You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Ragam Dalil Faidhah at-Tijaniyyah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Ragam Dalil Faidhah at-Tijaniyyah

Sementara dalil mengenai faidhah dari Al Qur’an adalah sebagai berikut:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَا نَنْسَخْ مِنْ اٰيَةٍ اَوْ نُنْسِهَا نَأْتِ بِخَيْرٍ مِّنْهَاۤ اَوْ مِثْلِهَا ۗ اَلَمْ تَعْلَمْ اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
maa nangsakh min aayatin au nungsihaa na-ti bikhoirim min-haaa au mislihaa, a lam ta’lam annalloha ‘alaa kulli syai-ing qodiir

“Ayat yang Kami batalkan atau Kami hilangkan dari ingatan, pasti Kami ganti dengan yang lebih baik atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu tahu bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 106)

Firman Allah Swt lainnya,

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مَنْ يَّرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِيْـنِهٖ فَسَوْفَ يَأْتِى اللّٰهُ بِقَوْمٍ يُّحِبُّهُمْ وَيُحِبُّوْنَهٗۤ ۙ اَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اَعِزَّةٍ عَلَى الْكٰفِرِيْنَ ۖ يُجَاهِدُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا يَخَا فُوْنَ لَوْمَةَ لَآئِمٍ ۗ ذٰلِكَ فَضْلُ اللّٰهِ يُؤْتِيْهِ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
yaaa ayyuhallaziina aamanuu may yartadda mingkum ‘ang diinihii fa saufa ya-tillaahu biqoumiy yuhibbuhum wa yuhibbuunahuuu azillatin ‘alal-mu-miniina a’izzatin ‘alal-kaafiriina yujaahiduuna fii sabiilillaahi wa laa yakhoofuuna laumata laaa-im, zaalika fadhlullohi yu-tiihi may yasyaaa, wallohu waasi’un ‘aliim

“Wahai orang-orang yang beriman! Barang siapa di antara kamu yang murtad (keluar) dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, dan bersikap lemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 54)

Firman Allah Swt lainnya,

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ اٰتَيْنٰهُمُ الْـكِتٰبَ وَا لْحُكْمَ وَا لنُّبُوَّةَ ۗ فَاِ نْ يَّكْفُرْ بِهَا هٰۤؤُلَآ ءِ فَقَدْ وَكَّلْنَا بِهَا قَوْمًا لَّيْسُوْا بِهَا بِكٰفِرِيْنَ
ulaaa-ikallaziina aatainaahumul-kitaaba wal-hukma wan-nubuwwah, fa iy yakfur bihaa haaa-ulaaa-i fa qod wakkalnaa bihaa qoumal laisuu bihaa bikaafiriin

“Mereka itulah orang-orang yang telah Kami berikan Kitab, Hikmah, dan kenabian. Jika orang-orang (Quraisy) itu mengingkarinya, maka Kami akan menyerahkannya kepada kaum yang tidak mengingkarinya.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 89)

Firman Allah Swt lainnya,

وَّاٰخَرِيْنَ مِنْهُمْ لَمَّا يَلْحَقُوْا بِهِمْ ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
wa aakhoriina min-hum lammaa yal-haquu bihim, wa huwal-‘aziizul-hakiim

“dan (juga) kepada kaum yang lain dari mereka yang belum berhubungan dengan mereka. Dan Dialah Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Jumu’ah 62: Ayat 3)

Firman Allah Swt lainnya,

اِذَا جَآءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَا لْفَتْحُ 
izaa jaaa-a nashrullohi wal-fat-h

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,”
(QS. An-Nasr 110: Ayat 1)

Firman Allah Swt lainnya,

وَّا لْخَـيْلَ وَا لْبِغَا لَ وَا لْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً  ۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wal-khoila wal-bighoola wal-hamiiro litarkabuuhaa wa ziinah, wa yakhluqu maa laa ta’lamuun

“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 8)

Disini merupakan isyarat baik bagi orang yang Allah terangi bashirah-nya; isyarat yang menguatkan perkara yang sedang kita bahas diatas, kapadamulah kami tampakkan ini, berserah dirilah niscaya engkau selamat!.

Sedangkan dalil mengenai faidhah dari Hadits Nabi Saw adalah sebagai berikut:

Rasulullah Saw pernah bersabda,

سَيَأْتِي زَمَانٌ لِلْعَامِلِ فِيْهِ أَجْرُ خَمْسِينَ رَجُلًا، قَيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ؟، قَالَ : بَلْ مِنْكُمْ.

“Kelak datang suatu masa dimana orang yang beramal di dalamnya memiliki pahala lima puluh orang.” Para sahabat berkata, “Dari kalangan kami atau dari kalangan mereka wahai Rasulullah Saw?” Beliau menimpali, “Dari kalangan kalian.”

(HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya; Kitab. al Malahim, Bab. Perintah dan Larangan; vol. 4. Hal. 121, no. 4341; Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Dawud al ‘Ataki menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnul Mubarak menceritakan kepada kami, dari ‘Utbah bin Abu Hakim, ia berkata: ‘Amru bin Jariyah al-Lakhami menceritakan kepadaku, Abu Umayyah asy-Sya’bani menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku pernah bertanya kepada Abu Tsa labah al Khusyani, aku katakan: Wahai Abu Tsa labah, bagaimana menurutmu ayat ini, “Alaikum Anfusakum”? la berkata: Demi Allah, engkau sudah bertanya pada orang yang tepat, Akupun pernah bertanya itu kepada Rasulullah Saw, beliau bersabda,” Bahkan perintahkanlah kepada perkara yang ma’ruf dan cegahlah dari perkara yang mungkar, sehingga ketika engkau melihat sifat kikir ditaati, hawa nafsu diikuti, dunia lebih diutamakan (dari perkara agama) dan setiap orang bangga dengan pendapatnya sendiri, maka handaklah engkau jaga dirimu sendiri dan jauhilah orang-orang awam (bodoh). Sebab di belakang kalian ada hari-hari (yang kalian wajib bersabar, sabar pada saat itu seperti seseorang yang memegang bara api, dan orang yang beramal pada saat itu, pahalanya sebanding dengan lima puluh kali amalan orang yang beramal seperti amalannya.” la menambahkan untukku, “seperti amalan selainnya.” Abu Tsa’labah berkata, “Wahai Rasulullah, seperti pahala lima puluh orang dari mereka?” Beliau menjawab, “Seperti pahala lima puluh orang dari kalian.”

HR. at-Tirmidzi dalam Sunar-nya; Kitab Tafsir, Bab. Tafsir Surah al Ma’idah; vol. 5, hal. 257-258, no. 3058; Sa’id bin Ya’qub ath-Thalqani menceritakan kepada kami, Abdullah bin al Mubarak menceritakan kepada kami,…hingga akhir jalur periwayatan Abu Dawud, dimana itu merupakan lafazh hadits miliknya. Abu Isa mengatakan, “Hadits ini hasan gharib.

HR. Ibnu Majah dalam Sunar-nya; Kitab. Ragam Fitnah, Bab. Firman Allah Swt, “Ya Ayyuhal-ladzina âmanu ‘alaikum anfusakum”; vol. 2, hal. 1330-1331, no. 4041; Dari Jalur periwayatan Shadaqah bin Khalid: ‘Utbah bin Abu Hakim menceritakan kepada kami…hingga akhir Jalur periwayatan Abu Dawud dengan riwayat yang seperti itu.)

Rasulullah Saw juga bersabda,

لَا تَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِي ظَاهِرِينَ عَلَى الْحَقِّ

“Akan senantiasa ada sekelompok orang diantara umatku yang terus menang di atas kebenaran”

Rasulullah Saw juga bersabda,

أُمَّتِي كَالْمَطَرِ لَا يُدْرِي الْخَيْرُ فِي أَوَّلِهِ أَمْ فِي آخِرِهِ

“Umatku seperti air hujan, tidak diketahui apakah kebaikan ada di awal atau di akhirnya.”

Rasulullah Saw juga bersabda,

خَيْرُ أُمَّتِي أَوَّلُهَا وَآخِرُهَا، وَفِي الْوَسْطِ الْكَدَرُ

“Sebaik-baik umatku adalah awal dan akhirnya, di tengah-tengah ada yang keruh.

Rasulullah Saw juga bersabda,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَيُدْرِكَنَّ عِيسَى بْنُ مَرْيَمَ فِي أُمَّتِي خَلَفًا مِنْ حَوَارِيِّهِ.

“Demi jiwaku yang ada dalam genggaman-Nya, kalian benar-benar akan mengetahui Isa bin Maryam pada umatku sebagai pengganti dari pengikutnya.”

Dan hadits-hadits lainnya yang jika kita kumpulkan, maka satu jilid tersendiri akan berisikan hadits-hadits mengenai hal ini. Andai engkau belum tau hakekat dari ragam ayat dan hadits yang dijabarkan diatas, maka jangan sampai engkau tidak menerimanya.

Sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra pernah mengatakan seperti yang tertulis dalam Jawahir al Ma’ani Wahai saudaraku, hendaknya engkau berserah diri kepada kelompok ini dan jangan engkau berprasangka pada yang ditafsirkan dari Al Qur’an dan hadits; bahwa itu merupakan upaya pengalihan perkara zhahir dari sisi zhahir-nya, akan tetapi sisi zhahir ayat maupun hadits memiliki pemahaman tersendiri sesuai dengan daya nalar manusia dan tingkat pemahaman mereka. Kemudian ada juga pemahaman dari sisi bathin ayat Al Qur’an maupun hadits bagi orang yang telah Allah berikan futuh. Sebab disebutkan dalam hadits Nabi Saw,

إِنَّ لِكُلِّ أَيَةٍ ظَاهِرًا وَبَاطِئًا، وَحَدًّا وَمَطْلَعًا إِلَى سَبْعَةِ أَبْطُنٍ وَإِلَى سَبْعِينَ.

“Sungguh setiap ayat itu ada sisi zhahir dan bathin, adapula batasan dan permulaannya atas hingga sampai tujuh sisi bathin bahkan hingga tujuh puluh sisi bathin. ” (Disebutkan dengan lafazh yang lain. As-Suyuthi menyebutkannya dalam al Itqân, vol. 2, hal. 184; Pasal: Perkataan Sufl Tentang Al Qur’an: Dari al Hasan, la mengangkatnya kepada al Firyabi dalam kitabnya; kitab ini masih dalam bentuk manuskrip.)

Sisi zhahir merupakan sisi yang dapat dinalar dan dinukil dari ragam ilmu yang bermanfaat, yang dengannya bisa membuat amalan kita menjadi amalan yang shalihah, sedangkan sisi bathin berisikan sisi pengetahuan ilahiyyah.

Sementara mathla’ dapat diartikan sebagai makna yang membatasi sisi zhahir dan sisi bathin. Begitu juga “hadd,” ia memiliki makna cara yang mengarah pada penyaksian secara menyeluruh dan sifatnya personal. Paharnilah ini!. Wahai saudaraku. Jangan engkau menolak untuk menerima makna gharib ini dari pemahaman orang secara umum yang berisikan pemahaman yang layak didebat dan ditentang.

Pernyataan, “Bahwa ini bentuk pemalingan kalamullah dan sabda Rasulullah.” Ini bukanlah pengalihan makna. Andai mereka mengatakan, “Tidak ada makna apapun pada ayat Al Qur’an atau hadits kecuali makna yang kami katakan,” namun nyatanya mereka tidak mengatakan demikian, tetapi mereka mengakui bahwa makna zhahir adalah makna yang dimaksud dari tema tersebut dan mereka pun juga memahami bahwa dalam diri mereka ada pemahaman dari Allah Swt sesuai dengan keutamaan, rahmat dan karunia Allah yang Dia futuh-kan bagi kalbu mereka. (Selesai -Jawahir al Ma’ânı).

Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Hikmah dari munculnya faidhah ini di zaman yang rusak, lagi lemahnya iman di hari kebanyakan manusia, banyaknya kelompok sesat lagi menyesatkan, sementara umat ini merupakan umat yang dirahmati Allah Swt, sehingga Allah kucurkan faidhah pada mereka yang berupa ragam ma’rifat dan hakekat, tujuannya tak lain agar mereka bisa kembali pada asal fitrah keimanan, maka pahamilah ini!.

Hal ini pun senada dengan yang dikatakan oleh syaikh akbar sayyidi Mukhtar al Kattani dalam Kaukab al Waqqåd, yang redaksinya demikian: Imam Haramain pernah mengatakan, “Ketika kelompok sesat bermunculan dan banyak jumlahnya, diantara bentuk penjagaan Allah Swt bagi umat al Muhammadiyyah ini adalah menjaga akal mereka dengan tauhid dan mencukupkan diri mereka dari taqlid, Allah pun kokohkan sisi kema’rifatan dalam sirr mereka dengan penguatan yang baik. Tidaklah dikatakan penjagaan Allah ketika seorang hamba menjaga dirinya dari bala`nya Allah, akan tetapi penjagaan sesungguhnya adalah ketika seorang hamba mampu menjaga kalbunya dari kecondongan negatif. (Selesai).

Apabila engkau telah pahami hal ini, maka ketahuilah bahwa seseorang dengan tauhid yang ada dalam dirinya mampu menggapai maqam yang dianggap oleh orang yang tidak memiliki dzauq sebagai orang yang gila, padahal sejatinya dia bukanlah orang gila, bahkan orang yang tidak memiliki pemahaman akan hal tersebut menganggapnya sebagai seorang zindiq, padahal ia adalah orang yang jujur jiwanya.

Sayyidi Mukhtar al Kattani Ra pernah mengatakan: Diriwayatkan dari al Junaid, bahwa ia pernah berkata: Orang yang menghamba pada Allah dengan tauhid yang benar, maka ia akan menghamba pada-Nya, mengesakan-Nya dan memilih-Nya untuk dirinya dan menyendiri dengan-Nya daripada dengan makhluk sejenisnya, dia menjadikan Allah fard dan Allah menjadikannya wali fard. Tidaklah seorang yang ‘arifbillah itu gila kecuali ia merasakan kham-nya sisi Allah al Jalal. Pada sisi Jalal Nya Allah para pecintapun menjadi linglung, pada sisi Jamal-Nya orang yang ‘arifbillah-pun bingung dan dengan sisi Kamal-Nya orang-orang yang wushul pun bergembira, dialah penterjemah ragam asma, dan sumber ragam karunia dan poros semua asma Allah. Pada sisi Jalal Nya, para pecintapun memiliki kondisi ahwal yang berbeda-beda lagi nampak; diantara mereka ada yang kondisi jiwa dikalahi oleh tebalnya ragam cahaya ahwal hingga yang nampak adalah perbuatan yang bercampur aduk, sehingga orang yang tidak memiliki dzauq mengganggapnya sebagai orang gila, padahal sejatinya ia bukanlah orang gila, bahkan orang yang tidak memiliki pemahaman menganggapnya sebagai seorang zindiq, padahal ia adalah orang yang jujur jiwanya, akan tetapi dialah yang meminum dan mabuk, tidak ada musuh kecuali orang yang berbuat zhalim. Oleh karena itu, ada ulama yang menyifati kondisi ini dalam gubahan sya’irnya:

وَقُلْ لِلَّذِي يَنْهَى عَنِ الْوَجْدِ أَهْلُهُ # إِذَا لَمْ تَذُقْ مَعْنَى شَرَابُ الْهَوَى دَعْنَا

فَإِنَّا إِذَا طِبْنَا وَطَاشَتْ فَقَوْلُنَا # وَخَامَرْنَا خُمْرَ الْغَرَامِ تَهْتِكُنَا

فَلَا تَلَمُ السَّكْرَانَ فِي حَالِ سَكَرِهِ # فَقَدْ رَفَعَ التَّكْلِيْفَ فِي سَكَرِنَا عَنَّا

أَنُلْزُمُهَا بِالصَّبْرِ وَهِيَ مَشُوْقَةً # وَهَلْ يَسْتَطِيعُ الصَّبْرَ مَنْ شَاهَدَ الْمَعْنَى

أَيَا حَادْى العُشَّاقُ قُمْ وَاحِدًا قَائِمًا # وَزَمْزَمٌ لَنَا بِاسْمِ الْحَبِيْبِ وَرَوَّحْنَا

وَصُنْ سِرَّنَا فِي سَكَرِنَا عَنْ حَسُوْدِنَا # وَإِنْ أَبْصَرْتَ عَيْنَاكَ شَيْئًا فَسَامِحْنَا

يُحَرِّكُنَا ذِكْرَ الْأَحَادِيثِ عَنْهُمْ # وَلَوْلَا هَوَاهُمْ فِي الْحَشَا مَا تحرَّكْنَا

أَلَمْ تُبْصِرِ الطَّيْرَ الْمُقَفَّصَ يَا فَتَى # إِذَا ذُكِرَ الْأَوْطَانُ حَنَّ إِلَى الْمَعْنَى

فَفَرِّجْ بِالتَّغْرِيدِ مَا بِفُؤَادِهِ # فَتَضْطَرِبَ الْأَحْسَاءَ لِلْحِسَ وَالْمَعْنَى

كَذَلِكَ أَرْوَاحُ الْمُحِمِّيْنَ يَا فَتَى # تَحَرَّكَهَا الْأَشْوَاقُ لِلْعَالَمِ الأَسْنَى

“Katakan kepada orang yang melarang ahlinya wijdan # apabila engkau belum merasakan makna ‘minum hawa’, maka biarkanlah kami

Sungguh kami ini, apabila kami baik dan akal ini meleset # dan mabuk cinta kamipun mengkoyakkan kami

Janganlah engkau cerca orang yang mabuk kala ia mabuk # telah diangkat taklif pada kondisi mabuknya kami Apakah kami harus bersabar, sementara kondisi itu senantiasa dirindu-rindukan # apakah orang yang telah menyaksikan makna bisa bersabar dari itu

Wahai para perindu, bangun dan berdiri tegaklah # suara lantang kami atas nama Dzat yang dicintaipun menghibur kami

Jagalah sirr kalian dalam kondisi mabuk dari orang yang hasud kepada kita # Andai kedua matamu melihat sesuatu, maka toleransi kami

Rasa mabuk itu menggerakkan kami hingga menyebut ragam perkataan tentang mereka # jika bukan lantaran kecondongan negatif mereka yang menyisipi, maka kamipun tidak akan tergerak untuk itu

Wahai pemuda, tidakkah engkau lihat burung dalam kandang apabila disebutkan negara, maka iapun akan gaduh untuk bisa keluar darinya

Maka jadikanlah kicauan itu sebagai simbol apa yang ada dalam fuadnya, # sehingga dalam jiwamu bisa merasakan perkara yang bisa diindra dan juga sisi maknanya Wahai pemuda, begitu juga ruhnya para pecinta, # kerinduanlah yang menggerakkannya kepada alam yang luhur.

Yahya bin Mu’adz ar-Razi Ra juga pernah mengatakan, “Jikalau perkataan orang yang Arifbillah tersebar dikalangan orang umum, sebagaimana kalbu mereka yang senantiasa bersama Allah, maka merekapun akan dianggap gila oleh kebanyakan orang.” Ada ulama kemudian menggubah sya’ir berikut:

حَيْثُ مَا دَارَتْ الزُّجَاجَةُ دُرْنَا # يَحْسَبُ الْجَاهِلُوْنَ أَنَّا جُنَّنَا

مَا جُنَّنَا وَمَا بِنَا مِنْ جُنُوْنٍ # بَلْ شَرَبْنَا مَدَامَةً فَسَكَرْنَا

“Dimana cermin itu berputar, maka kamipun ikut berputar, # meski menurut orang-orang kami ini sudah gila

Kami tidak gila dan tidak ada kegilaan pada kami # tetapi kami telah minum terus-terusan hingga membuat kami mabuk.

Yahya bin Mu’adz ar-Razi Ra pun pernah berkata: Terkhusus muqarrabin dengan tambahan tauhid dalam diri mereka, cukuplah ungkapan berikut ini:

قِيلَ لِي هَلْ رَأَيْتَ أَحْسَنَ مِنْهَا # قُلْتُ هَلْ فِي الْوُجُوْدِ شَيْءٌ سِوَاهَا

“Dikatakan padaku, apakah engkau pernah lihat yang lebih baik darinya? Aku katakan: ‘Apakah di alam ini ada selainnya?”.”

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY