang telah diwajibkan oleh Allah dan berupaya keras menjaganya, khususnya shalat lima waktu dengan bersuci mengggunakan air seraya berupaya menyempumakan ragam rukunnya. Inilah yang dimaksud mendirikan shalat yang diperintah oleh Allah Swt dalam firman-Nya, “Wa Aqimus-shalât.” Selanjutnya mendirikan shalat bersama jama’ah yang berakidah Sunni dan tidak berbuat bid’ah. Hal ini sesuai dengan firman Allah, “Warka’u ma’ar-raki’iina”; Selain itu juga melaksanakan shalat tersebut pada waktunya, sesuai dengan firman Allah Swt, “Innas-shalāta kaanat ‘alal mu’minîna kitabam mauqûta.” Juga dilakukan dengan khusyuk, sesuai dengan firman Allah Swt, “Qod Aflahal mu’minûn alladzi hum fi sholâtihim khâsyi’uun.”
Tambahan perkara baik bagi pengamal Tijany adalah dirinya harus memiliki keterkaitan kuat dengan Al Qur’an dengan cara membaca, mempelajari dan merenungkannya.
Jika ikhwan tersebut hafal Al Qur’an, maka dia harus berusaha bisa mengkhatamkannya seminggu sekali, bahkan jika bisa mengkhatamkannya setiap 3 malam sekali itu lebih sempurna. Tidak diragukan lagi bahwa amalan yang paling baik untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah Al Qur’an, sebagaimana mimpi yang dilihat oleh Imam Ahmad bin Hanbal. Sementara ikhwan yang belum mampu membaca sepertiga Al Qur’an, bahkan tidak pula mampu meng-khatamkan Al Qur’an dengan cara dibaca selama seminggu sekali, maka paling minimal ikhwan membaca dua hizib setiap harinya atau bacaan ringan lainnya dari ayat-ayat Al Qur’an.
Ajaran thariqah mengarahkan kita semua untuk memenuhi waktu kita dengan berdzikir kepada Allah Swt. Dzikiran yang paling utama adalah yang tertera di dalam Al Qur’an, seperti Al Baqiyat Ash-Shâlihât, subhanallah wal hamdu lillah wa lâ ilaha illallah. Yang paling utama juga adalah lafazh Lâ ilaha illallah wahdahu la syarika lah yang dibaca seusai shalat seperti yang telah dikenal banyak orang.
Maka dengan jelasnya manhaj thariqah ini, yang pada hakekatnya ber-manhaj kitabullah dan As-sunnah, Akan tetapi ada sebagian orang yang mengkritik As-Syyid Al Hajj Ali Harazim (pengarang Jawahirul Ma’ani) lantaran beliau menyebutkan ragam keutamaan thariqah ini dengan paparan perkara yang pikiran mereka tidak sampai, sehingga mereka mengingkarinya, bahkan keingkarannya pun sampai mengingkari Syaikh Ahmad At-Tijany Ra, oleh karena itu Syaikh Ahmad At-Tijany Ra pernah bekata, “Jika kalian mendengar suatu perkara dariku, maka timbanglah itu dengan neraca syari’at; jika sesuai amalkanlah, jika tidak sesuai, maka tinggalkanlah.” Bahkan dengan pernyataan beliau pun tidak menyurutkan orang-orang yang mengkritik thariqah At-Tijaniyyah.
Terkait dengan ini, akupun menambahkan komentar dari perkataan Syaikh Ahmad At-Tijany Ra tersebut: Sungguh Syaikh At-Tijany Ra yang memerintahkan para muridnya untuk belajar dan memperdalam keilmuan, beliaupun tidak mampu untuk menyelisihi syari’at, sebab timbangan baik tidaknya adalah neraca syari’at, beliau mengembalikan ragam perkara kepada Allah dan Rasul-Nya dan ini tidak serta merta terjadi kecuali datangnya dari orang yang menuntut ilmu.
Terkait dengan hal itu, thariqah At-Tijaniyyah merupakan thariqah ilmu dan juga hikmah. Ikhwan yang mengikuti Syaikh Ahmad At-Tijany Ra lantas membuat perkara bid’ah yang sesat, maka dialah yang berbuat durjana bagi dirinya sendiri. Syaikh Ahmad At-Tijany Ra telah berlepas diri dengan perkataan beliau diatas, dimana suluk beliau sesuai dengan tuntunan Nabi Saw, begitu juga semua tindak tanduk beliau, sandarannya adalah As-Sunnah, sebagaimana yang telah diketahui oleh orang secara umum maupun secara khusus. Jika engkau sudah paham muatan tulisan ini, maka ini aku tujukan kepadamu; baik yang yakin terhadap beliau maupun yang mengingkari beliau; bahwa apa yang dituliskan oleh Ibnu Ma Ya’ba Al Habakni, Al Bakwi Al Kinti, Abdurrahman Al Afriqi, Al Marzuqi, Taqiyyuddin Al Hilali dan pengikutnya di dalam negeri maupun luar Nigeria yang senantiasa membuat ragam syubhat untuk thariqah At-Tijaniyyah ini, semuanya itu adalah dusta, perkara yang dibuat-buat. Perkataan yang mereka sadur di buku merekapun tidaklah mewakili akidah salah seorang pengikut Syaikh yang mulia ini; Syaikh Ahmad At-Tijany Ra. Sebab perkara yang disebutkan oleh orang yang mengkritik thariqah At-Tijaniyyah tidak ada dalam akidah pengamal Tijany.
Sedangkan kelompok orang yang fanatik terhadap thariqah At-Tijaniyyah ini semisal Raqim As-Sam Az-Za’af, maka mereka ini lebih bahaya dibanding orang-orang yang ingkar. Sebab orang yang melihat pada semangatnya orang ini untuk perkara batil, maka diapun akan menyangka bahwa dirinya telah ada pada agama baru selain Islam. Setahu kami dia hanyalah gambaran dari dirinya saja, oleh karena itu kami ingatkan pada pasal ini. Sebab orang yang berkeyakinan bahwa ada sesuatu yang lebih utama daripada Al Qur’an atau menganggap perkara itu lebih utama daripada semua perkataan yang ada, maka dia telah kufur sesuai dengan kesepakatan ulama kaum muslimin. Thariqah At-Tijaniyyah pun terbebas daripada kesesatan orang tersebut.
Demikian aku tuliskan sya’ir bagus yang di buat oleh Al ‘Allamah As-Sayyid Muhnish Babih Ad-Daimâni yang menjelaskan bagusnya thariqah ini:
الْحَمْدُ للهِ الْكَرِيمِ الْهَادِي # قُدْوَتُنَا لِأَسْهَلِ الْأَوْرَادِ
فَشَاكَلَ الْحَنَفِيَّةَ الْبَيْضَاءَ # لِكَونِهِ سَمْحًا كَمَا أَضَاءَ
ثُمَّ أُسَلِّمُ كَمَا أُصَلَّى # عَلَى النَّبِيِّ الْخَاتِمِ الْمُجَلَّى
مَنْ بَلَغَ الْوَحْيَ كَمَا قَدْ أُمِّرًا # فَخُصَّ بِالسِّرِّ وَأَفْشَى الْمَظْهَرَا
وَالِهِ وَصَحْبِهِ الْهُدَاةُ # عَلَى طَرِيْقِ الرُّشْدِ وَالنَّجَاةِ
وَكُلُّ مَنْ تَبَعَ بِالْإِحْسَانِ # طَرِيقُهُمْ كَشَيْخِنَا التِّجَانِي
وَبَعْدُ. فَلْيَعْلَمْ قَرِيْبٌ وَبَعِيدٌ # أَنَّ الْمُوَفِّقَ لَهَا هُوَ السَّعِيدُ
قَدْ أَفْرَطَتْ طَائِفَةُ الْمَجَانُ # إِذْ أَنْكَرُوْا طَرِيقَةَ التِّجَانِي
نَهُوْا عَنِ الطَّرِيقِ مَنْ أَرَادَهَا # وَأَنْكَرُوْا لِعَالِمٍ أَوْرَادُهَا
أَلَيْسَتِ الْأَوْرَادُ ذِكْرُ اللَّهِ # وَالنَّهْيُ عَنْهُ مُنْكَرُ يَا نَاهِي
وَاللَّهُ قَدْ أَمَرَهُ بِالإِكْثَارِ # مِنْ ذِكْرِهِ يَا مُنْكِرُ الْأَذْكَارِ
وَلَمْ يَخْصُ وَصْفَهُ أَوْ نَوْعَهُ # فَلَا يَكُوْنُ مِنْهُ شَيْءٌ بِدْعَةٌ
إذْ كُلُّ مَا جَاءَ بِلَا تَخْصِيْصِ # كَانَ عَلَى الْعُمُوْمِ فِي الْمَنصُوصِ
وَأَنْكَرُوْا جَوْهَرَةَ الْكَمَالِ # لِوَصْفِ هَذَا الدِّيْنِ بِالْإِكْمَالِ
وَجَهَلُوا شُمُوْلَ الْأَمْرِ بِالصَّلَاةِ # عَلَى النَّبِيِّ فَكُلُّ صِيْغَةٍ صَلَاةٌ
وَلَمْ تَزَلْ أَقْطَابُ الْأَوْلِيَاءِ # تَأْخُذُ عَنْ إِمَامِ الْأَنْبِيَاءِ
بَعْدَ مَنَامِهِ عُلُوْمَ السِّرِّ # كَالشَّاذِلِي فِي أَخْذِ حِزْبِ الْبَحْرِ
وَصَافَحَ السُّيُوطِي عِنْدَ الْقَاهِرَةِ # بِيَدِهِ يَدُ النَّبِيِّ الطَّاهِرَةِ
وَنَسَبُوْا لِشَيْخِنَا التِّجَانِي # أَنَّ نَسَبَ الرَّسُوْلِ لِلْكِثْمَانِ
لِجَهْلِهِمْ وُرُوْدَ هَذَا الْوِرْدِ # فِي نِصُ الْآيَاتِ بِغَيْرِ رَدَّ
وَأَنْكَرُوْا كَوْنَ الثَّيَابِ تُنْشَرُ # لِأَجْلِ تَعْظِيمَ النَّبِيِّ إِذْ يَحْضُرُ
وَأَنْكَرُوْا كَوْنَ النَّبِيِّ يَحْضُرُ # صَلَا تَنَا لِأَجْلِ عِلْمٍ يَقْصُرُ
قَدْ نَشَرَ الصِّدِّيقُ لِلْمَلَا ىِٔك ِ# ذَكَرَ ذَاكَ صَاحِبُ الْحَيَا ىِٔكِ
وَمَعَ ذَا فَأَبْلَغَ التَّعْظِيمَ # مَنِ اكْتَفَى بِالظَّنِّ وَالتَّوْهِيمِ
وَلَمْ يَقُلْ لَوْ جَاءَنَا يَقِيْنَا # لَكُنْتُ أَفْرَسُ لَهُ الْخَبِيْنَا
وَأَنْكَرُوْا الْجَهْرَ وَالْإِجْتِمَاعًا # لِلذِّكْرِ وَهُوَ جَائِزٌ إِجْمَاعًا
جَرَى عَلَى ذَالِكَ مُذْ أَعْصَارٍ # شَرْقًا وَغَرْبًا عَمِلَ الْأَمْصَارُ
وَوَقَعَ بِالْإِجْمَاعِ بَعْدَ الْخَلَفِ # فِيْهِ فَجَازَ الْيَوْمُ دُوْنَ خَلَفٍ
قَدْ وَزَنُوْا أَحْكَامَهُمْ بِالطَّبْعِ # وَلَا يَرَوْنَ وَزْنَهَا بِالشَّرْعِ
وَكُلُّ مَا لَاءَمَ طَبْعُهُمْ فَحَقُّ # وَمَا يُخَالِفُهُ فَبَاطِلُ زَهِقٌ
فَلَمْ يَرَوْا لِحُجَّةٍ يَرِدُوْنَ # وَرَبُّهُمْ عَنْ ذِكْرِهِ يَصِدُّوْنَ
عَلَامَ لَا يَخْشَى الَّذِي قَد صَدَا # عَنْ ذِكْرِ رَبِّ كَوْنُهُ مُرْتَدًا ؟
فَعُمْرُ لَا يَأْمَنُ النِّفَاقَا # مِنْ نَفْسِهِ وَقَدْ سَمَا وِفَاقَا
أَعَاذَنَا اللَّهُ بِحُسْنَى دَائِمَةٌ # رَبِّي وَعُمَّنَا بِحُسْنِ الْخَاتِمَةِ
Segala puji bagi Allah yang Maha pemurah, pemberi hidayah # panutan kami untuk wiridan yang mudah Allah membentuk ajaran yang lurus nan bersih # sebab agama ini pemurah seperti yang nampak Kemudian aku mengucapkan salam sebagaimana aku bershalawat # atas Nabi penutup tempat Allah bertajalli. Sosok yang menyampaikan wahyu sebagaimana telah diperintahkan # Allah khususkan beliau dengan rahasia dan menyingkap ragam perkara yang nampak Juga keluarga beliau dan sahabat beliau, yang senantiasa menunjukkan #kepada jalan petunjuk dan keselamatan.
Setiap orang yang mengikuti sisi ihsan # maka jalan mereka seperti jalan Syaikh At-Tijani
Wa ba’du: Hendaknya diketahui bagi orang yang dekat dan jauh # sesungguhnya orang yang cocok dengan thariqahnya beliau adalah orang yang beruntung
Sekelompok orang gila telah kelewat batas # dimana mereka mengingkari thariqah At-Tijany
Mereka melarang orang yang tertarik pada Tijany # bahkan mereka mengingkari wiridannya orang yang Alim
Bukankah wiridan adalah simbol dzikir kepada Allah # maka melarangnya adalah orang yang ingkar hai engkau yang melarang itu
Allah telah memerintahkan untuk memperbanyak # dzikir hai orang yang ingkar akan wiridan.
Allah tidak mengkhususkan sifat atau macam dzikiran itu # maka tidak ada bid’ah didalamnya
Dimana segala sesuatu yang tanpa pengkhususan # maka yang berlaku adalah perkara yang umum
Mereka pun mengingkari jauharatul kamal # dengan mensifati bahwa agama ini telah sempurna
Mereka lupa bahwa koprehensifnya suatu perkara ada pada shalawat # atas nabi dengan shighat apapun
Sang wali quthub masih saja mengambil # dari imanya para nabi
Mengambil ragam ilmu rahasia setelah tidur # seperti Asy-Syadzili dalam mengambil hizib bahr
Imam As-Suyuthi di Kairo # yang menyalami tangan nabi yang suci
Mereka menisbatkan pada Syaikh kami At-Tijany # bahwa nasabnya Rasul untuk disembunyikan
Hal itu lantaran kebodohan mereka akan datangnya wiridan ini dalam berbagai nash ayat yang tidak lagi bisa ditolak Mereka pun mengingkari kain yang dibentangkan # untuk mengagungkan Nabi Saw yang hadir
Merekapun mengingkari Nabi Saw bisa hadir # dalam shalat kami, hal itu karena ilmu mereka kurang
Ash-Shiddiq telah membentangkan kain untuk para malaikat #Pengarang Haba `ik telah mengatakan itu
Maka dari itu, hal ini pun dianggap bentuk mengagungkan berlebihan # inilah anggapan orang yang hanya mencukupkan diri dengan prasangka dan dugaan Dia tidak berkata, Jikalau Nabi Saw langsung yang datang pada kami, maka kami baru yakin # niscaya aku akan hiasi kanan kiri kami
Merekapun ingkar dengan suara dzikir yang dibaca dengan suara keras dan juga perkumpulan untuk dzikir, # sementara sebenarnya ini perkara yang diperbolehkan sesuai ijma Perkara inpiun telah berlaku sejak zaman dahulu # baik di Timur maupun di Barat telah melakukan ini
Perkara inipun telah disepakati setelah generasi khalaf # maka sampai hari ini pun perkara itu masih berlaku
Mereka menimbang hukum dengan tabiat mereka #mereka tidak melihat bahwa timbangan hukum itu adalah neraca syari’at
Setiap yang tabiatnya cocok dengannya, maka itu benar # sedangkan yang menyelisihi, maka itu batil
Mereka tidak melihat hujjah yang diberikan # bahkan ketika ditampakkan mereka langsung menolaknya
Akan takut pada apalagi, bagi orang yang menentang perkara berdzikir pada Rabbnya selain statusnya sebagai orang murtad?
Seumur hidup orang yang memiliki sisi kemunafikan # dalam dirinya tidak akan merasa aman, terlebih kemunafikan itu semakin tinggi
Semoga Allah melindungi kita dengan kebaikan-Nya selalu # dan Allah berikan kepada kita husnul khotimah.
Aku telah telaah karya Al Allamah Al Qadhi Asy-Syaikh Ahmad Sukairij yang berjudul Jinayatul Muntasab Fima Nusiba Ilasy-Syaikhi At-Tijany Minal Kadzibi, kitab ini memiliki banyak manfaat dalam bahasan tersebut, dan semoga bisa dicetak.
Aku selesaikan jawaban atas ragam pertanyaan pada buku ini pada akhir bulan Rabi’ul Awwal 1391 H. Semoga tulisan ini diterima oleh Allah Swt
