You dont have javascript enabled! Please enable it!
Elsubha menjamin Garansi 100% Uang Kembali jika barang yang diterima adalah PALSU

Sandaran Ilmu Dzauq, Al Qur’an dan As-Sunnah

بسم الله الرحمن الرحيم اللهم صل على سيدنا محمد الفاتح لما أغلق والخاتم لما سبق ناصر الحق بالحق والهادي إلى صراطك المستقيم وعلى آله حق قدره ومقداره العظيم

Elsubha.com – Sandaran Ilmu Dzauq, Al Qur’an dan As-Sunnah

Syaikh asy-Sya’rani mengatakan pada awal kitab Thabaqat-nya dengan redaksi berikut: Pendahuluan mengenai penjelasan bahwa thariqah kaum sufi di frame dengan Al Qur’an dan As-Sunnah. Thariqah yang didasari pada suluk akhlaknya para nabi dan orang-orang yang jernih kalbunya. Juga berisikan penjelasan bahwa thariqah itu bukanlah perkara yang buruk kecuali jika menyelisihi Al Qur’an dan As-Sunnah secara sharih. Sedangkan jika thariqah itu tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan As-Sunnah, maka intinya adalah bahwa thariqah itu merupakan pemahaman yang diberikan kepada seorang lelaki muslim. Jika mau dia boleh mengamalkan, dan jika ia mau, ia pun boleh meninggal-kannya. Pemahamam yang ada itu berbanding dengan amal perbuatan. Begitu juga sisanya tentang pengingkaran, maka itu tidak akan terjadi kecuali lantaran suudz-zhan (buruk sangka) dan menganggap apa yang mereka lakukan adalah perbuatan riya’ dan itu tidak dibenarkan dalam syari’at.

Wahai saudaraku, ketahuilah bahwa ilmu tasawuf ibarat ilmu yang mencuat dari kalbunya para wali Allah hingga tersinari dengan amal perbuatan yang sesuai dengan Al Qur’an dan As-Sunnah. Setiap orang yang mengamalkan tasawuf, maka akan mencuat darinya ragam ilmu, adab, asrar dan ragam hakekat yang lisan tidak mampu menguraikannya, sepadan dengan apa yang mencuat dari ulama syari’at berupa ragam hukum, sampai merekapun mengamalkan apa yang mereka ketahui dari ragam hukum tersebut.

Tasawuf sesungguhnya adalah inti amalan seorang hamba dengan hukum syari’at, yaitu ketika amal yang dilakukan itu terbebas dari cacat dan keinginan jiwa. Sebagaimana ilmu ma’ani dan ilmu bayan adalah inti perahan ilmu nahwu. Orang yang menyendiri dengan ilmu tasawuf, maka dia benar akan tetapi keilmuannya tidak muncul dari dzauq (rasa), bahwa ilmu tasawuf merupakan cabang dari syari’at kecuali orang yang memiliki pengetahuan mendalam dalam syari’at hingga ia sampai pada titik akhirnya.

Kemudian apabila seorang hamba masuk ke dalam thariqah kaum dan mendalaminya, Allah akan memberi-nya kekuatan yang sama dalam ber-istinbat seperti ber-istinbat pada ilmu syari’at. Sehingga iapun mampu beristinbat dalam thariqah mengenai ragam perkara wajib, sunah, adab, ragam perkara yang haram dan yang makruh, bahkan khilaf al aula, seperti yang dilakukan para mujtahid. Wajibnya seorang mujtahid ber-ijtihad dengan sesuatu yang belum dijelaskan secara gamblang oleh syari’at bukanlah sebagai sebuah kewajiban yang lebih utama dari wajibnya seorang wali Allah menentukan hukum dalam thariqah yang belum dijelaskan secara gamblang oleh syari’at, hal ini sebagaimana oleh al Yafi’i dan ulama lainnya.

Penjelasan perkara itu adalah bahwa semua dari mereka adalah orang-orang yang adil dalam syari’at, Allah Swt pilih mereka untuk (berkhidmat) bagi agama-Nya. Orang yang mau melihat secara seksama, iapun akan tahu bahwa tidak ada ilmunya ahlullah yang keluar dari ranah syari’at. Bagaimana bisa ilmu para sufi dianggap keluar dari syari’at sementara syari’at sendiri yang telah me-wushulkan mereka setiap saat kepada Allah. Akan tetapi perkara yang aneh seringkali muncul dari orang yang tidak punya perhatian sama sekali dengan para sufi, kemudian menyatakan bahwa ilmu tasawuf bagian dari intinya syari’at, meskipun sang sufi belum mendalami ilmu syari’at.

Oleh karena itu, Junaid al Baghdadi pernah mengatakan: Kamipun tahu bahwa tasawuf itu dibangun dengan Al Qur’an dan As-Sunnah.

Ini adalah jawaban bagi orang yang mengira bahwa tasawuf itu telah keluar dari Al Qur’an dan (Sunnah) hadits Nabi Saw pada zaman itu dan zaman lainnya. Para sufi telah sepakat bahwa tidak benar untuk memunculkan diri dalam jalan menuju Allah Swt kecuali orang yang telah mendalami syari’at, iapun mengetahui makna syari’at secara literal, secara rasional, sisi khusus dan sisi umum syari’at, perkara yang me-nasakh dan yang mansukh dari syari’at. Diapun menguasai sisi bahasa arab sampai ia mengetahui sisi majaz, isti’arah dan lain sebagainya. Maka setiap sufi itu adalah faqih (ahli fikih) dan bukan sebaliknya. Secara global dapat dikatakan bahwa tidak ada orang yang mengingkari ahwal para sufi kecuali ia yang bodoh akan ahwal mereka.

Imam al Qusyairi Ra pernah mengatakan: Tidak ada dalam sejarah Islam kecuali jika ada syaikh dari kelompok (sufi) ini, maka ulama zaman tersebut telah berserah diri, tawadhu’ bahkan ber-tabarruk dari mereka. Jika bukan adanya keistimewaan dan kekhususan kaum sufi ini, maka tentu justru seharusnya fakta yang terjadi adalah sebaliknya.

Sayyidi ‘Ali al Qari, ketika beliau men-syarah kitab Asy-Syifa pada sabda Nabi Saw, “Barangsiapa yang membuat perkara baru pada perkara kami (agama),”

(HR. al Bukhari dalam Shahih-nya; Kitab. Perdamaian (Ash Shulh), Bab. Apabila Perdamalan diistilahkan Pada Perbuatan Durjana, Maka Perdamaian Itu ditolak; vol. 2, hal. 177, no. 2697.

HR. Muslim dalam Shahih-nya; Kitab. Penetapan Hukum, Bab. Menganulir Hukum Yang Batil dn Perkara Baru; vol. 3, hal. 1343, по 1718; Dari jalur periwayatan Ibrahim bin Sa’ad…hingga akhir sanad al Bukhari, dimana lafazh hadits ini miliknya. Dalam bab ini disebutkan hadits: Diriwayatkan dari Aisyah, bahwa Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang melakukan suatu amalan yang tidak ada perkara kami, maka tertolak.”

HR. Ibnu Majah dalam Sunarnya, Kitab. Pendahuluan, Bab. Pemuliaan Hadits Nabi Saw dan Penguatan (Ancaman) bagi orang yang menentangnya; vol. 1, hal. 7; Dari riwayat Aisyah; yaltu dengan riwayat al Bukhari.)

Dalam riwayat Muslim disebutkan :

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang mengerjakan amalan yang tidak ada perkara kami (agama), maka itu tertolak”; dalam riwayat lain disebutkan:

مَنْ أَدْخَلَ فِي دِيْنِنَا

“Barangsiapa yang memasukkan pada agama kami”; dalam riwayat lainnya juga disebutkan :

فِي أَمْرِنَا

“pada perkara kami (agama)”

Beliau mengatakan: Ini merupakan perkara yang sudah jelas lagi lengkap, yang tidak perlu lagi ditambah pembaharuan ‘apa yang bukan darinya (dari agama)’; maksudnya adalah sesuatu yang bukan dari Al Qur’an dan As-Sunnah sebagai penguat; baik yang nampak jelas maupun yang tersembunyi; baik yang di-lafazh-kan maupun yang di-istibat-kan.

Dalam riwayat disebutkan, “Apa yang tidak ada di dalamnya, maka ia…” maksudnya adalah, sesuatu yang baru atau sesuatu yang baru itu. Redaksi, “Ditolak (dikembalikan kepadanya), maksudnya ditolak dan tidak diterima. Hadits ini merupakan hadits pokok dalamberpegang teguh pada Al Qur’an dan As-Sunnah dan menolak tuntutan hawa nafsu dan bid’ah. (Selesai).

Telah diriwayatkan dengan shahih, bahwa Sayyidina Ali Kw pernah berkata: Jika engkau mau aku akan gali delapan puluh ilmu dari ragam ilmu nuqthah (titik) yang ada di bawah huruf Ba`.” Imam asy-Sya’rani Ra menyebutkan perkataan ini dalam al Mizân. Beliau juga menyebutkan untuk diri beliau bahwa di dalam kitab beliau yang berjudul Jauhar al Mashûn Fi ‘Ulumi Kitabillahi al Maknûn disebutkan ada tiga ribu ilmu. Beliau kembali berkata: Aku sembunyikan catatan hasil istinbat dari ayat-ayat Al Qur’an pada lipatan buku tersebut lantaran cemburu atas ilmu Allah, takut tersebar diantara orang-orang yang terhijab.

Imam asy-Sya’rani Ra pernah mengatakan: Syaikh Syihabuddin bin syaikh Abdul Haq telah mengambil catatan tersebut, ia pegang itu selama sebulan, iapun melihat ragam ilmu yang tercatat di dalamnya, namun ia tidak tahu posisi catatan yang bisa digunakan untuk mengungkapkan satu ilmu. Diapun berkata padaku, “Engkau buat kitab ini pada zaman ini, maka untuk apa?” Aku katakan, “Aku buat itu dalam rangka menolong Ahlullah, karena kebanyakan manusia mengatakan bahwa Ahlullah (sufi) itu bodoh dengan Al Qur’an dan As-Sunnah. Dia kembali berkata padaku: Aku berkata pada diriku, “Aku ini orang alimnya negeri Mesir, Syam, Hijaz, Roma dan negara asing lainnya; akupun tidak mampu mengetahui bagaimana mengungkap satu ilmu dari Al Qur’an bahkan akupun tidak paham apa yang ada di dalamnya, dengan demikian akupun tidak bisa mengelaknya dari segala sisi, karena ketersambungan perkataan didalamnya bukanlah ketersambungan perkataan orang yang membatalkan atau juga bukan ketersambungan perkataan orang yang awam. (Selesai).

Aku (Syaikh Ibrahim Niass) berkata:

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَيَوْمَ نَـبْعَثُ فِيْ كُلِّ اُمَّةٍ شَهِيْدًا عَلَيْهِمْ مِّنْ اَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيْدًا عَلٰى هٰۤؤُلَآ ءِ ۗ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ تِبْيَا نًا لِّـكُلِّ شَيْءٍ وَّ هُدًى وَّرَحْمَةً وَّبُشْرٰى لِلْمُسْلِمِيْنَ
wa yauma nab’asu fii kulli ummating syahiidan ‘alaihim min angfusihim wa ji-naa bika syahiidan ‘alaa haaa-ulaaa, wa nazzalnaa ‘alaikal-kitaaba tibyaanal likulli syai-iw wa hudaw wa rohmataw wa busyroo lil-muslimiin

“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim).”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 89)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَا مِنْ دَآ بَّةٍ فِى الْاَ رْضِ وَلَا طٰٓئِرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَا حَيْهِ اِلَّاۤ اُمَمٌ اَمْثَا لُـكُمْ ۗ مَا فَرَّطْنَا فِى الْـكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ يُحْشَرُوْنَ
wa maa ming daaabbating fil-ardhi wa laa thooo-iriy yathiiru bijanaahaihi illaaa umamun amsaalukum, maa farrothnaa fil-kitaabi ming syai-ing summa ilaa robbihim yuhsyaruun

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab, kemudian kepada Tuhan mereka dikumpulkan.”
(QS. Al-An’am 6: Ayat 38)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَّا لْخَـيْلَ وَا لْبِغَا لَ وَا لْحَمِيْرَ لِتَرْكَبُوْهَا وَزِيْنَةً  ۗ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
wal-khoila wal-bighoola wal-hamiiro litarkabuuhaa wa ziinah, wa yakhluqu maa laa ta’lamuun

“dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai, untuk kamu tunggangi dan (menjadi) perhiasan. Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
(QS. An-Nahl 16: Ayat 8)

Kemudian lihatlah jawaban Sayyidina Ali Kw ketika ia ditanya oleh Abu Hanifah, “Apakah ada kitab yang Rasulullah khususkan untuk dirimu?” Beliau menjawab, ” Tidak ada, kecuali kitabullah; Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
sub-haanallaziii asroo bi’abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil-aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

(HR. al Bukhari dalam Shahih-nya; Kitab. Ilmu, Bab. Penulisan Ilmu; vol. 1. Hal, 73, no. 111; Muhammad bin Salam menceritakan kepada kami, ia berkata: Waki’ mengabarkan kepada kami, dari Sufyan, dari Muthrif, dari asy-Sya’bi, dari Abu Juhaifah, ia berkata: Aku katakan kepada All, “Apakah engkau mempunyai sesuatu yang tertulis dari Rasulullah? All menjawab, “Tidak, kecuali kitabullah atau pemahaman yang kuberikan kepada seorang muslim atau yang ada di lembaran ini.”Aku lanjut bertanya, “Apa yang ada dalam lembaran itu?” beliau menjawab, “Akal, hukum tentang tawanan perang dan janganlah seorang muslim membunuh orang kafir.”

HR. at-Tirmidzi dalam Sunar-nya; Kitab. Diyât, Bab. Tentang Larangan Seorang Muslim membunuh Orang Kafir; vol. 4, hal. 24-25, no. 1412; Ahmad bin Mani’ menceritakan kepada kami, Hasyim menceritakan kepada kami, Muthrif memberitakan kepada kami, dari asy-Sya’bi, Abu Juhaifah menceritakan kepada kami, ia berkata: Aku berkata kepada Ali, “Wahai Amirul Mukminin, apakah engkau punya hitam di atas putih yang tidak ada di kitabullah?” Ali menjawab, Deni Dzat yang memecah bebijian, lagi menyembuhkan manusia, kecuali pemahaman yang Allah berikan kepada seorang lelaki pada Al Qur’an dan apa yang ada dalam shahifah,” la berkata lagi, “Akal, hukum tentang tawanan perang dan janganlah seorang muslim membunuh orang kafir” Abu Isa mengatakan, Hadits Ini hasan shahih.

HR. an-Nasa’i dalam Sunar-nya; Kitab. Pembagian, Bab. Jatuhnya Kepemimpinan dari Seorang Muslim Kepada Orang Kafir; vol 8, hal. 23; Dari jalur periwayatan Sufyan, dari Muthrif…hingga akhir jalur periwayatan at-Tirmidzi, dimana lafazh hadits ini miliknya.

HR. Ahmad dalam Musnad-nya; vol. 1, hal. 79; Dengan jalur periwayatan yang sama dengan an-Nasa ‘I dan lafazh yang sama dengan at-Tirmidzi.)

Abu Hurairah pernah mengatakan: Aku hafal dari Rasulullah Saw dua bejana; salah satunya aku sebarkan pada kalian dan yang lainnya jika aku sebarkan maka kerongkongan ini pun akan tergorok.”

Disebutkan dalam catatan pinggir sayyidi syaikh Mukhtar al Kattani Ra: Abu Hurairah Ra pernah mengatakan, “Aku telah mengambil dua kantong ilmu dari Rasulullah Saw; salah satu dari keduanya telah aku sebarkan, sedangkan yang lainnya, demi Allah jikalau aku katakan satu kalimat saja darinya, niscaya kalian akan gorok kerongkongan ini sebelum aku sempurna mengatakannya.

(HR. Al Bukhari dalam Shahih-nya; Kitab. Penulisan Ilmu, Bab. Menghafal Ilmu; vol. 1, hal. 75, no. 120; Isma’il menceritakan kepada kami, ia berkata: Saudaraku menceritakan kepadaku, dari Ibnu Abi Dzi bin, dari Sa’id al Maqburi, dari Abu Hurairah Ra, la berkata: Aku telah menghafal dari Rasulullah Saw… kemudian la menyebutkan haditsnya.)

Pada hal seperti ini Sayyidina Ali Kw mengatakan:

يَا رَبِّ جَوْهَرُ عِلْمٍ لَوْ أَبْرَحُ بِهِ # لَقِيْلَ لِي أَنْتَ مِمَّنْ يَعْبُدُ الْوَثَنَا

وَلَا سْتَحَلَّ رِجَالٌ مُسْلِمُوْنَ دَمِي # يَرَوْنَ أَقْبَحَ مَا يَأْتُوْنَهُ حَسَنًا

“Wahai Rabb, permata itu, jikalau aku jelaskan itu # orang-orang akan berkata padaku, Engkau termasuk orang yang menyembah berhala.”

Juga para tokoh muslim akan menghalalkan darahku, mereka memandang perbuatan buruk yang mereka lakukan sebagai sebuah kebaikan.”

Juga karena ragam Hakekat Rabbaniyyah tidak mampu diemban kecuali oleh orang yang telah disiapkan oleh Allah Swt untuk itu dan Allah lapangkan dadanya untuk apa yang ada dalam hakekat tersebut, dimana tidak ada yang mampu mengemban ini kecuali seorang nabi yang mulia atau seorang wali Allah yang bijaksana,

Ja’far ash-Shadiq Ra pernah mengatakan: Ketika sang pecinta mendekat dengan yang dicintai dengan puncak kecintaan, niscaya dia akan mendapatkan puncaknya sisi haibah. Allahpun mengasihi ia dengan penuh kasih sayang, dimana Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَاَ وْحٰۤى اِلٰى عَبْدِهٖ مَاۤ اَوْحٰى 
fa auhaaa ilaa ‘abdihii maaa auhaa

“Lalu disampaikannya wahyu kepada hamba-Nya (Muhammad) apa yang telah diwahyukan Allah.”
(QS. An-Najm 53: Ayat 10); yang berlaku, berlakulah dan yang terjadi, maka terjadilah. Orang yang cinta akan berbicara kepada yang dicintanya, begitu juga orang yang dicinta itu berbicara kepada yang dicinta, dari sini maka tersembunyilah rahasia meski perkaranya menjadi besar. Oleh karena itu, tidak ada orang yang tahu, tidak diketahui pula apa yang diwahyukan, maka perkara tersebut menjadi tumpang tindih lantaran besarnya perkara tersebut. Sebab tumpang tindihnya perkara tersebut tidak akan terjadi kecuali itu merupakan perkara besar yang tidak diketahui oleh seseorang sekalipun. Akan tetapi ketika kita percaya, maka itulah yang memiliki nilai ibadah. Ada ulama yang mengatakan, bahwa ilmu itulah yang Nabi Saw ajarkan kepada orang-orang khusus dari umatnya yang juga merupakan pewarisnya; itu adalah ilmu laduni; ilmu yang tidak diketahui seluk-beluknya dan tidak mampu diemban kecuali oleh para wali quthub dari umat ini.

Imam Fakhurrazi menyebutkan dari ayahnya: Abu pernah mendengar Abul Qasim bin Sulaiman al Anshari mengatakan: Ketika Nabi Saw telah menggapai derajat dan juga tingkatan yang tinggi, Allah Swt mewahyukan, “Wahai Muhammad, kemuliaanmu telah sempurna.” Beliau Saw menimpali, “Wahai Rabb, dengan penisbatan-ku dengan ibadah?.”

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
sub-haanallaziii asroo bi’abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil-aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir

“Maha Suci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

Dalam ayat ini, Allah sebutkan dengan nama, “hamba-Nya,” itu lantaran Nabi Saw telah menggapai hakekat isim a’zham. Hakekat isim a’zham ini tidak pantas kecuali untuk Nabi Saw, para wali quthub setelah beliau dari umat ini mengikuti sisi hakekat ini, lalu isim a’zham ini pun dimutlakkan secara majazi bagi selain mereka.

Dalam sebuah riwayat disebutkan: Ketika aku telah ber-khalwat dengan Rabbku, Dia mewahyukan padaku tiga ilmu: Ilmu yang aku diambil janji untuk menyembunyi-kannya, dimana telah diketahui bahwa tidak ada yang mampu mengembannya selainku; Ilmu yang aku diperintahkan untuk menyampaikannya kepada orang-orang khusus dari umatku, mereka ini adalah para wali abdal umat ini; dan ilmu yang aku diambil janji untuk menyampaikannya kepada orang awam dan orang khusus. Akupun diajarkan Al Qur’an, aku pernah terburu-buru pada satu ayat yang Jibril sampaikan padaku, maka Rabbku mencemoohku, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَتَعٰلَى اللّٰهُ الْمَلِكُ الْحَـقُّ ۚ وَلَا تَعْجَلْ بِا لْقُرْاٰ نِ مِنْ قَبْلِ اَنْ يُّقْضٰۤى اِلَيْكَ وَحْيُهٗ ۖ وَقُلْ رَّبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا
fa ta’aalallohul-malikul-haqq, wa laa ta’jal bil-qur-aani ming qobli ay yuqdhooo ilaika wahyuhuu wa qur robbi zidnii ‘ilmaa

“Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang sebenar-benarnya. Dan janganlah engkau (Muhammad) tergesa-gesa (membaca) Al-Qur’an sebelum selesai diwahyukan kepadamu, dan katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.””
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 114)

Dalam riwayat lain disebutkan: Ketika Rabbku mendekatkanku pada-Nya hingga posisiku sebagaimana firman-Nya,

فَكَا نَ قَا بَ قَوْسَيْنِ اَوْ اَدْنٰى 
fa kaana qooba qousaini au adnaa

“sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat (lagi).”
(QS. An-Najm 53: Ayat 9)

Beliau Saw berkata, “Rabbku pun bertanya padaku, namun aku tidak bisa menjawabnya. Dia meletakkan tangan-Nya diantara pundakku (tanpa perlu ditanya bagaimana itu bisa terjadi), hingga hatiku dapat merasakan dinginnya tangan itu. Dia mewariskanku ilmu generasi awal dan generasi akhir. Diapun memberiku banyak keilmuan apapun; Ada ilmu yang aku diambil janji untuk menyembunyikannya, dimana telah diketahui bahwa tidak ada yang mampu mengembannya selainku; ilmu yang aku diberikan pilihan; akupun diajarkan Al Qur`an; malaikat Jibrillah yang mengajarkannya padaku; dan ilmu yang aku diperintahkan untuk menyampaikan-nya kepada orang awam dan orang khusus dari umatku. (Riwayat Abu Hurairah).

Aku berkata, Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَلِلّٰهِ الْمَشْرِقُ وَا لْمَغْرِبُ فَاَ يْنَمَا تُوَلُّوْا فَثَمَّ وَجْهُ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
wa lillaahil-masyriqu wal-maghribu fa ainamaa tuwalluu fa samma waj-hulloh, innalloha waasi’un ‘aliim

“Dan milik Allah Timur dan Barat. Ke mana pun kamu menghadap, di sanalah wajah Allah. Sungguh, Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 115)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَقُلْ جَآءَ الْحَـقُّ وَزَهَقَ الْبَا طِلُ ۗ اِنَّ الْبَا طِلَ كَا نَ زَهُوْقًا
wa qul jaaa-al-haqqu wa zahaqol-baathilu innal-baathila kaana zahuuqoo

“Dan katakanlah, “Kebenaran telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sungguh, yang batil itu pasti lenyap.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 81)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

بَلْ نَـقْذِفُ بِا لْحَـقِّ عَلَى الْبَا طِلِ فَيَدْمَغُهٗ فَاِ ذَا هُوَ زَاهِقٌ ۗ وَلَـكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُوْنَ
bal naqzifu bil-haqqi ‘alal-baathili fa yadmaghuhuu fa izaa huwa zaahiq, wa lakumul-wailu mimmaa tashifuun

“Sebenarnya Kami melemparkan yang hak (kebenaran) kepada yang batil (tidak benar) lalu yang hak itu menghancurkannya, maka seketika itu (yang batil) lenyap. Dan celaka kamu karena kamu menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas bagi-Nya).”
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 18)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

ذٰ لِكُمْ بِاَ نَّهٗۤ اِذَا دُعِيَ اللّٰهُ وَحْدَهٗ كَفَرْتُمْ ۚ وَاِ نْ يُّشْرَكْ بِهٖ تُؤْمِنُوْا ۗ فَا لْحُكْمُ لِلّٰهِ الْعَلِيِّ الْكَبِيْرِ
zaalikum bi-annahuuu izaa du’iyallohu wahdahuu kafartum, wa iy yusyrok bihii tu-minuu, fal-hukmu lillaahil-‘aliyyil-kabiir

“Yang demikian itu karena sesungguhnya kamu mengingkari apabila diseru untuk menyembah Allah saja. Dan jika Allah disekutukan, kamu percaya. Maka keputusan (sekarang ini) adalah pada Allah Yang Maha Tinggi, Maha Besar.”
(QS. Ghafir 40: Ayat 12)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الْاَ وَّلُ وَا لْاٰ خِرُ وَا لظَّاهِرُ وَا لْبَا طِنُ ۚ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ
huwal-awwalu wal-aakhiru wazh-zhoohiru wal-baathin, wa huwa bikulli syai-in ‘aliim

“Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir, dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.”
(QS. Al-Hadid 57: Ayat 3)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰ فَا قِ وَفِيْۤ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَـقُّ ۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
sanuriihim aayaatinaa fil-aafaaqi wa fiii angfusihim hattaa yatabayyana lahum annahul-haqq, a wa lam yakfi birobbika annahuu ‘alaa kulli syai-ing syahiid

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?”
(QS. Fussilat 41: Ayat 53)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اَلرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى
ar-rohmaanu ‘alal-‘arsyistawaa

“(yaitu) Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas ‘Arsy.”
(QS. Ta-Ha 20: Ayat 5)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كَا نَ لِلرَّحْمٰنِ وَلَدٌ ۖ فَاَ نَاۡ اَوَّلُ الْعٰبِدِيْنَ
qul ing kaana lir-rohmaani waladung fa ana awwalul-‘aabidiin

“Katakanlah (Muhammad), “Jika benar Tuhan Yang Maha Pengasih mempunyai anak, maka akulah orang yang mula-mula memuliakan (anak itu).”
(QS. Az-Zukhruf 43: Ayat 81)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مَنْ يُّطِعِ الرَّسُوْلَ فَقَدْ اَطَا عَ اللّٰهَ ۚ وَمَنْ تَوَلّٰى فَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ عَلَيْهِمْ حَفِيْظًا 
may yuthi’ir-rosuula fa qod athoo’alloh, wa mang tawallaa fa maaa arsalnaaka ‘alaihim hafiizhoo

“Barang siapa menaati Rasul (Muhammad) maka sesungguhnya dia telah menaati Allah. Dan barang siapa berpaling (dari ketaatan itu) maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 80)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يُبَايِعُوْنَكَ اِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ ۗ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ اَيْدِيْهِمْ ۚ فَمَنْ نَّكَثَ فَاِ نَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عٰهَدَ عَلَيْهُ اللّٰهَ فَسَيُؤْتِيْهِ اَجْرًا عَظِيْمًا
innallaziina yubaayi’uunaka innamaa yubaayi’uunalloh, yadullohi fauqo aidiihim, fa man nakasa fa innamaa yangkusu ‘alaa nafsih, wa man aufaa bimaa ‘aahada ‘alaihulloha fa sayu-tiihi ajron ‘azhiimaa

“Bahwa orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka hanya berjanji setia kepada Allah. Tangan Allah di atas tangan-tangan mereka, maka barang siapa melanggar janji, maka sesungguhnya dia melanggar atas (janji) sendiri; dan barang siapa menepati janjinya kepada Allah, maka Dia akan memberinya pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 10)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

فَلَمْ تَقْتُلُوْهُمْ وَلٰـكِنَّ اللّٰهَ قَتَلَهُمْ ۖ وَمَا رَمَيْتَ اِذْ رَمَيْتَ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ رَمٰى ۚ وَلِيُبْلِيَ الْمُؤْمِنِيْنَ مِنْهُ بَلَآ ءً حَسَنًا ۗ اِنَّ اللّٰهَ سَمِيْعٌ عَلِيْمٌ
fa lam taqtuluuhum wa laakinnalloha qotalahum wa maa romaita iz romaita wa laakinnalloha romaa, wa liyubliyal-mu-miniina min-hu balaaa-an hasanaa, innalloha samii’un ‘aliim

“Maka (sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, melainkan Allah yang membunuh mereka, dan bukan engkau yang melempar ketika engkau melempar, tetapi Allah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Anfal 8: Ayat 17)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
qul ing kungtum tuhibbuunalloha fattabi’uunii yuhbibkumullohu wa yaghfir lakum zunuubakum, wallohu ghofuurur rohiim

“Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَاٰ مَنُوْا بِمَا نُزِّلَ عَلٰى مُحَمَّدٍ وَّهُوَ الْحَقُّ مِنْ رَّبِّهِمْ ۙ كَفَّرَ عَنْهُمْ سَيِّاٰتِهِمْ وَاَ صْلَحَ بَا لَهُمْ
wallaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati wa aamanuu bimaa nuzzila ‘alaa muhammadiw wa huwal-haqqu mir robbihim, kaffaro ‘an-hum sayyi-aatihim wa ashlaha baalahum

“Dan orang-orang yang beriman (kepada Allah) dan mengerjakan kebajikan serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad, dan itulah kebenaran dari Tuhan mereka; Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka, dan memperbaiki keadaan mereka.”
(QS. Muhammad 47: Ayat 2)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۗ وَكَفٰى بِا للّٰهِ شَهِيْدًا 
huwallaziii arsala rosuulahuu bil-hudaa wa diinil-haqqi liyuzh-hirohuu ‘alad-diini kullih, wa kafaa billaahi syahiidaa

“Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar, agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 28)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِ ۗ وَا لَّذِيْنَ مَعَهٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَى الْكُفَّا رِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ تَرٰٮهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَّبْتَغُوْنَ فَضْلًا مِّنَ اللّٰهِ وَرِضْوَا نًا ۖ سِيْمَاهُمْ فِيْ وُجُوْهِهِمْ مِّنْ اَثَرِ السُّجُوْدِ ۗ ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰٮةِ ۖ وَمَثَلُهُمْ فِى الْاِ نْجِيْلِ ۚ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْئَـهٗ فَاٰ زَرَهٗ فَا سْتَغْلَظَ فَا سْتَوٰى عَلٰى سُوْقِهٖ يُعْجِبُ الزُّرَّا عَ لِيَـغِيْظَ بِهِمُ الْكُفَّا رَ ۗ وَعَدَ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ مَّغْفِرَةً وَّاَجْرًا عَظِيْمًا
muhammadur rosuululloh, wallaziina ma’ahuuu asyiddaaa-u ‘alal-kuffaari ruhamaaa-u bainahum taroohum rukka’ang sujjaday yabtaghuuna fadhlam minallohi wa ridhwaanang siimaahum fii wujuuhihim min asaris-sujuud, zaalika masaluhum fit-taurooti wa masaluhum fil-ingjiil, kazar’in akhroja syath-ahuu fa aazarohuu fastaghlazho fastawaa ‘alaa suuqihii yu’jibuz-zurrooo’a liyaghiizho bihimul-kuffaar, wa’adallohullaziina aamanuu wa ‘amilush-shoolihaati min-hum maghfirotaw wa ajron ‘azhiimaa

“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridaan-Nya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya, tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan di antara mereka, ampunan dan pahala yang besar.”
(QS. Al-Fath 48: Ayat 29)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَا لرَّسُوْلَ فَاُ ولٰٓئِكَ مَعَ الَّذِيْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِّنَ النَّبِيّٖنَ وَا لصِّدِّيْقِيْنَ وَا لشُّهَدَآءِ وَا لصّٰلِحِيْنَ ۚ وَحَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَفِيْقًا 
wa may yuthi’illaaha war-rosuula fa ulaaa-ika ma’allaziina an’amallohu ‘alaihim minan-nabiyyiina wash-shiddiiqiina wasy-syuhadaaa-i wash-shoolihiin, wa hasuna ulaaa-ika rofiiqoo

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.”
(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 69)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَا لَّذِيْ جَآءَ بِا لصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهٖۤ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ
wallazii jaaa-a bish-shidqi wa shoddaqo bihiii ulaaa-ika humul-muttaquun

“Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan orang yang membenarkannya, mereka itulah orang yang bertakwa.”
(QS. Az-Zumar 39: Ayat 33)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَكَاَ يِّنْ مِّنْ اٰيَةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ يَمُرُّوْنَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُوْنَ
wa ka-ayyim min aayating fis-samaawaati wal-ardhi yamurruuna ‘alaihaa wa hum ‘an-haa mu’ridhuun

“Dan berapa banyak tanda-tanda (kebesaran Allah) di langit dan di bumi yang mereka lalui, namun mereka berpaling darinya.”
(QS. Yusuf 12: Ayat 105)

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَفِيْۤ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
wa fiii angfusikum, a fa laa tubshiruun

“dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”
(QS. Az-Zariyat 51: Ayat 21)

Rasulullah Saw pernah bersabda sebagaimana yang diriwayatkan dari Rabbnya,

كُنْتُ كَيْراً لَمْ أُعْرَفْ، فَأَحْبَبْتُ أَنْ أُعْرَفَ، فَخَلَقْتُ الْخَلْقَ، فَتَعَرَّفْتُ لَهُمْ، فَبِيَ عَرَفُوْنِي

“Aku adalah perbendaharaan yang belum bisa diketahui, maka Aku senang untuk dikenal (dima’rifati), (oleh karena itu) Aku ciptakan makhluk, Aku perkenalkan Dzatku pada mereka, maka dengan-Ku lah mereka mengenali-Ku (ma’rifat pada-Ku).”

(Al ‘Ajluni dalam Kasyful Khafa; vol. 2, hal. 191; al ‘Ajhuni berkata: al Qari pernah mengatakan: Akan tetapi maknanya benar, Inl disarikan dari firman Allah Swt, “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (Qs. Adz-Dzáriyāt [51]: 56). Maksudnya adalah agar mereka mengenal-Ku. Hal ini sebagaimana ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas Ra. Redaksi yang masyhur di lisan kebanyakan sufi adalah Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, maka Aku ingin dikenal, maka Aku ciptakan makhluk, maka dengan-Kulah mereka mengenal-Ku. Ibnu al ‘Iraq juga menyebutkan dalam kitab Tanzihusy-Syari’ah, vol. 1, hal. 148.)

Rasulullah Saw juga bersabda,

فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُهُ

“Apabila Aku telah mencintainya, Aku menjadi dia.”

Rasulullah Saw juga bersabda,

كَانَ اللَّهُ وَلَا شَيْءَ مَعَهُ

“Demikianlah Allah dan tidak ada yang bersama-Nya.”

Sayyidina Ali pernah mengatakan, “Dan sekarang Dia sebagaimana yang dahulu telah ada.”

Rasulullah Saw pernah bersabda,

أَصْدَقُ كَلِمَةٍ قَالَهَا، كَلِمَةُ لَبِيْدٍ : أَلَا كُلَّ شَيْءٍ مَا خَلَا اللَّهُ بَاطِل

“Kalimat paling jujur adalah yang dikatakan oleh Labid, ‘Tidaklah segala sesuatu tanpa adanya Allah itu adalah kebatilan’.”

Rasulullah Saw juga pernah bersabda dengan apa yang diriwayatkan oleh Rabbnya,

لَمْ تَسَعَنِي أَرْضِي وَلَا سَمَائِي، وَوَسَعَنِي قَلْبُ عَبْدِي الْمُؤْمِنِ

“Bumi-Ku dan juga langit-Ku tidaklah muat untuk-Ku dan yang muat Aku adalah kalbu hamba-Ku yang mukmin.”

Ragam ayat dan juga hadits diatas didalamnya ada banyak perkara yang tidak bisa dipaparkan, begitu juga asrar yang tidak boleh disebarluaskan.

Ada ulama yang menggubah sya’ir berikut:

سَتَكْفِيكَ مِنْ ذَاكَ الْجَمَالُ إِشَارَةً # وَدَعْهُ مَصُوْنَا بِالْجَلَالِ مُحْجِبَا

“Cukuplah engkau dari sisi keindahan (Allah) sebagai suatu isyarat, # (yang lain) biarlah ia tersimpan dan terhijab dengan sisi Jalal-Nya (Allah).”

Ada pula sya’ir lainnya:

وَمُسْتَخْبِرٌ عَنْ سِرِّ لَيْلِي رَدَدْتُهُ # بِعُمْيَاءَ عَلَى لَيْلِي بِغَيْرِ يَقِيْنَ

يَقُوْلُوْنَ خَبِّرْنَا فَأَنْتَ أَمِيْنُهَا # وَمَا أَنَا إِنْ خَبَرْتُهُمْ بِأَمِيْنِ

“Orang yang mencari tahu rahasia malamku tanpa keyakinan diri, aku tolak ia dengan (menggapnya buta) prihal rahasia malamku.

Mereka katakan, beritakanlah pada kami sementara engkaulah orang yang dipercaya untuk itu # meski kukabarkan pada mereka, namun mereka tetap tidak percaya.”

Ada pula sya’ir lainnya:

وَإِذَا لَمْ تَرَ الْهِلَالَ فَسَلَّمْ # لِأُنَاسِ رَأَوْهُ بِالْأَبْصَارِ

“Apabila engkau belum melihat bulan, maka berserah dirilah # kepada orang-orang yang sudah melihatnya dengan kasat mata.”

Demikianlah yang ingin kami paparkan pada pasal ini. -Semoga Allah Swt senantiasa memberikan taufik-Nya ke jalan yang benar. Hanya kepada-Nyalah tempat kambali dan berharap.

Sumber : BUKU FAIDHAH TIJANI (KASYIFUL ILBAS ‘AN FAIDHATI AL KHATMI ABIL ABBAS) SYAIKH IBRAHIM NIASS AL KULKHI AT-TIJANY