You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sudahkah Faidhah ini Terjadi?

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sudahkah Faidhah ini Terjadi?

Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Jika engkau ikuti apa yang kami paparkan dan juga apa yang para tokoh telah berikan isyaratnya mengenai “tauhid,” niscaya kita pun akan keluar dari apa yang kita perbincangkan dan beralih pada perbincangan seputar “faidhah dan kejadiannya serta ragam perkataan masyayikh thariqah yang ada di zaman ini;” Maka aku katakan:

Syaikh al Hammad; al ‘Arif as-Sayyid ‘Abdullah bin al Hajj al ‘Alawi berkata padaku: Faidhah akan datang padamu secara hakiki dan bukan majazi. Engkaupun akan melihat hasud yang sebelumnya belum pernah engkau lihat.” Beliaupun berkata lagi padaku, “Engkau adalah pembesar thariqah at-Tijaniyyah di zamanmu.” Juga perkataan lainnya yang tidak bisa aku tuliskan lantaran aku malu; perkataan yang terucap dari sikap husnudz-zhan beliau padaku. Bisa jadi beliau melihat dari sisi lain, jika tidak, aku hanyalah seorang hamba durjana yang kotor dengan ragam perbuatan nyeleweng dan dosa.

Sosok ulama yang menyatakan secara gamblang bahwa faidhah telah terjadi adalah as-sayyid Muhammad bin syaikh Ahmad bin syaikh Muhammad yang dilakobi Yadu Hassan ath-Thariq, beliau pernah mengatakan:

أَسَامِي لَمْ تَزِدْهُ مَعْرِفَةً # وَإِنَّمَا لَذَّةً كَتَبْنَاهَا

“Ragam nama yang tidak menambahkan sisi ma’rifat, akan tetapi itu adalah kelezatan yang kami tuliskan.”

Ulama lain yang juga menyatakan secara gamblang bahwa faidhah telah terjadi adalah as-Sayyid al Ajal, al ‘Allamah al Mubajal; shahibus-sirril aqdas wal maqâmil anfas, al Khalaf ba’da as-salaf, Muhammad Abdurrahman bin al Hajj al Alawi.

Diantara lainnya adalah al ‘alimul asyhar wal badr al munir al azhar, Syaikh al akbar wal kibrit al ahmar, Muhammad bin syaikh Ahmad bin syaikh Muhammad al Hafiz.

Ada lagi dua ulama lainnya yang turut menyatakan masalah faidhah telah terjadi ini namun tidak secara gamblang; yaitu syaikh Muhammad Sa’id bin syaikh Ahmad bin syaikh Muhammad al Hafiz Ra dan juga syaikh Muhammad al Amin bin Ahmad bin Muhammad Hassan Thariq Ra; tetapi keduanya pun mengakui apa yang kami utarakan, keduanya pun memuji Allah atas capaian tersebut seraya mendo’akan kami dan mendo’akan dengan semua madad, semoga Allah memberikan manfaat pada kita dengan keberadaan beliau-beliau ini.

Beberapa tahun sebelum munculnya faidhah aku pernah mengatakan:

وَتَأْتِي قَرِيبًا فَيْضَةُ الْخَتْمِ هَيِّئُوا # بِتَفْرِيعَ أَغْيَارٍ فَتَحْظَى بِمَوْضِعِ

“Faidhah sebentar lagi datang, maka siapkanlah diri kalian dengan mengosongkan aghyar, sehingga engkau bisa melangkah pada suatu tempat.”

Akupun pernah mengatakan:

ذَلِكَ الْبَرْزَخٌ ذَاكَ السُّرُ # رُ وَالْفَيْضُ حَبَّانِي

“Itu adalah barzakh, itu pula ragam kesenangan dan faidh yang membuatku cinta.”

Akupun katakan dalam gubahan sya’ir yang panjang, dimana disana aku memuji sayyidi syaikh Ra; diantaranya:

صَاحٍ قِفْ بِي الْمَغَانِي # أَسْتَبِنُ دَوْرَ الْغَوَانِي

Berhentilah meneriakkan lantunan lagu itu, dan berdirilah bersamaku # akan aku tampakkan dengan jelas peranan ragam pujian.

Kamipun akan tutup pasal ini dengan menyebutkan pujiannya para ulama terkait faidhah ini, sebagaimna yang dikatakan oleh sayyidi Muhammad ‘Abdullah bin al Musthafa al ‘Alawi; -seorang alim allamah, wad-dârik al fahhâmah, sang qadhi ternama,- :

أَمَسْجِدُ إِبْرَاهِيمَ أُسِّسَتْ لِلتَّقْوَى # وَأَرْضُكَ لَا تَأْثِيْمَ فِيهَا وَلَا لَغْوَا

لِصُحْبِ أَبِي الْعَبَّاسِ فِيْكَ تَحْلَقُ # تَنَالُ مِنَ الْعُلْيَا بِهِ الرَّتْبَةَ الْقُصْوَى

مَدِينَتُكَ الْغَرَّاءُ خَيْرُ مَدِينَةٍ # لِكُلِّ غَرِيْبٍ فِي جَوَانِبِهَا مَأْوَى

وَلِلدِّيْنِ نَشْرٌ لَا يَزَالُ بِطَيِّهَا وَلِلشَّيْءِ حَقٌّ فِي الَّذِي فِي اسْمِهِ يَطْوِى

وَيُؤْخَذُ مِنْهَا بِالْبَدِيهَةِ أَنَّهَا # لَمِنْهَا يُرَى لِلدِّيْنِ فِي الْوَسْطِ الْمَثْوَى

نَزَلْنَا بِمَا وَالْحَالُ ذَاتَ تَكَدُّرٍ # فَصَارَ الَّذِي نَلْقَاهُ مِنْ كَدَرٍ صَفْوَا

وَمِنْ خُلَفَاءِ الشَّيْخِ فِيْهَا خَلِيْفَةٌ # مَدَى الدَّهْرِ لَمْ يُدْرَكْ لَهُ مُدْرِكَ شَأُوْا

يُدِيرُ عَلَى شُرْبٍ كُؤُوسِ مَحَبَّةٍ # وَلَا سَكَرٍ عِنْدَ ذَاكَ مِنْهُمْ وَلَا صَحْوَا

إِذَا هُمْ بِأَذْكَارِ الْمُهَيْمِنِ هَيَنْمُوا # يَكَادُ لَهُمْ يَهْتَزُّ مِنْ طَرْبٍ رِضَوِيٍّ

يَرُوْمُوْنَ مِنْ بَحْرِ الْمَعَارِفِ حَسْوَةٌ # وَيَشْفِي صَدَاهُمْ مَا يَنَالُوْنَهُ حَسْوَا

وَقَدْ تَقْتَضِي الْأَحْوَالُ صِحَّةَ مَا ادَّعُوْا # وَمَا كُلُّ حَالٍ تَقْتَضِي صِحَّةَ الدَّعْوَى

عَلَيْكَ بِشَيْخِ الْقَوْمِ وَاسْلُكْ سَبِيْلَهُ # وَلَا تَنْحَ إِلَّا مَا يَكُوْنُ لَهُ نَحْوَا

بَدَتْ مِنْ أَبِي الْعَبَّاسِ فِيْهِ خِلَافَةً # قَفَا أَمْرَهُ فِي كُلِّ مَسْأَلَةٍ قُفْوَا

فَأَصْحَابُهُ يُمْلِى عَلَيْهِمْ مَعَارِفًا # وَيَمْلَؤُهُمْ فِقْهَا وَيَمْلَؤُهُمْ نَحْوَا

وَمَنْ كَانَ هَذَا فِي الْبَرِيَّةِ وَصْفُهُ # فَمَا مِثْلُهُ فِي النَّاسِ يَوْمًا وَلَا عَدُوًّا

إِلَيْكُمْ بِهَا حَسَنَاءُ بِنْتَ ضَحِيَّةٍ # تَقُوْهُ بِمَا شَاءَتْ لَدَيْكُمْ وَمَا تَهْوَى

وَمِنْ كُلِّ عَيْبٍ فِي الْقَوَافِي تَبَرَّأَتْ # فَمَا كَانَ فِيْهَا مِنْ سَنَادٍ وَلَا إِقْوَا

لِذَلِكَ جَدْوَى فِي عَوَاقِبِ أَمْرِهَا # وَمَا الْأَمْرُ إِلَّا بِالْعَوَاقِبِ في الْجَدْوَى

صَلَاةٌ وَتَسْلِيْمٌ عَلَى سَيِّدِ الْوَرَى # مُحَمَّدٍ الْمَبْعُوْثُ لَيْسَ لَهُ شَرْوَى

“Apakah masjid Ibrahim ini dibangun untuk menuju ketakwaan diri #sementara bumimu ini tidak memiliki dosa dan tidak pula memiliki salah

Lantaran engkau bersahabat dengan Abul Abbas engkau dikitari # martabat tinggi dari Dzat yang Maha Luhur Kotamu yang cantik ini adalah kota yang baik # setiap orang asing pun memiliki tempat berteduh

Untuk agama engkau berjuang menyebarkannya bahkan masih terus berjalan # dan untuk sesuatu ada bagian bagi yang terus berupaya

Dari perjuangannya dapat dipetik pelajaran mendasar # diantara orang-orang melihat agama dalam kondisi moderat

Kamipun pernah sampai di kota itu yang kondisinya sedikit kotor # namun yang semula kami temui kotoran itu kini menjadi bersih

Diantara khalifahnya Sayyidi Syaikh, ada khalifah # sepanjang zaman, tidak ada yang tahu perangainya Dialah yang mengatur untuk meminum cawan kecintaan # ketika itu diantara mereka tidak ada yang mabuk, tidak pula sadar diri

Apabila mereka berada dalam ragam dzikiran Allah al Muhaimin, merekapun akan berkembang # Seolah mereka bergoncang dari tabuhan keridhaan

Dari lautan ragam ma’rifat mereka melemparkan diri dengan sekali hirup # Dia pun menyembuhkan tepukan tangan atas apa yang mereka dapati dari hirupan tersebut Ragam kondisi jiwa mengarah pada kesehatan sesuai dengan yang mereka akui # dan tidaklah setiap kondisi jiwa itu butuh kebenaran pengakuan

Engkau hendaknya terikat dengan syaikh suatu kaum dan berjalanlah pada jalannya # jangan engkau berjalan menyingkir kecuali beliau mengarahkan untukmu menyingkir

Kekhilafahan itu muncul dari Abul ‘Abbas # yang perkaranya senantiasa menyelesaikan setiap permasalahan yang ada

Para sahabat beliau mendiktekan kepada mereka ragam ma’rifat # beliau memenuhi diri mereka dengan ilmu fikih dan memenuhi pula semisalnya dengan ilmu ma’rifat

Orang yang sifatnya seperti ini dari kalangan manusia # maka suatu hari nanti tidak ada teman maupun lawan yang sebanding dengannya

Dengan sisi ma’rifat itulah akan datang pada kalian sosok gadis jelita puteri dari pengorbanan # ia mampu melampaui dengan yang dia kehendaki bagi kalian dan juga dengan apa yang engkau inginkan

la terbebas dari aib yang ada pada penghujung sya’ir # ia tidak memiliki sandaran dan penguat

Oleh karena itu ada hadiah menarik pada penghujung perkaranya # dan tidaklah ada perkara menarik kecuali  ada pada ujungnya

Semoga shalawat dan salam teruntuk penghulunya manusia # Muhammad yang diutus tanpa adanya yang mirip dengan beliau

Beliaupun punya gubahan sya’ir berikut:

السَّعْدُ طَالِعَكُمْ بِكُلِّ زَمَانٍ # وَالْبَرَجُ بُرْجُ سَعَادَةٍ وَأَمَانِ

يَا شَمْسَ دِيْنِ الْهَاشِمِي لَكَ الْهُنَا # فَإِلَيْكَ مَرْجِعُ سَائِرِ الْأَدْيَانِ

أَعْنِي أَبَا إِسْحَاقَ غُرَّةَ دَهْرِهِ # سَاقِي الرِّجَالَ بِأَكْفُسِ الْعِرْفَانِ

مَا هُوَ إِلَّا هُوَ صَاحِبُ وَقْتِهِ # وَعَلَى يَدَيْهِ فَيْضَةُ التِّجَانِي

وَإِذَا عَرَضْتَ عَلَى الْقَرَائِنِ حَالُهُ # فِيْهَا إِلَيْهِ يُشِيرُ كُلُّ بَنَانِ

عَجَبَ لَهُ بَحْرٌ تَضَمَّنَ أَبْحُرًا # مِنْ فَيْضِ رَبِّ الْعَرْشِ وَالْأَكْوَانِ

فَمِنَ الْحَقِيقَةِ فِيْهِ بَحْرٌ زَاهِرُ # وَمِنَ الشَّرِيعَةِ فِيْهِ بَحْرٌ ثَانِ

لِلْفِقْهِ فِيْهِ مَعَ الْأُصُولِ وَنَحْوِهَا # وَفُرُوْعُ كُلِّ مِنْهَا بَحْرَانِ

وَكَذَا الْمَعَانِي وَاللُّغَاتِ وَمَا حَوَتْهُ # مِنَ الْبَدِيعِ وَمَنْطِقٍ وَبَيَانِ

وَضَّحْتُ بَرَاهِنَ مَا أَقُوْلُ وَإِنَّمَا # صِدْقُ الْمَقَالِ بِوَاضِحِ الْبُرْهَانِ

لاَ زَالَتِ الْأَوْقَاتُ مِنْهُ دَائِمًا # مَعْمُوْرَةً بِالذِّكْرِ وَالْقُرْآنِ

وَتَحُفُهُ حِلَقٌ عَلَى سُنَنٍ أَتَوْا # مِثْلَ الْحَمَّامِ عَلَى نَوَا ضَرْبَانِ

مِنْ كُلِّ أَوْرَعٍ ذِي أَنَاةِ كِيْسٍ # كُلَّفَ بِمَا يَعْنِيْهِ صَبَّتْ جَنَّانِ

فَإِلَيْهِ تَحْذِبُهُ الْعِنَايَةَ إِنَّمَا # جَذْبُ الْعِنَايَةِ مِثْلُ جَذْبِ عَنَّانِ

لاَ يُطَبَيْهِ عَنْهُ ذِكْرُ أَحِبَّةٍ # كَلَّا وَلَا أَهْلٌ وَلَا أَوْطَانُ

وَإِذَا بِهِ عَنْهُ يَشْطُ مَزَارُهُ أَبَدًا تَرَاهُ دَائِمَ الْهَيْمَانِ

لَكِنْ إِذَا ذُكِرَ الإِلَهُ وَجَدْتَهُ # مُتَمَابِلًا كَتَمَايُلِ النِّشْوَانِ

لَا زَالَ مِنْ بَيْنِ الْبَرِيَّةِ صِيْتُهُ # يَعْلُوْ عَلَى الْجَوْزَاءِ وَالدَّبْرَانِ

فَكَفَاكَ رَبُّكَ يَا أَبَا إِسْحَاقٍ # شَرُّ الْعَدَاوَةِ مِنْ ذَوِي الْعَدْنَانِ

وَشُرُورُ أَرْبَابِ الضَّغَائِنِ وَالْخَنَا # وَشُرُورُ ذِي حَسَدٍ وَذِي طَغْيَانِ

وَحَبَاكَ أَيْضًا بِاتِّبَاعِ مُحَمَّدٍ # وَمَكَارِمِ الْأَخْلَاقِ وَالْإِحْسَانِ

وَبِحُبِّ أَرْبَابُ الْعُلُوْمِ وَعِلْمُهُمْ # وَبِحُبِّ مَنْ لِلشَّيْخِ مِنْ إِخْوَانِ

ثُمَّ الصَّلَاةُ مَعَ السَّلَامِ عَلَى النَّبِيِّ # يَتَعَاقَبَانِ تَعَاقُبَ الْمَلْوَانِ

Kebahagiaan nampak pada setiap zaman # dimana menaranya adalah menara kebahagiaan dan rasa aman

Wahai matahari agama al Hasyimi, kebahagiaan bagimu # kepadamulah tempat kembalinya seluruh agama

Yang kumaksud Abu Ishaq yang sebagian hidupnya # meminumkan para rijal (pemuka wali Allah) dengan cawan kemakrifatan

Tak lain hanya dialah wali waktu tersebut # pada tangannya ada faidhah Tijany

Jika ahwal jiwanya ditampakkan pada ragam indikasi kewalian # maka nampak jelas akan menunjukkan itu

Sungguh menakjubkan beliau memiliki lautan yang didalamnya terdiri dari beberapa lautan #yang merupakan faidh dari Rabb pemilik Arasy dan alam

Dalam sisi hakekat beliau memiliki lautan yang deras # sedangkan dalam syari’at beliau punya lautan yang kedua

Dalam ilmu fikih dan ushul serta semisalnya # berikut ragam cabangnya beliau punya dua lautan

Begitu juga ilmu ma’ani dan kebahasaan berikut # ilmu badi’ nya serta ilmu manthiq dan ilmu bayan

Jelas sudah dalil yang aku kemukakan akan tetapi sungguh # jujurnya perkataan adalah dengan adanya dalil yang jelas

Waktu-waktu beliau senantiasa dipenuhi dengan # bacaan dzikir dan bacaan Al Qur`an

Perkumpulan beliaupun didasari atas dasar sunnah nabi # sehingga yang datang seperti burung merpati yang dikerubuti

Beliau siapkan sekantung uang untuk orang yang paling wara # beliau senantiasa menanggung kebutuhannya, sehingga beliau layak mendapatkan surga

Sisi inayah Allah senantiasa terpancar pada beliau # sungguh untuk menggapai inayah itu seperti halnya mencari perhatian orang

Beliau juga tidak terlalu suka menyebut-nyebut orang yang dicinta, # tidak juga keluarga dan tidak pula negara

Dengan itulah beliau terlihat selalu meninggikan sarungnya sehingga engkau selalu melihatnya dalam kondisi haus (untuk berdzikir mengingat Allah)

Akan tetapi jika berdzikir, engkau akan temui beliau # condong ke sana dan kemari seperti condongnya orang yang sedang mabuk

Nama harum beliau terus saja terkenal # diantara deretan gugusan bintang gemini dan bintang aldebaran

Maka semoga Rabbmu wahai Abu Ishaq, senantiasa menjagamu dari # keburukan permusuhannya para musuh

Ragam keburukan para pendendam lagi tidak sopan dalam berbicara # juga ragam keburukan orang yang hasud dan berbuat zhalim

(Allah) pun juga karuniakan padamu ragam akhlak mulia dan sisi ihsan # dengan engkau ittiba pada Muhammad

Juga dengan kecintaanmu pada para pengemban ilmu berikut ilmu mereka # juga dengan kecintaan dari syaikh dan dari para ikhwan

Kemudian shalawat dan salam (semoga) tercurahkan atas Nabi # yang terus silih berganti siang dan malam

Sayyidi Muhammad ‘Abdurrahman bin as-Salik bin Bâbâ al ‘Alawi pernah mengatakan:

السِّرُّ سِرُّ الشَّيْخِ فِي مَدِّيْنَا # فَاخْتَارَهَا اللَّهُ لَنَا مَوْطِنَا

وَاخْتَارَهُ حُليًّا لَهَا إِنَّهَا # نَالَتْ مِنِّي تَحْلُوْ وُجُوْهَ الْمُنَا

فَاسْلُكْ طَرِيقَهَا تَصِلْ وَاسْتَلِمْ # أَرْكَانَهَا وَالشَّأْنُ إِنْ تَرَكْنَا

إِنَّ زَائِرًا تَنَلْ بِهَا مَطْلَبًا # أَوْحَائِفًا تَجِدْ بِهَا مَأْمَنَا

دِيْدَنُ إِبْرَاهِيمَ هُدَى الْوَرَى # وَلَمْ يَنِ الْعِلْمَ لَهُ دِيْدُنَا

أَذْعَنَتِ النَّفْسِ لَهُ يَافِعًا # وَقَدْ غَدَا لَهُ الْهُدَى مُذْعِنَا

بِحَالِهِ وَمَالِهِ قَدْ شَرَى # مِنْ أَلْسُنِ النِّسَنِ جَمِيْلَ الثَّنَا

يَبْنِي عَلَى الرَّفْعِ بُيُؤْتُ الْعُلَا # وَالرَّفْعُ قَدْ قَلَّ عَلَيْهِ الْبِنَا

“Sirr itu adalah sirr-nya syaikh yang ada di kota kita # Allah pilihkan kota kami sebagai tempat beliau menetap

Allah pilihkan beliau sebagai penghias kota tersebut # sungguh kota itu kini diterangi dengan ragam kebaikan

Ikutilah jalannya, engkau akan sampai dan naikilah # tangga-tangganya, hanya masalahnya jika engkau tinggalkan kami

Sungguh orang yang berziarah akan mendapatkan permintaannya # atau jika dia takut maka akan diberi rasa aman

Kebiasaan Ibrahim itu menjadi hidayah bagi orang-orang #namun keilmuannya belum ada yang bisa menjadikannya sebagai kebiasaan

Ketika seseorang datang padanya jiwapun tunduk # maka hawa-nya juga tertunduk

Dengan ahwal dan hartanya # dan telah tersebar pujian baik dari mulut ke mulut

Beliau mensisikan rumah keluhuran, dimana keluhuran jiwa tersebut kini sudah memudar dari kita.

Beliau juga memiliki tambahan faidhah:

أَيُّهَا الشَّيْخُ كَعْبَةُ الْآدَبِ # عَرَفَاتِ الْأَوْطَارِ وَالْأَرَابِ

مَعْدَنُ الْعِلْمِ مَنْبِعُ السِّرِّ مَرْمَى # أَعْيُنُ الزَّائِرِيْنَ وَالطَّلَّابِ

ثَمَرَةُ السُّودَدِ الْمُؤَثَّلِ وَالْمَجْدِ # وَمِفْتَاحُ بَابِ كُلِّ حِجَابٍ

لَسْتُ مُرْتَابًا فِي خِلَافَتِكَ # الشَّيْخُ وَلَا مُصْغِيًا إِلَى مُرْتَابِ

أَنْتَ لُبُّ اللُّبَابِ مِمَّنْ يُرَبِّي # وَقَلِيْلٌ فِي النَّاسِ لُبُّ اللُّبَابِ

آمِرٌ بِالْمَعْرُوْفِ نَاهِ عَنِ الْمُنْكَرِ # دَاعِ لِلْحَقِّ لَيِّنُ الْحِنَابِ

مُرْشِدٌ لَمْ يَخِبْ مُرِيْدُكَ سَعْيَا # فِي ذِهَابٍ كَلَّا وَلَا فِي إِيَابِ

مُفْرِدُ جَمْعِ حَاضِرٌ غَائِبٌ مُسْتَتِرُ # ظَاهِرٌ مُصِيْبُ الصَّوَابِ

أَسْأَلُ اللّٰهَ أَنْ يُعِيْرَكَ دَهْرًا # مَلْجَةٌ لِلْمَلْهُوْفِ وَالْمُنْتَابِ

أَسْأَلُ اللّٰهَ فِي الْعَوَافِي لِقَاءٌ # بَيْنَنَا بَعْدَ ذَا وَحُسْنُ مَآبِ

وَصَلَاةٌ مِنَ الإِلَهِ عَلَى خَيْرِ # الْبَرَايَا وَالآلِ وَالْأَصْحَابِ

وَالرِّضَا عَنْ حَقِيقَةِ السِّرِّ مَعْنَا # هُ مُمْدُّ الْأَغْوَاتِ وَالْأَقْطَابِ

“Wahai syaikh pusaranya ragam adab # tempat berhentinya ragam tujuan dan harapan

Tembaganya ilmu, sumber sirr # sosok yang menjadi perhatian orang yang menziarahi dan juga orang-orang yang memintanya

Buahnya pohon kuat yang menghujam dan kunci pembuka pintu segala hijab

Aku tidak ragu dengan syaikh menjadikanmu khalifah # bahkan tidak pula engkau mengarah pada keraguan diri

Engkau adalah otaknya orang-orang yang cerdas dari kalangan orang yang mentarbiyah # sedikit sekali tipe ini  pada manusia.

Engkau senantiasa memerintahkan yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar # engkau mengajak pada Allah dengan lemah lembut

Seorang mursyid yang tidak pernah menyia-nyiakan upaya muridmu # baik kala bepergian tidak pula saat kembali

Seorang wali fard lagi jami’, kehadiran dan sisi ghaibnya tertutupi secara nampak, iapun kerap membenarkan yang benar

Akupun memohon pada Allah agar memberimu umur panjang # sebagai tempat berlindungnya orang yang bersedih dan bertobat

Akupun memohon pada Allah agar mengaruniakanku kesempatan bertemu setelah ini dalam kondisi ‘afiyah dan itulah sebaik-baiknya harapan

Shalawat dari Allah (semoga senantiasa tercurah) pada paling baiknya # makhluk (juga semoga terlimpah) pada keluarga dan para sahabat.

Dan juga keridhaan tentang hakekat sirr # yang maknanya beliau Saw adalah sosok yang memberikan madad pada para wali ghauts dan para wali quthub.”

Aku (Syaikh Ibrahim Niass) berkata: Mereka semua adalah para tokoh Islam terkemuka yang juga merupakan tokoh besar thariqah kita. Mereka semua mengakui terjadinya faidhah pada hamba hina dina penyusun buku ini, lisan ahwałku pun menyenandungkan:

مَا كُنْتُ أَهْلًا وَهُمْ رَأَوْنِي # أَهْلًا لِذَا فَصِرْتُ أَهْلًا

“Aku bukanlah ahli, tetapi mereka melihatku layak, maka akupun menjadi ahli.”

Mereka-mereka yang mendapatkan faidhah ini, kesibukan mereka selalu kepada Allah, Rasul-Nya dan juga syaikh Ahmad at-Tijany Ra. Sayyidi syaikh Ra menenggelamkan mereka secara totalitas, sehingga mereka tidak melakukan suatu perbuatan kecuali untuk sayyidi syaikh Ra dan dengan madad dari sayyidi syaikh Ra. Mereka-mereka inilah orang-orang yang memakmur-kan ragam zawiyah sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra dengan berdzikir dan bershalawat kepada Nabi Muhammad Saw [yang merupakan suri tauladan sekaligus sarana luhur menuju Allah] sekaligus mengikuti Sunnah, akhlak, bekas peninggalan dan ragam adab. Orang-orang yang lalai mencela mereka, bahkan akupun merasa aneh dan tertawa kepada mereka, akupun berkata seraya menyenandungkan sya’ir:

إِذَا عَيَّرَ الطَّائِي بِالْبُخْلِ مَا دَرَّ # وَعَيَّرَ قِسَا بِالفَهَاهَةِ بَاقِلُ

وَقَالَ السَّهَا لِلشَّمْسِ أَنْتَ صَغِيْرَةٌ # وَقَالَ الدُّجَا لِلْبَدْرِ ضَوْءُكَ آفِلُ

فَيَا مَوْتُ زُرْ إِنَّ الْحَيَاةَ ذَمِيْمَةٌ # وَيَا نَفْسُ جَدِّى إِنَّ دَهْرَكِ هَازِلُ

“Bagaimana bisa (Hatim) ath-Tha`i (orang yang dermawan) dicela dengan disifati pelit, #sedangkan Qis (bin Sa’idah) (orang yang fasih dalam berbicara) dicemooh dengan si Baqil (yang bicaranya terbata-bata)

Malam berkata kepada matahari, ‘engkau itu kecil’ # sedangkan bebintangan berkata kepada bulan purnama, ‘cahayamu itu akan sirna’.

Wahai kematian datang berziarahlah, sungguh hidup itu buruk wahai jiwa bersungguh-sungguhlah, sungguh umurmu akan hilang.”

Dari apa yang telah dipaparkan sebelumnya mengenai ragam tanda dan ayat, bahwa itu tidak terlepas dari satupun masyayikh thariqah kesohor zaman ini. Iya, memang sebagian perkara itu telah terjadi sebagai hikmah dari Allah Swt.

Syaikh Zarruq Ra pernah berkata: Tidaklah penah muncul suatu hakekat sekalipun kecuali akan dibarengi dengan ragam pengakuan semisal, memasukkan unsur yang bukan bagian dari hakekat tersebut, serta ada pula yang akan mendustakan perkara itu. Seluruhnya itu muncul guna menampakkan sisi keunggulan dan bentuk penjelasan hakekat dengan cara menafikan aspek yang berlawanan dari hakekat itu sendiri; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤى اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْۤ اُمْنِيَّتِهٖ ۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ 
wa maaa arsalnaa ming qoblika mir rosuuliw wa laa nabiyyin illaaa izaa tamannaaa alqosy-syaithoonu fiii umniyyatih, fa yangsakhullohu maa yulqisy-syaithoonu summa yuhkimullohu aayaatih, wallohu ‘aliimun hakiim

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak (pula) seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 52)

Orang yang mewarisi memiliki jatah dari harta warisan, paling dahsyatnya manusia yang mendapatkan cobaan adalah para nabi, lalu para wali dan semisal mereka. Sungguh seseorang akan diuji sesuai kadar keberagamaannya. Oleh karena itu, ahli thariqah ini diuji dengan adanya pengingkaran dengan cara orang menyakiti mereka pertama kali, ditengah perjalanan orang akan memuliakan mereka dan pada akhirnya mereka akan diuji dengan keduanya agar mereka tidak lepas bersyukur atas ujian dan bersabar atas cobaan. Orang yang hendak menempati posisi ini, hendaknya ia mampu menahan diri dari kesulitan tersebut; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يُدٰفِعُ عَنِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّا نٍ كَفُوْرٍ
innalloha yudaafi’u ‘anillaziina aamanuuu, innalloha laa yuhibbu kulla khowwaaning kafuur

“Sesungguhnya Allah membela orang yang beriman. Sungguh, Allah tidak menyukai setiap orang yang berkhianat dan kufur nikmat.”
(QS. Al-Hajj 22: Ayat 38)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ۗ وَمَنْ يَّتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ فَهُوَ حَسْبُهٗ ۗ اِنَّ اللّٰهَ بَا لِغُ اَمْرِهٖ ۗ قَدْ جَعَلَ اللّٰهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
wa yarzuq-hu min haisu laa yahtasib, wa may yatawakkal ‘alallohi fa huwa hasbuh, innalloha baalighu amrih, qod ja’alallohu likulli syai-ing qodroo

“dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.”
(QS. At-Talaq 65: Ayat 3); Maka pahamilah ini!.

Dalam ar-Rimah disebutkan redaksi sebagai berikut: Dalam al Bahr al Maurud disebutkan: Kamipun dipinta untuk mempersiapkan jiwa; ketika kami meminta ingin dijadikan hizbullah dalam menanggung cobaan dan ujian, banyak yang mengingkari dari orang yang kami kenal atau tidak; hal tersebut dikarenakan memang sudah seyogyanya orang yang ingin dipilih oleh Allah Swt mendapatkan sesuatu dari ujian; baik itu perkara buruk atau perkara baik. Kemudian tidak tersembunyi lagi bagimu wahai saudaraku, bahwa penyebab kebanyakan manusia menolak suatu kaum, adalah karena salah satu dari mereka ada yang ingin menjadi ahlullah, sementara sebenarnya orang itu haram masuk kedalamnya, sebab ia ingin menonjolkan kedudukan dirinya dihadapan manusia lain. Oleh karena itu, Allah menguasakan pada mereka orang yang akan berkata-kata dusta lagi membual serta mengoyakkan kehormatan orang lain hingga akhirnya tidak satupun orang yang tunduk pada dia. Ketika kondisinya demikian diapun akhirnya bersandar pada Allah Swt dalam kondisi darurat dan memohon maqam dari-Nya. Dalam posisi itulah, Allah memberikannya maqam, kemudian ia ber-tarqiyyah ke ragam derajat taqarrub pada Allah hingga posisi yang dijanjikan Allah untuknya. Selagi seorang hamba meminta maqam (posisi diri) dari manusia, maka dia ter-hijab dari Allah Swt. Dan selagi bertambah ragam sifat buruknya, maka akan semakin bertambah pula hijab dirinya (dari Allah), hingga bisa jadi dirinya ter-hijab dari Allah dengan tujuh puluh ribu hijab atau lebih.

Beliau juga berkata: Aku pernah mendengar Ali al Khawwas berkata, “Tidaklah Allah memilih seorang hamba hingga syaithan, jin dan manusia mampu mengalahkan dirinya dan menuduhnya dengan dusta dan mengada-ada. Apabila jiwanya kabur dari manusia dan dia tidak lagi tunduk pada mereka, disitulah Allah akan pilih dia.”

Beliau juga mengatakan (Dalam ar-Rimah): Sayyidi Abul Hasan asy-Syadzili Ra pernah berkata: Ketika Allah telah ajarkan apa saja persepsi manusia tentang para nabi dan orang-orang pilihan-Nya dengan perkataan dusta dan mengada-ada; maka Allah akan tuliskan ketentuan suatu kaum dalam kesengsaraan, dimana mereka pun punya istri dan anak-anak; mereka berkata,

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقَا لَتِ الْيَهُوْدُ يَدُ اللّٰهِ مَغْلُوْلَةٌ ۗ غُلَّتْ اَيْدِيْهِمْ وَلُعِنُوْا بِمَا قَا لُوْا ۘ بَلْ يَدٰهُ مَبْسُوْطَتٰنِ ۙ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَآءُ ۗ وَلَيَزِيْدَنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ مَّاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ طُغْيَا نًا وَّكُفْرًا ۗ وَاَ لْقَيْنَا بَيْنَهُمُ الْعَدَاوَةَ وَا لْبَغْضَآءَ اِلٰى يَوْمِ الْقِيٰمَةِ ۗ كُلَّمَاۤ اَوْقَدُوْا نَا رًا لِّلْحَرْبِ اَطْفَاَ هَا اللّٰهُ ۙ وَيَسْعَوْنَ فِى الْاَ رْضِ فَسَا دًا ۗ وَا للّٰهُ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
wa qoolatil-yahuudu yadullohi maghluulah, ghullat aidiihim wa lu’inuu bimaa qooluu, bal yadaahu mabsuuthotaani yungfiqu kaifa yasyaaa, wa layaziidanna kasiirom min-hum maaa ungzila ilaika mir robbika thughyaanaw wa kufroo, wa alqoinaa bainahumul-‘adaawata wal-baghdhooo-a ilaa yaumil-qiyaamah, kullamaaa auqoduu naarol lil-harbi athfa-ahallohu wa yas’auna fil-ardhi fasaadaa, wallohu laa yuhibbul-mufsidiin

“Dan orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu.” Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu, padahal kedua tangan Allah terbuka; Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki. Dan (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu pasti akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan mereka. Dan Kami timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari Kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya. Dan mereka berusaha (menimbulkan) kerusakan di bumi. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 64); dan semisal perkataan ini. Bahkan hingga ketika siku sang wali terhimpit dari perkataan manusia padanya; hatif dari Allah pun akan menyeru, “Tidakkah engkau mengambil pelajaran dari Rabbmu; dimana orang-orang mengatakan bahwa Rabbmu punya istri dan anak, bahkan mereka menisbatkan sifat yang tidak layak bagi keperkasaan-Nya.” Para ahlullah senantisa tenggelam dalam keutamaan-Nya, sementara ruh mereka ada dalam genggaman Allah. Dengan demikian, sang wali tadi hanya bisa mengikuti pelajaran dari Allah diatas.”

Syaikh Tajuddin Ibnu ‘Athaillah as-Sakandari Ra pernah mengatakan, “Telah menjadi sunnatullah bagi para nabi dan orang-orang pilihan, bahwa Allah Swt menguasakan mereka dengan orang-orang yang pertama-tama menyakiti mereka, kemudian diakhir ada kemenangan bagi para wali Allah jika ia bersabar,” Penjelasan panjang lebar mengenai ini telah dijabarkan dalam pembahasan Muqaddimah ath-Thabaqât. Semoga Allah memberimu hidayah!.

Disebutkan dalam kitab Ará is al Bayân ketika menjelaskan firman Allah Swt,

فَا سْتَجَا بَ لَهُمْ رَبُّهُمْ اَنِّيْ لَاۤ اُضِيْعُ عَمَلَ عَا مِلٍ مِّنْكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى ۚ بَعْضُكُمْ مِّنْۢ بَعْضٍ ۚ فَا لَّذِيْنَ هَا جَرُوْا وَاُ خْرِجُوْا مِنْ دِيَا رِهِمْ وَاُ وْذُوْا فِيْ سَبِيْلِيْ وَقٰتَلُوْا وَقُتِلُوْا لَاُ كَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَلَاُ دْخِلَنَّهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ ۚ ثَوَا بًا مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ ۗ وَ اللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الثَّوَا بِ
fastajaaba lahum robbuhum annii laaa udhii’u ‘amala ‘aamilim mingkum ming zakarin au ungsaa, ba’dhukum mim ba’dh, fallaziina haajaruu wa ukhrijuu ming diyaarihim wa uuzuu fii sabiilii wa qootaluu wa qutiluu la-ukaffironna ‘an-hum sayyi-aatihim wa la-udkhilannahum jannaating tajrii ming tahtihal-an-haar, sawaabam min ‘ingdillaah, wallohu ‘ingdahuu husnus-sawaab

“Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki maupun perempuan, (karena) sebagian kamu adalah (keturunan) dari sebagian yang lain. Maka orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang terbunuh, pasti akan Aku hapus kesalahan mereka dan pasti Aku masukkan mereka ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sebagai pahala dari Allah. Dan di sisi Allah ada pahala yang baik.””
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 195); Sungguh suatu kaum, jika mereka belum merasakan rasa disakiti oleh orang-orang yang ingkar, maka mereka belum sampai pada hakekat berlindung pada Allah Swt dan berlari pada-Nya. Ragam perkara yang bertentangan memang menggerak-kan para wali Allah ke posisi marah dan sempit hati, ini adalah tempatnya ujian dari Allah agar mereka menekan rasa marah atas umpan kemarahan dari orang-orang yang ingkar. Tujuannya adalah agar setelah itu terbuka bagi mereka (para wali Allah) ragam pintu percakapan (dari Allah), jernihnya kelapangan jiwa dan sampainya apa yang diangankan.

Imam al Junaid berkata: Semoga Allah memberikan balasan kebaikan pada ikhwan kami, dengan ketidaksukaan mereka pada kami, mereka mengembali-kan kami kepada Allah Swt. Ini adalah sunnatullah yang telah berlaku bagi pesuluk jalan ma’rifat dan kasyaf. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُنَّةَ اللّٰهِ فِى الَّذِيْنَ خَلَوْا مِنْ قَبْلُ ۚ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللّٰهِ تَبْدِيْلًا
sunnatallohi fillaziina kholau ming qobl, wa lang tajida lisunnatillaahi tabdiilaa

“Sebagai sunnah Allah yang (berlaku juga) bagi orang-orang yang telah terdahulu sebelum(mu), dan engkau tidak akan mendapati perubahan pada sunnah Allah.”
(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 62)

Beliau juga mengatakan: Disebutkan dalam Qawa’id az-Zarruqiyyah. Setelah menyebutkan perkataan Sayyidi Zarruq sebelumnya, kemudian beliau berkata: Apabila permasalahan ini telah dikuasai dan pemahaman-nya mengakar di otakmu; maka ketahuilah bahwa seseorang akan diuji sesuai kadar keberagamaannya sebagaimana yang telah disebutkan sebelum ini, maka setiap nabi dan shiddiq tentu memiliki musuh. Musuh nabi Adam As adalah Iblis, musuh nabi Dawud As adalah Jalut, musuh nabi Ibrahim As adalah Namrudz, musuh nabi Musa As adalah Fir’aun, musuh nabi Isa As adalah Bakhtanshir, dajjal dan orang-orang Yahudi dan musuh Nabi Muhammad Saw adalah Abu Jahal dan yang lainnya.

Abu ‘Ali Khawwash pernah berkata: Jikalau kesempurnaan do’a itu tergantung pada kesesuaian manusia dalam mempercayai seseorang, maka yang paling utama adalah Rasulullah Saw dan para nabi sebelum beliau As; suatu kaum akan mempercayai mereka dan Allah beri mereka hidayah dari sisi keutamaan-Nya. Sementara ada kaum lain yang mendustai mereka sehingga Allah menyengsarakan mereka dari sisi keadilan-Nya. Begitu juga dengan para ashfiya dan auliya pada zaman sahabat hingga sekarang, mereka pun memiliki musuh yang menyakiti dan berkata-kata buruk kepada mereka. Dalil dari seluruh perkara ini adalah firman Allah Swt,

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا قَبْلَكَ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ اِلَّاۤ اِنَّهُمْ لَيَأْكُلُوْنَ الطَّعَا مَ وَيَمْشُوْنَ فِى الْاَ سْوَا قِ ۗ وَجَعَلْنَا بَعْضَكُمْ لِبَعْضٍ فِتْنَةً ۗ اَتَصْبِرُوْنَ ۚ وَكَا نَ رَبُّكَ بَصِيْرًا
wa maaa arsalnaa qoblaka minal-mursaliina illaaa innahum laya-kuluunath-tho’aama wa yamsyuuna fil-aswaaq, wa ja’alnaa ba’dhokum liba’dhing fitnah, a tashbiruun, wa kaana robbuka bashiiroo

“Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu (Muhammad), melainkan mereka pasti memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan Kami jadikan sebagian kamu sebagai cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Tuhanmu Maha Melihat.”
(QS. Al-Furqan 25: Ayat 20)

Ketika cobaan adalah kemuliaan, Allah Swt mengumpulkan semua ujian dan cobaan yang terpisah-pisah pada umat sebelumnya untuk orang-orang khusus umat ini lantaran tingginya derajat mereka (di hadapan Allah Swt). ‘Abdullah bin Zubair merupakan orang yang banyak khusyu’ dalam shalat, orang-orang malah berkata kepadanya, “Sungguh ia orang yang riya lagi pezina” mereka menyiramkan air mendidih kepadanya kala ia sujud namun ia tidak merasakannya, hingga iapun hidup dengan adanya rasa sakit pada kepalanya.

Nafi’ bin al Arzaq pernah berkata mengenai Ibnu ‘Abbas, “Sungguh dia menafsirkan Al Qur’an tanpa ilmu.”

Ada juga orang-orang bodoh di Kufah yang menyakiti Sa’ad bin Abi Waqqas seraya berkata, “Sungguh dia itu tidak bagus shalatnya.”

Abu Yazid al Busthami diasingkan dari negerinya sebanyak tujuh kali atas perintah al Husain bin Isa disaat Abu Yazid berbicara ragam ilmu yang tidak biasa dibicarakan oleh tokoh negeri tersebut mengenai maqamat para nabi dan wali. Beliaupun tidak kembali kecuali setelah al Husain tidak ada, kemudian orang-orangpun cinta padanya dan memuliakannya. Begitu juga Dzun-Nun al Mishri, ia dikeluarkan dari negeri Mesir menuju Baghdad dengan tangan terikat dan terbelenggu. Orang-orang Mesirpun berjalan dan bersaksi bahwa ia adalah zindiq. Muhammad al Fadhl al Balkhi pun dikeluarkan dari Balkha lantaran madzhabnya adalah madzhab ahli hadits lantaran menjelaskan ayat-ayat sifat sesuai makna zhahir-nya tanpa ditakwil dan tanpa mencari-cari ilmu Allah tentang itu. Ketika penduduk Balkha mengeluarkannya dari negerinya, ia berkata, “Semoga Allah mencerabut sisi ma’rifat dari kalbu kalian!.” Sejak itulah tidak ada lagi sufi dari Balkha dimana sebelumnya termasuk negeri yang banyak memunculkan para sufi.

Ada juga orang-orang yang menganggap kafir Junaid al Baghdadi lantaran ia berbicara seputar tauhid layaknya ia orang yang menyaksikan ketauhidan itu, sehingga orang-orangpun mengatakan kafir kepadanya meski di depan rumahnya. Pernah juga ada orang-orang yang membuat majelis untuk syaikh Ibnu Abi Jamrah guna membantah secara langsung pendapat beliau ketika beliau berkata, “Aku telah berkumpul dengan Nabi Saw dan melazimi rumah beliau Saw.” Dengan kejadian itu beliaupun tidak pernah lagi keluar untuk bertemu jarna’ah sampai beliau meninggal dunia, bahkan mereka pun menuduh beliau telah kafir dan memperbolehkan minum khamr dan lesbi. Pada malam hari beliau dikalungi sabuk dan digiring dalam kondisi tangan terikat dan terbelenggu dari Syam menuju Mesir, nogamis belidendly

Para musuh wali Allah pun menuduh Abu Madyan sebagai zindiq dan mengeluarkan ia dari Jayah menuju Tilimsan hingga ia meninggal dunia dan dikebumikan di sana. Para musuh wali Allah pun mengeluarkan al hakim at-Tirmidzi ketika beliau mengarang kitab ‘Ilal asy-Syari’ah dan kitab Khatm al Awliya. Para musuh pun mengingkari beliau lantaran kedua buku ini, mereka berkata: Dia mengutamakan para wali dibanding para nabi dan mereka menyalahkan itu. Maka beliaupun mengumpulkan dua kitab ini lalu melemparkannya ke laut, hingga kedua buku ini ditelan oleh ikan, beberapa tahun kemudian kedua kitab tersebut dimuntahkan kembali dan kedua kitab ini nyatanya memberikan manfaat.

Para musuh wali Allah juga menuduh Sa’ad bin Abdillah dengan ragam perbuatan buruk, mereka juga mengeluarkan beliau dari Mesir hingga ia meninggal dunia. Mereka pun ada yang menuduh Abu Sa’id al Kharraz bahwa ia banyak melakukan dosa besar dan kufur dengan ragam ungkapan yang ditemukan dalam kitab beliau. Mereka juga turut menuduh Yusuf bin al Husain banyak melakukan ragam dosa besar sampai ia meninggal dunia, meski beliau sendiri tidak mempedulikan itu lantaran kuatnya keyakinan dalam diri beliau.

Para musuh wali Allah pun mengeluarkan Abul Hasan al Busanji dari Naisabur, hingga beliaupun tidak pernah lagi ada di sana hingga meninggal dunia. Mereka juga menuduh Sahnun sang pemilik cinta yang besar, mereka menuduhnya berbuat lacur, seorang wanita mengaku bahwa ia dan teman-temannya mendatangi Sahnun.

Para musuh wali Allah pun kerap bersaksi bahwa asy-Syibli telah berbuat kekufuran, sampai-sampai orang yang awalnya suka padanya menganggapnya sebagai orang gila dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa agar orang-orang tidak lagi mengikutinya. Salah satu masyayikh Baghdad pernah mengatakan, “Jika saja Allah belum punya neraka Jahannam, niscaya Dia akan ciptakan itu untuk orang-orang yang menyakiti dan menuduh kafir asy-Syibli.” Beliaupun berkata, “Andai asy-Syibli tidak masuk Surga, siapa yang akan masuk ke dalamnya?”

Penduduk Maghrib mengeluarkan Imam Abu Bakar al Qabisi dari Maghrib dengan tangan terikat menuju Mesir. Beliaupun diambil dan dikuliti masih hidup, kala beliau sedang membaca Al Qur’an dengan penuh tadabur dan kekhusyu’an dan hampir saja perkara ini membawa fitnah baru hingga masalah ini dinaikkan kepada sang sultan hingga beliau berkata, “Bunuhlah ia dan kuliti!.” an-Nasafi pun dikuliti di Halab, dimana beliau hanya tersenyum kepada yang menguliti beliau.

Dia pun membuat lima ratus bait syair dari celetukan tentang tauhid sementara para musuhnya menguliti beliau, dan itu terjadi ketika mereka kalah berhujah, merekapun membuat tipuan agar an-Nasafi menuliskan surah al Ikhlas pada selembar kertas dan mereka menaruhnya dibawah sandal. Para musuh pun menghadiahkan sandal tersebut kepada an-Nasafi, iapun mengenakannya tanpa merasa ada sesuatu yang ia injak. Para musuh pun berkata kepada wakil kota Halab, “Sungguh an-Nasafi telah menuliskan bacaan Qul Huwallâhu Ahad’, dan menaruh itu di bawah sandalnya.

Maka sang perwakilan kota Halab itu pun mengutus orang kepada an-Nasafi dan mengeluarkan lembaran kertas itu dari bawah sandal tersebut, dan disitulah beliau tahu harus dibunuh dengan cara seperti itu.

Para musuh wali Allah pun mengeluarkan Abul Qasim al Bahrabadzi dan juga Abu Abdillah sahabat dari Abu Hafs al Haddad dari Bashrah. Mereka pun bersaksi bahwa Abul Hasan al Bashri telah kafir. Mereka juga berkata-kata buruk kepada Ibnu Syam’un hingga beliau meninggal dunia, bahkan merekapun tidak bertakziyah kepadanya. Bahkan mereka mengatakan bahwa Imam Abul Qasim bin Jamil telah berbuat dosa besar, mereka katakan ini hingga beliau meninggal dunia, namun perkara ini tidak mengurangi sedikitpun dari kegiatan beliau sibuk dengan ilmu, dengan hadits Nabi Saw, berpuasa sepanjang tahun, bangun shalat malam bahkan berzuhud di dunia hingga beliau hanya mengenakan tikar untuk tidur.del

Abu Bakar as-Samthani pernah mengatakan: Abu Dinar mengerdilkan al Junaid, Ruwaim, Syahnun, Ibnu ‘Athaillah dan beberapa masyayikh Iraq, ketika ada seseorang menyebut-nyebut mereka, iapun langsung marah dan raut wajahnya berubah. nama

Para musuh wali Allah pun mengeluarkan Abul Hasan asy-Syadzili dari Maghrib menuju Mesir seraya menuduh beliau sebagai orang zindik, murtad lagi menghalalkan perkara yang haram. Mereka juga membunuh al Imam Abul Qasim bin Qisa, Ibnu Hayyan, al Juni dan al Marjan. Mereka pun terus saja mengingkari Ibnu ‘Arabi al Hatimi dan Ibnu Faridh hingga hari ini.

Para musuh wali Allah pun mengadakan majelis khusus mengenai ucapan yang dilontarkan oleh Izzuddin bin Abdussalam mengenai akidah. Mereka pun hasud kepada Taqiyyuddin bin al-Laits dan mengkaburkan perkataannya mengenai sisi kesultanan hingga sang sultan ingin membunuhnya, kemudian Allahpun memberitahu-nya.

As-Suyuthi pernah mengatakan: Diantara nikmat yang Allah berikan padaku adalah bahwa Dia memberiku musuh yang menyakiti dan mengkoyakkan kehormatanku agar para nabi dan para wali menjadi suri tauladan bagiku. Ketahuilah bahwa jika pada suatu zaman ada pembesar ulamanya, maka ada pula musuhnya dari kalangan orang bawah, dimana orang-orang yang mulia senantiasa diuji dengan orang-orang pinggiran.

Sayyidi Abul Hasan asy-Syadzili pernah berkata: Ketika Allah ingin mengajarkan pada kita apa yang akan dikatakan terkait kelompok ini pada ilmu-Nya yang qadim, Allah Swt memulainya dengan Dzat-Nya; yaitu Allah beri ketentuan bahwa ada suatu kaum yang akan sengsara, Allahpun nisbatkan padanya istri, anak dan sisi kefakiran. Allah jadikan kedua tangannya terbelenggu. Apabila sang wali dan shiddiq sudah merasa terhimpit lantaran perkataan mereka; yaitu kafir, zindiq, penyihir, gila dan lain sebagainya; Hatif Allah menyeru mereka (para nabi dan Shiddiq [wali Allah]): “Yang dikatakan padamu adalah sifatmu, jika bukan lantaran keutamaan-Ku padamu. Tidakkah engkau lihat saudaramu dari anak keturunan Nabi Adam As, bagaimana bisa nereka melakukan perbuatan disisi-Ku dan juga menisbatkan bagi-Ku dengan perkara yang tidak layak.” Jika pernyataan ini belum juga membuat kalbu sang wali lega; Hatif ilahiyyah lainnya pun akan datang: “Terkait dengan perkara itu bagi-Ku itu adalah suri tauladan; Mereka telah katakan pada-Ku hal yang tidak layak bagi sisi keperkasaan-Ku. Dikatakan juga kepada Muhammad Saw dan para saudaranya yang lain dari kalangan para nabi dan rasul ragam perkataan yang tidak pantas bagi martabat mereka; seperti penisbatan dengan sihir dan juga gila. Yang mereka inginkan dari itu adalah kekuasaan belaka.”

Aku (Syaikh Ibrahim Niass) katakan: Sayyidi syaikh Ahmad at-Tijany Ra juga diuji dengan Ibnu Ma Ya`ba, ia telah membuat satu kitab khusus yang isinya celaan, kata-kata yang mengada-ada, melaknat, mengkafirkan, menganggap sesat beliau dan juga para sabahat beliau Ra. Tidak ada yang menggiring ulama terkemuka ingkar kepada beliau Ra kecuali adanya hasud dalam diri. Syaikh Zarruq Ra pernah mengatakan dalam Ta’sis al Qawa’id dengan redaksi: Makna hasud senantiasa kembali untuk sesuatu yang berlipat ganda; tujuan orang yang hasud adalah merusak orang yang dihasudnya. Apabila ada ragam keutamaan pada jiwa seseorang, maka hasud pun akan berkaitan dengan upaya merusak jiwa tersebut. Dengan demikian, tujuan dan maksud orang yang hasudpun berbeda-beda; sehingga sifat hasud tidak dinisbatkan kepada orang umum yang memiliki keunggulan yang sama seperti dirinya, kecuali memang adanya sisi khianat dan tipu daya serta semisalnya. Tidak ada orang yang hasud kepada seorang tentara kecuali dengan hasudan kurangnya penghormatan dan tidak menjalankan hak. Tidak pula ada orang yang hasud kepada ahli fikih dan qari kecuali dengan hasudan menganggap telah kafir dan menyesatkan, yang tujuannya untuk merusak diri dan keutamaan yang telah didapatnya sejak lama dengan pengakuan yang merusak. Tidak pula ada orang yang hasud kepada fuqara kecuali dengan hasudan adanya penghalang dan tipu daya, padahal yang bersangkutan adalah pakar dalam bidang tersebut, pahamilah ini dengan baik!.

Demikianlah ulasan akhir pada pasal ini, semoga Allah memberikan taufik pada kebenaran dan hanya kepada-Nya tempat kembali dan harapan.

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY