
Elsubha.com – Apa itu Faidhah at-Tijaniyyah?
Aku katakan: Telah berlaku secara mutawatir di kalangan sahabat sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra dan juga banyak tertuang pada berbagai karangan mengenai thariqah, bahwa sayyidi syaikh Ra pernah mengatakan, “Faidhah akan terus terkucur bagi para sahabatku sampai banyak orang masuk thariqah ini dengan berbondong-bondong. Faidhah ini terus mengalir kala manusia dalam himpitan dan kesulitan. Pengarang al Ifâdhah mengatakan, “Yang dimaksud dengan ‘faidhah’ adalah banyaknya terjadi futuh pada sahabat beliau meski zamannya sudah berjauhan.”
Syaikhuna sayyidi Ahmad at-Tijany Ra pernah mengatakan yang tertera dalam Risalah al Fadhlu wal Imtinân karya al khalifah Sayyidi ‘Ali Harazim Barradah Ra: Yang termasuk perkara yang dijaminkan Rasulullah Saw bagi beliau (sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra); yaitu madad bagi muridnya akan terus ada hingga hari Kiamat. Thariqah beliau pada anak keturunan Nabi Adam lebih dari sepuluh ribu thariqah. Seluruhnya merupakan murid-murid beliau; seluruh thariqah untuk murid dari murid-murid beliau; Setiap thariqah memiliki cabang thariqah sisi ma’rifat yang banyak, kemudian setiap thariqah juga bercabang menjadi beragam thariqah hingga hari Kiamat. Di Surga pun ada lebih dari dua puluh ribu thariqah, yang juga bercabang banyak hingga hari Kiamat dan tidak terputus selamanya hingga Allah wariskan bumi ini dan generasi diatasnya dan Dialah sebaik-baik yang mewarisi, dimana kekhususan wiridan akan tetap ada hingga hari Kiamat selagi wiridan ini dibaca dan didzikiri. (Selesai pernyataan sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra).datephe
Faidhah yang disebutkan oleh sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra telah diperbincangkan oleh para sahabat beliau, para khalifah dan pewaris asrar setelah beliau. Kebanyakan mereka mengaku maqam itu milik dirinya, sehingga dalam ragam pengakuan banyak kerancuan.
Akupun pernah mendapati pertanyaan yang ditanyakan oleh al ‘Allamah Ahmad bin Muhammin al ‘Alawi kepada syaikh ‘Umar al Futi; diantaranya pertanyaan ketiga dari perkataan syaikh Ra; “Faidhah akan terus terkucur bagi para sahabatku sampai banyak orang masuk thariqah ini dengan berbondong-bondong. Faidhah ini terus mengalir kala manusia dalam himpitan dan kesulitan;” apakah faidhah ini sudah terjadi atau ia akan tetap ada selamanya?
Syaikh ‘Umar al Futi menjawab dengan redaksi: Terkait dengan faidhah, aku memohon kepada Allah Swt agar faidhah itu untuk kalian. Maksudnya adalah aku adalah seorang hamba yang fakir dan Imam al Fathimi.
Aku juga menemukan tambahan perkataan yang ditambahkan oleh as-Sayyid al ‘Arabi bin Sa`ih atas pernyataan syaikh ‘Umar al Futi: Kami telah melihat perbedaan pendapat pada pembesar sahabat sayyidi syaikh Ra yang pernah kami temui; kemudian mengenai apakah sudah terjadi faidhah tersebut?. Mengenai ini, maka menurut orang yang condong pada pendapat kami bahwa faidhah itu telah terjadi. Diapun mengatakan: yaitu yang terjadi di daerah Syinhith pada syaikh Muhammad al Hafiz asy-Syinhithi. Yang lainnya mengatakan: Faidhah itu belum terjadi. Sebab sayyidi syaikh Ra mengatakan, “Sampai banyak orang masuk thariqah ini dengan berbondong-bondong, beliau tidak mengkhususkan negeri atau iklim tertentu. Seluruhnya sepakat bahwa zaman dimana faidhah terjadi itu zamannya sudah jauh. Yang kami pikirkan adalah apakah sampai pada kami dari sayyidi syaikh Ra bahwa faidhah hingga kini belum terjadi, ia akan terjadi saat munculnya al Muntazhar, dimana semua thariqah yang ada akan menjadi satu thariqah. Wallahu a’lam.
Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Telah banyak orang masuk thariqah ini dengan berbondong-bondong, bisa jadi terhapusnya ragam thariqah yang ada ketika tidak ada seorang pun yang pantas mentarbiyah. Hal ini juga disaksikan dengan himpitan dan kesulitan yang terjadi pada zaman ini; zaman yang belum pernah dialami oleh para pembesar thariqah yang sempat kami jumpai. Namun terkait dengan kondisi banyaknya futuh yang terjadi pada sahabat sayyidi syaikh Ra, unggulnya sisi ma’rifat, serta tenggelam pada Allah dengan menolak selain-Nya, sepengetahuanku ini hanya terjadi pada thariqah kita ini hingga hari ini dan itu kembali pada keutamaan Allah Swt, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
سَا بِقُوْۤا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَآءِ وَ الْاَ رْضِ ۙ اُعِدَّتْ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِا للّٰهِ وَرُسُلِهٖ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيْمِ
saabiquuu ilaa maghfirotim mir robbikum wa jannatin ‘ardhuhaa ka’ardhis-samaaa-i wal-ardhi u’iddat lillaziina aamanuu billaahi wa rusulih, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu zul-fadhlil-‘azhiim
“Berlomba-lombalah kamu untuk mendapatkan ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 21)
Hal ini pernah diakui oleh al Arifbillah sayyidi Muhammad al Hafiz bin Khair al ‘Alawi dalam sya’ir gubahannya, beliaupun memberikan isyarat sebagian sifat pemilik maqam ini berikut caranya:
هَبْ أَنَّنِي أَنَا الَّذِي قَدْ ظَهَرَ # مِنَ الْأَلِي أَمْرَهُمْ قَدِ اشْتَهَرَ
وَصَاحِبُ الْفَيْضَةِ آخِرُ الزَّمَانِ # وَفَائِقُ الرِّجَالِ فِي عِلْمٍ الْقُرْآنِ
وَأَفْرَدَنِي فِي الثَّلَاثِينَ سَنَهُ # وَأَيْقَظَ الْقُلُوْبَ بِي مِنَ السِّنَةِ
“Anggap saja akulah yang perkaranya telah nampak dari Allah # dan telah masyhur
Pemilik faidhah di akhir zaman yang # menjadi sandaran dalam ilmu al Qur’an
Dia jadikan aku wali fard dalam tiga puluh tahun # dan dengankulah kalbu-kalbu orang bisa hidup dari kelalaian.”
Maqam pemilik faidhah ini juga diakui oleh syaikh akbar wal kibrit al ahmar, syaikhi wa sayyidi ‘Abdullah bin al Hajj Ra. Beliau pernah berkata, “Sungguh andai disingkap baginya tentang faidhah dan ia lihat untuk dirinya, maka setiap murid yang bertemu dengannya akan meminta itu.” Dan saat dekat ajal beliau, dimana tidak ada informasi yang menyatakan bahwa maqam faidhah itu tersisa pada para muridnya, maka iapun banyak men-taqdim, sebagai jalan tengah akan perkara faidhah tersebut, dan lantaran itu, beliau keliling menemui banyak ikhwan. Beliaupun mengatakan banyak perkataan yang tidak boleh ditulis di dalam sebuah kitab dan tidak bisa dilihat dengan kasat mata.
